
Rayyan dan Zahra serta Ezra dan Zoya sudah bersiap pergi ke rumah sakit bersama. Terlihat wajah Zahra yang pucat begitu juga dengan Zoya. Tapi Zoya masih bisa menahannya mungkin karena ini kehamilan keduanya jadi Zoya lebih berpengalaman. Sedangkan Zahra, karena ini pengalaman pertamanya jadi membuatnya harus beradaptasi dengan keadaan.
"Apakah kalian akan naik mobil sendiri-sendiri atau naik mobil bersama? " tanya Nisa saat mereka sedang sarapan bersama.
Nisa memaksa Zahra dan Zoya untuk makan terlebih dulu, walau itu hanya sepotong roti. Agar mereka bertenaga.
"Kita naik mobil sendiri-sendiri saja ya , Zra. Bawa sopir sendiri juga. Aku tidak tega melihat Zahra. " kata Rayyan.
"Iya, terserah kau saja. " jawab Ezra singkat.
"Untungnya hari ini akhir pekan.Jadi kita semua libur kerja. " gumam Murad yang sedang menggendong baby Al.
"Iya kau benar, kalau tidak. Kau pasti kerepotan lagi kerja sendiri. " kata Erhan yang mendengar gumaman anaknya.
"Sepertinya aku akan membutuhkan bantuan daddy dan papa lagi deh. Kalau mereka sedang menghadapi ngidam istrinya. " ucap Murad lagi.
"Tentu saja kami akan membantu, Murad. "
Mereka lalu tertawa bersama. Tak bisa membayangkan bagaimana repotnya Murad jika kedua partner kerjanya itu sedang sibuk dengan drama ibu hamil.
Setelah sarapan kedua pasangan itu berangkat dengan membawa mobil masing-masing. Karena mereka memiliki sebuah rencana berbeda setelah memeriksakan kandungan istri mereka.
Setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka berdua sampai di rumah sakit keluarga. Mereka berempat masuk bersamaan. Seperti saat Faza hamil dulu.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona dan tuan Khan?" sapa seorang dokter yang mungkin sudah berkepala empat itu.
"Dokter saya ingin memeriksakan keadaan istri saya, mungkin dokter Farah sudah menjelaskannya kepada anda. Tapi sekarang saya ingin memastikan sendiri bagaimana keadaan istri saya, apakah dia benar hamil. Karena kami sudah menunggu dua tahun untuk saat-saat sepeti ini. " Kata Rayyan dengan menggebu-gebu.
Dokter itupun tersenyum. Karena dia tahu sendiri bagaiman perjuangan pasangam suami istri ini untuk bisa hamil. Hingga sepertinya baru sekarang mereka mendengar kabar gembira itu.
"Baiklah, mari nona. Saya periksa dulu. "
Zahra dibantu Rayyan dan asisten dokter berbaring di brangkar pasien. Setelah itu dokter mulai memeriksa keadaan Zahra, dengan menempelkan alat diperutnya setelah diolesi gel.
"Mari kita lihat. " ucap dokter sambil melihat ke arah monitor dengan serius.
Dahinya berkerut saat melihat sesuatu yang luar biasa. Lalu dia menyunggingkan senyum penuh Arti.
__ADS_1
"Bagaimana dokter, apakah istri saya benar-benar hamil? " tanya Rayyan dengan tidak sabaran.
"Iya, tuan. Nona Zahra memang benar hamil. Lihatlah ada dua kantong disini, itu Artinya bayi kalian ada dua. Selamat ya, penantian kalian tidak sia-sia akhirnya nona Zahra diberi kepercayaan dua anak sekaligus." Kata dokter dengan tersenyum bahagia.
"Benarkah dok? Anda tidak berbohong kan? " tanya Rayyan tidak percaya.
"Perhatikan ini. "
Dokter menunjukkan layar monitornya lalu menjelaskan gambar yang ada disana agar Rayyan dan Zahra bisa mengerti.
Setetes air mata jatuh di pipi Zahra. Dia merasa bahagia mendengar semua penjelasan dokter. Penantiannya tidak sia-sia. Kini ada dua bayi yang bersemayam di dalam perutnya.
"Ray... " panggil Zahra dengan suara bergetar.
"Iya... Selamat, sayang. Akhirnya, keinginan kita terkabul. " kata Rayyan yang kemudian memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah istrinya itu.
"Ray..." tangis Zahra akhirnya pecah diruangan itu.
Dokter dan perawat yang sudah membersihkan perut Zahra pergi meninggalkan mereka berdua dan memberikan waktu kepada pasangan itu untuk menumpahkan rasa bahagianya. Lalu memeriksa keadaan Zoya dan menanyakan keluhan yang Zoya rasakan.
Setelah mereka berdua menumpahkan tangis bahagianya, akhirnya Zahra dibantu Rayyan turun dari tempat pemeriksaan. Dan menghampiri dokter yang sedang melakukan konsultasi dengan Zoya.
"Tidak apa-apa, tuan. Silahkan duduk dulu, saya akan memeriksa keadaan nona Zoya. "
Ezra yang melewati Rayyan menepuk bahunya pelan. "Selamat, bro. Akhirnya. "
"Terima kasih. "
Rayyan dan Zahra duduk dengan tenang sambil menunggu pemeriksaan Zoya. Mereka saling bergandengan tangan dan saling melemparkan senyuman kebahagiaan.
Di sisi lain Zoya merasakan dingin saat alat dokter menyentuh kulit perutnya.
Dokter tersenyum penuh arti saat melihat layar monitor.
"Sepertinya anak anda akan menjadi teman baik anak tuan Rayyan, tuan Ezra. " kata dokter setelah menemukan kesamaan antara kandungan Zoya dan Zahra.
"Maksudnya? " tanya Zoya dan Ezra bersamaan.
__ADS_1
"Lihatlah kondisi kandungan nona Zoya sama dengan nona Zahra. Itu artinya bayi kalian akan sama-sama kembar. " kqta Dokter dengan tersenyum lebar.
"Be... benarkah dokter? " tanya Ezra tergagap.
"Iya tuan... selamat, ya... "
Sama seperti apa yang dilakukan Rayyan kepada istrinya, Ezra juga melakukan hal yang sama. Dia menciumi istrinya bertubi-tubi, tanpa peduli ada yang memperhatikan mereka berdua.
"Selamat, sayang. Keinginan mu memiliki anak kembar akhirnya terkabul. " kata Ezra dengan segala rasa bahagianya.
Zoya hanya mengangguk di dalam pelukan suaminya, dan menahan tangis bahagianya.
Mereka berempat akhirnya duduk berhadapan dengan dokter untuk mendengarkan nasehat dari dokter.
"Nona Zahra dan nona Zoya, dalam masa kehamilan tri mester pertama ini, anda harus menjaga baik-baik kondisi tubuh anda. Jangan terlalu lelah, dan jangan mengangkat yang berat-berat. Batasi semua aktifitas yang melelahkan. Konsumsi makanan yang bergizi untuk pertumbuhan dan perkembangan otak bayi kalian sejak di dalam kandungan. "
"Untuk para suami, tuan Ezra dan tuan Rayyan. Anda berdua harus menjadi suami siaga. Jaga kondisi hati istri Anda, apalagi hormon ibu hamil bisa membuat mood berubah-ubah. Kalian harus sabar menghadapinya. Bagi tuan Ezra mungkin ini adalah pengalaman kedua jadi tidak akan begitu terkejut menghadapi hal ini. Namun bagi tuan Rayyan, saya harap Anda bisa bersabar menghadapai perubahan hormon ibu hamil. Penuhi semua kebutuhan atau apapun yang diinginkan ibu hamil, karena mungkin mereka sedang mengalami masa ngidam. "
Dokter terus memberikan nasehat seputar kehamilan kepada ibu hamil dan suaminya sampai mereka benar-benar faham.
"Satu lagi, ini tentang hubungan suami istri yang mungkin akan kalian tanya untuk para suami. " kata dokter setelah menjelaskan semua seputar kehamilan kini memberikan penjelasan tentang hubungan suami istri.
"Jika anda bertanya apakah boleh berhubungan suami istri saat istri sedang hamil? jawabnya boleh. Asalkan waktunya dikurangi agar tidak. membuat sang ibu kelelahan. Misalnya jika satu minggu kalian bisa melakukannya setiap hari, maka selama hamil, kalian bisa melakukannya seminggu dua kali saja. Dan jeda waktunya harus singkat. Yang biasanya bisa sampai satu atau dua jam, kalian bisa mempersingkat nya menjadi lima belas menit sampai tiga puluh menit. Ini untuk menjaga kondisi sang ibu agar tidak kelelahan. Dan mengurangi guncangan di perut yang bisa berbahaya untuk kandungan. "
Dokter langsung menjelaskan nya, sebelum para suami itu bertanya. Mungkin Ezra sudah paham, tapi Rayyan masih nol pengalaman seputar kehamilan Jadi, dia memakluminya.
"Pesan saya untuk nona Zahra sebaiknya anda bad rest selama tri mester pertama. Karena ini adalah kehamilan pertama setelah dua tahun pernikahan dan langsung diberikan dua anak sekaligus. Dan melihat kondisi anda sangat lemah saat ini, tekanan darah yang sangat rendah jadi saya menyarankan hal ini. Untuk menjaga kondisi janin agar tetap stabil. Boleh beraktivitas tapi di atas tempat tidur saja atau sekitar kamar. Setelah tri mester pertama berakhir, kita akan memeriksa perkembangan janin anda lagi."
"Baik dokter, apapun akan saya lakukan demi anak ini. " kata Zahra dengan mata yang sudah berkaca-kaca setelah mendengarkan nasehat dokter.
"Terima kasih dokter atas semua nasehatnya. " kata Rayyan setelah dokter menyelesaikan sesi konsultasinya.
Mereka berempat segera keluar dari ruangan dokter, dan segera kembali.
"Setelah ini kau mau kemana? " tanya Ezra kepada Rayyan. Karena tadi Rayyan mengatakan akan ke suatu tempat.
Rayyan menghembuskan nafasnya. "Sepertinya akan langsung pulang. Karena mendengar kata dokter yang meminta Zahra untuk badrest. "
__ADS_1
"Ya, sebaiknya begitu. Aku juga akan langsung pulang. Biar Zoya istirahat saja, lagi pula kasihan Rafa kalau ditinggal terlalu lama. "
Sudah diputuskan mereka akan langsung pulang tanpa pergi kemanapun. Demi menjaga para ibu hamil.