
Zahra datang ke perusahaan Rayyan setelah sebelumnya mendapatkan telepon dari suaminya itu. Bahwa dia akan dijemput oleh sopir perusahaan . Dan di sinilah dia berada saat ini di perusahaan tempat suaminya bekerja , dan tempat dia bernegosiasi pertama kali dengan Rayyan tentang sebuah kesepakatan .
Sopir itu mengantarkan Zahra , masuk ke dalam perusahaan dan langsung mengantarkannya ke ruang wakil CEO.
Rayyan sudah menunggu kedatangan istrinya dengan tidak sabar langsung tersenyum setelah mendengar pintu diketuk ,Rayan langsung mempersilahkan seseorang yang berada di luar untuk segera masuk ke dalam ruangannya.
Dilihatnya sosok cantik itu masuk dengan membawa dua buah paper bag .Rayyan langsung tersenyum lebar melihat istrinya itu, dia langsung berdiri dan memberikan sebuah pelukan untuk istrinya
Zahra langsung duduk di sofa setelah melepaskan pelukan suaminya dan menata makan siang mereka yang sudah ia siapkan sebelumnya
"Ayo kita makan ,ini benar-benar sudah memasuki waktu makan siang, Ray. " kata Zahra tanpa basa-basi lagi .
Rayan langsung mendekati Zahra dan duduk di sampingnya .
"Zahra Bolehkah aku bermanja denganmu ."
"Maksudmu apa? Bukankah kita selalu bermanja setiap hari. " kata Zahra yang tidak mengerti maksud suaminya.
"Maukah kau menyuapiku , seperti pasangan-pasangan lain yang sering suap-suapan dengan pasangannya ? " pinta Rayyan dengan manja.
"Apa aku tidak salah dengar ? Kau sepeti anak kecil saja, Ray. " Zahra menggelengkan kepalanya saat mendengar permintaam Rayyan.
"Sekali-kali Aku ingin bermanja denganmu boleh kan ?" Kata Rayan dengan wajah dibuat seimut mungkin
Zahra langsung tertawa terbahak-bahak ,melihat mimik wajah Rayyan yang sangat lucu dan imut
"Kau sangat menggemaskan suamiku ." Kata Zahra sambil mencubit kedua pipi Rayan lalu menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri .
"Ya terserah padamu kau bilang aku lucu atau imut , tapi aku ingin kamu menyuapiku hari ini ."
"Baiklah baiklah , aku akan menyuapi bayi Besarku ."
__ADS_1
Dan tanpa aba-aba , Rayan langsung mengecup pipi Zahra. Dan itu membuat Zahra sangat terkejut.
"Terima kasih sayang ." sekali lagi kecupan itu diberikan Rayyan di pipi istrinya.
Mereka memulai makan siang mereka dengan acara suap-suapan seperti apa yang di pinta Rayyan. Benar-benar seperti anak kecil yang sedang di suapi ibunya.
"Aku akui masakan istriku memang sangat enak. apalagi kalau makannya sambil di suapi seperti ini. Beuhhh... double enaknya. " Rayyan memuji masakan istrinya itu yang memang benar-benar enak.
"Ray, bagaiman dengan perusahaan papaku? " tanya Zahra setelah makan siang mereka selesai. Dia sudah penasaran dengan Kelangsungan perusahaan papanya.
"Semua baik-baik saja, sayang . Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, perusahaan Altan sudah dalam naungan perusahaan kami . Dan aku menyuruh Mark , untuk bertanggung jawab di sana dan sesekali aku juga datang mengunjungi perusahaanmu itu. Kau tenang saja tidak perlu khawatir tentang hal itu , tugasmu hanya satu yaitu menjadi istri yang baik untukku ." kata Rayyan dengan senyum penuh arti.
"Ya aku tahu itu , Apakah selama ini aku belum menjadi istri yang baik untukmu ?" Tanya Zahra dengan bibir yang mulai mengerucut .
"Ya , sedikit lagi kau akan menjadi istri yang sangat baik sayang. Jika kau menuruti keinginanku. " kata Rayyan lagi dengan senyum tertahan.
"Maksudmu ... Aku masih belum jadi istri yang baik selama ini?" Pekik Zahra yang merasa tidak terima Kalau Rayyan mengatakan dia belum bisa menjadi istri yang baik .
"Maksudmu ? Kita bermain di sini . Di ruanganmu ini ? Apa tidak ada tempat lain . Kita kan bisa bermain di rumah nanti malam . Ayolah Rayyan , Jangan berpikiran mesum saat kau bekerja ." Kini Zahra mengerti apa maksud suaminya yang jahil itu.
Rayyan tidak peduli dengan omelan istrinya itu, dia langsung meraih tengkuk Zahra dan sebuah ciuman panas di hari yang panas itu diberikan Rayyan kepada istrinya itu. Sebagai awal untuk memulai kegiatan panas yang akan mereka lakukan di ruangan kerja Rayyan.
Meski awalnya Zahra menolak, tapi siapa yang bisa menahan pesona suaminya ini yang selalu memabukkan dan selalu membuat tubuhnya menginginkan sesuatu yang lebih. Bukannya Zahra lemah pada pendiriannya, tapi siapa yang akan menolak kegiatan yang menyenangkan ini.
Bibir Rayyan terus menguasai bibir Zahra, dengan satu tangan yang bebas mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang Zahra kenakan. Dan menelusup masuk kesana, memainkan dua buah squishy milik Zahra. Seketika sebuah, suara laknat keluar dari mulut Zahra.
"Ray, lepaskan. Ini kantor, nanti kalau ada yang masuk bagaimana? "
Rayyan melepaskan ciumannya dan menatap wajah Zahra yang sudah memerah.
"Aku sudah mengunci pintu dan memberitahu sekertaris ku agar tidak menggangguku selama ada kau di dalam. "
__ADS_1
Zahra Tercengang mendengarkan ucapan Rayyan barusan. Ternyata Rayyan sudah merencanakan ini semua.
Dan tanpa aba-aba Rayyan langsung menggendong tubuh Zahra masuk kedalam ruangan pribadinya, dan merebahkan tubuh Zahra diatas ranjang.
Zahra benar-benar tak percaya kalau ada ruangan pribadi di kantornya.
"Ray, biasanya yang aku tau hanya CEO yang memiliki ruang pribadi, tapi kenapa wakil CEO juga punya? " tanya Zahra yang masih terkagum dengan ruangan Rayyan yang mewah.
"Kau tidak tau rupanya, kedudukanku sama kak Murad itu sama. Hanya nama nya saja berbeda. Segala kerja sama jika melalui tanda tangan ku atau kak Murad itu adalah sah. " Rayyan menjelaskan sambil membuka satu persatu kancing kemejanya. Lalu menindih tubuh Zahra dalam kungkungannya.
"Aku juga ingin bermain dengan istriku di kantor, tidak hanya kak Murad saja. " Rayyan langsung mengecup tengkuk leher Zahra dan bermain di sana.
"Jadi kau iri kepada kak Murad. " Zahra jadi tergelak mendengarkan aduan Rayyan kepadanya.
"Sekali-kali kau harus libur kerja, sayang dan temani aku di sini. "
"Baiklah bayi besarku."
Zahra langsung menarik rambut Rayyan dan memberikan ciuman panas kepada suaminya itu. Dan siang panas itupun menjadi semakin panas dengan kegiatan mereka berdua.
Keinginan Rayyan untuk membawa istrinya ke kantor, untuk makan siang bersama dan bermain panas-panasan tercapai sudah. Dia tidak perlu lagi iri kepada kakaknya itu, karena Zahra sudah berjanji kalau dia akan sesekali datang ke perusahaan untuk mengantar bekal makan siang dan makan siang bersama dan bonusnya, adalah bermain panas-panasan.
Rayyan dan Zahra keluar dari kantor dengan senyuman lebar, dan rambut mereka yang masih setengah basah. Sesekali Rayyan mengecup kening dan rambut Zahra dengan lembut.
Mereka tidak memperdulikan tatapan mata para karyawan yang penasaran dengan interaksi mereka berdua.
"Tuan Murad sudah menikah, Tuan Ezra juga sudah menikah. Kedua tuan tampan dan dingin itu sudah menikah. Sekarang harapan kita cuma tuan Rayyan. Tapi lihatlah sekarang. Dengan siapa tuan Rayyan itu. Aku jadi iri melihatnya. "
"Kau benar, aku ingin sekali bwrada di posisi wanita itu, di sayangi tuan muda Rayyan... "
"Aaahhh... pengeeennnn.... "
__ADS_1
Kira-kira seperti itulah reaksi karayawan wanita di perusahaan K itu. Saat. Melihat para pria tampan idaman mereka sudah menikah semua.