
Faza keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Murad yang baru saja menutup ponselnya. Matanya memicing melihat suaminya memegang ponselnya.
"Ada apa kak? apa ada yang menghubungiku? "
"Ah, iya... Baru saja Ezra menghubungimu. "
"Kak Ezra, ada apa? "
"Tidak apa, baru saja dia ada waktu senggang, jadi dia menghubungimu. Katanya dia hanya merindukan mu. Mungkin nanti malam dia akan menghubungimu lagi karena sekarang dia sedang rapat. " jelas Murad dengan sedikit berbohong.
"Oh, baiklah. "
"Kemarilah." Murad meminta Faza untuk duduk di sampingnya.
Faza hanya menurut dan duduk di samping suaminya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik? "
"Lumayan." Kata Faza sambil merebahkan kepalanya didada bidang suaminya.
Murad membalas pelukan Faza dengan membelai lembut rambut nya.
"Maafkan aku karena semalam, ya. "
"Tidak, kakak tdak salah, yang salah aku karena mengingknkannya semalam. " kata Faza dengan menyembunyikan wajahnya didada Murad.
"Wah, ternyata istri kecilku sudah mulai nakal ya? "
"Kakak.... "
"Tunggu aku sembuh ya? agar aku bisa memanjakanmu dengan caraku. "
Faza menganggukkan kepalanya. "Aku akan menunggu, dan tidak akan terburu-buru lagi. "
Murad lalu mengecup puncak kepala istrinya itu dengan lembut. "Sekarang istirahatlah. Agar nanti malam kita bisa makan malam bersama. "
Mereka berdua akhirnya terlelap dengan saling mendekap erat satu sama lain.
*
*
Sore Harinya Alima sudah datang di rumah Nisa. Dia di antar oleh sopir suruhan Kemal agar mengantar Alima ke rumah Nisa, Sedangkan Dia dan Ezra akan menyusul kesana nanti sepulang kerja.
"Nis, dimana Faza dan Murad. Kenapa tidak terlihat dari tadi. " tanya Alima kepada sahabatnya itu. Saat mereka sedang menyiapkan makanan di meja makan.
"Mereka masih dikamar, mungkin masih bersiap. Aku dan Murad tidak memberi tau Faza kalau kalian akan kemari, karena kami ingin memberi kejutan untuk Faza. " Nisa mulai bercerita dengan sahabat nya itu.
"Semalam, Faza mengatakan kepada Murad kalau dia sangat merindukan kalian. Karena itu, aku dan Murad memberikan kejutan ini untuk menantu kecilku. "
"Wah, ngomong-ngomong apa mereka sudah melakukannya ya? " tanya Alima dengan wajah penasaran nya.
"Entahlah. Kalaupun mereka sudah melakukannya, pasti juga akan ketahuan. " bisik Nisa di telinga Alima.
Kedua wanita itu terus saja bercerita hingga lupa waktu. Kemudian Zoya datang dan di susul ke empat pria dibelakangnya.
"Kalian bersih-bersih dulu, aku sudah siapkan semuanya. "Perintah Nisa kepada semua orang.
__ADS_1
Dan Anehnya semua orang langsung menuruti perintah Nisa.
Kemal dan Ezra masuk ke kamar yang biasa mereka tempati saat berkunjung ke mansion. kemudian Alima ikut menyusul suaminya.
" Bagaimana keadaan Faza sayang. " tanya Erhan kepada istrinya itu.
"Sudah lebih baik. Ternyata anak dan suamiku memiliki keganasan yang sama. " bisik Nisa di telinga suaminya saat mereka menuju kamar.
Kini masion besar itu kembali sepi, karena semua orang masuk ke kamar mereka masing-masing.
"Maksudmu apa sayang. ' tanya Ehan yang tidak mengerti arah pembicaraan istrinya.
" Kau tau Faza sakit apa? ' tanya Nisa.
Erhan tentu saja menggeleng. Yang dia tau Faza sedang sakit demam sesuai ucapan Murad tadi.
"Apa kau ingat kejadian duapuluh tujuh yang lalu, saat aku kau gempur aku habis-habisan? "
Erhan mengingat kembali kejadian yang sudah lama itu. Dan saat ingatannya kembali Erhan langsung membelalakkan matanya.
"Apakah seperi itu? Tapi bagaimana bisa kaki Murad kan? Atau jangan-jangan.... ' Erhan menanyakan semua pertanyaan yang hanya dia yang mengerti.
" Ya Tuhan, pasti sakit sekali Faza. "
"Tentu saja, jika tidak mana mungkin aku sampai memanggil dokter Flo. "
Di kamar Murad.
Faza yang sudah siap untuk makan malam segera membantu suaminya untuk duduk di kursi rodanya.
"Ayo kak... "Faza membantu memapah suaminya untuk duduk di kursi roda.
" Kemana mereka semua ya, kak. " tanya Faza kepada suaminya.
"Mungkin masih bersiap di kamar. Kita tunggu saja. " Faza lalu menyalakan televisi dan duduk di sofa. Sedangkan Murad dia tetap di kursi rodanya. Agar tidak merepotkan Faza memindahkannya
Tak berapa lama Ezra keluar dari kamarnya. Faza menoleh saat melihat kakaknya itu ada disini.
"Wahh... kapan kakak datang. " Faza bersorak senang melihat kakaknya ada di mansion padahal baru dua hari mereka tidak bertemu. Ingin sekali berlari memeluk kakaknya, tapi rasa sakit di pangkal pahanya dia tahan.
Ezra mendekati Faza, yang hanya duduk terdiam
karena biasanya, Faza akan berlari heboh mendekati nya lalu melompat memeluknya.
"Apakah kau sakit Faza. " Tanya Ezra saat dia duduk di samping adiknya itu.
"Enggak Aku nggak sakit kok, aku baik-baik saja. " ujar Faza menyembunyikan fakta.
"Ehm... " Murad berdehem agar perhatiaan Ezra teralihlan.
"Maafkan aku Murad. Aku lupa tidak menyapamu."
"Tidak apa. "
Tak lama Rayyan dan Zoya juga turun dari lantai atas, kemudian disusul mommy Nisa dan Daddy Erhan, ada juga Papa dan mama Faza..
Faza yang melihat semua orang berkumpul merasa bahagia.
__ADS_1
"Wah, ada apa ini. Semuan orang sedang berkumpul. " tanya Faza dengan Wajah polosnya.
"Kata suamimu kamu merindukan orangtuanu, jadi mommy dan Murad merencanakan ini semua. " kata mommy Nisa kepada Faza.
"'Benar itu, kak? " Faza tidak menyangka kakak memang sangat baik.
"Kamu pikir aku pria kejam yang tidak membiarkan istrinya bertemu orang tuanya. " Gerutu Erhan kepada istrinya yang menggemaskan itu.
"Maaf Pa, ma kalau aku nggak sopan sudah menyuruh kalian untuk datang kemari. Seharusnya kami yang datang ke rumah kalian. ' ujar Murad yang merasa tak enak hati.
" Tidak apa-aapa Murad Sayang. kami semua mengerti keadaanmu. " ujar Alima.
"Sudah ngobrolnya, ayo kita makan. Semua sudah siap, sebelum makanan itu menjadi dingin." ajak Nisa kepada semua orang.
Mereka segera menuju meja makan. Faza yang berjalan sangat pelan , mendapat tatapan curiga dari Alima.
" Nis, apakah mereka sudah melakukannya? " tanya alima penasaran.
"Entahlah, kau lihat sendiri kan seperti apa perjalanan cinta mereka. Aku pikir mereka pasti sudah melakukannya.? " jawaban Nisa menggantungkan
" Dengan cara? " tanya Alima lagi penasaran
"Ck, Kau ini kan banyak cara menuju Roma. " gerutu Nisa sambil berbisik di telinga Alima dengan sedikit kesal.
Mereka semua akhirnya berkumpul di satu meja dan mulai memakan makanannya.
Faza dengan penuh perhatian mengambil kan makanan untuk seuaminya, begitu juga mommy dan mama mereka, yang melayani suami mereka dulu sebelum dirinya sendiri.
"Apa mau aku suapi kak? " pertanyaan itu selalu meluncur dari mulut Faza sebelum mereka mulai makan. Dan itu tentu saja menerbitkan senyum di wajah mereka yang ada disana.
"Tak perlu, Aku bisa makan sendiri. Kamu makanlah yang banyak agar kau cepat pulih. " kata Murad sambil mengambil makanan yang disiapkan Faza untuknya
"Ayo semua kita segera makan. Jangan melihat drama pengantin baru, nanti kalian yang jomblo bisa kepingin. " ujar Nisa kepada kedua anaknya dan Ezra tentu saja.
Sontak ucapan Nisa itu membuat mereka bertiga tersedak.
"mommy, apaan sih! " Ujar Zoya dengan bibir yang sudah mengerucut.
Mereka lalu mengehentikan obrolan tak berfaedah itu dan mulai makan dengan tenang.
Selesai makan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Faza yang bersikap manja kepada sang mama dengan tidur dipangkuan mamanya. Membuktikan kalau Murad belum bisa sepenuhnya menyayangi Faza. Dan Dia akan bersikap lebih baik lagi kepada istri kecilnya itu.
Rayyan, Erhan , Kemal, dan Ezra membicarakan masalah perusahaan. Hingga Rayyan yang berani meminta sesuatu kepada sang daddy.
"Dad, bolehkah proyek dengan tuan Simon aku yang pegang. " Tanya Rayyan kepada daddynya.
"Untuk apa? apa karena kau menyukai anaknya? " ujar Erhan dengan sindiran kepada Anaknya itu.
"No dad, aku ingin memberikan pelajaran kepada gadis sombong itu. Agar dia tidak lagi sombong dan dia harus bertekuk lutut kepadaku. " kata Rayyan dengan percaya diri.
"Rayyan jangan menjual kekayaanmu dengan bersikap sombong." ujar Daddy Erhan memperingatkan kepada anaknya.
"Tidak dad, aku hanya ingin menaklukan gadis sombong dan angkuh itu. Karena kesombongan harus dibalas dengan kesombongan juga. Jadi aku mohon, serahkan proyek Simon itu padaku. Terserah aku mau mnyertujui atau tidak. "
"Tapi... " kata-kata Erham terpotong.
"Dad, biarkan Rayyan bertanggung jawab. Kita lihat saja dia bisa menyelesaikan masalahnya atau tidak. Mungkin saja dengan cara ini kalian bisa cepat mendapatkan menantu baru " ujar Murad dengan nada mengejek kepada Rayyan.
__ADS_1
Dan dibalas Rayyan dengan cengiran khasnya