Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Ungkapan Perasaan (Ezra)


__ADS_3

"Ezra... "


"Hmmm... "


"Kenapa aku tidak beruntung ya, dalam percintaan atau menjalin hubungan? "


"Maksudmu? "


"Kau tau kan dokter Evan? Aku baru dekat dengannya. Tapi aku baru saja mendapatkan Fakta yang sangat mengejutkan tentang dirinya. "


Zoya memulai sesi curhatnya dengan Ezra. Memang selama ini Ezra lah yang selalu menjadi tempat sampah untuk membuang semua kekesalan dan curahan hati Zoya. Dan Ezra menerima itu. Karena dengan begitu, dia bisa tau keadaan apa yang sedang terjadi pada pujaan hatinya itu.


"Memangnya fakta Apa yang baru kau ketahui tentang dokter Evan." tanya Ezra yang juga penasaran dengan Fakta yang baru diketahui Zoya


Zoya menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


"Ternyata kami memiliki perbedaan keyakinan, Ezra. Dan dalam keyakinan kita kan tidak boleh jika menikah dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita. "


Mendengar itu, Ezra merasa senang tapi apa katanya tadi? Menikah?


"Zo... apa sebelumnya kamu pernah berfikir untuk menikah dengan dokter Evan? "


Zoya mengangguk. Dan anggukan Zoya itu membuat dada Ezra nyeri. Kenapa Zoya bisa secepat itu memikirkan pernikahan bahkan dengan orang yang baru saja dikenalnya.


"Zo... "


"Hmmm... apa? "


Zoya masih bersandar di bahu Ezra dan sekarang tangannya sudah melingkar di lengan Ezra.


"Bagaimana perasaanmu padaku? "


"Maksudmu? " Zoya yang mendapatkan pertanyaan aneh dari Ezra langsung menegakkan badannya dan melepaskan tangannya yang melingkar disana.


"Selain seorang teman dan sahabat, apakah kau tidak punya perasaan lain terhadapku? " tanya Ezra kemudian.


Ezra sudah menutuskan untuk mengungkapkan isi hatinya kali ini, tak peduli Zoya mau menerimanya atau tidak. Tapi setidaknya dia akan merasa lebih lega, dan segala rasa sesak di dadanya bisa tercurahkan. Masalah pertemanannya dengan Zoya, Ezra akan memikirkannya nanti.


"Maksud kamu apa sih Ezra? aku nggak ngerti, jangan main-main. " Zoya jadi panik, dia tidak ingin Ezra mengatakan sesuatu yang tidak pernah terfikirkan olehnya sebelumnya.


"Pernahkah kau menganggapku atau memikirkanku sebagai seorang pria dewasa, bukan sebagai seorang sahabat? "

__ADS_1


"Ezra.... "


"Pernahkah kau merindukanku walau sejenak? Pernahkah kau merasakan getaran aneh didadamu saat kau mengingat tentang diriku? " Ezra terus menghujani Zoya dengan segala pertanyaan-pertanyaan aneh yang tidak pernah Zoya duga sebelumnya.


"Ezra stop. " Zoya langsung menghentikan semua pertanyaan bodoh dari Ezra.


"Zo... "


"Stop.. Ezra... Stop. Jangan bicara lagi. "


Ezra langsung terdiam dan memandang wajah Zoya yang tertunduk dengan dalam. Dia tau, saat ini Zoya pasti shock setelah mendapatkan pertanyaan bertubi-tubi darinya. Tapi dia tidak akan menyerah sampai disini. Dia sudah memulai semua nya dan akan mendapatkan jawabannya hari ini juga.


Ezra lalu menggamit tangan Zoya, dan meletakkannya di dadanya.


"Apakah kau merasakannya, Zo? Bahkan jika kau menempelkan telingamu di dadaku maka kau akan bisa mendengar suara detak jantungku ini, Zo... "


Zoya masih terdiam, dia masih memikirkan apa yang terjadi sebenarnya.


"Jantung ini, dia akan selalu berdetak dengan kencang bahkan lebih kencang setiap kali kau berada di sampingku, Zo. Dan rasanya akan terasa sakit saat kau menceritakan tentang pria lain kepadaku. Selama ini aku menahannya karena aku tidak ingin merusak hubungan persahabatan kita sejak kecil. Tapi saat kau memiliki pemikiran untuk menikah dengan pria lain, disini... " Ezra menunjuk dadanya dengan tangan satunya, karena tangan satunya masih memegang tangan Zoya yang merasakan detak jantungnya yang berdetak sangat kencang.


"Di sini... rasanya sakit sekali, Zo. Seperti ada ribuan pisau yang membelahnya. " kata Ezra yang tanpa terasa meneteskan air matanya, dan tetesan air mata itu jatuh di tangan Zoya.


Zoya langsung mendongak melihat pria es itu, apakah benar, gunung es itu sudah mencair, sehingga mengeluarkan embunnya dan jatuh di tangannya. Zoya memmandang lekat wajah Ezra yang menyiratkan rasa luka dihatinya.


"Sejak kapan? " tanya Zoya pada akhirnya, dan pertanyaan Zoya ituu membuat Ezra mendongak dan melihat Wajah Zoya yang sendu..


"Sejak kapan kau memiliki perasaaan lebih kepadaku?" Zoya melanjutkan pertanyaan nya.


"Sejak kita masih kecil dan tumbuh bersama. " jawab Ezra jujur dengan memandang Zoya.


Zoya langsung tertawa lantang mendengar ucapan Ezra yang konyol itu.


"Hahahaha.... apa aku tidak salah dengar? " kata Zoya yang masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Ezra yang melihat tawa Zoya tersebut hanya bisa terdiam. Memandangnya masih dengan tatapan cinta dan sakit secara bersamaan.


Melihat Ezra yang hanya Diam, Zoya langsung menghentikan tawanya.


"Jadi, apakah itu benar? " tanya Zoya dengan masih tak percaya.


Dan Ezra menjawabnya dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Kenapa pria itu bodoh. " kata Zoya pada akhirya.


"Maksudmu? " tanya Ezra tak mengerti.


"Apa kau ingat kakakku Murad yang mencintai adikmu sejak bayi. Dan sekarang aku mendengar kau sudah mencintaiku sejak kita masih kecil. apa itu masuk akal? " tanya Zoya dengan menggeleng kan kepalanya karena masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Seseorang akan menganggapnya tidak masuk akal jika memang tidak merasakannya, tapi yang aku rasakan ini nyata, dan bagiku ini bukanlah sebuah kebodohan tapi sebuah ketulusan. "


Deg... ucapan Ezra membuat dada Zoya berdenyut sakit.


"Selama ini, aku menyimpan dalam-dalam perasaanku padamu Zo, berharap suatu saat kau mengerti, dengan semua sikapku. Tapi sampai sekarang kau tidak pernah mengerti tentang perasaan ku ini. Dan malah memikirkan untuk menikah dengan pria lain. Kau tau seperti apa rasanya, Sakit Zo... sakit banget. " kata Ezra sambil memegang dadanya.


Zoya langsung terdiam dan mencerna semua yang terjadi hari ini. Ezra mengungkap kan perasaan cinta dan lukanya padanya hari ini.


Ezra lalu menggenggam tangan Zoya lalu menciumnya, dan perbuatan Ezra tadi membuat Zoya terkejut dan tertegun.


"Zo, setelah ini. Aku tidak akan berharap banyak kepadamu. Entah kau masih menganggapku seorang teman atau sahabat, atau bahkan kau menganggapku bukan siapa-siapa aku akan Terima. Hari ini aku hanya ingin mengungkapkan seluruh isi hatiku kepadamu selama ini, agar aku tidak merasa sesak terlalu lama dan bisa bernafas dengan lega . Aku hanya ingin kamu tau bagaimana perasaanku pada mu selama ini. Kedepannya jika kita berjodoh aku akan sangat bahagia, namun jika tidak mungkin aku akan memendam perasaan ini dalam-dalam untukmu. " Ucap Ezra seolah mengatakan ucapan perpisahan.


"Ezra... " lirih Zoya.


"Apa kau bisa membuktikan cinta mu padaku itu? "


Ezra menaikkan alisnya tak mengerti apa maksud Zoya.


"Kamu ingin aku membuktikan apa? Mati di tanganmu? atau menceburkan diriku dari atas tebing ini? " ujar Ezra yang menginginkan sebuah pembuktian cinta darinya.


Zoya menggeleng. Aku tidak tau.


Ezra lalu menatap Zoya dalam, dan tangan satunya mengarah ke tengkuk Zoya. Dan mengarahkan tengkuk leher Zoya mendekat & ke wajahnya, dan....


'Cup. '


Bibir mereka berdua menempel, membuat Zoya membelalakkan matanya. Sedangkan Ezra menutup matanya, dia mulai menyesap bibir manis dan cerewet itu bergantian menikmatinya dengan lembut, tanpa memperdulikan Zoya yang meronta ingin dilepaskan. Tapi tidak bisa karena kekuatan Ezra yang sangat besar. Hingga dia melepaskan tautan bibir itu, saat merasa kehabisan nafas.


"Kau... "


Zoya berubah kesal kepada Ezra, dan langsung berdiri dan hendak melangkah pergi meninggalkan Ezra. Namun tangannya langsung di cekal oleh Ezra dan menariknya hingga membuat tubuh Zoya menabrak dada bidang Ezra. Ezra langsung mendekap erat tubuh Zoya yang sudah berada dalam pelukannya, dia tidak ingin Zoya pergi


"Kumohon, jangan pernah membenciku, Zo... Aku sangat mencintaimu. Jangan pernah berpaling pada pria lain, karena itu membuatku sakit dan terluka. " Ezra lalu mempererat pelukannya dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Zoya.


Benar kata Ezra tadi, jika Zoya mendengarkan detak jantungnya saat ini, maka Zoya akan mendengarkan debaran jantung yang sangat kencang. Dan setelah mendengarkan ungkapan hati dari Ezra barusan, entah mengapa Zoya merasa tenang dan nyaman berada di dalam pelukannya. Dan pada akhirnya, Zoya membalas pelukan Ezra.

__ADS_1


Ezra dengan perasaan cintanya, sedangkan Zoya dengan perasaan tak menentu dan belum diputuskan. Kedua anak manusia dengan perasaan berbeda itu berpelukan di bawah langit senja kala sore itu.


__ADS_2