
"Baguslah,, setelah wanita itu hancur, giliranku yang akan datang menghancurkan sang pewaris. " ujar wanita itu dengan penuh percaya diri. "Dan aku akan menguasai harta mereka. " kata wanita itu lagi dengan tawa yang menakutkan.
"Jangan mimpi, Monica. Kau tidak tau dengan siapa kau berhadapan saat ini. Bahkan aku sudah mereka intai sejak dari Turki hingga sampai di sini. " gumam Evan dalam hati.
"Sekarang pergilah Monica, jangan ganggu anak dan istriku. Aku akan melakukan tugasku setelah anakku membaik. "
"Tentu saja kakakku sayang, aku datang kemari hanya untuk menyapa kakakku yang sudah jauh-jauh datang dari Turki. Dan menjenguk keponakan tampanku. " Monica berdiri dan hendak mendekati Abe namun segera dihadang Evan.
"Aku hanya ingin melihat keponakanku kakak. " ujar Monica dengan tersenyum mengejek.
"Pergilah." usir Evan yang tidak mau melihat Monica lagi.
"Okey, Aku akan pergi. Sampai jumpa lagi kakakku yang tampan. " Kata Monica sambil menyentuh pipi Evan dan turun ke dadanya dengan menggoda, dan dia segera melenggang keluar dari kamar inap Abe. Namun sebelum benar-benar keluar Monica berbalik.
"Ada salam dari mommy, kakak. Ayahmu baik-baik saja sampai saat ini, jadi teruslah menurut jika kau tidak ingin kehilangan ayah tercintaamu . " Setelah mengatakan itu, Monica langsung keluar dengan tawa jahatnya.
Evan langsung terduduk lemas setelah mendengar kabar tentang ayahnya. Kenapa mereka benar-benar jahat kepada Evan dan keluarganya Alice segera memeluk suaminya yang terlihat sangat rapuh. Dia juga tidak bisa berkata apa-apa dan melakukan apapun untuk menghadapi wanita ular seperti mereka berdua.
"Sayang, apakah tidak sebaiknya kalau kita meminta tolong kepada keluarga tuan Erhan, dan mengatakan segalanya. Bagaimanapun ini menyangkut keselamatan keluarganya dan keluarga kita yang dipertaruhkan. Entah dendam apa yang dimiliki wanita itu kepada keluarga tuan Erhan, Sehingga kita yang harus menjadi korbannya. " pekik Alice sambil menangis dengan suara tertahan.
Evan lalu memeluk istrinya itu, "Maafkan aku sayang, aku tidak berdaya dan tidak bisa kalian andalkan sebagai seorang suami dan ayah untuk anakku. "
Di tempat lain,
Semua pemandangan itu tertangkap kamera pengintai yang diletakkan anak buah Max dan juga perekam suaranya terdengar dengan jelas.
"Monica... Jadi seseorang yang mengutus Evan adalah Monica. Tapi siapa Monica, dan dia bilang kalau Evam mendapat salam dari Mommy nya, dan ayah Evan dalam keadaan baik-baik saja. Itu berarti, tidak hanya anak dan istri dokter Evan yang berada dalam bahaya, tapi juga ayahnya. Aku harus mencari tahu siapa Monica. " Max segera mengirimkan rekaman itu kepada Rayyan, baik Video dan rekaman suaranyaa. Agar Rayyan bisa antisipasi di sana. Setelahnya dia menyuruh beberapa orang yang mengintai Evan untuk berpencar dan sebagian mengikuti kemanapun Monica pergi dan dengan siapa saja dia bertemu.
*************
__ADS_1
Turki.
Rayyan berada di kantornya dan sedang berkutat dengan berkas-berkas di mejanya. Saat sedang fokus mengerjakan pekerjaannya, beberapa notifikasi masuk ke ponselnya. Rayyan lalu membuka pesan dari ponselnya dan mendapati pesan dari Max yang masuk
Dia langsung membuka kiriman Video itu, yang memperlihatkan dokter Evan yang sedang berusaha melindungi keluarganya dari seorang wanita yang baru saja datang. Semua percakapan mereka pun Rayyan dengar dengan menggunakan earphone di telinganya. Berbagai ekspresi wajah Rayyan tunjukkan setiap kali mendengar wanita itu bicara. Dan wajahnya berubah sendu saat mendengarkan permintaan istri dokter Evan agar meminta bantuan kepada daddynya. Rayyan segera menutup ponselnya di jadi mencoret-coret kertas kosong di hadapannya.
Evan, Alice, Abe, ayahnya dalam tekanan Monica dan ibunya. "Kasihan sekali keluarga Evan" batinnya.
"Siapa Monica dan ibunya, ada dendam apa mereka kepada keluargaku. " gumam Rayyan lirih.
Namun saat Rayyan sedang berfikir, tiba-tiba Ezra masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Kenapa kebiasaan sekali sih, masuk nggak pake ngetuk pintu." ketus Rayyan.
"Aku, sudah mengetuk. Tapi sepertinya kau yang tidak mendengarkan nya. " kata Ezra tak kalah ketusnya.
"Bisa ya, orang bermuka dua sepertimu. " kata Rayyan meledek.
Rayyan lalu berdiri dan menuju sofa, tanpa menjawab pertanyaan Ezra.
"Duduklah, ada yang mau aku katakan padamu. Dan ini juga permintaan kak Murad. "
Ezra mengikuti Rayyan lalu duduk di sebelahnya. Keningnya mengernyit saat mendengar kalau Murad mempunyai permintaan kepadanya.
"Apa maksudmu Murad memintaku sesuatu. " Tanya Ezra yang tidak sabaran. Karena merasa Rayyan mempermainkan nya.
"Aku tau apa yang kau lakukan semalam dengan saudaraku. "
Glek...
__ADS_1
Ezra menelan salivanya dengan kasar. Apakah Rayyan melihatnya semalam saat dia berpamitan kepada Zoya.
"Aku tidak keberatan jika kau dekat dengan saudara perempuan kami. Begitu juga dengan kak Murad. " Akhirnya Rayyan menjelaskan pernyataan nya tadi.
"Maksudnya." Ezra yang sebenarnya sudah mengerti, masih meminta Rayyan untuk menjelaskannya.
"Aku tadi sudah bicara dengan kak Murad. Aku dan kak Murad mengijinkanmu mendekati Zoya. Karena kami sudah tau asal usulmu, bibit bebet dan bobotmu kami juga sudah tau semua. Karena kamu adalah keturunan sahabat dari orang tua kami, bahkan kita tumbuh besar bersama. Sama seperti Faza yang mencintai kak Murad, Maka Aku dan kak Murad merestuimu. Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi. " ujar Rayyan panjang lebar.
"Apa? "
Tanya Ezra dengan wajah datarnya, tapi di dalam hatinya dia bersorak senang karena sudah mendapat lampu hijau dari kakak-kakaknya. Tugasnya hanya tinggal menaklukkan hati Zoya. Kalau hati Zoya sudah dia dapatkan, maka untuk mendapatkan restu dari mom dan daddy pasti akan mudah apalagi setelah mendapat dukungan dari Murad dan Rayyan.
"Kau harus mendapatkan Zoya, jangan biarkan Zoya bertemu dengan pria lain, bahkan dokter Evan sekalipun. Kau harus menjaga Zoya tetap aman. Karena saat ini dia dalam incaran seseorang. " ujar Rayyan penuh penekanan. Rayyan terpaksa mengatakan sedikit masalahnya kepada Ezra, agar Ezra bisa menjaga Zoya dengan maksimal.
Mendengar kalau Zoya sedang menjadi incaran seseorang membuat Ezra membulat kan matanya.
"Bagaimana bisa siapa? yang sedang mengincar Zoya? " tanya Ezra dengan rahang yang sudahmengeras.
Rayyan bergidik meihat perubahan Ezra, Benar kata Murad kalau sampai Ezra tau Zoya dalam bahaya, maka Ezra akan menghabisi siapapun dia. Siapa yang tidak tau Ezra seorang ahli beladiri dan menembak. Itu semua ia persiapkan, atas perintah papanya agar dia lebih unggul dalam hal segalanya dari Murad dan Rayyan untuk melindungi mereka kelak.
"Kami masih belum tau, aku dan Kakak masih menyelidikinya. Serahkan ini pada kami Ezra, tugasmu hanyalah menjaga tuan putri kami. Jangan biarkan siapapun mendekati tuan putri kita, Okey. "
"Baiklah, aku akan menjaga Zoya. Dan setelah kau mengetahui siapa orangnya, segera beri tau aku. "
"Untuk apa? untuk kau habisi? Kami tidak bodoh Ezra, siapa yang tidak tau sifatmu itu. Cih. "
"Sudahlah, ayo kita kembali bekerja. Mana berkas yang harus aku tanda tangani. " kata Rayyan lagi.
Ezra langsung memberikan berkas-berkas yang diminta Rayyan. Saat menandatangi berkas-berkas itu, Celetukan dari Rayyan membuat wajah Ezra langsung berubah bak kepiting rebus.
__ADS_1
"Sudah sampai mana kalian dekat, apa hanya mencium tangannya atau sudah mencium lainnya?