Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Semua orang sedang terdiam setelah mendengarkan ucapan Simon, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel Rayyan yang memekakkan telinga. Rayyan langsung melihat siapa yang sudah menghubunginya, ternyata Zahra istrinya.


"Maaf aku lihat Zahra dulu, Dad nanti Zahra aku bawa ke bawah setelah bersih-bersih. Kak Murad aku pinjam kursi rodamu ya, Suruh pelayan mengantar ke kamar. "


"Iya... " balas Murad singkat.


Rayyan segera ke kamarnya setelah permisi kepada semua orang.


"Tuan Simon, sebaiknya kita makan malam bersama saja. Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini. Zahra pasti sangat bahagia. " ujar Erhan kepada besannya itu.


"Apa tidak merepotkan, tuan? " tanya Simon sedikit ragu.


"Tidak, anda adalah salah satu keluarga kami. Sudah sepantasnya kita bersikap seperti keluarga."


Mereka yang masih berada di ruang tengah masih berbincang hangat tentang apapun. Murad segera ke belakang melihat kursi roda yang pernah menemaninya selama beberapa bulan. Apakah masih bisa digunakan atau tidak. Jika tidak bisa digunakan sebaiknya ia membelikan yang baru.


Murad mencari pelayanan untuk membersihkan kursi roda itu dari debu yang menempel walupun sudah tertutup rapi, tetap saja masih ada debu yang menempel. Setelah dirasa bersih, Murad mencobanya. Dan ternyata masih berfungsi dengan baik.


"Kau, antarkan ini ke kamar Rayyan. " perintah Murad kepada salah satu pelayan.


"Baik tuan. " Pelayan itu langsung mendorong kursi roda itu, dan membawanya ke kamar Rayyan.


Di kamar Rayyan.


Zahra yang sudah terbangun kini sedang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Rayyan masuk dengan tergesa dan melihat Istrinya itu tengah tersenyum padanya. Rayyan langsung mendekat dan memeluk tubuh Zahra yang terlihat sangat lemas.


Ketakutan Rayyan sama seperti ketakutan Simon saat mendengarkan kisah mommy nya Zahra. Dia akan berusaha yang terbaik untuk istrinya itu. Agar tidak terjadi kesalahan.


"Kau kenapa? " tanya Zahra saat Rayyan memeluk erat tubuhnya dengan sangat erat.


"Tidak apa-apa. Ayo aku antarkan mandi. kau harus bersiap, karena daddy Simon sudah ada dibawah. Kita akan makan malam bersama."


"Benarkah? " tanya Zahra dengan sangat antusias.


"Iya, ayo aku antar mau aku gendong atau berjalan sendiri. "


Zahra langsung merentangkan tangannya "gendong." ucapnya dengan manja.


"Wah... sekarang istriku jadi manja sekali. "


Rayyan terkekeh dan langsung mengangkat tubuh Zahra. Dan dengan sigap Zahra langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya. Mereka lalu tertawa bersama. Dengan penuh perhatian Rayyan memandikan istri nya itu, tak peduli seluruh tubuhnya basah lagi walau sudah mandi.


Setelah memandikan Zahra, Rayyan mengambilkan pakaian ganti untuk istri nya itu.


"Biar aku pakai sendiri, kau berganti pakaian juga, bajumu basah semua. " kata Zahra saat Rayyan ingin memakaikannya pakaian.

__ADS_1


"Apa kau bisa? " tanya Rayyan dengan ragu.


"Ray, aku bukan anak kecil, aku bisa berganti pakaian sendiri. "


"Baiklah kalau begitu. '


Rayyan lalu berjalan mengambil pakaian untuknya. Namun sebelum sampai di walk in closet, Rayyan mendengar bunyi pintu di ketuk. D ia tidak jadi berganti pakaian melainkan langsung melihat siapa yang sudah mengetuk pintu kamarnya.


"Dilihatnya seorang pelayan dengan sebuah kursi roda di luar kamarnya.


"Tuan, Tuan Murad meminta saya mengantarkan ini. Beliau bilang semua masih berfungsi normal. " ucap pelayan itu.


"Baiklah terima kasih. "


Rayyan lalu membawa kursi roda itiasuk ke dalam kamar


Zahra keheranan saat melihat Rayyan membawa kursi roda masuk ke kamar.


"Ray, itu kan kursi roda kak Murad? Untuk apa? " tanya Zahra kemudian.


"Aku meminjamnya untukmu. Kau kan tidak boleh kelelahan jadi aku akan membawamu dengan kursi roda ini. "


"Tapi Ray, aku tidak ingin duduk di sana, aku seperti orang sakit tau, Padahal aku bisa berjalan seperti biasa dan duduk di kursi sama seperti ibu-ibu lainnya.


Rayyan menggeleng, " mulai sekarang kau harus menurut padaku. Kau tidak boleh kelelahan, itu poin penting yang harus kau patuhi Zahra. " Ucap Rayyan yang tak ingin dibantah lagi.


Zahra akhirnya mengalah. Dia tidak akan membantah apapun nucapan suaminya. Karena ini demi kebaikan dirinya dan bayi yang dia kandung. Dan apa yang dilakukan oleh suaminya pasti pastilah yang terbaik untuknya.


Setelah berganti pakaian, Rayyan lalu membantu Zahra naik ke atas kursi roda. Lalu mendorongnya keluar dari kamar, Menaiki lift dan turu ke lantai bawah.


Saat pintu lift terbuka, terdengar suara orang mengobrol, salah satunya adalah suara daddynya. Ingin sekali Zahra berlari dan memeluk daddynya itu, namun dia masih ingat kalau dia tidak bisa bergerak sembarangan saat ini.


"Zahra.. " sapa Nisa saat melihat Rayyan mendorong istrinya dengan kursi roda.


Semua orang menoleh ke arah Zahra dan Rayyan. Begitu juga dengan Simon, dia langsung berdiri dan menghampiri anak satu-satunya itu.


"Zahra, anakku. " Simon lalu memeluk anaknya, beberapa saat.


Zahra yang sudab tak kuasa menahan air matanya nya pun akhirnya menangis.


"Ssstt.... Jangan menangis. Calon ibu tidak boleh menangis. "


"Dad, aku merindukan daddy. "


"Daddy jugamerindukanmu. "

__ADS_1


Kini Simon yabg mendorong anaknya itu untuk berkumpul bersama dengan keluarga lainnya.


"Maaf semuanya, sebenarnya aku masih bisa jalan, tapi Rayyan memintaku duduk di kursi roda. Kak Murad, kursinya aku pinjam. " Ucap Zahra malu-malu.


Semua orang tersenyum melihat sikap Zahra yang malu-malu itu. Padahal semua orang sudah tahu keadaannya.


"Tidak apa-apa Zahra, pakailah. Lagipula aku sudah sembuh. " kata Murad sambil tertawa lebar.


"Iya, sayang. Rayyan melakukan ini semua pasti demi kebaikanmu. Jadi, tidak apa-apa. Kami memakluminya. Dia pasti tidak ingin kamu kelelahan. " Nisa berujar.


Semua orang mengangguk setuju.


"Mulai sekarang kamu harus mematuhu ucapan suamimu, Zahra. Karena itu pasti untuk kebaikanmu dan anak-anak kalian. Suamimu oasti melakukan yang terbaik untukmu. " Simon memberikan nasehatnya kepada anak kesayangannya itu.


"Tidak hanya Rayyan, kita semua juga akan menjagamu Zahra. Katakan saja apa yang kamu inginkan. Jika kami bisa kami akan mengabulkannya untukmu. Begitu juga kamu Zoya. Jika kalian berdua mengalami ngidam, katakan saja kepada suami kalian atau kepada kami jangan sungkan-sungkan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kalian berdua dan cucu-cucu kami. " ujar Erhan sebagai kepala keluarga di sini.


Zahra merasa terharu, dia langsung menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Sedangkan Simon dia sudah tidak bisa menahan rasa harunya, matanya sudah berkaca-kaca. Beruntung sekali anaknya masuk kedalam keluarga ini. Ternyata kebaikan keluarga Khan bukanlah isapan jempol semata. Karena Simon dan anaknya sudah merasakan kebaikan mereka.


"Dad, Maaf. Jika selama kehamilan ini mungkin aku tidak akan datang ke rumah daddy. Karena daddy pasti tahu keadaan ku. " Kata Zahra yang menatap sendu kearah daddy nya.


"Iya, sayang. Tidak apa-apa. Jika kau tidak bisa ke rumah daddy, maka daddy yang akan ke mari. telpon saja daddy jika kau merindukan daddy, nanti daddy pasti akan datang. " ujar Simon lembut sambil mengusap kepala Zahra yang sudah tertutup hijab dengan sempurna.


"Daddy janji." kata Zahra dengan mata berbinar.


"Iya, seperti hari ini. Daddy pasti akan datang menemui anak daddy dan calon cucu daddy ini. " Kata Simon lagi kini sambil mengusap perut Zahra yang masih datar.


Semua orang tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu. Semua berjanji akan menjaga Zahra dan Zoya dengan baik. Agar kelak anak-anak mereka lahir dengan sehat.


"Kak Zahra, kalau kakak harus badrest. Itu artinya kakak tidak boleh kemana-mana dong. " celetuk Faza tiba-tiba.


"Iya Faza memangnya kenapa? " bukan Zahra yang menjawab, melainkan Nisa.


"Aku dan anak-anakku boleh tidak bermain di kamar kak Zahra nanti. Ini saja Al, dari tadi nyariin mom Za nya. Untung saja kak Murad bisa mengatasinya dengan berenang. " kata Faza yang sedang memangku baby Al.


Zahra Dan Rayyan saling berpandangan lalu tersenyum.


"Boleh saja Faza. Bawa ketiga bayimu ke kamar, kita bermain bersama. " ucap Zahra apda akhirnya.


"Iya, setidaknya jika ada kami kak Zahra tidak akan kesepian dan merasa bosan di kamar. Kita akan ingat waktu, dan akan pergi jika waktunya kak Zahra istirahat."


Semua orang setuju dengan ucapan nyonya Murad itu. Memang benar jika Zahra berada di dalam kamar sendirian selama seharian tanpa ada yang mengajaknya ngobrol, pasti dia akan kebosanan. Sedangkan Rayyan harus bekerja.


"Tidak apa-apa Faza, asalkan jangan biarkan Zahra menggendong anakmu. Oke. " pesan mommy Nisa kepada menantunya itu.


"Tentu mom aku tau itu. " ucap Faza dengan senyuman penuh dibibirnya.

__ADS_1


"Sebentar lagi waktunya makan malam. Saya permisi dulu, Ayo Alima. " Nisa pamit kepada semua orang yang ada di sana dan mengajak Alima untuk mempersiapkan makan malam untuk mereka semua.


Suasana hangat tercipta malam ini, karena semua anggota keluarga berkumpul bersama dalam satu meja. Semoga akan tetap bahagia seperti ini selamanya.


__ADS_2