Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Kejujuran Zoya


__ADS_3

Zoya pulang ke mansion seperti biasa di jam pulang kerja. Dia segera membersihkan diri dan bersiap. Karena Evan sudah memberikan lokasi tempat pertemuan mereka. Setelah di rasa semua pas, Zoya segera turun dan berpamitan kepada keluarganya kalau dia ada janji makan malam dengan temannya di luar.


"Mom,dad hari ini aku tidak makan di rumah karena ada janji makan malam di luar dengan teman." pamit Zoya kepada kedua orang tuanya.


"Dengan siapa Zo.."


Dengan temanku mom."


"Iya teman yang mana?"


Zoya menunduk dan menggigit bibir bawahnya. Ingin sekali dia berbohong, tapi sayang kata hatinya melarang. Lebih baik jujur di awal agar tidak menjadi masalah di akhir nanti.


"Dokter Evan mom." ucapnya dengan menundukkan kepala.


Semua orang yang ada di sana terkejut dengan satu nama yang disebutkan Zoya. Termasuk Rayyan karena dia sudah melarang Zoya dekat dengan dr. Evan sejak awal.


"Apa kamu serius Zoya?" tanya Nisa tak percaya."Dr. Evan yang akan menjadi dokternya Murad kan?"


Zoya hanya menganggukkan kepalanya.


Semua orang menghmbuskan nafasnya. Mereka tidak percaya kalau Zoya dekat dengan dokter Evan.


"Sejak kapan kau dekat dengannya Zo." kini Erhan sebagai seorang kepala keluarga yang bertanya.


"Baru-baru ini aku dekat dad. Kami hanya sekedar say hai di telpon dan makan siang. Dan baru kali ini juga aku makan malam dengannya." Zoya mencoba jujur kepada semua orang agar dia tidak kebohongan suatu saat nanti.


Nisa menghargai kejujuran Zoya, dan tersenyum padanya.


"Baiklah, pergilah Zoya. Tapi kamu harus selalu ingat siapa kita. Jangan menjadi murahan didepan pria. Okey! Kita memiliki darah Indonesia yang menjunjung tinggi adat ketimuran. Ingat... kamu boleh berteman dengan siapa saja. Tapi kalau untuk pendamping kamu harus mencari seseorang yang tepat,dan jangan sembarangan." nasehat Nisa panjang lebar.


"Iya mom, aku mengerti. Kalau begitu, apa aku boleh pergi? " tanya Zoya sekali lagi.


"Pergilah, tapi ingat harus hati-hati menjaga diri. " pesan Nisa lagi.


"Tentu, " Zoya langsung memeluk sang mommy dan daddy nya. Dia juga berpamitan kepada kakak dan kakak iparnya.


Zoya merasa lega sekarang dia bisa jujur kepada kedua orang tuanya, dan keluarganya. Dia tidak akan menyembunyikan apapun lagi kepada keluarganya, termasuk urusan pria yang dekat dengannya


"Mom, kenapa mommy mengijinkan Zoya pergi. " protes Rayyan.


"Memang Kenapa Ray?"

__ADS_1


"Dokter Evan itu masih belum jelas asal usulnya mom, dad. Kalau sampai Zoya terlalu dalam jatuh kedalam pesona dokter Evan itu akan sangat berbahaya. Zoya tidak pernah mengenal atau jatuh cinta dengan pria manapun. Jangan mengambil resiko terlalu berbahaya untuk Zoya, mom. " Rayyan mengatakan alasanannya tidak menyetujui kedekatan Zoya dengan Evan.


Erhan dan Nisa menggelengkan kepala mereka. Kini mereka tau, walaupun setiap hari bertengkar dan berbeda pendapat, tapi ternyata Rayyan sangat menyayangi dan mengkhawatirkan saudaranya


"Rayyan, jangan terlalu berlebihan. Tadi Zoya bilang hanya berteman kan? Jadi biarkan dia berteman. " ujar Erhan


"Tapi, dad, mom... "


Rayyan masih mendebat orang tuanya tentang hubungan Zoya dan Evan. Rayyan tidak ingin saudaranya itu jatuh ke dalam pesona dokter Evan. Karena dia memiliki firasat yang tidak baik tentang dokter Evan.


Dilain sisi seorang pria yang mendengarkan perdebatan itu hanya bisa mengepalkan tangannya dengan dada bergemuruh. Walau wajahnya tetap datar tapi tidak ada yang tau jantungnua berdetak sangat kencang saat ini.


Murad bisa menangkap gelagat tidak biasa Ezra yang duduk disebelah Rayyan, karena mereka sedang mengerjakan tugas kantor sebelum Zoya berpamitan tadi. Dia berjanji kepada istrinya akan mencari tau apa benar Ezra mencintai Zoya. Murad menggelengkan kepalanya melihat apa yang terjadi di depannya. Ternyata benar Ezra mencintai Zoya, konyol sekali. Rayyan yang kelihatannya cuek kepada Zoya ternyata sangat posesif saat menilai pangan untuk saudara kembarnya itu. Sungguh luar biasa... Mommy dan Daddy juga tidak terlalu mengekang anaknya berteman dengan siapa saja, asalkan bisa menjaga diri dengan baik. Mereka adalah orang tua yang luar biasa.


"Rayyan, sudah jangan berdebat lagi dengan Mommy dan daddy. Kita akan melihat, sejauh mana kisah antara Zoya dan Evan. Kamu tidak perlu khawatir. Kalau hubungan mereka sudah jauh, maka kita akan menyelidiki siapa dokter Evan sebernarnya. Atau kau bisa menyelidikinya dari sekarang. agar kau punya bukti untuk memisahkan hubungan mereka. jangan cuma mendebat mommy dan daddy. " Usul Murad yang sejak tadi diam mendengarkan perdebatan mereka bertiga..


Rayyan tidak menyangka kakaknya bisa berfikir sejauh itu. Kenapa tidak terfikirkan olehnya.


"Sekarang kamu melarang Zoya untuk berhubungan dengan orang lain. Punya hak apa kamu. Hidup Zoya adalah milik Zoya. Jika kamu tidak menyukai pasangan Zoya, maka kamu harus mendapat bukti kalau pria yang Zoya pilih itu tidak baik, dengan begitu kamu bisa melarang mereka berhubungan. Sampai disini apa kamu mengerti? "


Sekali lagi ucapan Murad bisa diterima akal sehatnya.


"Nah itu baru bagus. "


Faza yang sejak tadi hanya mendengarkan perdebatan mereka berempat melirik ke arah kakaknya. Ada sebuah tatapan sendu dan kekecewaan yang kakanya rasakan disana.


*********


Zoya telah sampai di restoran tempatnya bertemu dengan Evan. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru restoran, hingga matanya melihat sosok Evan yang sedang menerima panggilan telpon dari seseorang.


Zoya dengan wajah berbinar langsung menemui Evan dan duduk didepannya.


"Hai.." sapa Zoya


Evan yang terkejut langsung mematikan panggilan telponnya.


"Oh, hai Zo... kau sudah datang? "


"Iya, apa kau sudah menunggu lama? "


"Ah, tidak. aku baru saja sampai. "

__ADS_1


Evan lalu memesan makan yang mereka berdua sukai. Diselingi obrolan ringan sambil menunggu makanan mereka datang.


"Jadi di Jerman, orang tuamu kerja sebagai apa? " tanya Zoya yang penasaran dengan keluarga Evan.


"Ayahku hanya seorang dokter bedah. Sedangkan ibuku hanya seorang guru." jawab evan dengan santai tanpa beban sedikitpun.


"Berarti kamu mengikuti jejak ayahmu, dong. "


"Yah begitulah. "


Obrolan mereka terhenti, saat pelayan menghidangkan makanan mereka.


Susaana kembali sunyi, karena mereka mulai menikmati makanan mereka masing-masing.


"Terimakasih atas makan malamnya Evan, enak sekali. " ujar Zoya saat mereka menyelesaikan makannya.


"Aaah biasa, saja Zo.. Aku senang jika kamu puas dengan makanannya. " kata Evan dengan senyuman manis dibibirnya. "Setelah ini kau mau kemana? " tanya Evan kemudian.


"Tentu saja pulang, memangnya mau kemana lagi." jawab Zoya santai dengan meminum habis jus didepannya.


"Lain kali bagaimana kalau kita nonton bioskop. "


"Ah, maaf Evan bukan aku menolak tapi aku tidak biasa ketempat seperti itu. Karena di rumah, daddy sudah membuatkan kami mini bioskop., jadi... "


"Ini beda, zo. " Evan masih mencoba merayu Zoya agar mau diajak nonton di bioskop. Tapi sayang, Zoya tidak terpengaruh dia tetap keukeuh dengan pendiriannya, dan jawabannya tetap tidak.


"Maaf Evan. "


Evan medengus pasrah, ternyata tidak mudah menaklukkan Zoya.


Zoya menlihat jam tangannya, sudah jam sembilan malam ternyata. Dia lalu mengambil tasnya, dan berpamitan kepada Evan.


"Maaf Evan, ini sudah malam. Aku harus pulang, Orangtuaku pasti khawatir. Dan Terimakasih atas makan malamnya. "


"Ah tidak masalah, aku senang bisa makan malam dengannu Zoya. Terimakasih, Apa lain kali kita bisa makan malam lagi, atau makan siang? "


"Kita lihat saja nanti. "


Zoya segera meninggalkan Evan setelah berpamitan, dan segera masuk ke dalam mobil.


Evan menatap kepergian Zoya dengan tatapan yang Entalah...

__ADS_1


__ADS_2