
Sesuai jadwal, hari ini Murad akan melakukan pemeriksaan pada kakinya. Dia diantar Faza dan seorang sopir dengan satu pengawal yang sudah disiapkan oleh Rayyan untuk mengawal Murad hari ini. Tak lupa Rayan meminta kepada pengawal itu untuk mengambil foto dokter Evan nanti untuk diserahkan kepada Max nanti malam. Sedangkan untuk berkas dokter Evan nanti kakaknya sendiri yang akan mengurusnya.
"Kak, dia siapa? " tanya Faza saat mendorong kursi roda Murad ke mobil dan melihat seorang pria asing berpakaian rapi berdiri di samping mobil.
"Dia pengawal, yang akan mengawal kita sayang. "
Kini mulut Murad sudah mulai lancar memanggil Faza dengan panggilan sayang kepada istri kecilnya itu dan Faza pun sudah terbiasa mendapat panggilan sayang dari Murad.
"Kenapa harus ada pengawal segala kak? " tanya Faza lagi.
"Tidak apa-apa, ini semua di persiapkan Rayyan. Kita harus menghargainya. Mungkin saja dia khawatir terjadi sesuatu di jalan, sedangkan aku tidak bisa melindungimu karena sakitku."
" Baiklah, aku mengerti kak. " Faza membantu Murad masuk ke dalam mobil.
Setelah mereka berdua sudah duduk dengan nyaman di kursi penumpang, sopir segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit milik keluarga Erhan.
"Kak apa kakimu masih terasa sakit. " tanya Faza saat mereka berada di perjalanan.
"Iya, tapi sudah tidak begitu sakit seperti dulu. Mungkin karena kamu yang selalu memberiku pijatan yang terasa nyaman di kaki, dan merendam kakiku dengan air hangat setiap pagi dan malam. " Murad menjelaskan keadaan kakinya pada istrinya itu.
"Mama yang selalu menyuruhku begitu, memijit kakimu dengan pelan dan merendamnya dengan air hangat agar otot yang tegang, bisa relaks kembali katanya." ujarnya dengan semangat.
"Terima kasih, istri kecilku kamu memang yang terbaik. " kata Murad sambil mengecup pipi Faza sekilas.
Mendapat serangan dadakan dengan reflek Faza memukul lengan Murad, "Kakak malu ih... Ada pak sopir dan pengawal. " kata Faza dengan wajah yang memerah.
"Ih kamu kalau malu-malu gitu aku jadi gemesh lho, pingin gigit itu pipi. " goda Murad pada istrinya.
"Kakak..... iiihhh.... malukan? "
Murad lalu memeluk Faza dan menenggelamkannya ke dalam dadanya agar rasa malunya berkurang. Karena biasanya itu yang dilakukan Faza saat merasa malu, bersembunyi didadanya.
Sopir dan pengawal yang berada di depan mereka hanya bisa menahan senyumnya, karena mereka hanya bisa melihat tidak keuwuan tingkah majikannya, tanpa mengerti apa yang dikatakan keduanya. Karena mereka memakai bahasa Indonesia tadi.
Setelah tigapuluh menit perjalanan mereka akhirnya sampai di rumah sakit, dan langsung di sambut direktur rumah sakit yang bertanggung jawab selama ini.
"Selamat datang tuan muda. " ucap dokter paruh baya yang menyambut kedatangan mereka berdua.
"Harusnya tidak perlu menyambutku seperti ini,tuan. Karena aku kemari bukan untuk bekerja atau sidak Aku kemari hanya untuk berobat. " ujar Murad sambil terus didorong istrinya.
"Tidak apa-pa tuan. Siapakah gerangan nona inituan? " Dokter itu bertanya sambil melirik Faza yang mendorong kursi roda Murad.
"Dia istriku." jawab Murad singkat.
__ADS_1
Glek.... doter itupun berhenti berjalan dan menelan salivanya susah payah.
Zoya dan Murad sudah berada di dalam lift, mereka menunggu dokter tadi apakah mau ikut masuk atau tidak.
"Dokter apa mau tetap di sana atau ikut kami ke atas? " tanya Murad dengan sedikit membentak, karena tau dokter itu pasti sedang melamun.
Mendengar bentakan Murad dokter yang merangkap menjadi direktur pun segera tersadar dan segera masuk ke dalam lift.
"Apa yang kau pikirkan dokter? " tanya Murad saat mereka berada di dalam lift.
"Tidak ada tuan. " jawabnya gugup. "Maafkan saya atas kelancangan saya tadi tidak mengenali anda nona. " kata dokter itu lagi sambil membungkukkan tubuhnya.
"Dokter, daripada kau mengikuti ku, aku punya tugas penting untukmu. "
"Apa, tuan? "
"Aku membutuhkan semua berkas tentang dokter Evan. Aku minta kau persiapkan itu semua. Nanti setelah diperiksa dokter Evan, aku akan langsung keruanganmu. " pinta Murad kepada direktur rumah sakit.
"Tapi... " ucapan dokter terputus dan langsung mendapat tatapan tajam dari Murad.
"Tidak perlu banyak tanya, lakukan perintah yang ku berikan. Jika tidak kau akan segera ku pecat. "
"B... baik... Tuan. " Direktur rumah sakit itu segera keluar setelah pintu lift terbuka.
"Jangan tanyakan apapun saat ini, simpan pertanyaan mu itu nanti. Setelah kita berada di rumah. "
Faza langsung mengangguk mengerti dia bisa mengerti maksud Murad, karena saat ini mereka berada di rumah sakit. Sedangkan yang akan dia tanyakan menyangkut dokter Evan. Faza akan memendam semua rasa penasarannya sampai mereka berada di rumah.
Murad dan Faza masuk kedalam ruangan dokter Evan, dan dokter Evan menyambut mereka dengan senyuman ramahnya, hal biasa yang di lakukan seorang dokter kepada pasiennya.
"Selamat siang tuan Murad. " sapa dokter Evan sambil menjabat tangan dokter.
"Selamat siang dokter Evan. " Murad membalas jabatan tangan dokter Evan dengan memberikan senyuman kepadanya.
Mereka kemudian membicarakan keadaan kaki Murad yang katanya sudah tidak terlalu sakit lagi.Murad juga menjelaskan kepada dokter Evan apa saja yang dilakukan istrinya untuk mengurangi rasa sakit pada kakinya.
"Memang membutuhkan proses untuk kembali seperti semula tuan Murad. Tapi proses ini termasuk cepat karena bantuan dari istri anda yang dengan telaten memberikan sentuhan-sentuhan di area yang sakit secara pelan dan perlahan. Sehingga otot-otot dikaki anda tidak kaku lagi. dan tidak mengalami kram seperti waktu itu. " jelas dokter Evan
"Yah, istriku memang luar biasa, aku bangga memilikinya. " ujar Murad membanggakan istrinya, dan itu sukses membuat Faza merona.
Setelah berkonsultasi, Murad akhirnya melakukan pemeriksaan menyeluruh pada kakinya. Dengan seorang perawat yang selalu memperhatikan setiap tindakan yang dilakukan dokter Evan. Perawat itu juga salah satu suruhan dari Rayyan untuk mengawasi tindak tanduk dokter Evan selama di rumah sakit, terutama saat melakukan pemeriksaan pada Murad.
"Baiklah, semua sudah bagus tuan Murad. Mungkin jika satu minggu lagi sudah tidak merasakan sakit anda bisa melakukan terapi. " dokter Evan memberikan keterangannya setelah melakukan pemeriksaan pada kaki Murad.
__ADS_1
"Wah, benar kah itu dokter? aku tidak salah dengarkan? " Faza yang berbicara dengan penuh semangat.
"Iya tentu saja, nona. Apakah anda tidak sabar melihat tuan Murad bisa berjalan kembali? "
"Tentu saja dokter. Istri mana yang tidak menginginkan suaminya bisa sembuh. Benarkan, kak? " tanyanya sambil menoleh ke arah Murad.
Murad mengangguk dan tersenyum kepada Faza, senyuman yang penuh arti.
"Jika aku cepat sembuh, maka bersiaplah Faza. " gumam Murad dalam hati dengan tawa devilnya
"Apakah pemeriksaan ku sudah selesai dokter? "
"Sudah tuan. Saya akan meresepkan beberapa obat untuk anda. Dan datang lagi satu minggu dihari yang sama. "
"Baik dokter, kami akan datang lagi di hari yang sama. " Faza yang menjawab.
Setelah mendapatkan resep dari dokter Evan, Faza langsung membawa Murad keluar dari ruangan dokter Evan dan menuju ruangan direktur.
"Periksa ini, apakah ini obat sesuai dengan sakitku atau ada obat berbahaya di dalamnya. " Murad memberikan resep obat itu kepada pengawal untuk memeriksanya.
Sedangkan dia dan Faza segera masuk ke ruangan direktur.
"Bagaimana apakah kau sudah siapkan semua berkasnya? " tanya Murad kepada direktur rumah sakit.
"Sudah tuan, kalau boleh tau. Untuk apa anda meminta berkas-berkas dokter Evan? " tanya direktur itu dengan penasaran.
"Kau tak perlu tau, dan jangan sampai ada yang tau aku meminta berkasnya. Jika tidak kau tau sendiri akibatnya. " ancam Murad kepada pengurus rumah sakitnya
"B.. baik tuan, saya akan jaga rahasia ini dengan baik." ujar sang direktur dengan tergagap.
" Bagus, jika kau mengerti Aku pergi dulu, dan terimakasih atas kerjasamanya. "
Murad kembali di dorong Faza keluar dari ruangan direktur, setelah menyembunyikan berkas dokter Evan di tas milik Faza. Sungguh Faza sangat penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya. Tapi dia tetap harus bungkam sampai tiba di rumah nanti.
Di dalam mobil.
"Bagaimana? " tanya Murad kepada pengawalnya yang sudah ia beri tugas untuk memeriksa obat yang diberikan dokter Eva.
"Aman tuan, saya telah menanyakan ke dokter dari rumah sakit lain dan ini memang obat untuk sakit anda."
"Baguslah. Sekarang ayo kita pulang. Aku ingin istirahat. " Kata Murad sambil merebahkan kepalanya di pundak istrinya.
Bersambung.
__ADS_1