Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Sebuah Janji


__ADS_3

Dengan mengucapkan bismillah Faza langsung mengenakan jilbab, yang diberikan Zoya kepadanya. Wajah Faza terlihat semakin cantik dan bersinar setelah mengenakan hijab.


"MasyaAllah, Faza. Kamu terlihat sangat cantik. " pekik Zoya yang terkagum-kagum melihat kecantikan Faza.


"Benarkah? " tanya Faza tak percaya.


Zoya menganggukkan kepalanya. "Kamu cantik sekali Faza. Kenapa tidak dari dulu kamu memakai hijab? "


"Aku belum siap kak. Tapi mulai hari ini, aku akan berhijab seperti kak Zoya, mama dan mommy. "


"Benarkah? " tanya Zoya tak percaya.


Faza mengangguk. "Mulai hari ini, detik ini juga aku akan memakai hijabku dengan benar, seperti kalian. Tolong bantu aku agar bisa konsisten dengan pilihanku kak. " pinta Faza kepada Zoya


"Bagus Faza..Tentu saja aku akan mendukungnu. Bahkan Kak Murad mungkin akan senang melihatmu seperti ini. "


"Maksud kakak? "


"Kak Murad menyukai wanita berhijab seperti mommy. Mommy adalah cinta pertama kak Murad, Jadi kemungkinan kak Murad akan mencari seseorang yang berhijab untuk menjadi istrinya. "


"Lalu kenapa kemarin kak Murad bisa tunangan dengan Diandra, yang seorang model dan biasa mengumbar auratnya? " tanya Faza bingung dengan fakta yang ada di depannya.


"Entahlah, mungkin kak Murad waktu itu tersesat, dan sekarang dia bisa kembali ke jalan yang benar. "


Faza mengangguk mengerti, tapi apapun alasannya kini Faza tau, kriteria wanita idaman kak Muradnya. Dan pria idamannya itu sudah berjanji akan menikahinya jika Faza berhijab.


"Terimakasih kak, Zoya. " Faza memeluk Zoya, lalu melepaskan pelukannya. Kemudian dia berjalan meninggalkan Zoya dikamar sendirian.


"Kamu mau kemana Faza. " teriak Zoya.


"Aku mau menemui calon imamku. " pekik Faza, yang terus berjalan menuju kamar Murad yang tak jauh dari kamar Zoya.


Mendengar itu, Zoya hanya menggelengkan kepalanya. Sungguh gadis kecil itu, benar-benar di luar ekspektasi semua orang.


Faza mengetuk kamar Murad beberapa kali. Hingga terdengar jawaban dari dalam yang menyuruhnya masuk.


Faza membuka pintu kamar Murad dengan hati-hati, di lihatnya Murad tengah membelakangi nya. Dia sedang memperhatikan keluar kamar dimana ada kolam renang pribadi di sana. Dulu kamar yang di tempati Murad adalah kamar utama milik Erhan dan Nisa. Namun setelah Murad beranjak dewasa kamar itu, diberikan kepada anak sulungnya Murad. Yang akan meneruskan tahtanya di keluarga Khan.


Faza berjalan mendekati Murad, lalu berdiri di belakang Murad yang sedang duduk di kursi roda dan memandang keluar.


"Kakak... Aku siap. " ucap Faza dengan yakin.

__ADS_1


Murad langsung berbalik melihat kearah Faza. Dia langsung tertegun melihat sosok Faza yang berbeda dari biasanya.


"Kau... "


"Iya, aku Faza. calon istrimu. "


Murad terbelalak mendengar ucapan Faza.


"Kenapa kak? bukankah tadi kakak bilang kalau aku sudah memakai hijabku dengan benar, maka kakak akan menikahiku. " kata Faza yang sedikit kecewa melihat respon Murad.


"Tapi, Faza... "


"Kenapa? kakak mau mengingkari janji kakak. Atau kakak hanya ingin mempermainkan perasaanku? " ucap Faza dengan nada kecewa.


"Bukan begitu Faza.... "


"Lalu apa? Apa kakak benar-benar sedang mempermainkan perasaanku. " Faza minta jawaban yang pasti dari Murad.


Murad menghembuskan nafasnya dengan kasar. Begini resikonya kalau Bermain-main perasaan dengan anak kecil.


"Apa kau sudah yakin dengan semuanya? "


Faza mengangguk.


Faza terdiam.


"Faza, bukan aku tidak mau menikahimu. Tapi aku memberikanmu waktu untuk meyakinkan dirimu sendiri untuk memantapkan hijabmu. Kamu memakai hijab itu, harus semata-mata karena Allah, bukan karena aku yang hanya manusia biasa. " Murad mencoba memberikan pengertian kepada gadis kecilnya ini, agar ia lebih faham lagi, tentang hakikat berhijab.


"Kak, bukan kah, saat kita menikah. Disitulah peran suami untuk membimbing istrinya. Jika istri salah suami mengingatkan. Jika istri berjalan tanpa tujuan, maka suami akan menunjukkan jalan yang benar. Itulah hakikat suami istri, kak. Saat ini mungkin aku berhijab semata-mata karenamu, Tapi bisakah aku berharap kepadamu, agar kamu bisa membimbingku, agar selalu istiqomah dalam menjaga keyakinanku. "


"Deg... " jantung Murad seolah tertusuk belati tajam mendengar ucapan Faza, yang semuanya benar.


"Gadis ini. kelihatannya saja kecil, umurnya kecil tapi pemikirannya sangat dewasa. " batin Murad.


"Faza... " Murad mencoba menggenggam tangan Faza, tapi langsung di tepis oleh Faza.


"Jangan pegang-pegang. Kita bukan Mahram. " ketus Faza pada akhirnya, karena dia sangat kesal kepada Murad saat ini.


Mendengar itu Murad langsung melototkan matanya, tidak percaya dengan apa yang Faza katakan padanya.


"Apa.... kata kakak ingin aku berhijab. Wanita kalau sudah berhijab, tidak boleh dipegang sembarangan oleh pria yang bukan mahramnya, sebelum dihalalkan. " Lagi, Faza berbicara dengan nada ketus kepada Murad.

__ADS_1


Ucapan Faza mampu membungkam Murad saat ini. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua yang dikatakan Faza benar. Semuanya benar. Murad jadi gemas sendiri dengan tingkah Faza yang sekarang.


"Baiklah, aku akan menghalalkan mu, asalkan kamu bisa meyakinkan kedua orangtuaku dan kedua orang tuamu. Agar memberi restu kepada kita. Bagaimana? " tantang Murad pada akhirnya.


Faza mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Murad barusan.


"Apa kakak janji kali ini. "


"Iya, Faza sayang. Kakak janji. "


Mendengar kata sayang yang Murad ucapkan, membuat semburat merah di pipi Faza.


"Kenapa, Tidak kakak sendiri yang menyakinkan kedua orang tua kita? " kata Faza dengan malu-malu.


"Bukan kakak tidak mau bersikap gentleman,Faza. Tapi Karena keadaan kakak yang tidak memungkinkan. Aku tidak punya kepercayaan diri yang tinggi untuk melamar mu dan memintamu kepada kedua orang tuamu. Saat keadaanku seperti ini "


Faza melihat Murad dari atas sampai bawah. Benar yang Murad katakan. Saat ini yang menginginkan Murad adalah dirinya. Jadi dialah yang akan berjuang mendapatkan restu semua orang dan akan membuktikan cintanya.


"Baiklah. Ayo, kita temui semua orang. " Tanpa aba-aba, Faza langsung mendorong kursi roda Murad kebawah.


Semua orang yang masih berkumpul dan berbincang di ruang keluarga, merasa terkejut mendengar pintu lift terbuka, lalu keluarlah Faza yang mendorong Murad. Kali ini wajah Murad tak sedingin beberapa waktu lalu, saat dia datang dari rumah sakit. Mereka juga terkejut melihat perubahan penampilan Faza dengan Jilbab tertutup sempurna menutupi kepala, tidak seperti biasa yang menjadikan jilbabnya hanya sebagai hiasan saja dan bahkan hanya dijadikan sebuah syal yang menutupi lehernya.


Faza duduk disebelah mama dan mommy nya, menempatkan Murad disisinya. Semua orang terdiam menunggu apa yang ingin Faza katakan.


"Mom, dad... Apa kalian menyukai dan menyayangiku? " tanya Faza pada akhirnya.


"Tentu saja sayang kami semua menyayangimu, mommy dan daddy menyanyangi mu Seperti anak kami sendiri. " jawab Nisa yang mewakili Erhan.


" Kalau mama dan papa, apa kalian menyayangi ku? " kini Faza bertanya kepada kedua orang tuanya.


"Tentu saja, kami sangat menyayangi mu, nak. Kamu adalah anak kandung kami.Buah cinta kami, Kenapa kamu menanyakan hal itu, Faza? " tanya Alima penasaran. Karena tidak biasanya, Faza bersikap seperti ini.


"Jadi, kalau aku menginginkan sesuatu, apakah mama dan papa juga mommy dan daddy akan mengabulkan permintaan ku? " tanya Faza lagi dengan antusias.


"Memangnya kamu mau apa Faza, jangan berbelit-belit seperti ini. Katakan yang sebenarnya kamu mau apa. " Kini Kemal yang bicara dengan ketegasan yang ia miliki. karena sepertinya sejak tadi Faza terlalu berbelit-belit dan tidak langsung pada intinya.


"Mmmmm......Aku mau.... "


"Aku ingin menikahi Faza, Om. "


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2