
Pernikahan Zahra dan Rayyan sudah memasuki tahun ke dua namun mereka masih belum juga mendapatkan kabar baik dari Zahra. Tak ada satupun yang mengungkit masalah ini, karena mereka semua sudah mendengar dari Murad kalau Rayyan dan Zahra sudah melakukan tes kesuburan tahun lalu setelah Zoya melahirkan. Dan hasilnya semua baik-baik saja, tidak ada masalah pada mereka berdua. Hanya saja mungkin Tuhan masih belum memberikan mereka momongan. Jadi, mereka semua selalu berdoa yang terbaik untuk mereka berdua.
Bayi Faza dan Zoya pun kini sudah berubah menjadi balita. Usianya sudah satu tahun lebih, Mereka jadi terlihat makin lucu dan menggemaskan. Terutama baby Zia, Dia sangat cantik dan menggemaskan karena dia adalah anak perempuan satu-satunya dari ketiga saudaranya.
Al selalu menempel pada Zahra saat dia berada di rumah. Ya, Zahra mengikuti saran suaminya Rayyan kalau dia akan membatasi semua aktifitasnya terutama pekerjaannya di restoran. Zahra kini sering berada di rumah bersama kedua saudara iparnya dan ke empat balita lucu itu.
"Kak, Zahra. Sejak kak Zahra berada di mansion dan jarang ke restoran kak Zahra semakin terlihat berisi. " celetuk Faza saat mereka sedang bermain bersama keempat balita itu.
"Wah, benarkah. itu artinya aku tambah gemuk donk. Akhirnya tubuhku bisa berisi. " kata Zahra dengan semangat dan tersenyum bahagia.
Faza mengangguk, "Iya, kak Zahra jadi semakin cantik sekarang. "
"Terima kasih Faza kau terlalu memuji. "
Lagi-lagi Faza menggeleng. "Aku tidak memuji, aku hanya bicara sebenarnya."
Semua orang tertawa dengan ocehan Faza.
"Faza benar, semakin berisi tubuhmu semakin cantik Zahra. Aku juga melihat perbedaan itu. "
"Terima kasih kak Zoya. " Zahra kini tersipu setelah mendapatkan pujian dari Zoya.
Apakah benar yang mereka katakan? Dulu saat bekerja dia memang memasak dan jarang mencicipi masakannya. Dia juga jarang makan siang karena waktunya habis untuk membuatkan makan siang untuk para pelanggan.
Namun saat ini, saat dia sudah berada di mansion dia selalu rutin makan tiga kali sehari. Dan itu lah mungkin kenapa tubuhnya bisa berisi seperti saat ini.
"Mom Za... "
Panggil babby Al kepada Zahra dan berjalan tertatih kearah Zahra lalu duduk di pangkuannya. Dia lalu bertepuk tangan dan tersenyum senang.
Ke empat anak itu memang memanggil Zahra dengan panggilan mom Za sedangkan memanggil ibunya sendiri dengan panggilan mommy untuk Faza dan mama untuk Zoya.
"Wah... anak mommy sudah pintar berjalan sekarang." Zahra lalu mengangkatnya dan mendusel-dusel wajah balita menggemaskan itu.
Zia juga tidak mau kalah dia berjalan tertatih ke arah mommy dan bertepuk tangan. Baby El hanya memperhatikan kedua saudaranya itu, lalu tertawa.
Baby El selalu bersama kakeknya jika Erhan dalam waktu luang. Karena itu mungkin sikapnya terkadang terlihat dingin dan tak peduli, walau bersama saudaranya. Hingga jika malam hari, Murad dan Faza selalu menemaninya sampai terlelap. Agar baby El tidak merasa dibedakan dengan kedua saudaranya karena selalu bersama sang kakek.
"El... sini nak. " panggil Faza sambil menepuk-nepuk pahanya yang kosong, karena satu pahanya sudah diduduki Zia.
Baby El, berdiri dan berjalan mendekat kearah sang mommy, lalu duduk di pangkuan sang mommy bersama dengan Zia. Faza menciumi kedua anaknya itu secara bergantian, sehingga membuat kedua balita itu kegelian dan tertawa terpingkal
__ADS_1
"Mom.. mommy... " Teriak mereka karena kegelian.
Sekali lagi Zahra terkadang merasa iri dengan kedekatan ibu dan anak didepannya ini. Walau di pangkuannya ada Ryder. Namun Zahra langsung menepis pikiran itu.
Malam harinya, Rayyan dan Zahra sudah berada di dalam kamarnya. Seperti biasa mereka selalu menikmati moment berdua di teras balkon, duduk berdampingan dengan menikmati suasana malam berdua. Dan menceritakan apa yang terjadi seharian ini baik di mansion maupun di kantor.
"Sayang, aku ada kabar gembira untukmu. " kata Rayyan tiba-tiba.
"Kabar gembira apa? "
"Aku juga sebenarnya tidak tahu, Tadi kak Murad tiba-tiba mengatakan padaku akan memberikan sebuah tiket bulan madu ke Paris kepada kita? "
"Apa? Paris? " Zahra langsung menatap Rayyan tak percaya.
Dan Rayyan mengangguk dengan senyuman lebar.
"Apa kau tidak salah dengar, sayang. Ini Paris lho."
"Iya tadi sudah aku pastikan berkali-kali kepada kak Murad, bahkan ada Ezra di sana. Dan pendengaranku tidak salah. Memang Paris tempatnya. "
"Tapi kenapa kak Murad tiba-tiba memberi kita tiket bulan madu?" tanya Zahra tak mengerti.
"Entahlah, mungkin kakak sudah tau keadaan kita. Jadi kakak memberikan tiket itu kepada kita. Agar kita mendapatkan suasana baru. "
"Baiklah, ayo kita berangkat. Mungkin dengan suasana baru ini, kita bisa segera mendapatkan seorang bayi. Seorang pun tidak apa-apa, asalkan aku bisa merasakan seperti apa rasanya menjadi seorang ibu sesungguhnya." ucap Zahra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sayang... " Rayyan langsung menarik Zahra kedalam pelukannya.
"Bersabarlah... mungkin sebentar lagi kau akan hamil. Bukannya kita selalu berdoa setiap hari? Tuhan tidak akan mengabaikan do'a umatnya. hanya menunggu waktu saja kapan doa itu dikabulkan."
Zahra mengangguk didalam pelukan Rayyan. Dan membalas pelukan itu dengan erat.
"Kapan rencana bulan madu kita? Biar aku mempersiapkan semuanya" tanya Zahra kemudian.
"Besok lusa. Kita akan mempersiapkan semuanya besok. "
"Baiklah... aku jadi tidak sabar, berfoto di menara Eiffel. " kata Zahra sambil terkekeh.
"Apa kau belum pernah ke Paris? " tanya Rayyan sambil mengernyitkan keningnya.
"Pernah dulu sekali saat ada tugas ke sana dari kampus. Karena itu, aku tidak bisa menikmati keindahan kota Paris, karena harus berjibaku dengan tugas-tugas kuliah. Dan setelah lulus aku harus bekerja mengembangkan restoku. Jadi aku tidak pernah kemana-mana setelah itu. " Zahra menceritakan masa lalunya kepada Rayyan suaminya.
__ADS_1
"Wah istriku ternyata seorang pekerja keras dari dulu."
"Apa kau baru mengetahuinya? " kata Zahra sambil tersenyum lebar.
Begitulah keseruan kedua pasangan itu, mereka selalu menikmati momen kebersamaan mereka berdua selama ini.
**********
Hari yang di nanti pun tiba, semalam Rayyan dan Zahra sudah melakukan packing semua kebutuhan mereka untuk dibawa ke Paris. Tidak banyak, karena mereka hanya akan berada di sana selama satu minggu. Mereka memutuskan tidak membawa banyak pakaian karena akan menghabiskan waktu belanja di sana. Paris, kota yang terkenal dengan dunia fashion nya. Rugi rasanya saat pergi ke sana namun mereka tidak membeli apa-apa disana.
Pagi harinya, Zahra sudah terbangun dari tidurnya dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu, lalu mengerjakam ibadah subuhnya. Setelah melakukan sholatnya, Zahra segera membangunkan Rayyan agar segera bangun.
"Ray, bangun... " Satu tangan Zahra menggoyang-goyangkan tubuh Rayyan dan satu tangannya lagi memijit pelipisnya karena merasa sangat pusing.
"Ray, bangun... Bukannya hari ini kita mau berangkat? " Zahra masih mengguncang tubuh suaminya itu sambil berdesis.
Mendengar kata berangkat, Rayyan langsung membuka matanya. Dia langsung bangun dan melihat istrinya yang sedang memijit kepalanya.
"Kamu kenapa? Sakit? " tanya Rayyan yang langsung panik saat itu juga.
"Tidak... segeralah mandi. Aku akan bersiap. "
"Benar kau tidak apa-apa? Kalau kau sakit kita akan menunda perjalanan kita. "
"Ray... "
"Baiklah-baiklah.... "
Rayyan langsung bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Pikirannya sudah merasa tidak enak, karena melihat wajah Zahra yang pucat.
"Dia kenapa? biasanya dia tidak pernah seperti ini. Apa yang terjadi? Kalau dia sakit terpaksa bulan madu ini akan aku undur. " kata Rayyan pada dirinya sendiri.
Rayyan segera menyudahi mandinya dan segera keluar, dia berganti pakaian yang sudah disiapkan istrinya. Sesekali rayyan memperhatikan apa yang dilakukan Zahra tidak ada yang aneh, hanya saja sesekali terlihat meringis menahan sesuatu.
"Ayo, aku sudah siap. " kata Zahra sambil berdiri.
Namun tiba-tiba tubuhnya oleng bergerak tak seimbang, hingga akhirnya Zahra hampir terjengkang kebelakang. Tapi untungnya Rayyan dengan sigap menangkap tubuh Zahra. Rayyan langsung mengangkat tubuh Zahra dan membaringkannya di atas ranjang. Dia lalu berlari keluar dan berteriak memanggil mommynya.
"Mom, tolong aku. Zahra pingsan. Dad tolong panggilkan dokter. " teriak Rayyan dengan panik kepada mommy dan daddynya yang terlihat sedang duduk di ruang tengah.
"Mom... Zoya pingsan, tolong aku. " Sebuah teriakan dari lantai tiga pun terdengar.
__ADS_1
Dan pagi itu, benar-benar membuat keadaan mansion menjadi kacau. Karena teriakan kedua suami yang panik karena istri mereka pingsan dalam waktu bersamaan.