
Perdebatan Murad dan Rayyan pagi itu mengundang rasa penasaran para wanita yang sedang menyiapkan sarapan. Tidak biasanya Murad dan Rayyan berdebat.
"Ada apa ini?" tanya Nisa yang berjalan ke arah suami dan kedua anaknya.
"Tidak ada apa-apa sayang, sepertinya anak lelakimu yang satunya sedang jatuh cinta. " kata Erhan dengan nada mengejek ke arah Rayyan.
"Benarkah? " Nisa terkejut dengan penuturan suaminya dan langsung bejalan cepat duduk di samping Rayyan.
"Kamu jatuh cinta dengan siapa, Ray?katakan pada mommy. " tanya Nisa dengan sangat antusias.
"No, mom. Ayah hanya bercanda. " Rayyan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan senyum salah tingkahnya.
"Ck... kamu ini, mommy sudah bahagia melihat kakakmu sudah menikah, dan hanya menunggu kalian berdua yang menikah. Nanti resepsinya kita adakan bersama dalam satu pelaminan. Waaahhh, pasti seru. " Seru Nisa dengan penuh semangat.
Ocehan sang mommy hanya ditanggapi dengan senyuman oleh semua orang, siapa yang tidak tau mommy dan grandma. Orang yang yang selalu membuat rumah ini hidup dengan segala kehebonnya.
"Apakah sarapan sudah siap, sayang. Aku sudah lapar ini. " ujar Erhan untuk memutus khayalan sang istri yang tidak ada habisnya.
"Ah, iya. Aku lupa. Ayo kita sarapan. " Ajak Nisa kepada semua orang.
Faza dengan sigap mendorong kursi roda Murad ke meja makan. Seperti biasa dia lebih mengutamakan melayani suaminya dulu, baru setelah itu dirinya.
"Lihatlah, Ray. Sekarang kakakmu sudah ada yang melayani. Apa kamu tidak mau dilayani juga. "
"Mau dong mom. Kakak ipar tolong ambilkan nasi dan lauk untuk ku. "
Mendengar celetukan adiknya, sontak membuat Murad menatap tajam kearah Rayyan. Enak sekali minta dilayani.
Melihat tatapan tajam kakaknya, Rayyan langsung beringsut mundur dan berkata, "Tidak jadi kakak ipar, pawangmu sangat menakutkan. " kata Rayyan dengan sedikit mengejek kepada kakaknya.
"Awas saja kau. " gumam Murad yang menatap kesal kearah adik laki-laki nya itu.
Semua orang yang melihat tingkah konyol Rayyan hanya bisa menggeleng kan kepalanya. Tetap saja Rayyan yang selalu membuat masalah dari dulu. Dia yang selalu suka menggoda dan membuat kesal kakak, saudara dan orangtuanya. Tapi kalau tidak ada Rayyan maka mansion sebesar ini pasti akan terasa sepi.
"Murad, kapan kau akan memeriksakan kakimu. " tanya Erhan saat dia sudah selesai makan.
__ADS_1
"Besok, dad."
"Baiklah, besok daddy akan menyiapkan sopir untuk mengantarmu ke rumah sakit. "
"Kenapa harus sopir dad, " tanya Zoya yang memiliki maksud terselubung.
"Memangnya harus diantar siapa lagi, Zo. " Tanya Erhan yang tidak mengerti keinginan anak perempuannya itu.
"Ah, daddy nggak peka. Ya, diantar aku lah, dad. agar aku bisa bertemu dengan Dokter Evan. " ujar Zoya dengan wajah berbinar.
Mendengar ocehan Zoya sontak membuat Rayyan memutar bola matanya malas, dia paling tidak suka, jika saudara nya itu berhubungan dengan dokter Evan. Karena dia benar-benar memiliki firasat buruk tentang dokter Evan. Dan sikap Rayyan tadi di tangkap oleh Murad. Murad tau, Rayyan sangat menentang Zoya dengan dokter Evan apalagi kalau sampai berlanjut.
"Please, Zo... jangan murahan jadi wanita." ujar Rayyan dengan ketus.
"Apa maksudmu, Ray mengatakan aku murahan. " Zoya merasa tak terima dikatai murahan oleh Rayyan. Dia menjadi sangat marah.
"Zo... wanita itu harusnya di kejar, jangan mengejar. Apalagi semua orang tau status keluarga kita. Jangan karena kau menyukai seorang, lantas kau mengejarnya. Jika dia memang suka dan serius sama kamu, maka dia akan berusaha mengejar untuk mendapatkanmu. " Rayyan memberi pengertian kepada saudaranya itu agar bisa mengerti maksud ucapannya.
Mendengar itu, membuat Zoya mengerucutkan bibirnya.
"Tapi mom, aku baru pertama kali memiliki teman pria.... "
"Kami tau, sayang. Karena itu, kami tidak ingin kamu terluka karena seorang pria. Jika dia memang menyukaimu, biarkan dia berjuang untukmu. Tapi jika dia tidak mau berjuang, itu artinya dia tidak pantas untuk diperjuangkan. " Lagi sebuah kata bijak dari sang mommy menyentil hati Zoya.
"Lihatlah perjuangan daddymu, saat itu mommy juga baru pertama kali berkenalan dengan seorang pria, dan itu daddymu. Dia sampai mengejar mommy ke Indonesia. Karena dia benar-benar serius sama mommy. Benar kata Rayyan, wanita itu harus di kejar, bukan mengejar. Jika dia menghubungimu, tetap respon dia. Tapi untuk menemuinya lebih dulu, kami tetap tidak setuju. Apa sekarang kamu mengerti? " Nisa memberi pengertian kepada anak gadisnya itu dengan hati-hati, jangan sampai dia tersinggung.
Zoya, mengangguk mengerti. "Baiklah mom aku mengerti. "
"Zo, maafkan aku karena berkata kasar seperti tadi ya, bukan maksudku... " ucapan Rayyan terpotong oleh Zoya.
"Tidak apa-apa Ray, aku mengerti. Aku tau kau menyayangiku. " ujar Zoya dengan memberikan senyuman tulus, kepada saudara kembarnya.
Setelah perbincangan di meja makan mereka berangkat kerja seperti biasa, kecuali Murad tentunya. Dia tetap berada dirumah bersama Faza dan sang mommy. Kalau kalian tanya di mana grandma Aylin, beliau sedang berada dirumah saudaranya. Karena saudara grandma ada yang sakit-sakitan, dia membantu istrinya untuk menjaga saudanya itu.
***********
__ADS_1
Di perusahaan.
Setelah melakukan rapat dengan daddynya dan beberapa orang pemegang saham, Rayyan kembali ke ruangannya diikuri Ezra.
"Bagaimana apa kau sudah mendapat semua informasi tentang Simon dan putrinya? "
"Iya, " Jawab Ezra singkat dengan wajah dinginnya. Ia lalu menyerahkan sebuah berkas kepada Rayyan.
Rayyan menerimanya dan membuka berkas itu. Satu persatu berkas itu dia buka dan di bacanya.
"Tuan Simon hampir bangkrut karena ditipu rekan kerjanya, hingga menyebabkan kerugian yang besar. Sedangkan anaknya dia adalah seorang Chef, Dia memiliki beberapa restoran di negeri ini."
Ezra menjelaskan informasi yang dia dapatkan, sedangkan Rayyan memeriksa semua informasi itu dengan rinci.
"Baiklah, aku mengerti. Terimakasih Ezra. " Kata Rayyan sambil menutup berkasnya.
"Ezra, aku ingin bertanya padamu. "
"Apa? katakanlah. "
"Bagaimana menurutmu, tentang dokter Evan. Sepertinya Zoya menyukai nya. "
Wajah Ezra yang dingin langsung menegang mendengar ucapan Rayyan, Sedangkan Rayyan sendiri sengaja memancing Ezra. Dia ingin tau apakah benar Ezra mencintai saudara kembarnya. Dan sepertinya umpannya berhasil dan Ezra sudah memakan umpan dari Rayyan.
"Aku tidak mengerti maksud mu, Ray. " Ujar Ezra di buat sesantai mungkin, tapi Kegelisahan nya tidak dapat disembunyikan dari mata Rayyan yang jeli.
"Semalam aku bertanya kepada Zoya, tentang perasaannya kepada dokter Evan. Dan ternyata level sukanya kepada dokter Evan sudah mencapai level nyaman. Aku bingung sekarang. " Ujar Rayyan yang masih memancing Ezra
"Kenapa, kan bagus jika Zoya memiliki seorang taman dekat pria. Karena selama ini dia tidak memiliki teman pria kecuali aku, kau dan Murad. " ujar Ezra dengan dingin.
Tapi Ezra tidak bisa membohongi matanya yang terlihat terluka dan tangan yang mengepal erat menahan emosinya. Semua itu bisa ditangkap mata Rayyan.
"Kena, Kau Bodoh. "
Bersambung
__ADS_1