
Mendengar kalau Zahra masih sakit, Rayyan langsung melepaskan ciumanya pada leher Zahra.
"Apa sakit sekali? "
Zahra mengangguk lemah.
"Apa aku boleh melihatnya, "
"Jangan... aku malu Ray. "
"Tidak apa-apa Zahra. Aku kan suamimu. Jangankan melihat, bahkan aku sudah memasukinya dan merasakan semuanya. Jadi, apa lagi yang ingin kau sembunyikan dariku. " Kata Rayyan yang mulai bersikap terbuka kepada Zahra.
Rayyan lalu menyalakan lampu kamarnya. Kini dia bisa melihat tubuh Zahra dengan jelas, bahkan dia bisa melihat bercak darah yang sudah mengering di sprei putih itu . Rayyan tersenyum senang, dia lalu membuka kaki Zahra perlahan, untuk melihat sarang junior, apakah benar telah terjadi sesuatu di sana. Dan...
"Ya Tuhan,... apa itu ulahku? " pekik Rayyan seolah dia terkejut karena melihat ulahnya.
Fix keturan Erhan memang tidak main-main. Mereka memiliki kekuatan yang sama dengan daddy mereka. Saat dia muda dulu. Ketrampilan nya membuat bengkak istrinya sudah di turunkan kepada kedua anak laki-laki nya .
"Tentu saja ini ulahmu, Rayyan. Ulah siapa lag, orang yang sudah menjajahku selain kamu malam ini. " Kata Zahra dengan kesal.
"Ya, Ampun gitu aja istriku sudah marah. Aku cuma bercanda sayang. Janganlah kamu marah-marah nanti cepat tua. " ujar Rayyan yang sudah pasti tau kalau istrinya akan merajuk.
Rayyan lalu menutup kaki Zahra lagi, dan menyelimutinya. Dia kembali berbaring di samping Zahra, dan memeluknya.
"Kembalilah tidur dan aku hanya akan memelukmu malam ini. " Kata Rayyan yang lalu memeluk tubuh Zahra.
Mereka kembali mengarungi mimpi yang tertunda, hingga pagi menjelang.
°
°
Pagi harinya, Nisa dan Erhan sudah berada di hotel yang sama dimana kedua anak dan menantu mereka berada. Mereka langsung menuju kamar yang sudah diberitahu kepada mereka berdua melalui pesan singkat semalam.
Nisa mengetuk pintu kamar Ezra dan Zoya. Dan tak lama pintu kamar Ezra terbuka. Dilihatnya Ezra yang hanya menggunakan bathrobe dengan rambut basahnya. Melihat itu Nisa dan Erhan saling berpandangan dan menggelengkan kepala mereka.
"Bisa-bisanya ya, kalian mengambil kesempatan dalam kesempitan. " sindir Nisa kepada menantunya itu.
Ezra hanya nyengir kuda mendengar omelan ibu mertuanya, dan mempersilahkan keduanya masuk.
"Dimana Zoya? "
"Sedang mandi, mom. "
"Ini berikan pakaian ganti untuknya. Dan ini juga pakaian ganti untukmu. " Kata Nisa sambil menyerahkan sebuah paperbag kepada Ezra.
Ezra menerimanya dan mengambil paperbag yang di berikan Nisa, lalu dia mengambil pakaian Zoya, disana juga ada pakaian dalamnya ternyata.
"Oh mommy, kau sungguh baik. " gumam Ezra dalam hati.
__ADS_1
Ezra lalu mengetuk pintu Zoya dan menyerahkannya pakaian milik Zoya. Setelah itu dia berganti pakaian menggunakan setelan kerja yang di bawa ibu mertuanya. Tak lama Zoya juga keluar dengan pakaian yang sudah rapi.
"Zo, setelah ini temani mommy ke kamar Rayyan mommy ingin melihat keadaan menantu mommy itu. Apakah dia dijajah habis-habisan oleh Rayyan semalam. "
"Apakah mommy sudah persiapan membawa obat.? " tanya Zoya.
"Sudah, mommy meminta obatnya Faza semalam, mungkin saja Zahra mengalami hal yang sama seperti yang di lakukan Murad kepada Faza. " Nisa keceplosan membongkar aib Murad kepada Zoya.
"Apa? jadi, kak Murad sudah melakukannya kepada Faza? " Zoya terkejut mendengar ucapan sang mommy.
Nisa langsung memukuli bibirnya yang bicara tak berfilter.
"Sudahlah, Jangan bahas itu, atau jangan tanyakan itu kepada Murad maupun Faza nanti mereka malu. " kata Nisa yang memberi tanda Zoya agar diam.
Zoya mengangguk mengerti.
"Sekarang antarkan mommy ke kamar Rayyan. " kata Nisa sambil membawa paperbag yang berisi pakaian untuk Rayyan dan Zahra.
Zoya lalu mengenakan hijab pasmina nya, karena rambutnya yang masih basah. Lalu dia keluar kamar bersama mommy, sedangkan daddy Erhan menunggu di kamar bersama Ezra.
Zoya mengetuk pintu kamar Rayyan berkali-kali, sampai pada akhirnya Rayyan membukakan pintu kamarnya. Saat ini dia hanya mengenakan boxer dengan bagian atas yang terekspos.
"Ada apa, Zo? kenapa kau mengganggu pagi-pagi sekali." Kata Rayyan dengan mata setengah tertutup.
Nisa langsung menerobos masuk dan menjewer telinga Rayyan, yang masih belum sepenuhnya sadar.
Merasakan jeweran ditelinganya dan mendengar suara omelan mommynya , Rayyan langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Mo.. mommy... "
"Iya ini mommy. " Nisa lalu melepaskan jewerannya dari telinga Rayyan.
"Mana Zahra. "
"Di.. dia aku suruh berendam air hangat mom. " Rayyan merasa malu dan ketakutan secara bersamaan melihat sang mommy.
"Ray, bisa bantu aku.. "
Terdengar suara teriakan Zahra dari dalam kamar mandi, yang meminta bantuan Rayyan.
Rayyan langsung bergegas masuk ke kamar mandi dan kemudian keluar kembali dengan menggendong Zahra yang sudah memakai bathrobe. Zahra terkejut saat di dalam kamarnya sudah ada mommy Nisa dan Zoya. Dia langsung menyembunyikan kepalanya di dada suaminya.
"Kenapa ada mommy di sini? " bisik Zahra.
"Aku juga tidak tau. " jawab Rayyan cuek. Dia lalu menurunkan Zahra duduk di atas ranjang.
Nisa yang melihat itu sangat yakin kalau Zahra sudah di jajah habis-habisan oleh suaminya.
"Ray, oleskan ini pada milik Zahra yang bengkak." kata Nisa sambil menyerahkan sebuah salep kepada anaknya.
__ADS_1
Mendengar itu, Zahra dan Rayyan jadi salah tingkah. Dia tidak menyangka, mommynya mengetahui kejahatannya pada Zahra.
"Tak perlu terkejut. Kau dan kakak mu adalah keturunan sejati dari daddymu. Jadi mommy sudah tau apa yang terjadi pada istrimu, di malam pertamanya. Itulah kenapa mommy kemari pagi-pagi. Tidak usah malu, cepat obati istrimu. Mommy dan Zoya akan menunggu di sofa. Setelah itu kita akan sarapan bersama. " kata Nisa panjang lebar menjelaskan maksud kedatangannya pagi ini.
Zahra dan Rayyan hanya melongo dan saling bertatapan saat mendengarkan omongan sang mommy. Setelah mommy dan Zoya duduk tenang di sofa, Rayyan lalu mengobati Zahra dengan perlahan. Dengan malu-malu, Zahra memandangi Rayyan yang dengan telaten mengobati bengkak pada area sensitif Zahra.
"Apakah yang aku lakukan ini sudah benar? Menyerahkan hidupku pada pria di hadapanku ini. Apakah kelak aku harus menyandarkan hidupku pada pria menyebalkan ini, yang sayangnya dia juga sangat baik dan perhatian." gumam Zahra dalam hati.
"Apakah sakit? " tanya Rayyan yang sesekali mendengar Zahra mendesis.
"Sedikit.Tapi tidak terlalu sakit seperti semalam setelah berendam. "
"Baguslah kalau begitu. "
Rayyan terus mengobati milik Zahra yang sedikit membengkak. Dipandanginya secara seksama dan itu membuat Zahra jadi malu dan langsung menutup kakinya.
"Demi kesejahteraanmu, Junior. Kamu harus bersabar beberapa hari, sampai sarangmu diperbaiki. " batin Rayyan.
"Apa sudah selesai? " teriak Nisa yang melihat anaknya itu lama sekali mengobati istrinya.
"Sudah mom. "
Mendengar itu Nisa langsung menghampiri Zahra dan duduk di pinggir ranjang.
"Apa kau sudah merasa lebih baik. " tanya Nisa kepada menantunya itu.
"Lumayan mom. "
"Lalu apakah kau bisa berjalan?"
Mendengar pertanyaan itu, Zahra hanya menunduk.
Itu artinya Zahra belum bisa berjalan normal.
"Baiklah kalau begitu, kita sarapan di kamar ini saja. " putus Nisa pada akhirnya.
Nisa lalu memanggil Ezra dan Erhan untuk ke kamar Rayyan, dia juga meminta kepada pihak hotel untuk mengirimkan sarapan mereka di kamar.
Saat Ezra dan Erhan masuk bertepatan dengan Rayyan yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Melihat itu, Ezra menatapnya dengan tatapan mengejek
"Cih, puas kau sekarang akhirnya sudah bisa membobol gawang istrimu. "
Rayyan hanya mengangkat bahunya acuh. Dia lalu mendekati Zahra yang sedang berbincang dengan Zoya.
"Rayyan, Zahra setelah ini kalian berdua ikut daddy ke suatu tempat. Dan kau Ezra antarkan mommy dan Zoya pulang. Setelah itu kembalilah bekerja seperti biasa. Untuk hari ini biarkan Rayyan cuti agar bisa merawat istrinya dulu. Aku titipkan perusahaan kepadamu, karena kami harus melakukan sesuatu kepada Sandro dan anaknya. "
"Baik dad. " ucap Ezra patuh.
Up lagi Siang / Malam ya. Othor sedang ada kesibukan di dunia nyata.
__ADS_1