
Sudah satu minggu ini Murad di rawat di rumah sakit, keadaannya masih sama, dia masih belum sadar dari komanya. Selama ini Nisalah yang menjaga Murad di rumah sakit. Dia membiarkan suami dan anak-anak nya bekerja, biarlah dia sendiri yang menjaga anak pertamanya itu. Lagi pula dia tidak disibukkan dengan pekerjaan. Alima juga sering datang ke rumah sakit menemani Nisa untuk menjaga anaknya itu. Dan Faza juga tiap kali pulang kuliah atau mau berangkat kuliah, dia selalu menyempatkan diri menyapa dan melihat pria yang dicintainya dalam diam itu. Hanya dengan melihatnya baik-baik saja, Faza sudah merasa bahagia.
"Bagimana Alima, apa kau sudah mengatakan pada suamimu dan Ezra tentang perasaan Faza? " tanya Nisa pada Alima saat mereka sedang berada diruangan Murad.
"Sudah, tapi suami dan anakku tidak percaya. Karena mereka bilang, sikap Faza ke Murad seperti kakak adik biasanya. Layaknya Murad dan Zoya. Kamu sendiri gimana? apa sudah mengatakan semuanya pada suami dan anak-anakmu? " tanya Alima balik.
"Sudah... dan respon mereka sama dengan suami dan anakmu. " Kata Nisa dengan menghembuskan nafas kasarnya.
"Katanya, nggak mungkin, mereka itu seperti kakak adik sejak kecil. Murad sudah menganggap Faza adik kecilnya setelah Zoya. dan Faza juga sebaliknya sudah menganggap Murad sebagai kakaknya." Nisa menirukan apa yang dikatakan Erhan padanya beberapa waktu lalu.
Mereka berdua sama-sama menghela nafas.
"Kita harus cari cara untuk meyakinkan mereka semua. " kata Nisa pada akhirnya.
"Bagaimana caranya. Suami dan anak kita tidak mudah percaya jika hanya dengan ucapan, tapi harus dengan bukti nyata baru mereka percaya. " ujar Alima.
Nisa berpikir keras untuk membuat bukti agar mereka semua tau perasaan Faza kepada Murad. Matanya mengedar ke seluruh ruangan untuk berfikir. Dan tatapannya berhenti saat melihat ponsel yang tergeletak di hadapannya.
"Aku tau caranya. " kata Nisa dengan senyuman penuh arti di wajahnya.
"Apa, bagaimana? "
"Kita buat video pengakuan. "
"Caranya... " Alima bingung.
Nisa kemudian Menggoyang-goyangkan ponselnya di hadapan Alima sambil menaik turunkan alisnya. Mata Alima membulat saat mengerti maksud Nisa.
"Kau benar-benarpintar, Nisa.Ternyata otakmu masih bekerja di usia yang sudah tua ini. " Alima menggoda Nisa dan setuju dengan rencananya
__ADS_1
Nisa mencebikkan bibirnya, bagaimana bisa sahabatnya iti bilang kalau dia sudah tua, dan kenyataannya memang seperti itu. Tapi mereka berdua menolak dikatakan tua. Karena mereka masih sanggup melayani suami mereka di ranjang.
"Sekarang coba kau hubungi Faza kapan dia akan datang kemari, bukakah hari ini dia ada kuliah pagi? "
"Iya dia kuliah pagi, biasanya dia pulang pukul sebelas. "
"Baiklah hubungi dia untuk memastikan. "
Alima lalu mengirim pesan chat kepada anaknya itu, karena takut mengganggu belajarnya. Sedangkan Nisa sibuk mengatur posisi ponsel disembunyikan agar tidak ketahuan. Dengan menggunakan mode pesawat dia menyembunyikan ponselnya di dalam Vas bunga yang berada disisi ranjang anaknya dan hanya memperlihatkan kamera saja.
"Satu jam lagi dia akan datang, apa semua sudah siap? " tanya Alima.
"Coba kau cek. " Nisa menunjukkan tempatnya menyembunyikan ponselnya itu.
"Bagus sepertinya tidak mencurigakan. " Alima setuju dengan pekerjaan Nisa itu.
"Apa alasan yang kau gunakan? " tanya Nisa.
Nisa mengangguk, menyetujui alasan yang diberikan Alima.
Semua persiapan sudah selesai, Alima melihat keadaan di luar ruangan dan saat melihat Faza datang, dia langsung memberikan petunjuk pada Nisa agar mulai menyakalakan kameranya.
"Siang ma, Mommy." sapa Faza saat sudah masuk ke dalam ruangan Murad.
"Siang juga Faza. Mommy titip jagain Murad ya sebentar? karena mommy sama mama mu akan ke luar membeli makanan di kantin rumah sakit. Nanti sekalian kamu mommy belikan makan siang. " pamit Nisa kepada Faza.
"Baiklah mom, silahkan mommy dan mama menikmati makan siangnya. " ucap Faza dengan senyum cerianya yang selalu membuat orang sekitarnya bahagia.
Nisa dan Alima kemudian meninggalkan Faza dan Murad yang koma berdua di ruangan itu. Faza kemudian menghampiri ranjang tempat Murad terbaring tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum kak Murad, aku datang lagi. " Sapa Faza sambil menggamit telapak tangan Murad yang lemah, lalu mengecupnya seperti saat bersalaman kemudian menempelkan tangan itu di pipinya.
"Kak Murad tau, aku setiap hari datang kemari untuk menjengukmu, tapi tidak pernah ada kesempatan berduaan seperti saat ini. Karena ada mommy Nisa dan kadang juga ada mamaku yang datang untuk menjagamu. Hari ini kebetulan sekali mommy dan mama pergi makan siang di luar, jadi aku punya kesempatan untuk berduaan dengan kakak. " Faza terkekeh sambil terus memainkan telapak tangan Murad.
"Kakak tau, asal setiap hari bisa melihat kakak saja aku sudah bahagia walau tidak bisa menyentuh kakak." Faza menatap lekat wajah Murad yang masih memejamkan mata itu.
"Kak Murad tampan... karena itu aku suka sama kak Murad. Selain tampan kakak juga baik, pesona kakak tidak dapat akh abaikan. Tidak seperti kakakku, dia juga tampan sih tapi dinginnya itu aku tidak tahan. Kalau menyentuhnya mungkin aku bisa jadi es batu. " Faza terkikik geli karena sudah membandingkan Murad dengan kakaknya Ezra.
"Kaak Rayyan juga tampan, tapi sayang dia itu tengil dan selalu tebar pesona kepada semua gadis. Aku nggak suka, itu sama seperti cowok murahan. " Faza bergidik ngeri saat membayangkan Rayyan berubah menjadi cowok murahan.
Bibirnya kemudian menyunggingkan senyumnya lagi saat memandang wajah Murad.
"Kalau kakak, buat ku kakaklah yang paling sempurna di dunia ini. Aku akan selalu mencintai kakak dalam diam. Biarlah hanya Tuhan dan Aku yang tau tentang perasaan ku pada kakak. Kak Murad dan semua orang nggak perlu tau perasaan ku ini. " kaganya lagi dengan tersenyum hambar
Faza lalu berdiri dan mengusap kepala Murad dengan lembut, lalu usapan itu turun ke wajahnya, jari lentik itu terus menelusuri wajah Murad, hidung, pipi. Hingga berhenti di bibir Murad yang tebal dan seksi.
"Bolehkah aku mengecup bibir ini, satu kali saja untuk seumur hidupku. Setelah ini aku akan bertaubat, dan aku tidak akan mengulanginya lagi." Janji Faza.
Lalu dengan membulatkan tekad Faza mendekat ke wajah Murad, dia memejamkan matanya lalu.
"Cup."
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Murad, dari si pencuri ciuman siapa lagi pelakunya kalau bukan si kecil Faza.
Setelah mendarat kan kecupan itu tak Henti-hentinya dia memohon ampun.
"Astaghfirullah haladzimm ampuni aku ya Allah. "
Lalu dia menerbitkan sebuah senyuman manis di bibirnya. "Aku tidak akan menyesal karena ini adalah dosa termanis yang pernah aku perbuat. "
__ADS_1
Tiga puluh menit telah belalu, tapi sang mama dan Mommy Nisa belum kembali. Akhirnya Faza tertidur di samping ranjang Murad dengan satu tangan memeluk tubuh Murad dan tangan satu tangannya lagi menggenggam erat tangannya.
Sebuah usapan lembut membelai rambut Faza, lalu turun ke keningnya, pipi dan terakhir dibibirnya. Bibir seseorang itu mengukir sebuah senyuman manis yang jarang diperlihatkan pada semua orang.