
Saat semua orang sedang bercengkrama di ruang keluarga, Zoya beringsut keluar dari sana karena mendapat panggilan telpon dari seseorang. Semua gerak gerik Zoya tak luput dari pandangan Ezra. Ezra memang mendengarkan semua yang sedang di bahas para lelaki di sana. Tapi, matanya sesekali memandang ke arah Zoya.
Jika semua orang tidak menyadari kepergian Zoya, maka orang yang menyadarinya pertama kali adalah Ezra. Matanya terus memandang kepergian Zoya ke arah taman belakang. Ezra lalu meminta ijin untuk ke toilet sebentar, setelah Zoya tak terlihat lagi.
Sayup-sayup terdengar Zoya sedang berbicara dengan seseorang, sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu besok. Terbukti saat Zoya mengatakan, "Aku akan menunggumu besok. "
Makin panas saja hati Ezra, dengan siapa Zoya akan membuat janji? Apalagi saat Zoya tertawa lepas saat berbicara dengan seseorang itu. Apakah dokter Evan? Karena selama ini yang dia tau Zoya sedang dekat dengan dokter Evan. Ezra memikirkan banyak hal , dan hatinya terasa tidak tenang. Haruskan rasa ini dia simpan dalam-dalam.
Ezra menghembuskan nafasnya untuk menetralkan hatinya. Lalu ia melangkah keluar ke taman belakang, bukan untuk menemui Zoya atau menyusulnya.Tapi sepertinya dia butuh udara segar untuk menyejukkan hatinya yang panas.
Ezra memandang hamparan langit luas di atas sana yang bertebaran bintang malam dan bulan sebagai penerang nya. Sudah Ezra putuskan Dia akan tetap seperti ini, menahan rasanya. Karena dia tidak ingin hubungannya dengan Zoya menjadi renggang hanya karena perasaannya. Biaralah Zoya tetap bermanja kepada nya walau hanya sebatas teman saja, setidaknya dia bisa melihatnya setiap hari tetap tersenyum. Ezra menutup matanya dan merasakan hembusan angin menerpa wajahnya, semoga setelah ini dia akan tetap baik-baik saja.
Zoya yang sudah menutup panggilan telponnya dengan dokter Evan langsung berbalik, dan matanya memicing saat melihat sosok tinggi tegap sedang memunggunginya tak jauh dari dia berada saat ini. Tubuh orang itu sangat Zoya kenal, dia adalah orang yang selalu melindunginya sejak kecil selain kakak dan saudaranya. Bahkan dialah yang menghajar habis-habisan orang yang sudah mengganggunya. Bagi Zoya, Ezra pria dingin itu, adalah malaikat pelindungnya.
"Hai, Ezra. kamu sedang apa disini? " Sapa Zoya saat sudah berada di samping Ezra. Ezra perlahan membuka matanya saat mendengar wanita yang ia cintai menyapanya.
"Aku hanya ingin menghirup udara segar. " ujar Ezra sambil merentangkan tangannya.
"Wah, ternyata kau juga bisa menghirup udara segar juga. Karena kupikir selama ini kau hanya menghirup udara pengap saja. " kata Zoya sambil terkekeh.
Melihat senyum Zoya sungguh membuat jantung Ezra tidak baik-baik saja. Dia bergemuruh tak karuan.
"Ezra... "
"Hmmm... "
"Apa aku boleh tanya pendapatmu?"
"Tentang? "
"Dokter Evan. "
Mendengar sebuah nama yang di sebut oleh Zoya membuat jantungnya berdetak kencang, dan membuat satu tangannya terkepal kuat.
"Kenapa kau menanyakan Evan padaku? " tanya Ezra dengan sikap dibuat biasa saja.
"Rayyan tidak menyukai Evan kalau kak Murad aku tidak tau. Aku hanya ingin meminta pendapat dari orang lain. "
Deg...
__ADS_1
Jadi selama ini Zoya menganggapnya orang lain?
"Jangan tersinggung, kita kan teman Ezra, kau juga kakak ipar kak Murad sekarang. Maksud ku aku ingin meminta pendapat dari orang yang bukan keluarga kandungku. " ujar Zoya meralat ucapannya karena takut Murad tersinggung.
Ezra tersenyum kepada Zoya. Sebuah senyuman yang jarang sekali Ezra tunjukkan kepada orang lain. Dan senyum itu, seolah menghipnotis Zoya selama beberapa detik.
"Maaf Zoya, aku sama sekali tidak tau tentang Evan. Karena kami hanya beberapa kali bertemu, itupun hanya dirumah sakit saat Murad di rawat. Setelahnya aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. " ujar Ezra apa adanya, karena dia memang tidak tau menahu tentang Evan.
"Manis sekali.. " ucap Zoya tanpa sadar.
"Apa? " tanya Ezra tak mengerti.
Zoya langsung salah tingkah karena ucapannya yang tanpa sadar.
"Ah, tidak apa-apa. " kata Zoya gelagapan.
"Kau benar, aku lupa kalau kau tidak pernah bertemu dengan dokter Evan setelah kakak pulang dari rumah sakit. Maafkan aku karena bertanya hal tidak penting kepadamu. "
Ezra tersenyum hangat kepada Zoya. "Tidak apa-apa." kata Ezra sambil mengacak jilbab yang menutupi rambut Zoya. "Apa kau ingin aku menyelidiki Evan?" kata Ezra kemudian.
Zoya mengangguk, tapi kemudian dia menggeleng.
"Ti... tidak usah Ezra. Tidak usah repot-repot. " ucap Zoya gelagapan karena sekali lagi dia bisa melihat senyuman dari pria dingin dan kaku itu.
"Kau masuk lah dulu, nanti aku menyusul. "
Zoya melangkahkan kakinya meninggalkan Ezra, tapi baru beberapa langkah, dia menghentikan langkahnya. Lalu berbalik.
"Ezra... " panggilnya.
"Ya... " jawab Ezra spontan.
"Kalau bisa, tersenyumlah... aku suka melihat senyummu seperti tadi, kau terlihat manis dan semakin tampan. " ucap Zoya lalu ia berlari masuk ke dalam setelah mengatakan hal itu.
Sedangkan Ezra yang mendapatkan pujian dari wanita yang sangat di dicintainya itu hanya melongo tak percaya selama sepersekian detik. Tapi kemudian rasa tidak percayanya itu berubah menjadi senyuman yang sangat manis. Senyuman yang di sukai Zoya.
"Kau dari mana Zo... " tanya Rayyan yang berpapasan dengan saudaranya.
"Aku dari taman belakang, memang kenapa? ' tanya Zoya balik.
__ADS_1
"Apa kau melihat Ezra? tadi dia pamit ke toilet, tapi kenapa lama sekali tidak kembali. Jadi aku mencarinya."
"Cih, kau mencarinya pasti karena kau membutuhkan bantuannya kan, " sindir Zoya kepada saudara kembarnya.
"Tau aja? Dimana dia? "
Dia sedang di taman belakang, katanya sedang menghirup udara segar. Jawab Zoya dengan santai.
"Udah ya, aku mau ke kamar dulu. " Kata Zoya langsung berlari menemui semua orang, untuk berpamitan masuk ke dalam kamar lebih dulu.
Sedangkan Rayyan pergi ke taman belakang mencari Ezra.
Dilihatnya sosok sahabatnya itu tengan menatap langit malam yang kelam.
"Sedang apa kau disini? " tanya Rayyan saat berada di samping Ezra.
"Hanya menghirup udara segar. "
"Oohh... "
Rayyan masih menamani sahabatnya itu di sana menikmati suasana malam yang semakin larut.
"Ray... "
"Hmmm... "
"Apa kau pernah jatuh cinta? "
"Entahlah.... Aku tidak pernah berminat menjalin hubungan dengan wanita. Mungkin saja karena aku belum menemukan seseorang yang bisa menggetarkan hatiku. Memang kenapa? "
Ezra menutup matanya lalu menghirup udara dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
"Ternyata jatuh cinta itu sakit ya, Ray? "
"Maksudmu?" tanya Rayyan yang langsung menghadap kearah Ezra.
"Saat kita mencintai seseorang, tapi kita tidak bisa mengatakan nya. Dan ternyata dia menyukai orang lain. Kita hanya bisa mencintainya dalam diam, menahan sakitnya dan rasa sesak didalam dada. "
Rayyan mengernyit mendengarkan setiap ucapan Ezra, ucapan penuh luka dari orang sedingin Ezra.
__ADS_1
Jadi, apakah benar Ezra mencintai saudara kembarnya. Sangat sulit dipercaya, karena mereka bertiga besar bersama walau jarak usia mereka selisih satu tahu. Tapi kenapa bisa pria kaku dan dingin seperti Ezra mencintai saudaranya yang cerewet dan berisik itu.
"Jika kau mencintai seseorang, maka kejarlah. Dan katakan perasaanmu padanya. Namun Jika dia tetap sulit untuk kau jangkau, maka berhentilah. Hatimu juga butuh istirahat dari segala perasaan yang menyesakkan dadamu. "