
Satu bulan telah berlalu, dan hari-hari di dalam mansion keluarga Erhan terlihat tampak tenang dan harmonis. Murad dan Faza yang terlihat semakin lengket. Faza yang selalu memperlakukan Murad seperti seorang dewa, dan melayani nya dengan sangat baik. Begitu juga dengan Zoya dan Ezra yang selalu lengket saat bersama. Hubungan Rayyan dan Zahra juga semakin dekat. Mereka jarang sekali berdebat, yang ada adalah keromantisan mereka berdua.
Pagi itu di kamar Murad terjadi kehebohan yang disebabkan oleh Faza saat melihat suaminya tegak berdiri menjulang saat dia keluar dari kamar mandi. Untung saja kamar mereka ada peredam suaranya sehingga teriakan dan kehebohan yang diciptakan oleh Faza tidak sampai terdengar keluar.Faza melihat suaminya yang sedang bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek tengah memunggunginya.
Mata Faza berkaca-kaca saat melihat apa yang ada di depan matanya.
"Ka... kakak.... ka... kau sudah bisa berdiri. " tanya Faza dengan suara tergagap.
Mendengar suara istrinya yang sepertinya sudah keluar dari kamar mandi, Murad langsung berbalik dan merentangkan kedua tangannya. Melihat itu Faza langsung berlari dan berhambur memeluk suaminya itu. Murad langsung menggendong tubuh kecil Faza dan membawanya berputar-putar.
"Kakak...berhenti.. kepalaku pusing. "
Mendengar itu Murad langsung menghentikan gerakannya. Dia tetap menggendong Faza di depannya, dengan kaki Faza yang melingkar di pinggangnya dan bokongnya ditahan oleh kedua tangan Murad.
"Kakak sudah bisa berdiri? "
Murad mengangguk dan tersenyum.
"Apa kakak juga bisa berjalan? " tanya Faza lagi.
"Iya... bahkan aku bisa berlari dengan menggendongmu Faza, sayang. "
"Benarkah? Sejak kapan? "
"Sejak hari ini, saat aku berdiri di hadapanmu. " ujar Murad dengan senyuman penuh di bibirnya.
"Kakak.... " Pekik Faza lalu memberikan Murad ciuman bertubi-tubi di wajahnya.
Murad tertawa lantang saat melihat kelakuan Faza yang sudah di luar kendali.
"Hentikan Faza, aku belum mandi. "
Mendengar itu Faza langsung tertawa dan menghentikan ciumannya.
Murad langsung membawa Faza duduk di atas ranjang, masih dalam keadaan Faza yang melingkarkan kakinya di pinggang sang suami.
"Apa kau bahagia, melihatku seperti ini? " tanya Murad sambil merapikan rambut Faza kebelakangan telinganya.
"Iya... aku sangat... sangat... bahagia, kakak. Akhirnya suamiku bisa berdiri dan berjalan dengan normal. " ucap Faza lalu dia mengecup bibir Murad singkat dan memeluknya.
"Kakak...aku sangat mencintaimu. " lirih Faza di pelukan suaminya.
"Aku juga sangat mencintaimu Faza. Sangat... Aku sangat menyayangimu, Aku suka semua sifatmu yang menomor satukan aku daripada lainnya. " Murad langsung menyambar bibir Faza yang mungil dengan rakus. Seolah dia ingin memakan Faza saat ini juga.
"Kakak... Bukankah kita harus segera turun. Sebentar lagi sudah waktunya sarapan. " Ucapan Faza menghentikan aktifitas Murad yang sedang mencumbuinya.
"Faza jika aku keluar seperti ini, itu artinya aku harus mulai bekerja . Apa kau tidak apa-apa?'' tanya Murad yang ingin tahu respon dari Faza.
__ADS_1
" Iya aku mengerti. Nanti aku akan mengantarkan kakak makan Siang keperusahaan. " ujar Faza dengan mata berbinar.
"Baiklah kalau begitu, aku mandi dulu. Siapkan pakaian terbaikku istriku. "
"Baiklah suamiku. "
Mereka lalu tertawa bersama dan langsung menuju tujuan mereka masing-masing, Murad ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, Faza yang masuk ke walk in closet untuk mengambilkan pakaian terbaik untuk suaminya. Sebuah jam tangan mewah yang sudah lama tidak terpakai dan dasi yang sesuai dengan jas yang dia kenakan. Sepasang sepatu dan kaos kaki pun tidak luput dari persiapan yang Faza lakukan untuk suaminya. Beberapa saat kemudian Murad keluar kamar mandi, Faza masih tidak percaya kalau suaminya sudah bisa berdiri dan berjalan mendekatinya.
Faza lalu membantu mengeringkan rambut suaminya seperti biasa. Lalu dia juga membantu memakaikan pakaian kerja Murad. Dan terakhir yang dilakukan Faza adalah memakaikan dasi suaminya.
"Sudah siap , ayo kita segera turun. Aku ingin memamerkan suamiku kepada semua orang. " Faza lalu melingkarkan tangannya di lengan suaminya
"Kau senang sekali ya, melihat ku sembuh. "
"Iya tentu saja. Itu artinya aku sudah melakukan yang tebaik untuk suamiku, sehingga membuat suamiku sembuh dan bisa berjalan sekarang. " ujar Faza dengan penuh kebanggaan pada dirinya.
Mendengar itu Murad mengecup pucuk kepala Faza. "Iya kau memang yang terbaik, istriku. Kau sudah merawatku selama ini dengan baik. "
Murad dan Faza menuruni tangga, mereka tidak menaiki lift pagi itu, hingga suara langkah kaki mereka berdua terdengar oleh semua telinga yang berada di lantai bawah. Semua mata beralih memandang dua orang yang sedang menuruni anak tangga. Semua mata membulat saat melihat Murad dan Faza berjalan menuruni anak tangga.
Nisa langsung berjalan mendekati anak pertamanya itu. Dia tidak percaya kalau Murad sudah bisa berjalan dengan normal.
"Murad... anakku... ini benar kau, sayang. " Nisa langsung berjalan mendekati Murad dan langsung memeluknya.
"Iya mom, ini aku... aku sudah bisa berjalan sekarang. " Murad membalas pelukan mommynya. Faza yang melihat itupun sedikit menjauh dari Murad. Membiarkan anak dan ibu itu saling berpelukan.
"Sejak kapan kau bisa berjalan, sayang. "
"Melalui terapi dari dokter Evan akhirnya aku bisa berjalan dengan sempurna selama beberpaa minggu terakhir ini mom. "
"Syukurlah... ternyata tidak sia-sia daddymu membawa dokter Evan kemari. Sesuai ucapannya setelah satu bulan kau akan sembuh. Mommy mengingat ucapan dokter Evan yang itu. " kata Mommy Nisa dengan percaya diri.
Nisa lalu beralih memeluk Faza yang berdiri tak jauh darinya. "Terimakasih sayang, karena kepedulian mu kepada anakku Murad. Akhirnya dia bisa berjalan dengan normal kembali. "
"Sudah tugasku mom. " Ucap Faza membalas pelukan dari ibu mertuanya.
"Sudah, ayo kita sarapan dulu. " ujar Erhan yang mengajak semua orang untuk melakukan sarapan bersama.
"Tunggu , dad. Ada seorang lagi yang akan sarapn dengan kita. " kata Murad yang menginterupsi.
"Siapa Murad...? "
"Dokter Evan masuklah. " Murad memanggil dokter Evan yang sudah menunggu dari tadi karena dia harus segera melakukan sesuatu.
Semua orang mengernyitkan keningnya saat tau kalau dokter Evan yang akan bergabung dengan mereka. Karena selama ini, dokter Evan tidak pernah mau jika diajak bergabung untuk makan bersama dengan mereka.
"dokter, tumben. Ada apa gerangan, anda ikut bergabung bersama kami. Biasanya dia tidak mau. " celetuk Rayyan yabg merasa aneh dengan sikap dokter Evan yang terlihat cemas.
__ADS_1
"Anak saya kambuh lagi tuan Rayyan dan Monica sudah mulai mengancam saya lagi. Kalau dia akan menghentikan pengobatan anak saya. Jika saya tidak segera bertindak.
" Brengsek. " umpat Rayyan.
"Apa karena itu, kau menunjukkan dirimu seperti ini. Murad? " tanya Erhan yang sejak awal curiga kenapa anaknya menunjukkan kesembuhannya.
"Iya dad. Di antara aku dan Rayyan siapa yang lebih menarik perhatiannya. Aku ataukah Rayyan. Karena dia tidak akan tertarik dengan pria yang duduk di kursi roda. " ujar Murad serius.
Mendengar itu membuat Faza dan Zahra membulatkan matanya merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Murad.
"Kakak... jangan... " rengek Faza yabg bergelayut manja di lengan suaminya.
Begitu pula Zahra yang menarik lengan Rayyan. Seolah dia tidak terima kalau suaminya menjafi target dari Monica si ular betina itu.
"Kalian berdua tenanglah, Monica tidak akan bertindak lebih kepada suami kalian berdua. Karena Murad dan Rayyan bukanlah orang yang beriman cetek, yang membuang sebongkah berlian demi sebuah batu kerikil dijalan. " ujar Erhan memastikan kepada kedua menantunya itu.
"Benar sayang.... percayalah kepada mereka berdua. " Nisa juga memastikan kepada Faza dan Zahra.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? " tanya Erhan lagi.
"Hanya ada satu cara tuan. " dokter Evan angkat bicara lagi.
"Apa? katakanlah. "
"Aku harus memastikan kalau aku sudah masuk ke dalam keluarga ini. Dengan cara kita harus mengambil foto kebersamaan kita saat ini." ucap dokter Evan memastikan.
"Tuan Ezra maafkan aku aku harus meminjam Zoya untuk berfoto bersama, untuk meyakinkan Monica kalau aku sudah diterima dalam keluarga ini. " Dokter Evan meminta izin kepada pemilik Zoya.
"Bagaimana Ezra apa boleh? " tanya Zoya
Dengan penuh keraguan Ezra mengangguk. "Tapi fotonya jangan terlalu dekat, ya. "
"Iya kami hanya foto bersama saja di tengah keluarga ini. Dan tidak ada foto romantis." jelas dokter Evan.
"Baiklah, terserah kau saja. " ketus Ezra.
Akhirnya pengambilan foto pun dilakukan oleh seorang pelayan. Beberapa foto sudah di ambil begitu juga dengan wajah Murad dan wajah Rayyan yang sengaja ditunjukkan.
"Terima kasih, semua. dengan begini aku bisa memperpanjang usia anakku. Terimakasih semuanya." Dokter Evan mengucapkan terimakasih berkali-kali kepada keluarga ini.
"Tentu saja dokter Evan. Setelah dia pergi kita juga akan segera mengamankan anak dan istrimu. "
Evan tak henti hentinya mengucapkan terimakasih kepada semua orang yang berada di sana.
Murad langsung melihat pesan yang akan Evan kirimkan kepada Monkca dengan caption ,
"Mission Succes. " Melihat itu Murad dan dokter Evan langsung Menganggukkan kepala mereka berdua yang pasti sudan tau apa yang mereka berdua rencanakan.
__ADS_1