
Evan tidak langsung pergi dari sana melainkan ikut masuk kedalam kamar hotel bersama Ezra dan Zoya. Ezra yang tekejut, ingin marah kepada Evan. Tapi Evan memberi isyarat kepada Ezra agar diam.
"Kenapa? " tanya Ezra yang tidak mengerti sikap Evan. Apalagi istrinya sudah dalam keadaan tak kondusif lagi seperti cacing kepanasan.
"Maaf tuan, sepertinya ada yang mengikuti aku dan Zoya sejak kami masuk ke dalam hotel. Dan saat ini orang itu sedang di luar. Kalau saya langsung pergi, maka itu akan sangat mencurigakan, tuan. "
Ezra merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Evan. Tapi Evan juga tak mungkin berbohong.
"Lalu apa yang akan kita lakukan? apa kau mau melihatku bercinta dengan istriku hah. " ketus Kemal sambil melirik Ke arah Zoya yang tidak bisa diam, dan berusaha membuka pakaiannya.
"Tidak tuan , sesuai rencana sebaiknya kita berganti pakaian agar orang itu percaya ." Kata Evan sedikit gugup karena melihat wajah Ezra yang tak biasa .
Ezra akhirnya mengerti apa maksud dokter Evan . Dan akhirnya dia segera melepaskan pakaian hotelnya agar dipakai Evan. Begitu juga dengan kacamata kumis dan tompel yang ada di pipinya . Setelah semua terpasang di tubuh Evan, Evan segera keluar dari kamar hotel sambil membungkuk dan berterima kasih karena telah diberi tips.
Tidak dilihat lagi pria asing yang dari tadi mengikutinya. Evan bisa bernafas lega, dan dia bisa langsung pergi dari hotel itu dengan tenang.
Di kamar hotel.
Zoya sudah tidak tahan lagi dia terus saja meminta tolong kepada Ezra untuk melepaskan hasratnya yang tidak terkontrol. Ezra menggeram kesal melihat istrinya seperti ini.
"Kau lihat saja, Kalau sudah waktunya aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri Monica. " Ezra bergumam sambil melepaskan sisa pakaian yang menempel di tubuhnya.
Dia lalu melakukan foreplay kepada istrinya agar siap untuk dimasuki. Dan menghilangkan pengaruh obat yang dia minum. Berkali-kali Zoya menggelinjang, karena sesuatu yang dia keluarkan di dalam sana. Hingga akhirnya pada erangan yang kesekian kalianya mereka berdua baru terkapar tak berdaya di ranjang kamar hotel itu malam ini.
"Maafkan aku, jika aku menyakiti mu. " ucap Ezra yang melihat istirnya dalam keadaan tak berdaya.
"Bukan salahmu, tapi tubuhku yang menginginkannya. Kau tidak bersalah. Dan aku beruntung melakukannya dengan suamiku. " kata Zoya yang mengeratkan pelukannya kepada sang suami.
Hingga pada akhirnya mereka berdua terlelap karena kelelahan.
********
Restoran.
__ADS_1
Dengan Malas, Rayyan menunggu Monica dengan segelas cappucino panas di depannya. Dia merutuki dirinya, kenapa juga dia musti mau menemui wanita itu. Tapi dia mengambil sisi positifnya saja, Semoga pengorbanannya ini tidak sia-sia. Dia juga tidak mau Kalau Zoya dihancurkan oleh kelicikan wanita gila itu.
Rayan melihat sosok Monica yang masuk ke dalam restoran , dengan pakaian yang kurang bahan di sana sinj . Melihatnya saja sudah membuat Rayan sakit mata .
"Kenapa dia berpakaian seperti itu ? Apa dia benar-benar mau menggodaku ." Gumam Rayyan dalam hati
Rayyan berdiri untuk menyambut kedatangan Monica , dan wanita itu merasa sangat senang karena diperlakukan hormat oleh Rayyan. Rayyan menarik kursi untuk Monica , setelah itu dia duduk di depannya .
"Apakah anda sudah lama menunggu saya tuan Rayyan ?" Tanya Monica dengan tampang malu-malu .
"Ya, lumayan kurang lebih lima belas menit setelah kepergian kolegaku ." Kata Rayyan dengan wajah biasa saja .
"Kalau begitu Maafkan saya tuan Rayyan , karena sudah membuat Anda menunggu ."
"Tidak apa-apa Nona Monica, santai saja. Ini semua saya lakukan , agar saya tidak memiliki hutang kepada anda untuk bertemu ." Kata Rayan dengan memaksakan senyumannya
Mereka terus saja berbincang hangat malam itu, seolah tidak ada masalah di antara mereka. Rayyan terus saja bersikap profesional menghadapi wanita licik di depannya ini. Seolah dia tertarik dengan wanita ini.
"Jadi, apakah tuan Rayyan sudah memiliki kekasih? "
"Tapi, aku memiliki seorang istri yang sangat aku cintai. " lanjut Rayyan, dalam hati.
"Masak sih pria tampan seperti anda, tidak memiliki kekasih. " ucap Monica tak percaya.
Rayyan menggeleng, sambil menunduk. "Aku lebih suka sendiri, tidak ada yang mengaturku atau membatasi langkahku. Karena bagiku wanita itu sangat merepotkan. " Rayyan lalu melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Maaf nona Monica, aku rasa ini sudah cukup larut malam. Saya harus pulang, karena saya harus istirahat dan bekerja besok. Saya tidak biasa tidur telalu larut. Karena saya Memiliki jam tidur, sendiri." Rayyan memberi alasan agar Monica percaya kepadanya.
"Wah anda orangnya perfeksionis sekali, tuan. Pantas saja tubuh anda terlihat sangat bagus. " Monica mencoba menggoda Rayyan dengan memegang lengan atas Rayyan yang berotot.
"Maaf nona. " Rayyan menatap tajam Monica yang sudah berani memegang lengannya.
"Maaf, tuan." Monica langsung melepaskan tangannya yang menyentuh lengan Rayyan setelah mendapatkan tatapan tak suka darinya.
__ADS_1
"Kalau begitu baiklah, ayo kita pulang dan beristirahat. " ucap Monica pada akhirnya, dia tidak ingin merusak kedekatannya dengan Rayyan hanya karena sikapnya yang agresif.
Rayyan dan Monica berpisah di parkiran restoran. Rayyan segera menaiki mobil yang sudah menjemputnya. Pasti kakaknya yang melakukannya, karena tadi dia datang ke hotel bersama Evan dan Zoya.
Zoya, bagaimana kabar saudara kembarnya itu, dia pasti tersiksa. Karena Rayyan juga pernah merasakan efek obat laknat itu yang sudah membuatnya lebih dekat dengan istrinya sampai saat ini.
Sampai di mansion, Rayyan mendapat tatapan tak biasa dari istrinya. Rayyan yang tak mengerti apapun langsung mendekatinya dan ingin memeluknya. Tapi apa yang dia dapat, Zahra langsung menepis tangan Rayyan dan langsung naik ke kamarnya.
Rayyan yang bingung pun bertanya kepada kakaknya yang sedang turun mengambil air minum.
"Kak, Zahra kenapa? Kenapa dia marah kepadaku?" tanya Rayyan dengan wajah kebingungan.
"Mungkin dia cemburu, karena dia tadi ikut melihat saat aku mengecek CCTV dan dia melihatmu duduk berdua dengan Monica. Dia juga dengar saat kau bilang tidak memiliki kekasih. Mungkin karena itu dia marah. " Jawab Murad enteng.
Mendengar hal itu membuat Rayyan membulatkan matanya dan langsung berlari menyusul Zahra ke kamar. Dia langsung masuk ke dalam kamar dengan langkah lebar. Dan tidak menemui Zahra di manapun. Hingga pandangan matanya tertuju pada pintu balkon yang terbuka. Rayyan langsung kesana, dilihatnya istrinya sudah mengenakan jubah tidurnya dan menatap keluar dengan bersedekap dada.
Rayyan mendekap tubuh Zahra dari belakang dan mencium ceruk leher Zahra yang polos, dan memberikan sebuah tanda di sana.
"Pergilah aku masih marah padamu. " ketus Zahra yang akhirnya membuka suaranya.
"Kenapa? apa karena cctv di restoran? dan ucapanku yang mengatakan padanya karena aku tidak punya kekasih. "
"Sudah tau nanya. " ucap Zahra masih dengan ketus.
Rayyan langsung membalikkan tubuh Zahra agar menghadap kepadanya.
"Apa yang aku katakan padanya benar, Zahra. " Rayyan membelai rambut Zahra yang panjang dan indah.
"Dia bertanya padaku, apa aku sudah punya kekasih, ya aku jawab tidak. Dimana salahnya? Coba dia tanya, apa aku punya istri? tentu aku akan menjawabnya, Aku sudah punya istri. "
Ucapan Rayyan membuat Zahra tersipu, Dan itu membuat Rayyan gemas. Tanpa aba-aba lagi Rayyan langsung menggendong tubuh Zahra masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di atas ranjang mereka.
"Aku akan menghukummu, karena kau sudah mengacuhkan suamimu saat baru pulang menyelesaikan misi. " kata Rayyan sambil membuka satu per satu kemejanya.
__ADS_1
Zahra hanya memutar bola matanya malas, karena dia tau itu hanya alasan Rayyan saja untuk menghukumnya. Tapi malam ini dia juga menikmati hukuman dari Rayyan yang sangat menyenangkan.