Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Ngidam Bakso


__ADS_3

Rayyan memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang disediakan restoran Zahra. Mereka berdua lalu masuk ke dalam restoran, dengan Rayyan yang merangkul pundak Zahra seperti biasa. Kini para pegawai Zahra sudah tidak asing lagi dengan pemandangan seperti itu karena sudah menjadi sarapan mereka sehari-hari.


Rayyan duduk di sofa yang ada di ruangan Zahra, sambil melihat istrinya itu menyiapkan minuman untuknya.


"Kau ingin sarapan apa Ray? " tanya Zahra kepada suaminya setelah meletakkan secangkir teh di meja.


"Kalau boleh, aku ingin memakanmu Zahra. " kata Rayyan dengan kejahilannya yang memancing kekesalan Zahra.


"Ray... " Zahra menanggapi Rayyan dengan mata melotot.


"Oke.. oke... Jangan tunjukkan sisi galakmu sayang. " Rayyan mendekati istrinya itu dan memeluknya dari belakang.


"Aku ingin sarapan buatan tanganmu sendiri Zahra. Apa boleh? " pinta Rayyan sambil mencium tengkuk leher istrinya itu.


"Ray, hentikan. Kau ingin aku masak apa? " kata Zahra lagi sambil menyingkirkan kepala Rayyan yang nakal.


"Apapun asal kau yang memasaknya. "


Sebuah gigitan didaun telinga Zahra mengakhiri keusilannya pagi ini. Rayyan lalu duduk kembali di sofa sambil memeriksa ponselnya dengan serius. Melihat itu Zahra hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa melakukan keisengan lalu berubah mode serius hanya dalam hitungan detik.


Zahra langsung keluar dari ruangannya dan menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk suaminya. Para pelayan dan juru masak yang ada di sana segera menyingkir selama Zahra menyiapkan makanan. Mereka tau pasti owner mereka akan membuatkan makanan untuk suaminya.


Hanya butuh waktu lima belas menit Zahra membuatkan sarapan untuk suaminya. Lalu menghidangkan nya di depan Rayyan.


"Cepat sekali. " gumam Rayyan melihat hidangan di depannya.


Zahra hanya membuat salad sayuran dan steak daging untuk sarapan mereka.


"Ayo sarapan dulu, bukankah kau yang meng-handle perusahaan hari ini. Dan kau terlambat suamiku. "


"Tidak apa-apa, tidak ada pertemuan penting hari ini. Aku hanya memeriksa berkas saja. " Kata Rayyan yang memberikan sebuah potongan daging steak ke mulut Zahra, dan Zahra menerimanya dengan senang hati.


"Hari ini kau kerja setengah hari saja ya , nanti siang datanglah ke kantorku dan bawakan aku bekal makan siang, kita makan siang bersama dikantor. Seperti yang biasa Faza lakukan kepada kak Murad. " pinta Rayyan kepada istrinya.


"Jadi kau ingin aku bawakan bekal makan siang ? Bagaimana kalau aku diusir seperti Faza waktu itu ." Ujar Zahra yang mengingat cerita Faza saat pertama kali datang ke perusahaan untuk menemui suaminya .


"Nanti kalau hampir sampai telepon aku , Aku akan menjemputmu di lobby ."


"Baiklah kalau begitu . Aku akan ke sana nanti Saat makan siang ." putus Zahra pada akhirnya.


Rayyan segera menghabiskan sarapannya , kemudian dia berpamitan kepada Zahra untuk berangkat ke kantornya . Sebelum berangkat , sekali lagi Rayyan memperingatkan Zahra saat berada di parkiran .

__ADS_1


"Saat aku tidak ada di sampingmu , Aku harap kau tidak memikirkan sesuatu yang aneh atau berlebihan . Apapun yang terjadi , kau akan tetap menjadi istriku . Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu , ingat itu okey ."


Zahra mengangguk , mengerti maksud Rayan


"Dan jika kau merasa kesepian , walaupun banyak orang di sekitarmu . Datanglah menemuiku , karena tanganku ini terbuka dan siap untuk memelukmu kapanpun itu, istriku ." Ucap Rayan lagi sambil memeluk erat Zahra , dan memberikan kecupan lama di kening Zahra seolah memberikan kekuatan kepada istrinya itu .


"Aku pergi dulu dan sampai jumpa, nanti siang. "


Rayyan masuk ke dalam mobilnya dan melambaikan tangannya kepada Zahra, dan di balas Zahra dengan labaian tangan sampai mobil Rayyan tak terlihat.


°


°


Mansion.


Semua orang sudah kembali ke Mansion setelah menginap semalaman di rumah sakit. Tidak ada yang menyambut mereka kecuali Erhan yang berada di rumah. Sedangkan Rayyan harus ke perusahaan sendiri.


Murad langsung membawa istrinya ke kamar, agar bisa langsung beristirahat. Begitu juga dengan Ezra yang juga langsung membawa Zoya ke kamarnya agar beristirahat. Nisa dan Alima duduk di ruang keluarga bersama Erhan. sambil menunggu Kemal yangbakan menjemput istrinya.


"Kamu tidak disini saja dulu, Ma?


"Enggak, ah. Keseringan disini juga nggak enak aku Nisa. "


"Iya aku tau, tapi tetap saja. Asal aku melihat anak-anakku bahagia di sini, aku juga ikut bahagia Nisa. Karena kau memperlakukan anakku seperti anakmu sendiri. "


"Kamu ini bicara apa sih. Ezra sam Faza kan memang anakku juga, sejak kecil aku juga ikut merawat mereka. "


Obrolan hangat antara Nisa dan Alima tercipta, dan Erhan hanya ikut mendengarkan saja dan sesekali menimpali.


Di kamar Zoya.


Zoya sedang merengek kepada Ezra agar tidak kemana-mana dan tetap di sampingnya, padahal Ezra ingin buang air.


"Zo, ayolah masak aku harus ngompol di sini. Nggak lucu, sayang. " keluh Ezra pada akhirnya.


"Aku ikut. "


"Zo... "


Zoya langsung menekuk wajahnya dan berpaling dari Ezra. Ezra yang tau istrinya sedang merajuk saat ini, tidak ia pedulikan. Dia langsung pergi ke kamar mandi untuk membuang air yang sudah memenuhi kantong kemihnya, daripada dia harus terkena penyakir batu ginjal.

__ADS_1


Ezra segera kembali ke kamarnya dan mencari Zoya, tapi yang dicari tidak ada di atas tempat tidur. Ezra lalu mencarinya di balkon. Dan benar saja, Zoya sedang berada di balkon, memandangi taman yang berada di bawah kamarnya. Ezra langsung melingkarkan tangannya di perut Zoya, dan menelusup kan wajahnya di ceruk leher Zoya.


"Kenapa? "


"Aku baru tau, mungkin ini yang disebut perubahan hormon kehamilan. " kata Zoya yang sejak tadi sedang berfikir.


"Maksud kamu? " Ezra tetap menghirup aroma tubuh Zahra diceruk lehernya.


"Mungkin ini juga yang dirasakan Faza. Kadang memiliki mood buruk, Ingin bermanja dengan kak Murad dan kadang marah tanpa sebab. Semua karena hormon kehamilan yang sering berubah-ubah. "


"Iya mungkin saja. " Ezra lalu membalikkan tubuh Zoya agar menghadap ke arahnya.


"Apakah kau akan bersabar menghadapi hormon ibu hamil selama kehamilan ku? " tanya Zoya sambil memicingkan matanya.


"Tentu saja, aku kan suami siaga untuk istriku dan akan menjadi ayah yang baik untuk anak kita kelak. " Ezra lalu menarik tubuh Zoya agar masuk ke dalam pelukannya.


"Zo, Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. "


"Apa katakan. " kata Zoya di dalam pelukan suaminya dia merasakan kenyamanan disana.


"Benar kata kak Murad. Jangan pernah iri tentang masalah jumlah bayi. Berapapun anak yang aku miliki, aku tetap bahagia, selama anakku terlahir dari rahimmu. Dan ini adalah sebuah kebanggaan bagiku, karena telah berhasil menghadirkan seorang janin disini. Apa kau paham? "


Zoya mengangguk mengerti.


Sejak awal dialah yang salah, karena berharap terlalu berlebihan tentang masalah anak. Tapi sesungguhnya berapapun jumlah anaknya kelak itu sudah menjadi rejeki yang diberikan Tuhan kepadanya dan Ezra.


"Aku mengerti dan aku tidak akan membahasnya lagi. "


"Baguslah."


"Ezra... "


"Hhmmm... "


"Aku tiba-tiba ingin makan sesuatu, makanan dari Indonesia. "


"Apa? "


"Bakso."


Note : Hai kakak-kakak yang cantik dan ganteng, jangan lupa mampir di karya baru Author ya. Yang judulnya "Istri Kontrak Tuan Gay. " Masih sepi nih, butuh dukungan kalian.

__ADS_1


Makasih udah dengerin curcolnya Author 🫰🫰🫰


__ADS_2