Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Periksa Kehamilan


__ADS_3

Hari berganti, waktu berlalu tak terasa persiapan pesta pernikahan ketiga pewaris keluarga Khan sudah di depan mata. Para mempelai sangat antusias dengan semua yang mereka lalui selama satu bulan terakhir. Semua keseruan dan perbedaan pendapat menghiasi suasana mansion keluarga Khan setial hari.


Untuk gaun pengantin, pada akhirnya Nisa dan Alimalah yang mendisain gaun pengantin ketiga tuan putri itu, dan langsung dikerjakan oleh para pekerja Zoya di butik. Karena mereka ingin merasakan seperti apa rasanya memakai gaun pengantin buatan sang mommy.


Dan akhirnya mereka bisa melihat kelihaian tangan sang mommy dalam mendesain gaun. Sedangkan daddy Erhan juga diminta mendesain setelan jas untuk para mempelai pria. Bagi yang belum tau tentang keahlian daddy Erhan mereka pasti akan tercengang setelah melihat hasilnya.


Hari ini, Sebelum berangkat ke hotel tempat resepsi di adakan, Nisa menyuruh Murad dan Ezra ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungam istri mereka. Agar besok saat acara semua baik-baik saja.


Perut Faza yang sudah terlihat sangat besar walau masih berusia lima bulan karena berisi tiga bayi disana. Sedangkan perut Zoya yang belum terlalu terlihat karena hanya berisi satu bayi dan usianya masih tiga bulan. Memang mommy Nisa merencanakan resepsi mereka setelah kandungan Zoya berusia tiga bulan, agar kandungnya kuat.


Sedangkan Zahra, dia masih santai dengan perut ratanya karena memang belum berisi apapun disana kecuali makanan. Tapi dia tidak berkecil hati karena orang tua Rayyan tidak mempermasalhkan itu, mungkin karena mereka akan disibukkan dengan empat bayi yang akan lahir. Jika dia juga hamil, maka akan semakin heboh keadaan mansion keluarga mereka.


Kini hubungan Zahra dengan mommy Nisa sudah semakin dekat, bahkan kini Zahra sudah berani bermanja dengan mommy Nisa. Nisa yang pada dasarnya seorang penyayangpun bisa menerima Zahra dengan baik. Karena dia tau, Zahra merindukan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah ia temui sejak lahir.


Murad dan Ezra kini sudah sampai di rumah sakit milik keluarganya bersama istri mereka. Mereka berjalan menuju ruangan dokter kandungan yang sudah di tunjuk untuk memeriksa para nyonya muda keluarga Khan. Sesampainya di ruangan dokter, mereka berempat selalu kompak masuk bersama untuk melihat anak dan keponakan mereka.


"Apa ada keluhan nona-nona? " tanya dokter saat mereka duduk berhadapan.


"Tidak ada dok, semua baik-baik saja tidak ada keluhan. Kami hanya ingin memeriksakan keadaan kandungan kami, dok. Karena besok lusa adalah pesta resepsi kami. Apakah kandungan kami baik-baik untuk acara resepsi besok?" Zoya yang bertanya, mewakili Faza juga.


"Oohhh, begitu... selamat ya, nona Zoya dan nona Faza. Kalau begitu mari kita periksa keadaan adik bayinya. "


Dokter mengarahkan Zoya terlebih dahulu untuk diperiksa. Dokter itu menggerakkan alatnya diperut Zoya sambil menjelaskan keadaan bayinya disana.


"Keadaan bayinya sangat sehat nona, bisa dilihat. Mungkin setelah memasuki bulan ke empat seperti ini anda akan merasakan tendangan atau pukulan dari bayi anda. " ujar dokter sambil tersenyum.


Ezra dan Zoya yang mendengar itupun merasa sangat bahagia, karena ternyata bayi mereka sangat kuat.


Setelah memeriksa Zoya kini giliran Faza yang diperiksa, Nona muda ini pun masih sangat gesit, walau kadang dia merasa lelah membawa tiga bayi dalam perutnya.


"Wah... ketiga bayinya sangat sehat nona, tuan. Mereka sangat aktif di dalam perut sang mommy. Apa anda ingin melihat jenis kelaminnya tuan? " tanya dokter kepada Murad.

__ADS_1


Murad tersenyum lebar saat mendengar hal itu, lalu melihat ke arah Faza untuk meminta persetujuannya.


"Bagaimana, sayang. Apa kau ingin melihat jenis kelamin anak kita?" Tanya Murad dengan lembut.


Semua pemeriksaan Faza ini tak luput dari kamera yang Ezra pegang, karena dia mendapatkan tugas untuk mendokumentasikan pemeriksaan Faza. Sedangkan Zoya, dia tidak mau walau sudah dipaksa sedemikian rupa oleh sang mommy. Akhirnya hanya pemeriksaan Faza saja yang didokumentasikan.


Faza mengangguk, karena dia juga ingin tahu jenis kelamin ketiga anaknya.


"Baiklah kalau nona Faza sudah setuju, kita akan melihat apa jenis kelamin triplet. "


Dokter lalu menggerak-gerakkan alatnya dan mencari letak ***** dan tutut mereka.


"Nah ketemu... ini, dia. Yang ini terlihat belalainya jadi dapat dipastikan jenis kelaminnya laki-laki, Kita cari yang kedua ya... Yang kedua tidak ada belalainya, jadi ini adalah perempuan. Dan sekarang kita cari yang ketiga, Yang ketiga ada belalainya tuan. Jadi dapat dipastikan dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Selamat ya... " Dokter akhirnya mengakhiri pemeriksaannya. Dan duduk kembali ke kursinya untuk sesi curhat.


"Dokter, usia kandungan istriku sudah mencapai tiga bulan, apakah aku sudah boleh menengok anakku? " tanya Ezra tanpa rasa canggung dan malu.


Semua orang yang ada disana tersenyum kecuali Zoya yang merasa malu, dan Murad yang ingin tertawa dengan keras.


Ezra menggeleng, "sesuai perintah dokter aku tidak menyentuhnya, karena takut dengan kondisi istri dan anakku dok. "


"Wah suami yang baik dan pengertian. Baiklah karena kandungan nona Zoya sudah baik-baik saja, anda boleh melakukannya. Tapi saya peringatkan, durasinya dikurangi dan jangan membuat nona Zoya terlalu lelah. "


"Maksudnya? " tanya Ezra yang belum faham maksud dokter.


"Ezra..." Zoya makin tertunduk malu Ezra bertanya sedetail itu kepada dokter.


"Tidam apa-apa nona, ini bisa menjadi edukasi untuk suami anda. Jadi tidak apa-apa jangan dilarang. "


Zoya akhirnya mengangguk mengerti, lebih baik bertanya pada ahlinya daripada bertanya lada mbah google yang jawabannya kadang menyesatkan.


"Jadi begini tuan Ezra, anda boleh menjenguk anak anda tapi durasinya di kurangj. Seperti misalnya, jika dulu sebelum hamil anda melakukannya setiap hari, kini bisa dikurangi satu minggu dua kali. Dan jangan sampai membuat istri kelelahan adalah, misalnya anda biasanya melakukan dalam waktu satu jam, kini anda bjsa mengurangi sampai lima belas menit atau paling lama tiga puluh menit."

__ADS_1


Kini Ezra mengerti dengan penjelasan dari dokter. Memang lebih baik bertanya daripada sesat di jalan.


"Baiklah dokter, sekarang saya mengerti. "


"Dan saya ingin berpesan kepada para calon ibu ini, agar tidak berdiri telalu lama saat resepsi dan menyalami tamu. "


"Tapi dok, kami kan harus menyambut para tamu." Zoya ingin protes namun tangannya langsung di cekal Ezra.


"Dengarkan ucapan dokter dulu sayang... " ucap Ezra kemudian.


"Maksud saya adalah siapkan saja sebuah kursi untuk nona-nona ini. Kursi yang agak tinggi sehingga posisi mereka seperti berdiri. Karena kasihan jika mereka telalu lama berdiri, terutama nona Faza dengan perut besarnya itu akan membuat kaki membengkak. " jelas dokter.


Murad dan Ezra mengangguk mengerti dan sangat berterima kasih kepada dokter karena sudah mengingatkan yang terbaik untuk mereka.


"Terima kasih dokter, karena sudah mengingatkan kami. "


"Sama-sama tuan, itu sudah kewajiban saya. "


Zoya kemudian mengeluarkan beberapa undangan dari tasnya dan memberikannya kepada Dokter dan asisten dokter.


"Dokter harus datang dipesta pernikahan kami. " kata Zoya setelah memberikan kartu undangan itu.


"Wah, kami dapat undangan rupanya. Baiklah nona, kami akan datang. Terima Kasih atas undangannya. "


Mereka akhirnya berpamitan kepada dokter. Dan segera keluar dari rumah sakit menuju hotel tempat perhelatan akbar mereka bertiga.


"Syukurlah keadaan anak kita semuanya baik-baik saja, Faza." Kata Zoya saat berada di mobil .


"Iya Kak, syukurlah . Karena pesta ini , akan menjadi kenangan terindah seumur hidup kita nanti . Dan aku tidak ingin merusaknya. " jawab Faza dari kursi belakang .


"Kau benar Faza , kita akan menjadi ratu sehari di pesta pernikahan kita ." Ucap Zoya dengan antusias .

__ADS_1


Murad dan Ezra hanya mendengarkan celotehan istri-istri mereka dengan hati tak kalah bahagia. Apalagi Murad saat tau kalau dia akan menjadi seorang ayah dari dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan.


__ADS_2