Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
#Zahray Tes Kesuburan


__ADS_3

Zahra kini sedang berada di balkon kamarnya memandangi hamparan langit gelap dengan hiasan bintang yang berajajar di sana. Berkali-kali dia menghembuskan nafasnya mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk bicara dengan Rayyan. Pasalnya, Rayyan tidak begitu menyukai jika Zahra membahas hal ini.


Saat Zahra sedang terbawa suasana, tiba-tiba ada sepasang tangan yang melingkar di perutnya, dan menempelkan dagunya di atas bahunya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Rayyan.


"Kenapa? Apa yang terjadi? Aku lihat sejak tadi kau hanya terdiam dan murung. "


"Ray, boleh aku meminta sesuatu?


"Apa? katakanlah. "


"Aku juga ingin memiliki seorang anak seperti kak Zoya dan Faza. " Zahra akhirnya mengatakan apa yang membuatnya murung sejak tadi.


Rayyan langsung melepaskan pelukannya dari pinggang Zahra, dan memutar tubuh Zahra agar menghadap ke arahnya.


"Kita sudah membicarakan nya, Zahra. " Kata Rayyan sambil menyelipkan rambut Zahra di belakang telinga.


"Tapi tetap saja, rasa iri muncul saat aku melihat kak Zoya yang sudah memiliki seorang Bayi, dan Faza dengan ketiga anaknya. Sedangkan kita, masih belum. " Zahra menundukkan kepalanya saat mengatakan hal itu.


"Kita, punya baby Al yang sudab menganggap mu seperti ibunya sendiri. Bahkan tadi dia cemburu saat kau menggendong Rafa. "


Zahra sedikit tersenyum mengingat hal itu. "Tetap saja Ray, aku merasa ada yang kurang pada diriku."


Rayyan lalu memeluk istrinya yang sedang galau itu padahal dia juga tidak memaksa untuk memiliki anak dengan cepat. Tapi tetap saja yang namanya hati perempuan tak sekuat karang di lautan. Hatinya tetaplah rapuh, saat di hadapannya di perlihatkan pemandangan bayi-bayi kecil yang lucu.


"Jadi sekarang apa maumu? "


"Ayo kita jalani tes kesuburan. Agar kita tau diantara kita siapa yang bermasalah. "


"Jika salah satu diantara kita bermasalah apa kau mau menerimanya dengan ikhlas?" tanya Rayyan.


"Aku ikhlas. Ayo kita lakukan agar aku tidak penasaran. " pinta Zahra kali ini dengan nada penuh permohonan.


"Baiklah, besok kita akan melakukan nya, tapi tidak dirumah sakit keluarga, tapi di rumah sakit lain. "

__ADS_1


"Dimanapun, asalkan kita melakukannya. "


"Baiklah. Tapi sekarang aku ingin kau melayani ku dulu. " ucap Rayyan sambil mengerlingkan sebelah matanya menggoda Zahra.


"Tentu."


Zahra tersenyum bahagia saat mengatakannya. Dia akan melayani suaminya malam ini, karena dia ingin menunjukan rasa terima kasihnya karena sudah mau menuruti keinginannya.


°


°


°


Pagi ini Rayyan meminta ijin kepada kakaknya akan datang ke perusahaan terlambat atau tidak datang sama sekali dengan alasan akan mengantarkan Zahra ke suatu tempat.


Murad mengijinkannya. Dia akan bekerja sendiri hari ini, karena Ezra sendiri masih menjaga Zoya dan anaknya di rumah sakit. Untung saja hari ini tidak ada rapat atau pertemuan lain. Jadi dia bisa sedikit santai di kantor walau tidak ada Rayyan dan Ezra.


Sepasang suami istri itu langsung menemui dokter kandungan, untuk berkonsultasi sebelum dia meminta untuk melakukan tes kesuburan kepada mereka berdua.


Zahra yang akan melakuan tes itu terlebih dulu. Rayyan selalu menggenggam tangan Zahra untuk menyalurkan kekuatan kepada istrinya itu. Tangannya sudah dipenuhi keringat dingin yang juga membasahi tangan Rayyan.


"Aku gugup sekali, Ray. "


Rayyan mencoba menepuk-nepuk punggung Zahra dan membelainya dengan lembut.


"Sabarlah, semua ini pasti akan berlalu. " Kata Rayyan memberikan kekuatan kepada istrinya.


Hari pertama Zahra melakukan tes ovulasi. Tes yang dilakukan dengan pengambilan darah. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah Zahra berovulasi dan menghasilkan sel telur atau tidak.


Sedangkan Rayyan melakukan tes pemeriksaan fisik. dan dilanjutkan dengan tes kesuburan pria. Tes yang mencakup analisis sperm, USG, pemeriksaan hormon, biopsi testis, pemeriksaan urin untuk mendeteksi Chlamydia dan terakhir adalah tes genetik.


Ternyata proses pemeriksaan itu tidak bisa selesai dalam satu hari. Hampir sekitar dua sampai tiga minggu mereka melakukan hal itu. Dan membuat Rayyan jarang datang atau telat datang ke perusahaan. Dan itu membuat Murad curiga.

__ADS_1


Sehingga membuat Murad memutuskan untuk mencari tahu apa yang dilakukan Rayyan dan istrinya. Namun setelah dia tahu apa yang dilakukan adik dan iparnya. Murad langsung bungkam. Dia tidak menanyakan lagi kemana Rayyan jika terlambat datang. Bahkan dia merahasiakan apa yang dilakukan mereka berdua. Untung saja Ezra sudah aktif lagi datang ke perusahaan untuk membantu pekerjaannya.


Proses yang panjang untuk kedua anak manusia itu yang harus mereka lewati. Walau pun Rayyan sebenarnya enggan melakukan semua prosedur panjang ini. Tapi demi Zahra, dia rela melakukan semua ini. Walaupun terkadang membuatnya meringis tiap kali akan melakukannya.


Hal serupa juga di alami Zahra. Bukan hal mudah bagi Zahra untuk melakukan semua tes ini. Tapi demi keinginannya memiliki buah hati dan dukungan dari Rayyan yang selalu setia menemaninya. Sehingga membuat Zahra bisa melakukan semua tes ini dengan baik.


Semua tes sudah di lakukan, mulai dari tes ovulasi, pemeriksaan sel telur, pemeriksaan hormon, bahkan tes hysteroscopi. Tapi semua itu belum memberikan jawaban kenapa Zahra sulit hamil.


Dan akhirnya, setelah melakukan semua tes itu dokter masih belum mendapatkan jawaban. Dokter mendesah kasar, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada sepasang suami istri di hadapannya ini.


"Setelah melakukan serangkaian tes kesuburan ini saya ucapkan selamat kepada kalian berdua tuan nona. Karena, memang tidak ditemukan masalah apapun pada diri tuan dan nona. Semua normal. Jadi kita patut berbahagia dalam hal ini. Mungkin saja Tuhan masih menunda belum memberikan kalian momongan karena masih ingin memberikan kalian kesempatan untuk lebih dekat dan pacaran dulu. " kata dokter yang sedang membacakan hasil laporan mereka berdua.


"Jadi diantara kami memanga tidak ada masalah dokter? " tanya Rayyan antusias.


"Tidak tuan. Kalian berdua benar-benar dalam keadaan sehat. Bersabarlah hanya Tinggal menunggu waktu saja tuan, nona. Dan ingatlah untuk selalu berdoa dan berusaha. "


Zahra dan Rayyan keluar dari ruangan dokter dengan bernapas lega. Mereka saling berpegangan erat, saling menguatkan. Dalam hati mereka bersyukur karena tidak ada masalah dengan kesuburan mereka. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah kenapa mereka belum juga dikaruniai seorang anak.


"Mungkin benar kata dokter. Tuhan ingin kita pacaran dulu Zahra, untuk saling menautkan hati kita agar menjadi satu. " Kata Rayyan saat mereka sudah berada diparkiran.


Rayyan langsung memeluk Zahra istrinya dengan erat dan memberikan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepalanya.


"Kita nikmati kebersamaan kita dulu. Kita akan merawat triplet dan baby Rafa bersama sebagai latihan bagaimana mengurus bayi kita pkelak. Okey..."


Zahra mengangguk sambil meneteskan air matanya.


"Jika aku boleh menyarankan, sebaiknya kau berhenti bekerja Zahra, tidak sepenuhnya. Serahkan restomu kepada orang kepercayaan mu. Kita bisa mengeceknya tiap satu minggu sekali. Mungkin saja kau kelelahan sehingga menghambatmu cepat hamil. Bagaimana? Satu tahun.. "


Zahra melepaskan pelukan Rayyan. "Maksudnya? "


"Berhentilah kerja selama satu tahun, dan istirahat total. Membantu merawat triplet dan Rafa juga seperlunya saja jangan terlalu lelah. Kita akan berusaha dengan jalan ini. Bagaimana, Apa kau setuju? "


Zahra langsung menganggukkan kepalanya, karena dia tidak ingin membantah Rayyan kali ini. Dia akan lebih patuh kepada suaminya. Mungkin saja dengan mematuhi perintah suaminya, Zahra bisa mendapatkan Ridho dari Tuhan. Dan Tuhan akan meridhoinya untuk segera hamil nanti.

__ADS_1


__ADS_2