Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Wanita Hebat


__ADS_3

"Ezra... apakah kontraksi itu menular? ' tanya Zoya kepada suaminya.


"Maksudmu? "


"Kenapa tiba-tiba perutku terasa mulas seperti ini?" kata Zoya.


"Apa kau tidak ingin buang air? " tanya Ezra yang masih santai bermain dengan anaknya Rafa.


Zoya menggeleng. "Tidak.. perutku sakit, seperti saat mau melahirkan Rafa. "


Mendengar itu mata Ezra membulat. Dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Mama nya.


"Ada apa Ezra? "


"Mama, ada dimana? " tanya Ezra.


"Mama masih bermain bersama Faza dibawah. Kenapa? "


"Bisakah mama ke kamarku? Zoya sakit perut katanya. "


"Apa? baiklah mama akan kesana. "


Panggilan di tutup, Alima jadi panik setelah mendapat telpon dari Ezra.


"Ada apa ma? " tanya Faza yang melihat kepanikan di wajah mamanya.


"Zoya tiba-tiba sakit perut. "


Mendengar itu Faza, Murad dan Kemal membulatkan matanya.


"Apa kontraksi itu menular? " tanya Kemal.


"Entahlah... Sayang, sebaiknya kau siapkan mobil. Takut kalau Zoya benar-benar mengalami kontraksi." pinta Alima kepada suaminya sebelum dia naik ke kamar anaknya.


Disaat seperti ini, Murad dan Faza tidak bisa berbuat apa-apa. Karena anak mereka masih balita. Apalagi jika Zoya akan melahirkan, maka secara otomatis mereka akan memegang tanggung jawab Rafa.


Selang beberapa menit benar saja Alima turun dengan menggendong Rafa, dan Ezra yang menuntun Zoya dengan hati-hati.


"Bagaimana? " tanya Murad saat mereka sampai di ruang tengah.


"Kami akan membawa Zoya ke rumah sakit. memeriksakan keadaannya. Sekalian membawa persiapan, takut kalau Zoya benar-benar mengalami kontraksi. " ujar Alima.


Murad dan Faza mengangguk.


"Iya itu lebih baik. Biar kami yang menjaga Rafa. " Kata Faza yang mengambil Rafa dari gendongan mamanya.


"Aku titip Rafa ya, Faza. Kalau ada apa-apa telpon kakak. " ucap Ezra kepada adiknya.


"Iya kak. "


Ezra lalu, membawa istrinya ke dalam mobil, disana sudah ada papanya disamping mobil.

__ADS_1


"Sayang mama titip Rafa ya. " ucap ALima kepada anak perempuannya itu.


"Iya ma, jangan khawatir. Lagi pula aku dibantu baby sitter mereka. Mama kalau ada apa-apa kabari kami ya. " kata Faza yang menenang kan mamanya.


"Iya tentu saja. Mama pergi dulu. " pamitnya kepada Murad dan Faza.


Alima juga membawa tas yang berisi beberpaa pakaian ganti Zoya dan Ezra juga anaknya. takutnya Zoya benar-benar akan melahirkan dan mereka harus menginap seperti dulu.


Di rumah sakit.


Bayi Zahra sudah berhasil di keluarkan, semua dalam keadaan sehat. Begitu juga dengan keadaan Zahra yang stabil sejak proses operasi berlangsung. Semua orang bernafas lega karena apa yang mereka takutkan selama ini tidak terjadi.


Mungkin karena mereka segera mengambil tindakan dan tidak menunda-nunda kelahiran sehingga semua berjalan lancar.


Rayyan menciumi seluruh wajah Zahra yang mulai mengeluarkan air mata karena merasa terharu dan bahagia bisa melalui semua ini dengan lancar tanpa kkendala apapun. Kedua bayi mereka segera dibersihkan oleh perawat dan dibawa keluar ruangan operasi untuk dimasukkan ke dalam inkubator.


Erhan, Nisa dan Simon berdiri saat melihat pintu ruangan dibuka, dan seorang perawat keluar dengan membawa box yang berisi bayi-bayi Zahra.


"Mau dibawa kemana sus?" tanya Nisa


"Kami akan membawanya ke ruangan VVIP nyonya. Sesuai permintaan tuan Rayyan. Karena disana sudah tersedia inkubator. " jawab perawat itu.


Erhan menganggukkan kepala kepada istrinya, Nisa lalu mengikuti suster yang membawa Cucu-cucunya Ke ruangan perawatan nanti. Sedangkan Erhan dan Simon menunggu Zahra keluar dari ruangan operasi.


Tak lama terdengar suara brankar pasien didorong keluar. Dan Terlihat Rayyan yang sedang berjalan disamping brangkar istrinya. Bersama dokter yang membantu operasi Zahra.


"Bagiamana? " Tanya Erhan tak sabaran.


Ucapan Alhamdulillah keluar dari mulut kedua kakek itu. Lalu mereka ikut berjalan mengikuti brangkar Zahra yang didorong menuju ruangan VVIP.


Sesampainya di sana, Zahra langsung dipindahkan ke sebuah tempat tidur yang nyaman dan Empuk khusus penghuni kamar VVIP itu.


Dokter memberikan penjelasan kepada Rayyan dan para orangtua disana bagaimana memeperlakukan ibu yang baru melahirkan agar tidak mengalami baby blues. Dan bagiamana merawat bayi baru lahir.


Semua Rayyan dengarkan secara seksama, karena sekarang dia yang akan menjaga anak dan istrinya.


Telpon di saku Nisa berbunyi disana tercantum nama Alima. Nisa langsung mengangkat panggilan itu, karena dia pikir Alima akan menanyakan tentang keadaan Zahra.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, ada apa Alima? "


"Aku ingin tahu keadaan Zahra dan bayinya bagaimana? "


"Alhamdulillah, keadaan Zahra sudah stabil. Kami sudah berada di ruangan VVIP bersama anaknya yang dimasukkan ke dalam inkubator di dalam ruangan. "


"Syukurlah. Kalau keadaan Zahra dan bayinya tidak apa-apa. Aku ingin memberi tahumu sesuatu. "


"Apa itu? " tanya Nisa penasaran.


"Zoya juga mengalami kontraksi, saat ini kami sudah berada di ruangan bersalin. Menurut dokter masih pembukaan tiga. "

__ADS_1


"Apa? "


Teriakan Nisa menggema di setiap sudut ruangan, tapi dia segera menutup mulutnya. Dan meminta maaf kepada semua orang atas apa yang baru saja dia lakukan.


Setelah panggilan di tutup, dia segera menghampiri suaminya dan Simon yang sedang melihat cucu mereka yang berada di dalam inkubator. Di sana jug ada Rayyan, sedangkan Zahra sedang berbaring dalam masa pemulihan.


"Mas, ada yang ingin aku katakan kepada kalian semua. " ujar Nisa kepada semua orang yang berada di sana.


"Ada apa? " tanya Erhan.


"Baru saja Alima menelponku dan menyampaikan kabar kepadaku kalau sekarang Zoya juga mengalami kontraksi. Dan sekarang sudah berada di ruangan bersalin masih pembukaan tiga. " Nisa menyampaikan kabar yang disampaikan Alima barusan


"Apa? "


Nisa mengangguk.


"Ray apa tidak apa-apa jika mommy melihat keadaan saudarimu Zoya? "


"Tentu mom. Aku ada daddy Simon dan para perawat. Lagipula keadaan Zahra sudah stabil, dan sekarang Zoya pasti membutuhkan mommy. "


Nisa langsung memeluk anak laki-laki nya iyu dan mengecup keningnya. "Selamat ya, sayang. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah. "


Nisa lalu mendekati Zahra. yang masih membuka matanya.


"Sayang, mommy melihat keadaan Zoya dulu ya. Dia sedang kontraksi. Setelah dia melahirkan kita akan berkumpul bersama disini. Kau tidk apa-apa kan mommy tinggal?"


"Iya mom. Aku sudah baik-baik saja, ada Rayyan dan daddy yang menjagaku. Mommy lihat dulu keadaan kak Zoya. " ujar Zahra dengan tersenyum lemah.


"Terima kasih sayang. Mimmy pergi dulu. "


Nis mengecup kening Zahranpenuh kasih sayang, setelah itu dia meninggalkannya diruangan itu bersama Rayyan dan Simon.


"Rayyan, daddy pergi dulu melihat Zoya. Jaga istrimu baik-baik. Jika ada apa-apa segera hubungi daddy. "


"Iya dad. "


Keadaan ruangan menjadi sepi karena tinggal Zahra yang terbaring di tempat tidur Rayyan yang selalu berada di sisi istrinya, dan Simon yang masih enggan beranjak melihat kedua cucunya yang menggemaskan.


"Daddy, jika lelah, bisa beristirahat disana. " ujar Rayyan kepada mertuanya sambil menujukkan tempat tidur yang berada di sudut ruangan khusus untuk orang yang menjaga pasien.


"Tidak perlu, nak. Daddy masih ingin melihat cucu-cucu daddy. Mereka sangat lucu. Wajah mereka benar-benar perpaduan antara wajahmu dan Zahra. " kata Simon dengan mata berbinar.


Zahra dan Rayyan saling berpandangan dan tersenyum. Mereka merasa bahagia saat melihat orang tuanya bahagia.


"Tidurlah sayang... kau butuh istirahat. " ujar Rayyan kepada istrinya


Zahra menggeleng, "aku tidak bisa tidur karena aku merasa sangat bahagia. Kau tahu, selama tujuh bulan aku hamil anak kita, aku selalu di landa kekhawatiran takut tidak bisa melahirkan dengan lancar dan aku tidak bisa melihat anak-anak kita. " Air mata Zahra tiba-tiba jatuh menetes tak tertahankan.


"Ssttt.... jangan bicara seperti itu. Kau adalah wanita kuat, kau wanita hebat. Kau adalah wanita kebanggaanku dan anak-anak. " Rayyan menghapus air mata Zahra dengan ibu jarinya lalu memberikan ciuman hangat dikeningnya.


"Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. semua sudah baik-baik saja mom Zahra. "

__ADS_1


Simon yang melihat kehangatan cinta mereka tidak bisa menahan rasa harunya. Ternyata pilihannya menikahkan Zahra dengan paksa waktu itu bukanlah pilihan yang buruk.


__ADS_2