
"Aku tidak tau sejak kapan aku mencintaimu. Tapi yang aku tau, sejak kapan aku menyukaimu. "
"Sejak kapan? "
"Sejak pertama kali bertemu, dan aku melihat sosok cantik, angkuh dan keras kepala di hadapan ku. Dengan rambut bergelombang indah. "
Mendengar ucapan Rayyan, Zahra tersenyum dan menunduk malu. Rayyan langsung membawa tubuh Zahra masuk ke dalam pelukannya. Memeluknya, dan menghirup aroma yang selalu bisa menenangkan hatinya.
"Terima kasih, karena kau sudah membalas cintaku, Zahra. "
"Terima kasih, Karena sudah mencintaiku Ray. "
Mereka saling berpelukan tanpa menghiraukan sekitar. Karena ruangan VVIP mereka berada dekat taman dan jauh dari hiruk pikuk orang yang lalu lalang. Hingga keromantisan mereka harus dikejutkan dengan suara bariton sang daddy.
"Kenapa kalian berpelukan diluar. Kalau mau romantisan, segera pulang atau sewa hotel di depan sana. " Sindir Erhan sambil terus melangkah memasuki ruang rawat Zoya dan Faza diikuti Murad di belakangnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalian ini. "
Rayyan dan Zahra sontak saling berpandangan dan tertawa bersama. Mereka bedua lalu mengikuti daddy dan Murad masuk kedalam ruangan perawatan Zoya dan Faza.
Erhan langsung melihat keadaan putrinya Zoya yang belum sadar. Sedangkan Murad langsung memeluk istrinya yang sudah sadar dan menunggunya sejak tadi.
"Apa keadaan Zoya baik-baik saja, sayang? " tanya Erhan kepada isistrinya
"Iya dia baik, dia masih dalam pengaruh obat bius. Biarkan dia istirahat. Dimana Ezra dan Kemal kenapa tidak pulang bersama kalian? " tanya Nisa yang celingukan mencari Ezra dan Kemal.
"Mereka masih di kantor polisi untuk memberikan keterangan. "
Nisa mengangguk mengerti. "Apakah wanita itu sudah di tangkap? "
"Sudah... kami melumpuhkan nya tadi karena dia berniat mencelakai Murad. "
Mendengar hal itu, Nisa langsung berjalan menghampiri Murad dan melihat keadaan anak sulungnya itu.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang... tidak ada yang terluka. "
Nisa memeriksa seluruh tubuh Murad, Murad yang merasa risih langsung menggenggam tangan mommynya.
"Aku baik-baik saja mom. Aku belum melakukan apapun kepada Monica , Tapi Daddy keburu datang bersama dengan para polisi . Jadi semua aman terkendali mom . Mommy tidak perlu khawatir ." Jelas Murad.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, Mommy takut terjadi sesuatu kepadamu sayang. Kau baru saja sembuh dan pulih. Mommy tidak ingin melihat anak-anak mommy terluka lagi. Ini juga berlaku untukmu, Ray. Jangan sampai kau terluka. " Nisa langsung menatap tajam kearah Rayyan yang sedang bercanda dengan istrinya.
"I... Iya.. mom..." Rayyan langsung menghentikan gurauannya dengan Zahra.
"Ray.. besok perusahaan kau yang menghandle, Daddy dan Kemal lelah sekali setelah melakukan perjalanan. Sedangkan kakakmu dan Ezra biar menemani istri mereka dulu, sampai Faza dan Zoya pulih. "
"Baiklah, dad. Aku mengerti. "
"Kau dan Zahra boleh pulang Ray. Kalian berdua istirahatlah, agar besok bisa fokus kerja. Daddy dan mommy juga akan pulang sebentar lagi untuk istirahat. Kami menunggu Kemal dan Ezra dulu untuk mengatuhi perkembangan kasus Monica. "
Rayyan menoleh ke arah Zahra dan meminta pendapatnya. "Bagaimana? Apa kau mau pulang Zahra?"
Zahra mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. "
Rayyan lalu beranjak dari duduknya dan menyalami tangan semua orang, diikuti Zahra yang juga ikut mencium tangan mertuanya dan Alima. Tapi tidak dengan Murad. Karena mereka bukan Muhrim. Setelah itu Rayyan pamit dan keluar dari ruang perawatan Zoya dan Faza dengan menggandeng tangan Zahra dengan erat.
"Sayang, ada yang ingin ku katakan padamu. Ini tentang Rayyan dan Zahra. " Erhan lalu mengajak istrinya keluar ruangan untuk bicara.
Murad tau apa yang ingin di katakan daddynya kepada mommy. Karena dia dan Erhan tadi mendengar apa yang dibicarakan Rayyan dan Zahra di luar.
"Bukan apa-apa ma. " Murad tidak menjawabnya dengan gamblang melainkan hanya dengan senyuman.
"Kakak... " Faza memegang tangan suaminya.
"Ada apa? apa ada yang kau inginkan? Apa kau lapar? "
Faza mengangguk.
"Kau mau makan apa? "
"Sesuatu yang segar. "
"Apa?" tanya Murad karena dia tidak tau apa yabg ingin di makan istrinya.
"Salad buah saja. yang ada di rumah. Tadi pagi aku memakannya dan masih tersisa banyak."
" Baiklah, aku akan menyuruh sopir untuk mengantarkannya kemari. "
__ADS_1
Faza mengangguk dan tersenyum senang. Murad langsung menghubungi sopir di mansion untuk mengantarkan makanan Faza, sekalian mengantarkan beberapa pakaian untuknya, Faza, Zoya dan juga Ezra.
Di luar ruangan.
Erhan mengajak Nisa duduk di kursi taman yang berada tepat di samping kamar rawat anak-anak mereka.
"Ada apa, sepertinya serius sekali?" Tanya Nisa yang sudah pensaran dengan apa yang ingin disampaikan suaminya.
"Ini tentang Zahra. " ucap Erhan sambil menghela nafasnya .
"Zahra ? Ada apa dengan Zahra ?" tanya Nisa lagi
Erhan lalu menceritakan apa yang dia dengar tadi. Pembicaraan antara Rayyan dan Zahra. Tentang keinginan Zahra yang memiliki anak , tapi masih belum diberi oleh Tuhan . Dan kedewasaan Rayyan yang memberi pengertian kepada istrinya itu .
Mendengar cerita suaminya , Nisa hanya bisa menutup mulutnya . Dia tidak menyangka ,kalau Zahra juga menginginkan seorang anak . Padahal , mereka tidak pernah mengungkit masalah keturunan sama sekali . Hanya saja , mungkin Zahra merasa iri karena kedua saudara iparnya akan segera memiliki anak . Sedangkan dia belum diberi kepercayaan dengan cepat.
"Untuk itu , aku mohon padamu . Jangan pernah membahas atau mengungkit masalah keturunan kepada Zahra . Biarkan semua berjalan , apa adanya . Tentang rezeki , seorang anak hanya Tuhan yang bisa memberikannya . Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha. " ujar Erhan setelah menceritakan semuanya.
"Aku mengerti sekarang. Baiklah, mas."
"Setelah Kemal dan Ezra datang kita akan segera pulang. Aku lelah sekali, ingin berendam air hangat. " Keluh Erhan sambil memegangi pundaknya.
"Iya, biarkan Zoya dan Faza di jaga suami mereka."
Saat mereka berbincang di luar, terlihat Kemal dan Ezra berjalan beriringan menuju ruangan perawatan Faza dan Zoya sambil berbincang. Erhan dan Nisa langsung berdiri dan menemui mereka.
"Bagaimana? " tanya Erhan tak sabaran.
"Monica akan di deportasi ke negaranya dan akan melanjutkan kasusnya di sana. " jawab Kemal, mereka sambil berjalan masuk ke dalam ruangan perawatan.
Dilihatnya Zoya yang juga sudah sadar, dan sedang ditemani Alima.
"Kamu sudah sadar sayang. " Nisa langsung berhamburan memeluk anak perempuan satu-satunya itu.
Zoya mengangguk, dan pandangannya tertuju pada Ezra yang sedang menatapnya dan tersenyum kepadanya.
"Syukurlah, anak-anak mommy memang kuat. "
Nisa melepaskan pelukannya, dan membiarkan Ezra untuk menemani anaknya. Sedangkan dia bergabung dengan suaminya dan juga Kemal dan Alima yang membicarakan masalah Monica.
__ADS_1
Setelah berbincang beberapa saat, Para orang tua berpamitan kepada anak-anak mereka untuk kembali ke mansion dan akan kembali besok. Mereka perlu istirahat setelah hari mereka yang melelahkan.