
Kicauan burung pagi ini, membangunkan dua anak manusia yang tengah berpelukan dibawah selimut. Dia adalah Rayyan dan Zahra. Entah sejak kapan Zahra sudah berbalik dan posisinya kini menghadap Rayyan dan menempel di dada bidangnya. Sedangkan satu tangannya memeluk perut Rayyan. Dan satu kakinya melingkar di kaki Rayyan. Zahra memeluk Rayyan persis seperti memeluk guling. Dia tidak tau saja kalau perbuatannya itu membuat sesuatu milik Rayyan dibawah sana sedang bangun dan meronta-ronta ingin keluar.
Rayyan yang sudah bangun sejak tadi hanya bisa menahannya saja. Wajah Zahra yang sangat dekat membuat Rayyan berkali menahan keinginannya untuk mencium Zahra, istrinya sendiri. Sungguh bodoh, memiliki istri namun dia tidak berani menyentuhnya. Dan dia tidak mau di katakan bodoh lagi. Akhirnya dengan keberaniannya Rayyan menundukkan wajahnya untuk mencium kening Zahra lalu turun ke bibirnya.
Awalnya bibir itu hanya saling menempel saja, tapi naluri lelaki Rayyan mulai bangkit dan sedikit bermain-main di sana. Zahra yang merasa tidak nyaman pun menggeliatkan tubuhnya, dan Rayyan langsung melepaskan tautan bibir mereka kemudian dia pura-pura memejamkan matanya. Dia tidak ingin Zahra merasa malu karena telah memeluknya.
Perlahan Zahran membuka matanya , dia langsung terkejut saat tangannya sedang memeluk Rayyan .dan kakinya sedang menindih kaki Rayyan . Dia langsung melepaskan kaki dan tangannya yang sedang menindih Rayyan.
"Benar-benar memalukan. " gumam Zahra.
Dia kemudian mendongak dan melihat wajah Rayyan yang sedang terlelap. Lalu tangannya terulur menyentuh wajah Rayyan.
"Kau memang tampan tuan Rayyan tapi sifatmu yang menyebalkan itu kadang membuat ku kesal. Andai kau tidak menyebalkan, mungkin aku sudah jatuh cinta kepadamu. " gumam Zahra pelan sambil mengusap wajah Rayyan. Menggambar wajah Rayyan dengan jarinya, dan menyentuh rahang kokoh berbulu halus itu.
"Jika ini di cukur pasti akan membuatmu semakin tampan tuan Rayyan. " gumamnya lagi.
Rayyan yang sudah tidak tahan menahan tawanya, hanya menggeliatkan tubuhnya.Dia masih memejamkan matanya dan ingin mendengar apa saja yang ingin Zahra katakan kepadanya.
Zahra yang melihat Rayyan menggeliat dia langsung langsung menjauhkan tangannya dari wajah Rayyan.
"Apa dia sudah bangun? " gumam Zahra. "Tapi kalau dilihat dari posisinya dia masih tertidur. "
Setelah lama terdiam dan tidak melihat pergerakan dari Rayyan, Zahra mendekatinya lagi kali ini dia menempelkan tubuhnya di tubuh Rayyan, lalu memelukanya.
"Ray, aku harap aku bisa mencintaimu secepatnya, dan kau bisa mencintaiku secepatnya. Aku iri dengan semua pasangan di mansion ini. Mereka selalu terlihat mesra.Para pria di sini sangat romantis. Mereka memanjakan istri-istri mereka. Apa kamu juga romantis Rayyan? " ucap Zahra sambil menghirup aroma tubuh Rayyan.
Tanpa Zahra sadari Rayyan menarik sudut bibirnya, sangat tipis. Sehingga tidak ada yang menyadari kalau dia sedang tersenyum. Dia lalu pura-pura menggeliatkan tubuhnya dan tangannya bergerak memeluk tubuh Zahra.
Zahra yang terkejut hampir memekik, tapi dia langsung menutup mulutnya. Zahra lalu mengeratkan pelukannya kepada Rayyan. Rasa nyaman itu dia dapatkan saat mereka saling berpelukan seperti ini.
"Apakah kau merasa nyaman saat aku memelukmu seperti ini Zahra? " kata Rayyan yang sudah tidak tahan lagi untuk tidak membuka mulutnya.
Zahra yang terkejut ingin melepaskan pelukan mereka namun tenaga Rayyan lebih kuat, dia tidak bisa melepaskan pelukannya.
"Diamlah Zahra. Biarkan seperti ini sebentar saja. aku ingin memelukmu dan merasakan aroma tubuhmu. " kata Rayyan.
Akhirnya Zahra berhenti bergerak dia langsung terdiam dan dengan malu-malu membalas pelukan Rayyan.
"Ray.. apa kau sudah bangun dari tadi? " tanya Zahra malu-malu dan menelusupkan wajahnya didada bidang Rayyan terdapat bulu-bulu halus, karena beberapa kancing piyama Rayyan terlepas.
"Aku baru bangun Zahra, memangnya kenapa?" Rayyan berbohong karena tidak ingin membuat Zahra malu karena sudah mengatakan hal-hal konyol tadi.
"Tidak apa-apa. " jawab Zahra singkat dan masih memeluk tubuh Rayyan.
"Ray... "
"Hmm... "
"Bisakah kita menjalani hubungan suami istri seperti semua pasangan di keluarga ini? " tanya Zahra ragu. Karena dia tidak tau apakah Rayyan mau menjalin hubungan ini seperti lainnya.
__ADS_1
"Apakah kau mau seperti mereka? " tanya Rayyan yang pura-pura tidak tau keinginan Zahra.
Zahra mengangguk. "Aku ingin seperti mereka merasakan kasih sayang dengan pasangannya. "
"Ray... "
"Apa? "
"Maafkan aku. "
"Untuk? "
"Sikapku yang sombong dan angkuh selama ini. Aku berjanji akan memperbaiki diriku Ray. Tolong ajari aku untuk menjadi wanita baik seperti yang kau inginkan. " ujar Zahra dengan tulus.
"Apakah kau sudah benar-benar menerimaku untuk menjadi suamimu? " tanya Rayyan menunggu kepastian Zahra.
"Aku sudah putuskan, aku tidak akan mencobanya lagi. Tapi aku akan menerimamu Ray. "
"Baiklah kalau begitu. Mulai saat ini aku akan menganggapmu sebagai istriku. Bukan orang lain lagi. " ucap Rayyan pada akhirnya.
"Tapi... "
"Tapi apa? "
"Untuk hubungan suami istri apa kau masih mau menungguku sampai aku siap? Apa kau mau? " kata Zahra penuh harap.
Rayyan lalu merenggangkan pelukannya setelah mendapatkan pertanyaan dari Zahra, dan menatap Zahra dengan intens. Zahra yang ditatap seperti itupun merasa takut. Takut kalau Rayyan akan marah. Tapi apa yang terjadi. Rayyan malah merapikan rambut Zahra kebelakang telinganya.
Zahra yang mendengar ucapan mesum Rayyan langsung membalalakkan matanya. Dia langsung memukul Rayyan dan melepaskan pelukannya dari Rayyan.
"Ray, jangan mesum. "
Rayyan tertawa renyah mendengarkan kekesalan Zahra.
"Aku mandi dulu, lepaskan pelukan mu, Ray.. "
"Tidak mau, aku ingin seperti ini. "
"Ray, ayolah. Ini sudah hampir waktunya sarapan. Nanti semua orang menunggu kita." kata Zahra sedikit merengek kepada Rayyan.
Bukannya melapaskan, Rayyan malah berbalik dan mengungkung istrinya itu. Zahra sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Rayyan, reflek dia langsung menutup matanya erat. Rayyan yang melihat Zahra ketakutan langsung mengikis jarak dengan wajah Zahra. Dan...
Cup.
Sebuah ciuman singkat Rayyan berikan. Zahra yang merasakan sesuatu baru saja menempel di bibirnya langsung membuka matanya. Dilihatnya Rayyan yang tersenyum nakal kepadanya. Dan... Rayyan mengulanginya lagi. Kali ini ditambah sebuah lum*tan di bibir Zahra.
Rayyan yang tidak merasakan respon dari Zahra pun melepaskan tautan bibirnya.
"Zahra bernapas... " Kata Rayyan, saat melihat Zahra menahan nafasnya. Seketika Zahra langsung menghembuskan nafasnya karena tekejut.
__ADS_1
"Apa kau belum pernah berciuman? " tanya Rayyan yang penasaran.
Zahra menggeleng. "Ini ciuman pertamaku. "
Mata Rayyan langsung membola mendengar hal itu. Gadis barbar seperti dia tidak pernah berciuman?
"Lalu apa kau juga pernah berciuman? " tanya Zahra balik dengan kesal.
Rayyan gelagapan ditanya seperti itu. Karena dia juga baru pertama kali berciuman.
"Baru pertama kali juga sih. " kata Rayyan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ck...
"Aku mandi dulu Ray. " Zahra segera mendorong tubuh Rayyan saat dia lengah.
Dan Rayyan pun tak berdaya saat Zahra lepas dari kungkungannya. Dia tersenyum sendiri melihat punggung Zahra yang berjalan menjauhinya. Dia tersenyum senang karena akan mendapatkan gadis sombong itu sebentar lagi.
"Sudah kukatakan padamu Zahra , kalau aku akan membuatmu bertekuk lutut kepadaku . Dan sekarang sudah ku buktikan . Kau sendiri yang akan menerima hubungan ini . Dan bukan paksaan dariku . Aku akan membuang kesombonganmu itu , dan menjadikanmu milikku selamanya ." gumam Rayyan yang hanya bisa didengar dirinya sendiri.
Rayan langsung beranjak dari tempat tidurnya , dan pergi ke balkon kamarnya . Dia menghirup udara pagi yang sangat menyejukkan . Benar-benar menyejukkan bagi Rayan , yang mendapatkan sebuah ciuman dari Zahra .
Sedangkan di kamar mandi , Zahra berusaha untuk menormalkan detak jantungnya . Yang dari tadi , bekerja keras memompa aliran darah ke seluruh tubuhnya . Sehingga membuat seluruh tubuhnya panas dingin , setelah mendapatkan ciuman dari Rayan .
"Ya Tuhan, Zahra . Apa yang terjadi padamu . Kenapa kau murahan sekali sih . Mau-maunya dicium Rayan . Tapi Bukankah aku sudah bilang kepadanya tadi , kalau aku akan menerima hubungan ini . Mungkin karena itu Rayan berani menciumku . Ah sudahlah , sebaiknya aku membersihkan diri dan segera turun untuk sarapan , aku akan menjenguk Daddy hari ini ."
Setelah membersihkan dirinya , Zahra keluar dari kamar mandi . Dan meminta Rayyan untuk segera membersihkan dirinya . Rayyan yang berjalan melewati Zahra , kembali dengan isengnya , mencium pipi Zahra sekilas saat mereka berpapasan.
"Rayyan ... Apa yang kau lakukan . Kamu mesum ." Pakik Zahra yang tidak terima kalau Rayyan terus-terusan menciumnya.
Rayyan tidak peduli dengan teriakan Zahra , dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri . Sedangkan Zahra mulai membersihkan tempat tidur yang berantakan lalu mengambilkan pakaian ganti untuk Rayyan .
Keluar dari kamar mandi Rayyan langsung menggunakan pakaian yang disiapkan istrinya. Selera Zahra benar-benar tidak main-main. Dia suka bermain warna, tapi hasilnya sangat bagus.
"Sudah." kata Zahra setelah selesai merapikan dasi milik Rayyan.
Apa kau sudah bersiap, Za? " tanya Rayyan yang melihat Zahra berpakaian biasa saja.
"Sudah. bukankah aku hanya menjenguk daddy dan ke resto ku. Mau bersiap bagaimana lagi. Beginilah gayaku sehari-hari, Rayyan? "
"Rayyan lalu mendekat dan membelai rambut Zahra. Alangkah baiknya jika rambut ini hanya aku yang melihat nya. " Ucap Rayyan sambil menyelipkan anak rambut Zahra.
Deg...
Ini adalah sebuah warning. Karena mommy Nisa juga mengatakan hal yang sama.
"Ray, bagaimana kalau aku berproses dulu. Aku ingin menyiapkan diriku dulu. Kalau aku siap, aku akan melakukannya seperti para wanita di keluarga ini. Bukan karena manusia tapi karena Allah.
Rayyan tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
" Baiklah. Aku menunggu itu. " bisik Rayyan, dan lagi-lagi memberikan kecupan singkat dari Rayyan.
"Rayyan mesum..... "