Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Kontraksi Zoya


__ADS_3

Dua minggu sudah Kemal dan Alima tinggal di rumah baru mereka yang bertetangga dengan mansion keluarga Erhan.


Erhan juga sudah merobohkan tembok penghalang antara mansion dan rumah Kemal. Jika ingin berkunjung mereka tidak perlu berputar, hanya perlu melangkah saja. Kehidupan mereka pun diberi limpahan kebahagiaan apa lagi sebentar lagi Zoya akan melahirkan. Karena usia kandungannya sudah menginjak bulan kue sembilan.


Malam ini Ezra mengajak Zoya untuk makan malam dirumah mama dan papanya, Zoya pun menyetujuinya. Memang Ezra dan Faza sepakat akan bergantian melakukan makan malam di rumah Kemal dan Alima. Dan keinginan mereka disetujui oleh Murad dan Zoya dan mendapatkan ijin dari Erhan dan Nisa karena bagaimanapun. Mereka juga berhak atas anak dan cucunya.


Erhan dan Nisa tidak mau egois tentang hal ini. Karena bagaimanapun Ezra dan Faza adalah anak mereka juga.


Begitu juga Rayyan dan Zahra mereka memutuskan untuk mengunjungi Simon satu minggu dua kali. Dan akan mengadakan pertemuan keluarga setiap satu bulan sekali di mansion pada akhir bulan.


Sengguh, mereka semua benar-benar membagi kasih sayang mereka, kepada para orang tuanya dengan rata.


Zoya sedang memakan makan malamnya. Namun tiba- tiba perutnya seperti di tendang dengan keras dari dalam. Sampai-sampai dia mendesis kesakitankesakitan sambil mengelus perutnya.


"Kenapa sayang?" tanya Alima yang berada di samping Zoya.


"Baby sepertinya menendang kuat sekali ma. Rasanya sakit sekali, sampai ke punggung ku. " keluh Zoya yang menghentikan makannya, karena perutnya sibuk memengusap perut dan punggunggnya.


Ezra mendekat dan ikut mengusap perut istrinya itu. "Anak papa tidak boleh nakal ya, mama mau makan dulu. " bisik Ezra di perut Faza seolah sedang berbicara dengan bayinya.


Namun setelah mengatakan itu Ezra malah merasakan tendangan yang cukup kuat di perut Zoya. Ezra yang hanya merasakan di tangan saja ikut merasakan bagaimana perasaan istrinya saat ini.


"Sakit... " keluh Zoya dan tanpa sadar meneteskan air matanya.


Ezra langsung menggendong istrinya itu ke sofa panjang di ruang tengah. Lalu mengusap perut Zoya dengan perlahan.


"Kenapa kamu sayang, Ayo anak papa nggak boleh nakal. Kasihan mama. " Ezra terus berbicara dengan bayinya agar bayinya itu tenang.


Alima yang melihat itupun merasa kasihan karena Zoya merasa sangat kesakitan.


"Mas, apa Zoya mau melahirkan nya, itu perutnya kok kelihatan turub banget." bisik Alima di telinga suaminya.


"Kita bawa ke rumah sakit saja untuk memastikan, aku akan menelpon dokter agar datang ke rumah sakit. Kau bujuk Zoya dan Ezra. "


Alima mengangguk dan mendekati menantunya itu.


"Sayang, kita ke rumah sakit saja ya. Kita periksa kan kandunganmu. Mungkin saja kamu akan melahirkan. Melihat perutmu sudah turun ke bawah. Mungkin babynya sedang mencari jalan lahir untuk keluar. " Alima mengatakan apa yang dia tau, karena pengalamannya melahirkan dulu.


"Tapi kata dokter perkiraan kurang dua minggu ma." kata Ezra.


"Itu hanya perkiraan. Anak kalia bisa lahir sebelum perkiraan atau sesuai perkiraan. Lihat saja Faza dia melahirkan jauh di luar perkiraan." Alima memperingatkan kedua anaknya ini.


Zoya dan Ezra saling berpandangan. Zoya juga sudah tidak merasakan sakit sekarang jadi dia aman.


"Ayo, kita ke rumah sakit. Pap sudah menelpon dokter barusan. "


Ezra mengangguk. Lalu dia mengangkat tubuh istrinya dan dibawa masuk ke dalam mobil. Kemal dan Alima juga ikut masuk dengan membawa perlengkapan bayi yang dibutuhkan.


Kali ini Ezra yang mengemudikan mobil, sedangkan Kemal duduk di sampingnya. Zoya dan Alima duduk di kursi penumpang.


Tiba-tiba tangan Zoya mencengkeram lengan Alima dengan kuat, dan Alima membiarkan itu. Mungkin saat ini Zoya sedang mengalami kontraksi.


"Tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan perlahan, Zo... agar sakitnya sedikit hilang. "


Zoya mengangguk dan mengikuti ucapan ibu mertua.


"Pa... apa sudah mengabari Nisa dan Erhan? "

__ADS_1


"Ah, iya. Aku lupa. " Kemal lalu mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya itu.


Sekali panggilan telpon langsung di angkat oleh Erhan


"Ada apa, Mal? "


"Maaf Erhan, aku baru menghubungi mu. "


"Ada apa? "


"Kami dalam perjalanan ke rumah sakit sekarang. Sepertinya Zoya mengalami kontraksi. "


"Apa? "


Teriakan Erhan mengagetkan semua orang yang berada di sana termasuk triplet yang sedang berada dipangkuan Nisa dan kedua orang tuanya.


"Ada apa sih mas, kok teriak gitu. " protes Nisa karena dia juga terkejut dengan teriakan suaminya.


"Baiklah, aku akan menyusul bersama istriku. Jaga Zoya. "


Mendengar nama Zoya di sebut sontak saja Nisa Murad dan Faza ikut terkejut.


"Zoya kenapa? " tanya Nisa saat melihat suaminya terlihat panik.


"Zoya dibawa ke rumah sakit, sepertinya dia mengalami kontraksi. "


"Ya Tuhan, padahal tadi dia tidak apa-apa. Kenapa tiba-tiba. " Nisa juga ikut panik dan memberikan Zia ke tangan Murad.


"Sudah jangan panik, sekaranv Zoya bersama dengan suami dan mertuanya mereka pasti menjaga Zoya dengan baik. Seperti Faza kemarin yang tiba-tiba mau melahirkan, begitu juga Zoya. Kita tidak pernah tahu kapan bayi itu akan lahir." Erhan menenangkan istrinya itu, agar tidak panik.


"Sebaiknya Kita ke rumah sakit sekarang. Murad kau tidak perlu ikut. Jaga anak dan istrimu di rumah. Kau hubungi Rayyan saja. "


Erhan dan Nisa mempersiapkan apa yang harus mereka bawa. Kemudian mereka segera berangkat.


"Hati-hati dad, bawa sopir saja. "


"Iya, jaga mansion baik-baik. Dan perintahkan beberapa orang untuk memeriksa rumah Kemal."


"Baik, dad. "


Setelah kepergian Orang tuanya Murad mengajak istri dan anaknya masuk ke dalam kamar. Mereka masih tidur dalam satu kamar. Karena Faza ingin seperti itu, nanti kalau anak-anak sudah sedikit besar barulah mereka akan tidur terpisah dan dijaga oleh para baby sitternya.


"Kau jaga anak-anak, aku akan menyuruh orang untuk memeriksa rumah papa." Pesannya kepada Faza sebelum keluar.


"Iya, kak. "


Murad lalu keluar dari kamarnya untuk memeriksa rumah mertuanya.


Di rumah sakit.


Zoya saat ini sedang berada di ruang bersalin ditemani Ezra. Mama dan papanya menunggu di liar dengan harap-harap cemas. Dokter yang bertanggung jawan untuk proses persalinannya juga sudah datang. Dan saat ini sedang memeriksa jalan lahir bayinya.


"Sepertinya memang akan melahirkan nona, saya periksa jalan lahir adik bayinya dulu ya? "


Dokter lalu menggunakan sarung tangan steril dan memasukkan satu jarinya ke dalam jalan lahir bayi.


"Ini cepat sekali, nona. Sudah pembukaan Lima. Rupanya adik bayinya ingin segera Bertemu mama dan papanya. "

__ADS_1


"Iya dokter, beberapa kali dia menendang perutku dengan kuat, dan membuatku sangat kesakitan. " keluh Zoya kepada dokternya.


"Tidak apa-apa nona, itu artinya adik bayi memang ingin segera keluar. Jika anda masih kuat, disarankan agar anda berjalan-jalan agar proses pembukaannya lebih cepat. " Dokter menyarankan.


" Baik dokter. "


Dokter segera keluar setelah mengatakan itu. Ezra membantu Zoya untuk duduk dibantu seorang perawat juga.


"Apa kau ingin berjalan-jalan, sayang. "


"Iya, bantu aku. Seperti nya aku bisa berjalan pelan. "


Ezra membantu Zoya untuk berdiri, dan menuntun nya keluar perlahan.


Di luar sudah ada mommy dan daddy yang sudah datang. Nisa langsung memeluk anaknya itu dan memberikan semangat.


"Berjalan pelan-pelan saja, sayang. Jika tidak kuat kamu berhenti saja. "


Zoya mengangguk, dengan dituntun suami dan mommynya Zoya mulai berjalan perlahan.


Ponsel Ezra berbunyi dan ada panggilan masuk dari Murad. Dia langsung berhenti dan mengangkat panggilan itu.


"Hallo Ezra."


"Hallo kak. "


"Maafkan kami tidak bisa datang melihat proses kelahiran bayi kalian. "


"Tidak apa-apa kak, lagipula ini sudah malam. Kasihan triplet kalau harus datang ke rumah sakit malam-malam. "


"Besok kalau anak kalian sudah lahir aku akan kesana bersama Faza dan anak-anak. "


"Baiklah kak, "


"Aku ingin melihat Zoya."


Ponsel Ezra langsung diberikan kepada istrinya, "Kakak ingin bicara denganmu. "


"Hallo kakak"


"Hallo, Zoya. "


"Hallo kak Zoya. Sapa Faza disamping Murad. "


Zoya tersenyum melihat mereka berdua.


"Kakak Semangat ya... kakak pasti bisa. Semangat bertemi baby. Maaf kami tidak bisa datanv karena harus menjaga triplet. Tapi kami akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kakak dan adik bayi. "


"Terima kasih Faza. "


Panggilan diberikan kepada Ezra lagi karena Zoya merasakan sakit tak tertahan kan lagi.


"Kenapa Zoya? " tanya Murad yang ikut panik.


"Tidak apa-apa kak, Zoya sedang mengalami kontraksi. "


" Baiklah kalau begitu.Jaga Zoya, Ezra. Jika bayimu sudahnlhir segera hubungi aku. "

__ADS_1


"Baik kak. "


"Ezra, air ketuban ku pecah. "


__ADS_2