Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Murad


__ADS_3

Setelah Zahra merasa tenang, akhirnya Rayyan menjalankan mobilnya menuju restoran milik Zahra. Rupanya restoran Zahra satu arah dengan perusahaannya. Jadi resto itu setiap hari dilewati oleh Rayyan, tapi dia tidak tahu kalau Resto itu adalah milik Zahra .


"Jadi ini restomu? " tanya Rayyan saat dia menghentikan mobilnya di tempat parkir resto milik Zahra.


"Iya, apa kau mau masuk dulu, atau langsung ke perusahaan. " tawar Zahra.


"Bolehlah, aku mampir sebentar. Aku ingin melihat resto milik isteriku. " kata Rayyan sambil membuka seatbelt nya dan keluar dari mobil. Rayyan lalu membukakan pintu mobil untuk Zahra.


Mereka masuk ke dalam resto,dengan Rayyan yang memeluk mesra pinggang Zahra. Dan kedatangan mereka mendapat tatapan kagum dari para pelayan resto dan beberapa pengunjung. Karena melihat ketampanan seorang pria yang berada di samping owner mereka.


"Selamat pagi nona. " Sapa seorang manager restoran yang melihat kedatangan pemilik restoran.


"Selamat pagi. siapkan dua cangkir teh di ruangan ku. "


"Baik nona. "


Manager resto itu, mencuri-curi pandang kearah Rayyan. Karena dia baru melihat sosok setampan pria di hadapannya.


"Jaga pandangan matamu, Ann... dia adalah suamiku. " kata Zahra memperingatkan karena dia melihat managernya itu melirik-lirik kearah Zahra.


Semua orang yang mendengarnya dibuat tertegun dengan pernyataan Zahra.


"Ayo, sayang. Kita keruangan ku. " Kata Zahra dengan bergelayut manja di lengan Rayyan.


Rayyan yang melihat perubahan Zahra pun tersenyum senang. Karena dia tidak menyangka kalau Zahra bisa over protektif kepadanya.


Diruangan Zahra, Rayyab melihat beberapa ornamen antik dan lukisan pantai yang indah.


"Apa kau menyukai pantai, Za? "


"Iya, aku sangat menyukai pantai. Karena pantai menggambarkan ketenangan." Kata Zahra yang mendefinisikan arti pantai menurut dirinya.


Tak lama pintu ruangan Zahra di ketuk dan masuklah seorang pelayan yang membawa dua cangkir teh. Lalu menyajikannya kepada mereka berdua. Kemudian pelayanan itu segera meninggalkan mereka berdua.


"Minumlah, aku ingin menawar kan kepadamu sarapan tapi kita sudah sarapan tadi. " kata Zahra sambil terkekeh.


"Lain kali, aku ingin sarapan di sini. " ujar Rayyan setelah meminum teh yang dihidangkan kepadanya.


"Baiklah, aku akan menunggu moment itu. "


Rayyan kemudian bangkit dari duduknya, Zahra juga ikut berdiri dan mendekati Rayyan.


"Apa kau sudah mau berangkat? "


"Iya ini sudah beranjak siang, pasti Ezra akan ngomel kepadaku. Karena aku datang sangat terlambat. " kata Rayyan sambil memeluk pinggang Zahra.


"Aku nanti akan menjemput mu sekitar pukul enam malam. Bersiaplah dan berdandanlah yang cantik agar wanita itu tidak berkutik melihat kecantikan istriku. " kata Rayyan sambil mencuri ciuman di pipi Zahra.


"Baiklah, aku akan tampil wow malam nanti. "


"Aku tidak sabar. "


Mereka berdua lalu keluar dari ruangan Zahra dengan Rayyan yang memeluk pinggang ramping Zahra. Kembali mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung. Di area parkir mobil , Zahra lalu mencium tangan Rayyan sebelum kepergian Rayyan. Dan Rayyan membalasnya dengan ciuman di kening. Dan itu membuat siapapun yang melihatnya ikut meleleh.


Rayyan kemudian segera berangkat ke perusahaan. Dan Zahra kembali ke tempat kerja nya. Senyum bahagia tak lekang dari bibir Rayyan maupun Zahra. Mereka berdua semakin bersemangat menjalani harinya.

__ADS_1


*


Di mansion


Murad diantarkan Zahra ke paviliun dokter Evan. Di sana Murad berhadapan dengan Dokter Evan untuk konsultasi.


"Bagaimana tuan Murad? Apakah keadaan kaki anda sudah membaik?" tanya dokter Evan.


"Lumayan Dokter beberapa minggu terakhir aku sudah melakukan terapi robotic dengan dokter Aslan. " ujar Murad menjelaskan apa yang dia lakukan selama beberapa minggu terakhir.


Dokter Evan lalu meminta Murad untuk duduk dikursi yang panjang. Dia ingin memeriksa kaki Murad.


"Faza, aku minta tolong ambilkan macbook ku di kamar. Aku akan memeriksa beberap pesan sambil terapi. " perintah Murad kepada Istrinya.


"Tapi kak, apa kakak tidak apa-apa aku tinggal sendiri? " tanya Faza ragu.


"Aku tidak apa-apa Faza dokter Evan kan sudah menjadi teman kita . Iya kan dokter Evan.. " Murad menimpakan pertanyaan kepada Evan.


"Iya nona Faza. Tuan muda akan baik-baik saja. Saya yang akan menjadi jaminannya. " Dokter Evan berkata dengan pasti.


"Baiklah awas saja kalau kak Murad kenapa-napa aku tidak akan memaafkan mu dokter Evan. " ancam Faza, lalu dia lari ke dalam mansion untuk mengambilkan apa yang diminta suaminya.


Mirad dan dokter Evan menggeleng kan kepala mendengar ancaman dari Faza.


"Bagaimana menurut pendapatmu? "


'Seharusnya anda sudah bisa lari tuan. Sepertinya anda memiliki sebuah rencana untuk keluarga ini." tanya dokter Evan penasaran


"Iya. aku hanya tidak menginginkan Ada seseorang yang mengganggu keluargaku. Aku tidak ingin melihat wajah ketakutan mommy saat mendengar nama wanita itu di sebut. "


Murad lalu beranjak dari kursi rodanya , dia langsung berjalan . Dan menunjukkan kemampuannya kepada dokter Evan .


"Bagaimana dokter , Apakah kakiku sudah menapak sempurna . " tanya Murad kepada dokter Evan .tanpa menjawab pertanyaannya.


Melihat Murad yang sudah berjalan dengan sempurna , membuat Evan tidak percaya .


"Sejak kapan anda bisa berjalan sempurna seperti ini Tuan muda? " tanya dokter Evan yang ingin tau.


"Kurang lebih satu minggu terakhir , aku melatih kakiku sendiri saat Faza tertidur . Aku tidak ingin merepotkan gadis kecilku terus . Tapi saat ini aku masih harus merepotkannya ." Kata Murad terus terang . Dia tidak ingin menyembunyikan kalau dia sudah sembuh kepada dokter Evan.


"Apa rencana anda tuan? "


"Aku akan menunggu wanita itu dan membuat perhitungan dengannya. "


"Apa kau bisa pastikan kapan wanita itu datang? "


Dokter Evan mengambil ponselnya dan menunjukan beberapa pesan yang dikirim Monca kepada nya selama dua hari terakhir.


"Baguslah, tetaplah seperti ini dokter Evan. Lakukan sandiwaramu dengan baik. Jika kau butuh foto bersama dengan Zoya katakanlah. Nanti aku akan membantumu. "


"Baik tuan Muda. "


Murad kembali duduk di kursi panjang nya setelah melihat bayangan Faza yang berlari menuju Paviliun.


"Sepertinya nona kecil itu sangat mencintai anda tuan. "

__ADS_1


"Iya dia sangat mencintaiku aku tau itu. " Kata Murad sambil tersenyum menyambut kedatangannya.


"Ini kak. Apa kakak baik-baik saja? " tanya Faza kemudian.


"Aku baik-baik saja Faza, jangam khawatir. " ujar Murad menenangkan hati Faza.


"Baiklah, tuan sekarang ayo kita mulai sesi terapinya. Dokter Evan memapah Murad menuju alat terapi yang sudah di sediakan. Tidak begitu kesulitan karena tinggi badan Murad dan Evan memiliki tinggi badan yang sama.


Murad melakukan sandiwaranya dengan baik. Dia berpura-pura kesakitan dan sedikit meringis atau mengerang saat menahan sakit.


"Tuan muda ini, sangat luar biasa, dia pantas menjadi aktor. Karena pandai bersandiwara memainkan perannya. " Gumam dokter Evan dslam hati


Faza merasakan cemas saat melihat Murad meringis kesakitan. Tapi dia tau inilah proses yang harus suaminya jalani sebelum dia sembuh.


"Kakak Berjuanglah. Aku akan memberi hadiah kedapamu nanti. " teriak Faza yang bisa di dengar oleh Murad dan Evan.


Murad lalu menoleh ke arah Faza, dan Faza memberikan dua jarinya untuk suaminya denga tersenyum genit kepada suaminya. Melihat itu, Murad tersenyum miring.


"Baiklah, aku harap kau tidak menyesal dengan pemberian hadiahmu padaku Faza." gumam Murad dalam hati


Murad kembali bersemangat untuk mendapatkan hadiahnya. Tapii dia mash bertahan dengan sandiwara nya.


Evan pun mengikuti bagaimana tuan Muda Murad melakukan sandiwaranya itu.


Hampir dua jam Murad melakukan terapi, akhirnya dia berusaha menapakkan kakinya tanpa kursi roda. Dia mencoba berjalan selangkah demi selangkah dengan kaki yang dibuat tremor. Semua itu tak luput dari kamera foto maupun video Faza. Dan dia langsung mengirimkan perkembangan Murad ke pesan Wa grup keluarga ini.


Semua orang merasa bahagia saat bisa melihat perkembangan Murad dengan cepat dan bisa melangkahkan kaki, walau sedikit tremor.


Terapi hari ini usai. Karena Murad sudah merasakan lelah, walau hanya pura-pura.


"Baiklah tuan muda, terapi hari ini sampai disini dulu jangan terlalu dipaksakan karena tidak baik untuk tubuh anda nanti. Jika nanti sore anda menginginkan untuk terapi , datanglah kemari tuan, saya siap kapanpun anda membutuhkan saya tuan." ujar dokter Evan.


"Baiklah dokter, aku mengerti. " ujar Murad sambil menuju kursi rodanya.


Faza yang merasa senang dengan perkembangan dari suaminya pun segera pergi keluar meninggalkan paviliun dokter Evan dan menuju ke dalam mansion. Faza segera melakukan tugasnya, yaitu membersihkan tubuh Murad yang berkeringat.


"Ingat Faza, dua kali sesuai janjimu tadi. " Kata Murad menggoda istrinya itu yang dengan seksama membersihkan tiap jengkal tubuhnya.


"Iya dua kali, siang satu kali, malam satu kali, kak." kata Faza dengan polosnya.


"No... siang ini dua kali. " kata Murad yang tidak ingin di bantah.


Glek....


Faza ingin protes kepada suaminya, karena tenaganya hanya bisa bertahan satu kali di atas. Tapi melihat sikap Murad yang acuh, itu artinya dia tidak ingin di bantah. Faza langsung membawa Murad ke luar kamar mandi setelah tubuhnya bersih. Faza sudah mengenakan kepada Murad bathrobe, dan dia segera menuju walk in closet untuk mengambilkan suaminya pakaian ganti. Murad langsung menarik tubuh Faza sampai dia duduk di atas pangkuannya. Faza langsung terkejut saat mendapatkan perlakuan tak biasa dari Murad suaminya yang langsung menyerang Faza denga ciuman bertubi-tubi diseluruh wajahnya.


"Kakak geli tau. " protes Faza saat Murad menghentikan ciumannya.


Murad langsung naik ke atas ranjangnya, tanpa bantuan Faza. Kali ini tidak dengan susah payah, tapi dengan Mudah. Faza kembali ingin ke walk in closet mengambilkan pakaian ganti Murad, tapi Murad menghentikannya.


"Tidak usah Faza lagi pula nanti dibuka lagi ." ucap Murad sambil menaik turunkan alisnya.


Dia lalu menepuk-nepuk tempat di sampingnya yang kosong. Faza mengkuti apa yang di inginkan suaminya dan segera duduk di samping suaminya yang langsung menyambar bibir Faza dengan rakus. Faza sendiri sekarang sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya. Salahnya sendiri yang akna memberinya hadiah dua kali.


"Faza, aku ingin mengejar ketertinggalan Kita dari Ezra dan Zoya. Dan aku ingin anakku lah yang nanti harus terlahir pertama kali di mansion ini. Karena akulah putra tertua di keluarga ini Apa kau sudah siap? " tanya Murad yang melihat keterkejutan di wajah istrinya.

__ADS_1


Faza langsung mengangguk, mendapat pertanyaan dari suaminya.


__ADS_2