Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Hanya Pria Asing


__ADS_3

Murad bangun dari tidurnya dan merasakan sakit yang luar biasa di kakinya. Entahlah kenapa bisa seperti itu. Dia langsung berteriak memanggil Rayyan atau Zoya yang satu lantai dengannya, tangannya juga bekerja menghubungi mommy atau daddynya melalui panggilan telpon. Hingga pintu ruangan Murad di buka dengan kasar.


"Ada apa kak? " tanya Rayyan yang langsung menerobos masuk ke dalam kamar kakaknya itu.


"Kakiku sakit sekali. "


Rayyan langsung keluar dan memanggil mommy atau daddy yang mendengar teriakannya.


"Mom, dad cepat panggil dokter Evan. "


Erhan yang baru keluar dari kamarnya pun langsung berlari menaiki anak tangga sambil menghubungi dokter Evan.


"Ada apa Ray? "


"Kakak kesakitan. " Rayyan merasa panik melihat keadaan kakaknya.


Panggilan baru terhubung, saat Erhan sampai di kamar Murad.


"Ada apa tuan? "


"Datanglah ke rumah. Anakku kesakitan. "


"Baiklah tuan, tolong kirim lokasi rumah anda. "


Evan segera bergegas ke masion Erhan. Zoya dan Nisa juga sudah berada di kamar Murad. Mereka tidak tega melihat kondisi Murad yang kesakitan.


"Kenapa dengan Murad, Mas? "


"Entahlah. "


Nisa lalu mendekat dan menyentuh kaki Murad.


"Mana yang sakit, sayang? katakan kepada mommy. "


Murad menunjuk kaki bagian betisnya. Lalu Nisa memegangnya dan menepuk-nepuk dengan pelan dengan memberi sedikit pijatan.


"Apa masih sakit? "


Murad mengangguk sambil memejamkan mata.


"Mas, apa sudah memanggil dokter Evan? "


"Sudah, mungkin dia dalam perjalanan kemari. "


"Zo mintakan kompresan air hangat kepada pelayan. "


Zoya segera keluar meminta apa yang di minta sang mommy. Tak lama dia kembali dengan membawa kompresan air hangat untuk kakaknya.


"Sembuhlah sayang, jangan sakit. Besok mommy dan daddy sudah berencana menikahkanmu dengan Faza. " ujar Nisa sambil terus memberikan pijatan lembut di kaki anaknya.


Murad hanya memejamkan matanya, menahan sakit dan mendengarkan semua ucapan mommynya.


"Zoya, Rayyan nanti kamu jemput grandma di bandara pukul sebelas. Grandma datang hari ini. Biarkan urusan kantor diselesaikan Daddy sama Kemal. " Nisa memberikan agenda hari ini kepada anaknya.


"Mom, bisakah aku tidak ikut menjemput grandma? " kata Zoya bernegosiasi.


"Kenapa? apa Kamu sudah buat janji? " tanya Rayyan.


"Iya, aku ada janji makan siang dengan klien. Kalau membatalkannya aku tidak tau, kapan bisa bertemu dengan dia lagi. "

__ADS_1


"Ya sudah, kamu temui klienmu saja. Biar aku yang menjemput grandma. "


"Beneran? "


Rayyan hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Mom sudah, ini sudah lebih baik. " kata Murad menghentikan pijatan mommynya.


Tak lama seorang pelayan mengantarkan dokter Evan kedalam kamar Murad.


"Selamat pagi. " sapa dokter Evan kepada semua orang.


Mendengar suara serak basah yang sangat dikenalnya, membuat dada Zoya berdebar kencang. Ia langsung menoleh kebelakangnya, dan dokter Evan langsung menyambutnya dengan senyuman. Makin meleleh hati Zoya, dan semburat merah muncul dipipinya yang putih.


"Dokter Evan masuklah, dan cepat periksa anakku." titah sang ibu negara.


Evan langsung masuk melewati Zoya yang masih salah tingkah. Dia langsung memeriksa keadaan Murad.


"Sepertinya tuan Murad mengalami kram di kakinya. Terasa beberapa otot kakinya menegang." kata dokter Evan sambil terus menyentuh dan memeriksa kaki Murad.


"Tindakan ini sudah benar, jika kram ini terjadi lagi. Maka lakukan pijatan pelan dan kompres di kaki yang mengalami kram." kata dokter Evan sambil memberikan contoh kepada semua orang yang ada di sana.


"Kenapa bisa kram dokter. " tanya Erhan.


"Karena kaki tuan Murad belum bisa beraktivitas dengan normal, jadi saat ia memaksa bergerak maka ada beberapa otot yang tertarik. Dan menyebabkan kram. " jelas dokter Evan.


"Kira-kira kapan aku bisa melakukan terapi dokter? Aku ingin segera bisa berjalan" Murad yang bertanya.


"Nanti kira-kira setelah satu bulan tuan. Kita akan terus melakukan pemeriksaan tiap minggu. Jika keadaan anda sudah memungkinkan maka kita akan menjadwalkan terapi. " jawab dokter Evan.


Setelah melakukan pemeriksaan kepada Murad secara menyeluruh, dan tidak ada masalah berarti dokter Evan pamit undur diri dengan diantar Zoya keluar.


"Sama-sama nona. "


Mereka saling melemparkan senyuman selama obrolan berlangsung.


"Apakah nanti kita jadi makan siang? "


Zoya mengangguk, "Tentu kita bertemu nanti saat makan siang. "


"Baiklah, aku akan menunggumu. Sampai jumpa nanti. " Dokter Evan lalu masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan kepada Zoya.


Zoya membalas lambaian tangan dokter Evan sampai mobilnya tidak terlihat lagi.


Zoya lalu berbalik akan masuk ke dalam tapi suara Rayyan mengagetkannya.


"Jadi itu klien penting yang ingin kamu temui nanti siang? " cibir Rayyan kepada saudara kembarnya.


Zoya langsung membekap mulut Rayyan agar tidak bicara lagi.


"Bisa diem nggak. "


"Cih.. "


"Ray, jangan bilang ini sama mommy dan daddy ya? " Zoya mulai merayu Rayyan dengan bergelayut manja ditangannya.


"Semua orang sibuk dengan pernikahan kak Murad besok, kamu malah sibuk pacaran. " cibir Rayyan lagi.


"Siapa yang pacaran, aku cuma bayar hutang sama dia. Karena dia udah nganter aku ke butik, saat kamu meninggalkanku di rumah sakit waktu itu. Inget nggak. ini juga salahmu,kalau kamu tidak meninggalkanku, maka aku tidak akan memiliki janji sama dia" ketus Zoya.

__ADS_1


Rayyan jadi gelagapan jika diingatkan akan hal itu, "Tapi aku kan sudah menyuruh Ezra menjemputmu Zo. "


"Iya tapi dia kalah cepat sama dokter Evan. Akhirnya, aku menerima tumpangan dokter Evan. "


Rayyan sudah tidak bisa membalas ucapan Zoya lagi, Karena memang dia yang salah. dan dia hanya bisa tdiam.


"Baiklah, hanya kali ini kamu keluar dengan dokter itu. Awas saja kalau berani macam-macam. "


"Emang kenapa? dokter Evan itu orangnya baik, sopan kerjaannya juga jelas. " bantah Zoya kepada saudara kembarnya.


"Tapi kita tidak tau asal usulnya Zo, latar belakangnya apa? Dia itu orang Jerman bukan orang Indonesia atau Turki seperti kita. " Rayyan memberikan pengertian kepada saudaranya itu.


Zoya jadi lemas mendengar ocehan Rayyan yang benar adanya. Dengan wajah di tekuk, dia segera naik kekamarnya dan bersiap ke butik setelah melihat keadaan Kakaknya yang sedang di bersihkan oleh mommy Nisa.


Kini mereka semua berkumpul di meja makan, hendak sarapan bersama dengan Murad yang sudah rapi setelah tubuhnya dibersihkan mommy.


"Nak, Nanti mommy dan tante Alima akan keluar ke beberapa tempat untuk menyiapkan acara pernikahan mu. Kau tidak apa-apakan sendiri di rumah. "


"Iya, aku tidak apa-apa mom, aku akan istirahat saja di kamar. "


"Assalamu'alaikum... "


Suara cempreng seorang gadis yang sangat ceria itu menyapa indra pendengaran semua orang.


"Pagi kakak Murad... "


"Cih, cuma kak Murad saja yang disapa. Padahal kami semua ada di sini lho. " Sindir Rayyan kepada calon kakak iparnya.


Dan hanya dibalas Faza dengan cengiran dan menyalami tangan semua orang.


"Datang dengan siapa, sayang? " tanya Nisa saat Faza menyalami tangannya.


"Sama Kak Ezra, dia sedang memarkirkan mobil. "


"Assalamu'alaikum." Suara bariton Ezra menyambung suara cempreng Faza. Lalu ia menyalami tangan Erhan dan Nisa lalu duduk disamping Rayyan.


"Pagi sekali kemari, ada apa? " tanya Zoya yang tidak tau apa-apa.


"Aku disuruh mama menemani kak Murad di rumah, karena semua orang sibuk hari ini. Kak Ezra mau mengambil beberapa dokumen penting yang harus diurus hari ini katanya. " Faza menjelaskan kedatangannya kepada semua orang.


Semua orang mengangguk mengerti, lalu dia duduk di sebelah Murad. Dan mengambil piring makan Murad.


"Aku suapin ya kak? "


"Nggak usah Faza, kakak bisa sendiri. " tolak Murad.


"Nggak, kakak harus nurut sama aku sekarang. Aaaa.... "


Dengan terpaksa Murad membuka mulutnya, dan sesendok nasi itu masuk ke dalam mulutnya.


Nisa dan Erhan tersenyum melihat tingkah Faza. Sedangkan Zoya dan Rayyan hanya mencebikkan bibirnya melihat tingkah Faza.


"Zo, sepertinya akan ada mommy dan daddy part dua di rumah ini. " cibir Rayyan


"Kau benar. Dasar lebay. "


"Iri bilang Boss. " ejek Faza kepada calon adik iparnya itu dengan menjulurkan lidahnya.


Murad hanya tersenyum melihat tingkah Faza dan kedua adiknya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2