Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Rencana (2)


__ADS_3

"Aku ingin mengajak Zoya ke hotel. "


Mendengar kata hotel Ezra langsung menarik kerah baju dokter Evan.


"Apa maksudmu, hah. " Ezra langsung naik pitam saat mendengar kata hotel dari mulut dokter Evan.


"Ezra, lepaskan. Tenangkan dirimu. " Murad melerai Ezra yang sedang emosi kepada dokter Evan.


"Sebaiknya kita dengarkan dulu apa rencana dokter Evan, jangan terbawa emosi. "


"Mana mungkin aku tidak emosi, kalau dia akan membawa istriku ke hotel. " kata Ezra dengan emosi.


"Ezra... " sentak Murad pada akhirnya, karena dia tahu tidak ada yang bisa menghentikan Ezra saat dia emosi selain Murad, orang yang sangat dia hormati selama ini.


Mendengar bentakan dari Murad, Ezra langsung terdiam dan tidak bicara lagi. Dia juga melepaskan cengkramannya dari Evan dengan kasar.


"Kita dengarkan dia dulu oke. "


Ezra akhirnya mengangguk dengan pasrah.


"Katakan, "


Dengan takut Evan akan mengatakan rencananya kepada Murad tanpa melihat ke arah Ezra.


"Saya akan mengajak Zoya ke hotel, tapi itu tidak sendiri, tapi tetap bersama anda tuan Ezra dan tuan Murad." ujar Evan dengan ragu.


Mendengar itu membuat Ezra mengangkat kepalanya seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Evan .


"Lalu apa yang akan kau lakukan , setelah berhasil membawa Zoya ke hotel . "


"Aku akan mengajaknya makan malam , dan memberikannya obat tidur pada minumannya . Seolah-olah Zoya benar-benar terkena jebakan dariku . Setelah itu , Tuan Ezra anda bisa menggantikanku untuk membawa Nona Zoya ke kamar hotel yang telah aku reservasi. Anda harus memakai pakaian ,yang sama dengan pakaian yang aku pakai . Model rambut semuanya harus sama denganku karena ini untuk meyakinkan Monica bahwa aku sudah berhasil mengelabui Zoya . Atau anda mengijinkan saya membawa Zoya ke kamar hotel, dan anda menunggu kami di dalam kamar. Itu terserah anda tuan. Saya hanya mematuhi nya saja. "


Mendengarkan rencana dokter Evan , Ezra jadi yakin Kalau dokter Evan benar-benar tidak memiliki rencana buruk kepada Zoya . Karena dokter Evan juga melibatkannya dalam rencana ini . Dia hanya ingin meyakinkan Monica kalau dia benar-benar berhasil , menaklukkan Zoya dan keluarga besar Erhan .


"Kalau menurutku . Bagaimana kalau Ezra menyamar sebagai petugas hotel, nanti dokter Evan meminta tolong kepadanya , saat Zoya terkena pengaruh obat tidur . Itu akan lebih efektif dan tidak mencurigakan , dan setelah Zoya aman di kamar kalian berdua saling bertukar pakaian . Dokter Evan yang menggunakan seragam petugas hotel , dan di kamar Ezra akan menemanii Zoya . Bagaimana menurut pendapat kalian. " Murad menyampaikan idenya setelah mendengarkan rencana dokter Evan .

__ADS_1


Ezra dan dokter Evan langsung mengangguk setuju , saat mendengarkan pendapat dari Murad .


"Iya aku rasa itu lebih baik . Aku bisa mengawasi kalian, saat kalian berada di hotel. " kata Ezra yang sangat setuju dengan pendapat dari Murad .


"Baiklah kalau begitu , Kapan rencana ini akan kau jalankan ,dokter Evan ?" Tanya Murad kemudian .


"Secepatnya Tuan Murad, agar saya segera terlepas dari Monica . Dan bisa berkumpul dengan keluarga saya , karena saya sangat merindukan anak dan istri saya . " ujar dokter Evan dengan mata yang sudah berkaca-kaca . Karena selama ini dia menahan rindunya kepada anak dan istrinya .


Mendengar ucapan dokter Evan ada rasa iba yang menggelitik di hati Ezra. Bagaimanapun juga dokter Evan sudah memiliki keluarga, dan keluarganya saat ini sedang berada dalam bahaya, dan secara tidak langsung mereka menjadi sandera dari Shofie dan Monica.


"Baiklah kalau begitu, kita harus membicarakan ini dengan Zoya dan daddy. Kita harus mendengarkan pendapat dari mereka karena ini menyangkut putri satu-satunya keluarga kami. " Putus Murad pada akhirnya.


Ezra dan Evan mengangguk setuju.


"Kalau begitu, sekarang kita kembali bekerja. Ezra kau boleh kembali ke tempatmu. Sedangkan kau dokter Evan kau mau kemana terserah, seorang bodyguard mengikutimu dan akan menjaga keamananmu. Kalau ingin kembali ke mansion dia akan mengantarkanmu, pulang sekalian menjemput istriku. Tapi jika kamu ingin ke suatu tempat kau boleh pergi. " ujar Murad dan kembali ke meja kerjanya.


Ezra dan Evan pun keluar dari ruangan Murad. Dia lalu mengerjakan beberapa berkas yang ada di meja kerjanya dengan serius.


°


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat , hingga hampir menuju waktu makan siang . Faza yang sudah bersiap pun segera berangkat ke perusahaan suaminya dengan menenteng tiga buah paper bag yang berisi makan siang untuk ketiga pria yang dia sayangi .


"Maaf Kakak , Bisa antarkan aku ke ruangan Kak Murad? " Faza mau minta tolong dengan ramah .


Tapi apa yang ia dapatkan , dia malah mendapatkan cibiran dari resepsionis yang sedang berjaga .


"Memangnya kamu siapa adik kecil , Kenapa ingin bertemu dengan CEO kami . Setahuku adik CEO Kami adalah Nona Zoya . Sedangkan kamu siapa , berani-beraninya memanggil CEO kami dengan sebutan kakak ." kata salah seorang resepsionis yang berjaga dengan ketus.


"Aku.... "


"Sudahlah adik kecil , sebaiknya kamu pulang saja dan tidur siang di rumah ." kata resepsionis yang lain .


Mendengar hal itu , Faza langsung mengerucutkan bibirnya karena secara tidak langsung dia sudah diusir dari perusahaan suaminya sendiri . Ia lalu duduk di sebuah sofa tunggu di lobby perusahaan. Faza langsung mengeluarkan ponselnya , dan segera menghubungi suaminya .


"Halo Sayang, ada apa ?"

__ADS_1


"Kakak, aku ada di lobby perusahaan , resepsionismu melarangku untuk masuk dan menemuimu . " Faza langsung mengadu kepada suaminya tentang perlakuan pegawai resepsionis kepada dirinya .


"Baiklah kalau begitu , aku akan turun menjemputmu sebentar lagi, sayang . Tunggu di situ ."


"Cepatlah , Aku ingin semua orang tahu . Kalau aku ini istrimu bukan adik kecil seperti yang mereka katakan kepadaku dan aku juga sugar baby mu ."


"Faza...apa yang kau katakan ."


Faza terkekeh geli , mendengarkan Murad yang kesal mendengarkan ucapannya. Panggilan terputus , dan Faza menunggu suaminya sambil memainkan ponselnya.


Tak lama Murad dan Ezra sudah berada di lobby perusahaan , dia melihat dari jauh Faza yang sedang memainkan ponselnya .


Faza yang tak sengaja mendongakkan kepalanya karena ingin melihat suaminya sudah datang apa belum, langsung berbinar saat melihat suaminya dan kakaknya datang menjemputnya.


Dia langsung berdiri dan berlari berhambur memeluk suaminya.


"Kakak... "


"Istriku sudah sampai ternyata." ucap Murad dengan tekekeh.


"Aku sangat merindukanmu kak. " rengek Faza.


"Padahal kita belum sehari berpisah lho."


" iya tapi aku, sudah sangat merindukanmu. " sifat manja istrinya keluar disaat seperti ini.


Melihat adegan itu, membuat dua resepsionis tadi menelan salivanya dengan kasar. Tidak menyangka kalau gadis kecil itu memiliki hubungan serius dengan CEO mereka.


Ezra langsung mendekati kedua resepsionis yang sudah pucat pasi.


"Kalian berdua Ingatlah baik-baik wajah wanita itu , dia adalah istri tuan muda Murad . Dan dia adalah adikku , adikku satu-satunya . Awas saja jika kalian berani menolaknya lagi . Tanpa surat peringatan aku akan langsung memecat kalian berdua ."


Mendengar hal itu , membuat ke dua resepsionis itu melongo tak percaya . Gadis kecil itu ternyata istri dari CEO mereka . Memang sulit untuk dipercaya tapi itulah faktanya , jika asisten Ezra sudah bicara . Dan apa Katanya tadi dia adalah adik dari asisten Ezra? Ternyata dunia ini sempit, CEO mereka jatuh cinta kepada adik dari asistennya sendiri .


"Ba... baik... tuan. Maafkan kami, kami akan mengingatnya dengan baik. "

__ADS_1


Murad dan Faza sudah berlalu menuju ruangannya , tak lupa Faza menjulurkan lidahnya kepada dua resepsionis yang sudah menolaknya tadi . Sedangkan Ezra , terpaksa harus membawa tiga buah paper bag yang lupa di bawa oleh Faza .


"Anak itu benar-benar , sudah menjadi seorang istri tapi tingkahnya masih seperti anak kecil ." gerutu Ezra


__ADS_2