
Rayyan dan Zahra segera turun setelah mereka menyiapkan semuanya. Membawa apa yang akan mereka bawa ke rumah sakit. Mereka berdua menjadi pusat perhatian semua penghuni mansion. Karena tidak biasanya mereka akur seperti itu, bahkan Rayyan merangkul pundak Zahra dengan mesra.
Semua orang mengucek matanya seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat pagi ini.
"itu beneran Zahra dan Rayyan kan? " tanya mommy Nisa berbisik di telinga suaminya.
"Iya, sayang. Mimpi apa ya kita semalam. Sehingga melihat keakraban mereka berdua. " jawab Erhan tak percaya.
"Sudahlah, yang penting Rayyan dan Zahra sudah akur. Aku bahagia melihatnya." ujar Nisa pada akhirnya, dan diangguki semua orang.
"Selamat pagi semuanya . " sapa Rayyan saat mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Pagi Ray. Apa ada sesuatu yang membuatmu bahagia pagi ini? " tanya Nisa mencoba memancing anaknya.
"Tidak ada mom. Aku dan Zahra memutuskan untuk berbaikan. Iya, kan sayang. " kata Rayyan enteng sambil mencium pipi Zahra begitu saja di depan semua orang.
"Rayyan.... " pekik Zahra yang merasa malu dengan apa yang dilakuan Rayyan kepadanya di depan semua orang.
Melihat sikap jahil Rayyan, membuat semua orang menggeleng kan kepalanya. Tetap saja dia seperti itu, yang selalu jahil kepada mangsanya.
"Ya sudah , ayo kita sarapan. Tadi kami hanya tinggal menunggu mu, Ray. Kenapa lama sekali? " ajak Erhan kepada semua orang.
"Biasa, dad. lagi memanjakan istriku."
"Cih... " terdengar suara decihan dari bibir Ezra.
"Apa kau... "
Tetap saja kedua sahabat sekaligus saudara ipar itu selalu saja saling mengejek saat bersama.
"Ingat, pertemuan dengan tuan Sandro nanti malam. " Ezra mengingatkan
"Iya... bawel. "
"Bukan begitu, tadi Tuan Sandro menghubungiku. Dan bertanya Apakah aku akan ikut pertemuan. Ya aku bilang tidak ikut, karena aku ada janji dengan istriku. " jelas Ezra yang tidak mau dibilang cerewet oleh Rayyan.
"Hati-hati, Ray. Sepertinya sangat mencurigakan. " Ezra memperingatkan.
"Tenanglah aku kan membawa istriku. Benar kan sayang. " Lagi-lagi Rayyan mencium pipu Zahra.
Zahra melotot saat melihat Rayyan terus menggodanya.
Para istri menyiapkan makanan untuk suami mereka masing-masing. Begitu juga dengan Zoya yang berusaha sebaik mungkin kali ini. dengan meminta pendapat Rayyan makanan apa saja yang dia inginkan untuk sarapan.
Semua orang melihat perubahan Zahra merasa takjub. Baru sehari dia mendapat pelajaran dari ibu negara. Kini dia sudah berubah dan mulai melayani suaminya dengan baik. Murad yang melihat perubahan sikap Zahra pun merasa bahagia untuk adiknya. Karena Zahra sudah bisa melayaninya dengan baik.
Semua orang mulai menyantap sarapannya dengan tenang, dan menikmati apa yang tersaji di hadapan mereka. Setelah semua selesai, para pria mulai beranjak dari duduknya. Kali ini Zahra mengikuti Rayyan karena dia akan diantar Rayyan ke rumah sakit dan restorannya.
Sebelum pergi Erhan mengingatkan kepada anak sulungnya Murad untuk mulai terapi hari itu, karena dokter Evan sudah siap melatihnya agar segera bisa berlari.
"Iya, dad. sebentar lagi aku akan ke paviliun bersama Faza.. Daddy jangan khawatir aku akan segera bisa berjalan kembali. " ujar Murad kepada sang Daddy yang berharap lebih kepadanya.
"Baiklah, nak. Daddy mengandalkanmu. Cepatlah sembuh. "
__ADS_1
"Tentu, dad. Tidak akan lama lagi. "
Sebenarnya Murad menyembunyikan kesembuhannya kepada semua orang termasuk istrinya. Dia sudah bisa berjalan sebelum kedatangan dokter Evan. Dan mungkin saja dokter Evan sedang mengikuti sandiwara yang sedang dia jalankan saat ini. Karena saat pertama bertemu kemarin, dokter Evan memperhatikan kaki Murad dengan seksama.
Mungkin dia merasa kalau Murad sudah sembuh. Tapi entah apa yang di rencanakan, tuan muda itu, sehingga dia harus berpura-pura duduk di kursi roda.
*
Rayyan mengantarkan Zahra ke rumah sakit tempat ayah Zahra di rawat. Dia juga harus mengunjungi ayah mertuanya itu. Kini tuan Simon tidak dirawat di ruangan VIP. Melainkan di ruang VVIP keluarga Erhanlah yang mengurus semuanya. Mereka ingin Simon mendapatkan pelayanan terbaik di rumah sakit itu, agar dia segera pulih.
Seperti perusahaannya, yang saat ini telah pulih seperti semula. Seperti janji yang Rayyan berikan, kepada Zahra kalau dia akan menyuntikkan dana kepada Perusahaan Altan, agar bangkit kembali. Proyek nya juga sudah diterima, dan saat ini sudah dalam proses pengerjaan.
Semua dipermudah, saat yang berkuasa ikut andil dalam memperbaiki sesuatu yang hampir hancur.
"Daddy... " Zahra langsung berhambur memeluk daddynya saat melihat daddy sedang disuapi oleh seorang perawat.
"Zahra... kau datang nak? Dengan siapa?" Tanya tuan Simon yang tidak melihat siapapun di belakangnya.
" Denganku, dad. " jawab Rayyan yang berjalan masuk ke kamar rawat Simon.
"Tuan Rayyan? " sapa Simon dengan wajah bahagianya.
"Jangan panggil tuan lagi, Dad. Saat ini aku adalah anak menantumu. Kau boleh memanggilku dengan nama saja. Rayyan. panggil aku Rayyan. " ujar Rayyan pada akhirnya.
Dalam hati, Simon merasa bahagia, karena dia bisa melihat ketulusan hati Rayyan saat mengatakannya. Dia sangat bahagia, mungkin saat ini anaknya Zahra dan Rayyan sudah saling menerima satu sama lain. Sehingga membuat Rayyan bersikap baik kepadanya. Tidak seperti kemarin saat mereka bertemu dalam suasana akad. Rayyan terlihat ketus kepadanya.
"Dad , bagaimana keadaan Daddy? " tanya Zahra yang masih memeluk daddynya.
"Daddy sudah lebih baik Zahra. Sekarang bagaimana keadaanmu. Apa kamu baik-baik saja dirumah mertuamu? " tanya Simon yang ingin tahu keadaan anaknya di rumah mertuanya.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Daddy senang mendengarnya. "
"Terimakasih nak, Rayyan. Berkat anda perusahaan kami kini mulai pulih. Saya harap anda datang sekali-kali ke perusahaan Altan. Karena perusahaan itu sudah menjadi milikmu sekarang. " Kata Simon yang berharap kepada Rayyan.
"Apa maksud daddy? " tanya Zahra yang tidak mengerti maksud dari daddynya.
"Rayyan kan sudah jadi suamimu Zahra. Itu artinya, dia juga berhak atas perusahaan kita. apalagi, Rayyan sudah menyuntikkan dana besar untuk perusahaan kita, dan membayar hutang-hutang daddy. Dia juga memiliki saham yang sangat besar di perusahaan kita."
"Benarkah?" tanya Zahra tak percaya, kalau Rayyan akan menyuntikkan dana untuk perusahaannya yang hampir hancur.
"Tentu saja, sesuai kesepakatan kita. " jawab Rayyan santai.
Mendengar kata kesepakatan, membuatnya teringat sesuatu. Yah, bukankah dia menikah dengan Rayyan hanya karena sebuah kesepakatan. Untuk membantu perusahaan ayahnya. Mengingat itu membuat Zahra terdiam. Matanya berkaca-kaca.
"Kenapa aku lupa dengan kesepakatan itu? apa karena aku sudah terlena dengan pesona pria menyebalkan ini. " batin Zahra, yang memendam sakit dihatinya.
"Kamu kenapa, nak? " tanya Simon yang melihat anaknya tampak sedih.
Rayyan yang melihat, Zahra terdiam pun langsung mendekatinya. Dan melihat nya.
"Kamu kenapa?" tanya Rayyan juga kepada Zahra yang hanya diam mematung.
"Tidak apa-apa. " jawabnya singkat.
__ADS_1
"Dad aku akan ke resto dulu. Daddy jaga diri baik-baik. Besok aku akan kembali lagi, menjenguk daddy. "
"Baiklah, nak. Keadaan Daddy sudah lebih baik. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan daddy lagi. "
"Iya dad. Aku pergi dulu." Zahra langsung mencium pipi kanan dan kiri daddynya. Lalu dia berjalan keluar dari kamar Simon tanpa memperdulikan Rayyan yang hanya diam saja memperhatikannya.
"Kalau begitu, saya juga pamit dulu, dad. Assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikumsalam. Rayyan, aku titip anakku. jaga dia baik-baik. "
" Iya dad. " Rayyan langsung keluar mengejar Zahra yang berjalan cepat menjauhinya.
"Za... Zahra..." Rayyan terus berteriak memanggil nama Zahra. Namun Zahra semakin mempercepat langkah kakinya.
Setelah sampai di lobby rumah sakit, akhirnya Rayyan mampu mencekal tangan Zahra. Zahra yang sedikit emosi, menghempaskan cekalan tangan Rayyan tapi tidak berhasil. Dia terus memberontak ingin di lepas kan, tapi Rayyan tak semudah itu melepaskan Zahra. Dia malah memeluk Zahra yang sepertinya terlihat sangat emosi.
"Kamu kenapa, Zahra? " tanya Rayyan dengan lembut, sambil mengusap rambut Zahra yang panjang.
"Lepaskan aku Ray... lepas... " kata Zahra dengan suara bergetar. Dia tidak bisa membendung air matanya lagi.
Rayyan merenggangkan pelukannya, dan dilihatnya wanita angkuh ini meneteskan air matanya dengan mata yang sudah memerah.
Rayyan lalu merangkul tubuh Zahra dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Rayyan tidak langsung menjalankan mobilnya, dia mengunci mobil dan menyalakan AC di mobilnya untuk mendinginkan kepala Zahra.
"Katakan padaku, apa yang terjadi padamu Zahra." tanya Rayyan yang ingin tau apa yang terjadi pada Zahra.
Zahra tetap bungkam tidak menjawab pertanyaan Rayyan yang pastinya jika dia menjawabnya, akan membuatnya sakit hati.
"Zahra, katakan padaku apa yang terjadi padamu, jangan membuatku marah. Aku tidak punya kesabaran lebih untuk meladeni sifatmu yang kekanak-kanakan, Zahra. " kata Rayyan sedikit membentak Zahra.
Bentakan Rayyan membuat Zahra terkesiap. Dia tidak menyangka kalau Rayyan bisa segalak ini.
"Katakan padaku, apa yang terjadi padamu. "
"Ray... apakah aku tidak pantas untuk berharap kepadamu? " Akhirnya Zahra buka suara dengan sesenggukan
"Apa maksudmu Zahra, jelaskan padaku. "
"Saat aku mulai berharap sebuah hubungan denganmu, kenapa aku baru ingat. Kalau pernikahan kita hanya sebuah kesepakatan saja. " Tangis Zahra akhirnya pecah saat dia mengatakan hal itu.
"Aku tak lebih hanya sebagai gadis penyelamat perusahaan. Aku tak lebih hanya sebagai gadis penebus hutang, aku tak lebih hanya..... "
Rayyan langsung menyambar bibir Zahra yang terlalu banyak bicara itu. Dia langsung menyesapnya dengan kasar. Dan sedikit menggigit bibir Zahra agar terbuka. Rayyan menekan tengkuk leher Zahra agar dia tidak berontak. Zahra hanya diam saja mendapatkan ciuman panas dari Rayyan tanpa ada keinginan untuk membalas. Air matanya tetap menetes membasahi pipinya.
Merasakan rasa asin yang masuk ke dalam indra perasanya. Akhirnya Rayyan melepaskan ciumannya. Lalu dia mengusap air mata Zahra dengan ibu jarinya.
"Dengar ini Zahra. Persetan dengan kesepakatan kita dulu. Yang aku tau, sekarang kau adalah istriku. Aku membantu perusahaan mu sesuainkesepakatan kita di awal, memang sudah aku lakukan untuk memenuhi kesepakatan yang kita buat dulu. Kalau aku akan membantu perusahaan papamu bangkit. Jika aku tidak melakukannya, maka aku akan dianggap bukan pria sejati karena telah melanggar kesepakatan kita. "
"Ingat ini. Saat ini, kau adalah istriku . Aku akan melakukan apapun untuk istriku, walau tidak ada kesepakatan konyol diantara kita. Aku akan tetap menolong keluarga istriku yang sedang kesusahan. Dan aku tidak akan tinggal diam membiarkan istriku bersedih seperti ini. Apa kau sudah paham? "
Zahra mengangguk.
"Sudah jangan pikirkan kesepaktan konyol itu lagi. Sekarang peluk aku. " kata Rayyan yang sudah merentangkan tangannya.
__ADS_1
Dan dengan senyum tertahan Zahra masuk ke dalam pelukan Rayyan yang penuh kehangatan.