
Rayyan kembali ke perusahaan dengan wajah yang sangat kesal. Dan semua itu tak luput dari pandangan Ezra yang saat itu berada satu ruangan dengannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
"Kau kenapa? kenapa wajahmu seperti itu? seperti baju yang belum di setrika aja. Kusut amat. " celetuk Ezea pada sahabatnya itu.
"Ck... kau ini, bisa nggak sih kalau ngomong itu yang enak di denger sekali aja. " kata Rayyan yang semakin kesal karena Ezra makin mengejeknya.
"Enggak.... karena aku selalu bicara sesuai fakta. " kata Ezra dengan cueknya.
"Ini nih, yang membuat wanita nggak akan ada yang betah dekat dengan kamu. Cowok nggak peka dan nggak bisa merayu. Dasar. "
Ezra tidak memperdulilan ocehan Rayyan yang semakin kesana semakin kesini. Rayyan selalu mengomentari sikap cuek dan dinginnya itu yang akan membuat para wanita menjauh darinya.
"Aku tidak peduli dengan para wanita. Persetan dengan mereka. " ucap Ezra pada akhirnya setelah capek mendengar kan ocehan Rayyan yang tidak ada habisnya.
Ini yang tidak Ezra suka saat bekerja dengan Rayyan dia selalu cerewet dan banyak bicara tidak seperti Murad yang hanya bicara seperlunya saja. Tidak pernah bicara terlalu banyak dan selalu bicara pada intinya.
Mendengar ucapan Ezra membuat Rayyan mencebikkan bibirnya. 'Iya kau tidak akan peduli pada semua wanita, karena kau mencintai saudaraku. Cih dasar munafik. " gumam Rayyan sambil mulutnya komat-kamit nggak jelas.
"Eh, Ezra. Aku Jadi penasaran denganmu, apakah kamu ini belok? sehingga tidak suka sama wanita."
Sebuah ucapan tak berfilter dari Rayyan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ezra.
"Kau jangan asal bicara, Ray. Aku masih normal. Dan aku masih bisa menghamili adikmu. "
Skakmat. Ucapan Rayyan berhasil memancing kemarahan Ezra. Dan apa katanya tadi? menghamili adikku?
"Coba kau ulangi tadi? Apa? menghamili adikku? Zoya maksudmu? kenapa harus Zoya? kenapa bukan wanita lain? " Rayyan tersenyum mengejek kepada Ezra. Dan tentu saja itu membuat Ezra salah tingkah.
Kenapa juga yang harus dia jadikan perumpamaaan itu, Zoya. Bukan wanita lain, Sekretaris nya barang kali.
"Ah, sial. aku terjebak dengan ucapanku sendiri. " rutuk Ezra dalam hati.
"Kita ini sedang membahas apa sih, aku tadi hanya menanyakan apa yang terjadi pada wajahmu, kenapa jadi makin kemana-mana. " Ujar Ezra yang mengalihkan pembicaraan.
"Salahmu sendiri kenapa kau berdebat denganku, dan membuatku kesal. " Cibir Rayyan.
"Kau.... Sudah lah., tidak perlu dibahas lagi. nanti wajahmu akan semakin buruk rupa. " celetuk Ezra lagi tanpa perasaan.
"Kau.... Ah sial, kenapa aku tidak pernah bisa menang saat berdebat dengan gunung es. " gererutu Rayyan tapi masih bisa didengar Ezra.
Ezra mulai tidak membalas lagi semua ucapan Rayyan yang tak berfaedah. Karena itu juga akan memancingnya lagi seperti tadi.
"Ezra, berkas-berkas kerja sama dengan tuan Simon segera kau kembalikan saja. Aku tidak tertarik lagi bekerja sama dengannya. Tak perlu minta persetujuan daddy. Katakan saja pada daddy aku tidak mau bekerjasama dengannya. "
Sebuah kalimat panjang yang Rayyan ucap kan tanpa jeda, dan itu membuat Ezra melongo mendengar perintah dari Rayyan. Apa katanya tadi mengembalikan berkas kerja sama itu artinya membatalkan kerja sama yang belum di setujui. Bukankah kemarin dia yang menggebu-gebu ingin bekerja sama dengan Simon agar bisa mendekati anaknya.
"Kenapa? " Tanya Ezra yang mulai penasaran.
"Aku tidak mau bekerja sama dengan wanita yang sombong dan angkuh. " kata Rayyan tanpa menoleh ke arah Ezra.
__ADS_1
"Cih kemarin siapa yang meminta kerjasama itu segala agar cepat di setujui daddy Erhan. " kata Ezra dengan mencibir ucapan Rayyan.
Rayyan akan membalas Ezra, tapi urung dia lakukan karea mendengar ponsel Ezra berbunyi.
"Siapa? " tanya Rayyan yang penasaran dengan si penelepon.
"Mom, Nisa. "
"Mommy? kenapa mommy menghubungi Ezra? " batin Rayyan.
Ezra langsung mengangkat telponnya, dia tidak mau momny Nisa menunggunya terlalu lama
"Hallo,. Assalamu'alaikum. " Ezra
"Wa'alaikumsalam, Ezra nanti malam pulanglah cepat jangan lembur, kita makan malam bersama di mansion" Mommy
"Tumben mom? " Ezra.
"Adikmu, merindukan kalian. Datanglah, mommy juga sudah menghubungi papa dan mamamu. Bahkan Mommy menyuruh mereka menginap dimansion malam ini . Kau juga menginap ya. Kita habiskan malam ini bersama. Tidak ada penolakan. " Nisa langsung mematikan ponselnya tanpa mendengarkan jawaban dari Ezra
Ezra hanya bisa mendesah kasar dengan ulah ibu negara satu ini yang tidak bisa dibantah.
"Kenapa? " tanya Rayyan yang penasaran, kenapa mommy nya menghubungi Ezra bukan dirinya.
"Mommy menyuruh ku datang ke mansion untuk makan malam bersama papa dan mama. Katanya Faza merindukan kami. "
"Oh, " jawab Rayyan singkat dan mengingat sesuatu pagi ini.
" Hmmm... "
"Apakah orang yang sedang rindu bisa sampai sakit? " tanya Rayyan dengan rasa penasarannya.
"Apa maksudmu? " jawab Ezra tak mengerti.
Rayyan mengetuk-ngetuk pipinya dengan jarinya, seolah sedang berfikir.
"Tadi pagi, Kak Murad turun sendiri ke bawah tanpa Faza. Saat kami tanya dimana Faza, dia bilang Faza sedang tidak enak badan dan sedikit demam. " jelas Rayyan.
Mendengar hal itu, Ezra langsung melotot tak percaya, dan langsung berdiri.
"Mau kemana? "
"Kenapa kau tidak bilang kalau Faza sakit? " kata Ezra dengan kesal.
"Ck... Faza hanya demam. Mommy sudah panggil dokter keluarga tadi. Dia pasti akan baik-baik saja. Kalau mommy menyuruh mu datang ke rumah nanti, ya kita akan pulang bersama nanti, tak perlu khawatir berlebihan seperti itu. Lagipula kak Murad selalu ada di sampingnya. Dia pasti sudah lebih baik sekarang. Aku yakin itu. Jika tidak percaya kau bisa menghubungi nya, sekarang. Tak perlu panik seperti itu. "
Ezra langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi adik kesayangannya itu. Semua yang dikatakan Rayyan benar.
Panggilan pertama tidak di angkat, baru pada panggilan ke dua bisa terhubung dan itupun bukan Faza yang mengangkatnya, melainkan Murad.
__ADS_1
"Ada apa Ezra? "
"Tuan Muda, Faza dimana? " tanyanya dengan sedikit sungkan.
Ezra memang sangat segan kepada Murad. Selain menganggap nya kakak dia juga menganggap Murad atasan yang sangat luar biasa. Tapi dia lupa, kalau Murad sudah menikah dengan adiknya jadi otomatis Murad adalah adik iparnya.
"Faza? Dia sedang di kamar mandi. "
"Ada apa? "
"Katanya Faza sakit, apa benar? "
Mendengar pertanyaan Ezra sontak membuat Murad tersedak air yang sedang dia minum.
"Kata siapa? "
"Rayyan."
'Sial anak itu memang.' Murad merutuki adiknya yang bermulut ember itu.
"Dia sudah baikan Ezra. Nanti malam kau akan datang kaan? "
"Iya tuan. "
"Jangan panggil aku tuan, bagaimana pun sekarnag aku adik iparmu. Panggil namaku saja. " perintah Murad.
"Tapi, tu.... "
"Ezra.... "
"Baiklah, Murad. "
"Jangan katakan apapun pada Faza kalau kau akan kemari, ini akan menjadi kejutan untuknya. Karena dia semalam mengatakan padaku kalau dia merindukan papa dan mama. " Murad. menjelaskan kenapa mommy meminta mereka untuk datang ke mansion dan menginap malam ini.
"Baiklah kalau begitu. Tolong jaga adiku baik-baik, Murad. "
"Tentu saja dia istriku. "
Setelah panggilan ditutup, Ezra bisa bernafas lega. Karena benar kata Rayyan, Faza pasti baik-baik Faza keluarga Erhan tidak akan membiarkan Faza yang sedang sakit begitu saja. Apalagi dia bersama dengan orang yang sangat dia cintai dan mencitainya.
Ezra jadi merasa iri dengan adiknya itu yang bisa menikah dengan orang yang ia cintai. Bagaimana dengan dirinya nanti?
"Hei... kenapa malah melamun. " Rayyan melempar pena ke wajah Ezra karena dia melihat sahabatnya itu melamun.
"Sial, kau ini... "
"Ayo cepat selesaikan pekerjaan hari ini. Agar kita bisa segera pulang. "
Ezra membenarkan ucapan Rayyan. Dan merekapun mulai mengerjakan pekerjaan mereka dengan serius dan tanpa perdebatan tak berfaedah lagi.
__ADS_1
Bersambung.