
Zoya dan Evan sudah sampai di tempat tujuan mereka yaitu taman nasional Turki. Mereka berdua akan menghabiskan hari libur ini untuk bersenang-senang. Berjalan berdua berdampingan tanpa berpegangan tangan. Karena Zoya tidak mau di sentuh Evan sebelum ada hubungan yang resmi antara mereka. Tapi kenapa, semalam saat tangannya memukuli Ezra dan Ezra menggenggam tangannya, Zoya tidak keberatan sama sekali. Apa bedanya? Mereka berdua Evan dan Ezra sama-sama tidak memiliki hubungan darah dengannya.
"Ezra... Ah kenapa aku jadi memikirkan pria kulkas itu. " batin Zoya
Saat ini di hadapannya adalah Evan, jadi dia akan bersenang-senang dengan Evan. Jangan memikirkan Ezra. Itulah yang berkecamuk dalam hati Zoya saat ini.
"Zo... kenapa diam?" tanya Evan yang sejak tadi hanya melihat Zoya yang terdiam.
"Ah, tidak apa-apa aku hanya sedang menikmati keindahan alam di sini. " ujar Zoya berbohong.
Dia lalu mengenyahkan pikiran tentang Ezra yang sudah mengganggu kerja otaknya. Dan menikmati harinya bersama dengan Evan.
Tanpa mereka berdua sadari sejak tadi sepasang mata menatap nanar ke arah mereka. Tapi meskipun sakit, Dia akan tetap mengawasi mereka berdua. Dia tidak ingin wanita yang dicintainya itu terluka karena pria lain. Yah, dia adalah Ezra. Mobil yang mengikuti mereka berdua adalah mobil Ezra, selain mobil anak buah Max yang mengikuti.
Dia akan tetap menjaga Zoya walau hanya sebagai bayangannya saja. Tetap mengawasi dan melindunginya tanpa Zoya tau.
Zoya dan Evan saling bicara dan bercanda, saling mendekatkan diri dan mengenal pribadi satu sama lain. Hingga waktu menjelang Dzuhur, Zoya meminta Evan untuk menemaninya ke tempat ibadah terdekat, karena harus melakukan kewajibannya. Evan tidak keberatan mengantarkan Zoya untuk beribadah karena di manghormatinya.
Sesampainya di sebuah masjid, Zoya segera membuka alas kakinya, dan masuk ke dalam. Tapi saat dia menoleh ke belakang, Zoya melihat Evan yang hanya terdiam.
"Kenapa tidak masuk... Ayo. " Ajak Zoya kepada Evan.
"Kamu duluan , Zo nanti aku menyusul. "
"Baiklah." Tanpa menoleh lagi Zoya segera masuk ke dalam Masjid untuk beribadah.
Ezra yang lewat pintu lain melihat Evan tetap diluar mengernyitkan keningnya, merasa tidak mengerti, kenapa dia menolak ajakan Zoya untuk beribadah. Namun dia tidak ambil pusing dan langsung masuk ke dalam masjid.
Setelah lima sampai sepuluh menit, baik Ezra ataupum Zoya segera keluar dari masjid. Zoya yang heran karena sepertinya Evan tidak beribadah seperti dirinya. Akhirnya menanyakan rasa penasaran nya.
"Kamu nggak masuk tadi? " tanya Zoya saat mereka masuk ke sebuah tempat makan untuk makan siang.
Evan menggeleng.
"Kenapa? " tanya Zoya penasaran.
"Karena aku bukanlah seorang muslim. "
Deg...
Sebuah fakta yang baru saja Zoya ketahui tentang Evan. Tapi Zoya tak ambil pusing, toh saat ini mereka kan tidak punya hubungan apa-apa.
"Oohhh.... " Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Zoya.
"Kamu tidak keberatan kalau kita beda keyakinan?" tanya Evan yang penasaran dengan jawaban Zoya yang hanya membulatkan bibirnya tadi.
"Kita kan berteman Evan, jadi dalam berteman kita bisa berteman dengan siapa saja. Tidak masalah walaupun dengan orang yang berbeda agama dengan kita. Hanya saja... " Zoya menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
"Hanya saja apa? " tanya Evan penasaran.
"Hanya saja nanti saat aku menikah, aku akan mencari seseorang yang seiman dengan ku. " ujar Zoya dengan memberikan senyumannya.
"Jadi.... "
Ucapan Evan yang menggantung itu di angguki oleh Zoya tanpa harus mendengar kelanjutan ucapan Evan. Karena Zoya sudah bisa menebaknya.
"Untuk saat ini kan kita hanya berteman. Jadi menurutku tidak masalah. " ujar Zoya santai walau dia merasakan sedikit nyeri di hatinya.
Baru pertama kalinya dia dekat dengan seorang pria. Tapi langsung dipatahkan dengan perbedaan keyakinan diantara mereka. Zoya masih tetap memberikan senyumannya kepada Evan walau hatinya sakit.
Saat mereka mulai makan siang, Evan mendapatkan sebuah telpon yang langsung membuatnya panik.
"Baiklah, aku akan langsung ke sana. Aku akan meminta ijin ke rumah sakit, setelah itu aku akan langsung terbang ke sana..."
"iya... baiklah. "
Setelah menutup telponnya dia baru sadar kalau di depannya ada Zoya. Rasa bersalah pun muncul di hati Evan.
"Ada apa?" tanya Zoya.
"Zo, maafkan aku... " kata Evan dengan rasa bersalah nya.
"Iya, katakan ada apa? " tanya Zoya yang tidak suka jika Evan berbelit-belit.
"Ya sudah pergilah. Aku tidak apa-apa." kata Zoya dengan tersenyum walau perasaan sedikit kecewa.
Tapi apa boleh buat, orangtua Evan sedang sakit dan membutuhkannya. Jadi dia akan memakluminya. Karena bagaimanapun orangtualah yang utama.
"Ayo aku antarkan kau pulang dulu. " ajak Evan, tapi Zoya menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin disini dulu Evan. Kamu pergilah, aku baik-baik saja. Nanti aku yang akan menjelaskannya pada daddy ku. " ujar Zoya yang menangkap rasa bersalah dan takut kepada daddynya.
"Apa benar tidak apa-apa? " Evan memastikan.
"Iya, pergilah. "
"Zo, maafkan aku. " Evan langsung pergi dan berlari meninggalkan Zoya.
Orang yang disuruh Max dan Rayyan yang mengikuti Evan pun bingung. Dia akhirnya menghubungi Rayyan.
"Ada apa. " ketus Rayyan dari seberang telpon.
"Tuan, Evan pergi meninggalkan Nona Zoya di taman nasional. Aku harus bagaimana? mengikuti Evan atau nona Zoya. Tapi sepertinya sejak tadi aku juga melihat tuan Ezra megikuti mereka berdua. "
" Cih manusia bodoh itu... " Rayyan sempat-sempatnya merutuki kebodohan Ezra yang mengikuti orang berkencan. "Ya sudah kau ikuti Evan. Dan apapun yang Evan lakukan segera hubungi Max. Dia ada di Jerman saat ini.
__ADS_1
" Baik tuan. "
Panggilan pun terputus, Dan orang itu langsung mengejar Evan kemapun dia pergi.
Di taman.
Zoya sedang duduk di kursi taman sendirian, merutuki dirinya yang sangat tidak beruntung. Baru kenal dengan pria dan mencoba menyukainya namun perbedaan keyakinan yang dia dapat. Setelah itu kencan pertamanya juga gagal.
"Sial... benar-benar sial. "
Saat dia sedang merutuki kesialan nya, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingnya. Zoya langsung menoleh ke sampingnya, dan didapati pria berwajah datar dan dingin itu sedang menghadap ke arah depan menikmati pemandangan yang terhampar didepannya.
"E... Ezra kau disini. "
"Iya, kebetulan sekali ya? " kaga Ezra dengan wajah datarnya.
"Kebetulan? " Zoya mengangkat alisnya seolah tak percaya kalau ini adalah kebetulan.
"Kenapa responmu seperti itu? " tanya Ezra yang mendapatkan tatapan curiga dari Zoya.
"Benar kebetulan atau kamu mengikutiku kemari? " tanya Zoya dengan segala rasa curiga nya.
"Setelah pulang dari mansion aku langsung kemari Zoya. Aku ingin menghirup udara alam bebas. " ujar Ezra yang sedikit berbohong.
"Benarkah? kau tidak bohong? " tanya Zoya yang masih yak percaya.
"Untuk apa aku bohong apa untungnya bagiku." ujar Ezra yang masih bertahan dengan kebohongannya.
"Tadi aku di sana. " Ezra menunjukkan sebuah tempat yang sedikit jauh dari tempat Zoya berada.
"Lalu nggak lama aku melihat Dokter Evan lari kesana. " Ezra menunjuk arah dokter Evan keluar.
"Aku yang sadar kalau hari ini kau ada janji dengan dokter Evan segera mencarimu, saat melihat dokter Evan pergi tadi. "
Sungguh sandiwara dan kebohongan Ezra kali ini patut diacungi jempol.
"Katakan padaku, apa yang terjadi Zo? " tanya Ezra pada akhirnya setelah ia menyelesaikan sandiwaranya. "
Zoya langsung bersandar di bahu Ezra.
"Ezra... " panggilnya dengan manja.
"Hmm... "
"Kenapa aku tidak beruntung ya dalam percintaan atau menjalin hubungan? "
"Maksudmu?
__ADS_1