
"Zo... "
"Hmmm... "
Zoya menoleh saat mendapat panggilan dari Ezra, Ezra yang sedang membungkuk mengambil sesuatu dibahu Zoya, dan tanpa menyadari kalau Zoya berbalik ke arahnya, hingga membuat bibir mereka saling bersentuhan satu sama lain selama sepersekian detik. Mata mereka sama melebar, lalu mereka segera melepaskan diri.
"Zo... maafkan aku, aku tidak sengaja. Aku hanya mau mengambil ini. " kata Ezra yang salah tingkah dengan apa yang baru saja terjadi, dia menunjukkan sebuah kertas kecil yang menempel di bahu Zoya.
Zoya sendiri juga merasa salah tingkah. Karena ini adalah ciuman pertamanya. Zoya langsung lari menaiki tangga tanpa membalas ucapan dari Ezra. Sedangkan Ezra yang merasa bersalah hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi. Berharap semoga besok Zoya baik-baik saja dan tidak menjauhinya.
Inilah alasan Ezra mencintai dalam diam. Dia bisa berteman dan bermanja sepuasnya dengan Zoya. Tanpa ada batasan diantara mereka. Dia bebas mencintai Zoya walau hanya dalam diamnya. Namun jika dia mengungkapkan perasaannya, bisa saja Zoya akan menjauhinya jika cintanya tidak terbalas.
Ezra masuk ke dalam kamarnya dengan pikiran yang menerawang kemana-mana. Dia hanya takut besok Zoya akan menghindarinya. Sedangkan dia belum siap untuk itu, dia belum siap untuk berjauhan dengan Zoya.
Sedangkan dikamarnya hal yang sama dirasakan Zoya. Dia terus memegangi bibirnya yang baru saja mendapat ciuman tak disengaja dari Ezra. Zoya tau Ezra tak sengaja dan dia juga tau Ezra bukanlah pria brengsek yang sembarangan mencium orang.
"Aku harus bagaimana? " gumam Zoya yang tak bisa memejamkan matanya.
Zoya akhirnya memutuskan akan bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun malam ini. karena dia juga tidak ingin kehilangan teman sebaik Ezra hanya karena salah paham. Dan setelah memutuskannya, Zoya segera terlelap dalam tidurnya.
*********
Keesokan harinya.
Semua orang sudah bersiap untuk sarapan hanya tinggal Zoya saja yang belum datang.
"Bi... tolong panggilkan Zoya. " Pinta Nisa kepada salah seorang pelayanan nya.
Pelayan itu pun segera beranjak, namun suara langkah kaki Zoya terdenganr sedikit berlari menuruni tangga. Dia merasa bersalah karena terlambat turun, karena tadi bangun kesiangan.
"Maafkan aku, tadi aku terlambat bangun. " ucap Zoya kepada semua orang yang sedang menunggunya.
"Tidak apa-apa. Tapi kenapa kamu rapi sekali pagi ini Zoya. Apakah kau akan kerja di akhir pekan? " tanya mommy Nisa kepada anak perempuannya itu.
Zoya menggeleng. "Aku ada janji keluar hari ini mom? " jawab Zoya apa adanya.
"Dengan siapa? " kini giliran daddy Erhan yang bertanya.
"Dengan dokter Evan, mungkin sebentar lagi dia akan menjemputku. Karena aku yang memintanya, meminta ijin kepada kalian. " jawab Zoya dengan santai.
Mendengar jawaban dari Zoya sontak membuat Murad, Faza dan Rayyan langsung melirik ke arah Ezra yang terkejut dan langsung memasang wajah datarnya lagi. Mereka tau, apa yang dirasakan Ezra saat ini.
__ADS_1
"Apa hubunganmu dengan dokter Evan sudah berkembang, Zo? " Tanya Nisa di sela-sela makannya.
Zoya menggeleng. "Aku nggak punya hubungan lebih selain berteman. Tapi aku katakan padanya kalau dia mencintaiku dan mau serius sama aku, aku menyuruhnya untuk langsung melamarku kepada Mommy dan daddy. " Jawab Zoya dengan tenang. Karena memang itu yang Zoya katakan kepada dokter Evan.
Semua ucapan Zoya membuat Ezra menggenggam sendoknya dengan erat.
"Lalu bagimana kalau pria lain juga ingin melamarmu dan ingin menikahimu. Apakah kau akan menerimanya? " Rayyan akhirnya ikut bertanya karena penasaran dengan jawaban Zoya sekaligus ingin menggoda sahabatnya itu.
"Memang siapa yang mau melamarku, aku tidak pernah dekat dengan pria manapun selama ini. " tanya Zoya dengan cuek, sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ada... " kata-kata Rayyan menggantung karena mendapat tatapan tajam dari Ezra dan kakaknya.
"Ck.. kau ini. nggak ada ah, aku nggak pernah dekat dengan pria mana pun kecuali dokter Evan. " Zoya masih keukeuh dengan pendirian nya.
"Kalau misalnya Ezra yang melamarmu bagaimana. " tanya Rayyan sambil menaik turunkan alisnya.
Uhuk... uhuk... uhuk...
Pertanyaan Rayyan itu sukses membuat semua orang tersedak termasuk Zoya dan Ezra sendiri.
"Rayyan nggak lucu. " wajah Zoya langsung memerah karena tersedak, dan dengan cekatan Esra langsung memberikan air minum kepadanya.
"Minumlah."
"Dari mana kamu punya pikiran seperti itu Rayyan." tanya Nisa yang merasa geram karena ulah anaknya itu.
"Yah, mungkin saja mom. Cinta itu nggak tau dari mana datangnya dan kepada siapa dia akan memilih . " ujar Rayyan.
Semua orang menggelengkan kepalanya mendengarkan ucapan dari Rayyan. Anak ini benar-benar sukses membuat semua orang kesal. Namun tidak dengan Zoya. Sejak mendapatkan pertanyaan dari Rayyan, Zoya terus menatap ke arah Ezra yang masih diam dengan wajah datarnya.
Terbesit sebuah pertanyaan dihati Zoya. Apakah pria seperti Ezra bisa mencintainya atau mencintai wanita lain. Karena pria itu sangat dingin dan hanya bersikap hangat kepadanya,walau kadang dia juga menyebalkan dengan sikap dinginnya itu seerti saudaranya Rayyan. Ezra yang merasa diperhatikan sejak tadi langsung mengangkat kepalanya dan melihat kearah Zoya yang gelagapan karena merasa ketahuan sudah memperhatikan dirinya.
Setelah sarapan Kemal dan Alima pamit untuk pulang karena mereka sudah puas melepas rindu dengan sang anak.
"Lain kali kalian yang harus ke rumah. " kata Kemal bercanda.
"Pa, dirumah kan nggak ada liftnnya, nanti gimana aku mendorong kakak naik ke kamarku. " Pertanyaan polos dari Faza sontak membuat semua orang tertawa.
"Lihatlah sekarang menantu ku lebih memperhatikan anakku." ujar mommy Nisa dan disambut tawa dari semua orang.
"Baiklah, kalau begitu. Kami pulang dulu.Murad lekas sembuh ya, agar kalian bisa menginap dirumah kami. Yah, walaupun di rumah kami masih ada kamar tamu. " ujar Kemal dengan nada mengejek kepada anaknya itu.
__ADS_1
Faza yang merasa pun langsung tertunduk malu.
"Sudah... sudah... ayo kita pulang. Kasihan Faza kalau kau goda terus. " Alima lalu mendorong suaminya itu agar segera pulang.
Tinggal Ezra disana yang akan menyusul kedua orang tuanya pulang. Saat Ezra memasuki mobilnya, dia melihat mobil lain masuk ke dalam mansion, dan dia melihat sekilas kalau yang datang adalah Evan. Dia mengeratkan pegangannya pada setir mobil dan langsung berlalu dari mansion mewah itu.
Kedua orang tua Zoya yang belum masuk kedalam rumah pun mengernyit melihat siapa yang datang. Dan saat keluar, ternyata dia Evan. Nisa dan Erhan saling berpandangan dan mengulas senyum.
"Selamat pagi tuan dan nyonya. " Evan mengucap kan salam kepada kedua orang tua Zoya.
"Selamat siang dokter Evan, ayo silahkan masuk. " Erhan mempersilahkan Evan untuk masuk ke dalam rumah, dan mempersilahkannya duduk.
"Ada apa ya dokter... " tanya Erhan namun terpotong
"Panggil Evan saja tuan.. "
"Ah, ya. Ada apa ya, kamu datang kamari. " tanya Erhan lagi.
"Saya mau mengajak Zoya keluar, tuan. kami akan ke taman bermain dan beberapa tempat lainnya. Jika di ijinkan. "
Erhan dan Nisa saling berpandangan. Jadi benar yang dikatakan Zoya, kalau mereka akan pergi.
"Sayang tolong panggil Zoya kemari. " pinta Erhan kepada istrinya.
Nisa langsung memanggil anak gadisnya itu, sesuai permintaan Suaminya.
Zoya merasa sangat senang karena akhirnya Evam datang.
"Kamu sudah datang. "
"Iya."
Zoya langsung duduk di samping mommynya, dan mendengarkan apa yang akan di katakan daddy.
"Zo, Evan ingin mengajakmu keluar apa kau mau keluar dengannya? " tany Erhan pada akhirnya
"Tentu saja dad. " jawab Zoya pasti.
"Baiklah daddy ijinkan. Tapi daddy mohon padamu jaga dirimu baik-baik. dan untuk anda dokter Evan, saya harap anda bisa menjaga anak saya dengan baik. jangan sampai luka sedikitpun. Berangkat dalam keadaan baik, maka pulang juga harus dalam keadaan baik . " ujar Erhan mengingatkan.
"Tentu saka tuan, saya akan menjaga Zoya dengan baik. " ujar Evan.
__ADS_1
Setelah mendapat ijin dari orang tuanya. Mereka langsung keluar dari mansion dan masuk ke dalam mobil Evan lalu segera pergi meninggalkan mansion. Mereka segera pergi ke tempat tujuan.
Tanpa mereka sadari ada sebuah mobil yang mengikuti mereka dari belakaang.