Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Sesuatu Yang Berbeda


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Faza langsung membawa suaminya ke kamar untuk istirahat. Tak lupa dia meminta kepada salah satu pelayan untuk membawakan makan siangnya ke kamar.


Faza lalu membantu Murad untuk membasuh kaki suaminya itu dengan air hangat sebelum berbaring. Murad memperhatikan setiap apapun yang dilakukan Faza kepadanya. Sudut bibirnya terangkat, dia merasa senang dan bahagia melihat istri kecilnya itu memperlakukannya dengan penuh perhatian disetiap detailnya. Setelah bersih, Murad dibantu Faza untuk naik ke tempat tidurnya


Dan tak lama suara ketukan pintu terdengar, pasti pelayan yang membawakannya makan siang. Faza langsung mengambil makanan yang dibawakan oleh pelayan dan membawanya kedalam.


"Kak, makan dulu. Aku suapin. " Kata Faza yang duduk di samping suaminya dan mencoba menyuapi nya


"Aku malas makan, sayang. "


"Tapi kak, setelah ini kakak harus minum obat. "


Murad mendesah pasrah, karena memang benar kata Faza dia harus makan dulu sebelum minum obat.


Faza masih menahan semua rasa penasarannya tentang dokter Evan, sampai Murad selesai makan. Mereka makan sepiring berdua saat ini. Setelah selesai makan, Faza hendak mengembalikan piringnya ke bawah tapi dilarang Murad.


"Taruh di nakas depan kamar saja, sayang. Nanti ada pelayan yang mengambil nya. " kata Murad dan dituruti Faza.


Faza lalu naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sisi suaminya. Lalu memeluk perut Murad Hilang sudah rasa penasaran Faza, karena dia langsung tertidur setelah memeluk suaminya Mungkin karena efek kekenyangan, membuatnya langsung tertidur.


Murad yang belum terlelap itupun memandangi wajah gadis kecilnya yang sekarang sudah menjadi istrinya.


"Ternyata sikap dan sifatmu lebih dewasa dari usiamu, Faza. Aku tidak menyangka kamu akan menjadi sedewasa ini dalam berpikir, menjaga dan merawatku dengan caramu. " lirih Murad sambil terus membelai pipi Faza dengan ibu jarinya.


Dan tak lama Murad menyusul Faza ke alam mimpi.


************


Faza terbangun saat jam menunjukkan waktu jam empat sore. Dilihatnya sang suami masih terlelap. Dia memandang lekat-lekat wajah Murad yang sangat tampan itu, berharap wajah tampan itu kan selalu menjadi miliknya.


"Iya aku memang tampan, sayang. Tapi tak perlu segitunya juga kamu memandangku. "


Suara serak khas bangun tidur itupun menyapa pendengaran Faza.


"Kakak? Apa kakak sudah bangun? Kakak ngagetin aku aja ihhh... " kesal Faza sambil memukuli lengan suaminya.


Murad perlahan membuka matanya setelah merasakan rasa sakit akibat lengannya dipukuli Faza.


"Sudah dong sayang, sakit nih. " uajr Murad sambil meringis. menahan sakit yang ia rasakan di lengannya.

__ADS_1


"Kak, aku mandi dulu, " ujar Faza saat akan meninggalkan suaminya.


"Jangan, mandi bareng aja yuk. " ajak Murad.


"tapi, kak? Ayolah Faza? kita kan sudah suami istri, nanti kalau kamu mandi duluan terus madiin aku kamu pasti basah semua nanti. Dan pasti mandi lagi, jadi daripada bolak balik mandi mending kita mandi bareng aja. Okey. " ujar Murad merayu istrinya itu.


Faza membenarkan semua ucapan suaminya itu, dan dia mulai membantu Murad untuk membuka satu persatu baju Murad mulai dari kaos dan celana yang digunkannya setelah itu ia membantu suaminya untuk turun dari tempat tidur menuju kursi roda khusus untuk mandi.


Setelah berhasil Faza lalu membawa Murad ke kamar mandi, lalu dia menghadapkan tubuh Murad agar tidak menghadap kearahnya. Lalu tanpa pikir panjang Faza langsung membuka bajunya dan memakai bathrobe. Tanpa ia sadari, kelakuannya itu tertangkap oleh mata Murad melalui kaca disisi sampingnya. Dan itu semua membuat tubuhnya menegang. Sesuatu yang sejak beberapa hari ini tertidur kini bangkit kembali.


Faza lalu mendekati suaminya itu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia hendak menyalakan shower namun segera ditahan oleh Murad.


"Tunggu."


"Kenapa kak? " tanya Faza yang tidak mengerti kenapa Murad menghentikannya.


"Aku ingin memberikan sedikit pelajaran padamu Faza? "


"Tentang. Hak dan kewajiban suami istri. "


"Maksud kakak? " tanya Faza tak mengerti.


Bantu aku duduk di atas toilet itu. Pinta Murad kepada istrinya. Tanpa bertanya apapun lagi, faza segera membantu Murad untuk duduk diatas toilet yang sudah tertutup, tanpa rasa curiga sedikitpun. Faza ingin sedikit menjauh dari Murad untuk menunggu apa yang akan Murad perintahkan kepadanya. Tapi sayang, sebelum melangkah tangan Faza langsung dicekal oleh tangan Murad dan langsung di tarik hingga Faza terduduk dipangkuan Murad.


"Kakak." Pekik Faza yang terkejut dengan perilaku Murad.


Tapi sayang dia tidak bisa protes lagi karena bibirnya telah di bungkam bibir Murad. Murad sudah tidak bisa mememdam hasratnya lagi. Dia terus men***bu bibir Faza yang manis itu, Dan tangannya sudah bergerilya dbawah sana. Memegang gundukan squishy yang ia temukan, dan memainkannya bergantian. Sedang tangan satunya menahan tengkuk leher Faza agar tidak lepas dari c***uannya.


Ciuman Murad turun ke leher jenjang Faza. Dan itu membuat Faza menggeliat geli-geli keenakkan. Dan pada akhirnya suara laknat itu keluar dari mulut Faza. Murad tersenyum mendengar kan suara lembut Faza yang menyapa telinganya, lalu Tangan yang sejak tadi bergerilya diatas squishy itu turun kebawah mencari hutan rimba yang dipenuhi ilalang, dan akhirnya Murad menemukannya. Ia menemukan hutan yang sudah basah karena banjir bandang.


"Kakak... " rengekan suara Faza seperti nyanyian ditelinga Murad.


Murad menyeringai, dia tidak memperdulikan Faza yang berkali kali menolaknya, dan menutupi nya dengan kedua kakinya. Tapi percuma, tenaganya tetap kalah dengan tenaga suaminya yang sangat kuat. Murad tidak seperti orang yang sedang sakit walau dia berada di atas kursi roda. Dan akhirnya sebuah jari itu bisa masuk ke dalam lembah kenikmatan milik Faza, dan Murad melakukannya, memaju mundurkan jarinya untuk memuaskan istrinya. Yah, kali ini dia hanya bisa melakukannya dengan satu dua jari tangannya, sedangkan di atas sana dia menjelajahi leher hingga menikmati dua buah squishy milik Faza. Awalnya Faza menolak, namun akhirnya dia bisa menikmatinya, sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan selama ini.


"Kak, A... aku.... ma... "


"Keluarkanlah..." kata Murad yang semakin mempercepat gerakannya.


Dan Akhirnya tubuh Faza bergetar hebat di pelukan suaminya.

__ADS_1


Murad melepaskan dua jarinya setelah merasakan cairan hangat menyiram Jari-jarinya. Dia biarkan Faza mengatur nafasnya yang terengah seperti habis lari marathon. Setelah nafas Faza teratur, Murad membisikkan sesuatu di telinga Faza.


"Sekarang, giliranku. " katanya sambil membelai telinga Faza dengan lidah nakalnya, dan itu membuat Faza langsung merinding.


"Kakak.... lihat ihhh, badan aku merinding semua. " protes Faza, namun Murad acuh.


Dia lalu membuka tali bathrobenya dan menampilkan adik kecil Murad yang sudah tegak berdiri menantang.


"Kakak... " pekik Faza dengN menutup matanya dengan kedua tangannya saat melihat sesuatu yang biasanya ia lihat saat tertidur itu, kini bangun dan dengan angkuhnya seperti menantang Faza.


"Ayo, sayang... lakukan tugasmu dengan benar. " pinta Murad kepada istrinya.


"Ta... tapi bagaimana caranya? "


"Dengan tanganmu seperti yang aku lakukan padamu tadi. Jika aku melakukannya sendiri padahal aku memiliki istri, maka kaulah yang akan berdosa, sayang. "


"kok bisa? " protes Faza tak terima.


"Karena istrinya tidak mau melayani suaminya dengan benar. "


Mendengar kata melayani dan dosa pikiran Faza jadi melayang kemana-mana.


"Ayo, lakukan tidurkan dia. " kata Murad dengan santai, dan memejamkan matanya.


Faza mendekat dan berjongkok di hadapan Murad, merasakan istrinya telah berada di depannya membuat Murad membuka matanya. Dan menggamit tangan Faza untuk menggenggam sosis berurat milik nya, dan menggerakkannya maju mundur secara perlahan. Awalnya Faza malu melakukannya. Tapi lama kelamaan, ia menikmatinya sambil memandang wajah suaminya yang sepertinya juga menikmati apa yang ia lakukan.


Gerakan tangan Faza semakin cepat dan itu membuat Murad seperti kehilangan kendali. Tanpa terasa dia menarik tengkuk Faza dan memintanya memasukkan sosisnya ke dalam mulut Faza. Faza juga yang juga merasakan penasaran pun memenuhi keinginan suaminya itu dia memasukan nya ke dalam mulutnya dan bergerak keluar masuk seperti keinginan suaminya. Hingga saat ingin mencapai puncaknya Murad langsung mengangkat tubuh Faza untuk duduk di atasnya, dan memasukkan sedikit ujungnya di lembah basah milik Faza dengan menahan tubuh Faza menggunakan satu tangannya, agar miliknya tidak masuk semua kedalam


Faza yang awalnya merasa terkejut dan sakit bersamaan tidak bisa berbuat apa-apa saat bibir Murad mencium dan menyesap bibir Faza sampai dalam. Dan Saat cairan mayones itu sudah keluar semua, Murad mendudukkan Faza dipangkuannya. Lalu mengecup kening Faza dengan lembut dan dalam.


"Kamu memang hebat dan kamu memang yang terbaik, sayang. "


Mendapat pujian dari suaminya Faza langsung menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Murad untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya.


"Maafkan aku, karena belum memberikan hakmu dengan sempurna dan melakukan kewajibanku dengan baik. " Ujar Murad dengan rasa bersalah di hatinya.


Faza menggeleng. "Tidak apa-apa, aku akan menunggu kakak menjadi sempurna kambali. Dan saat itu tiba aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya kepada kakak. "


Bersambung.

__ADS_1


*Nulis bab ini kenapa othor ikut blingsatan sendiri yak ,moga nggak kena prank lagi*


__ADS_2