Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Menagih Janji Masa Lalu


__ADS_3

"Jadi, kalau aku menginginkan sesuatu, apa papa dan mama juga mommy dan daddy akan mengabulkan permintaanku? " tanya Faza dengan antusias.


"Memangnya kamu mau apa Faza. Jangan berbelit-belit seperti ini. Katakan, sebenarnya kamu mau apa. " Kini Kemal yang bicara dengan ketegasan yang ia miliki. Karena sepertinya Faza terlalu bertele-tele dari tadi dan tidak mengatakan keinginannya langsung pada intinya.


"Mmmmm,... aku mau... aku mau.... " Faza tergagap karena tidak mampu menyampaikan keinginannya.


"Aku ingin menikahi Faza, Om. " Sebuah kalimat pertama yang diucapkan Murad setelah sekian lama terdiam. Dan membuat semua orang terkejut.


"Apa.... " pekik semua orang yang ada di sana bersamaan.


"Kamu serius, Nak? " tanya Nisa menghampiri anaknya itu.


Murad mengangguk.


"Apa kau yakin? " kini Alima yang bertanya.


Dan lagi-lagi Murad mengangguk.


"Murad, apa kau tidak bercanda? " ganti Erhan yang bertanya.


"Tidak dad. Aku memang ingin menikah dengan Faza. Tapi aku tidak tau, apakah om dan tante merestuiku untuk menikahi putri kecilnya, sedangkan keadaanku seperti ini saat ini. Aku tidak punya keberanian untuk meminta Faza secara langsung karena keadaanku yang tidak sempurna. " kata Murad menundukkan kepala.


"Hei, Tuan muda. Angkat kepalamu. Tidak pantas seorang tuan muda dari keluarga ini menundukkan kepalanya. Kamu harus selalu mengangkat kepalamu, bagaimanapun keadaanmu. " ujar Kemal yang tidak Suka melihat tuan mudanya menundukkan kepala.


Mendengar ucapan Kemal, Murad langsung mengangkat kepalanya, dan bersitatap dengan mata Kemal.


"Murad, kali ini aku bicara padamu bukan sebagai tuan mudaku, atau sebagai asisten daddymu. Tapi sebagai ayah dari gadis yang bernama Faza. Katakan padaku, Apa alasanmu ingin menikahi putriku? " Kemal memberikan pertanyaan sebagai seorang ayah untuk putri nya.


Murad menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Sepertinya sudah saatnya semua orang tau tentang persaannya pada gadis kecil itu.


"Karena aku mencintai Faza, Om, tante. " Jawabnya dengan mantap dan Membalas tatapan Kemal yang mematikan.


"Apa...? "


Lagi-lagi ucapan Murad membuat semua orang yang ada di sana merasa terkejut dan tidak percaya.


"Sejak kapan... sejak kapan kamu mencintai putriku. " tanya Kemal yang masih tidak percaya dengan ucapan Murad.


"Sejak Faza Baru lahir. " Katanya dengan mengalihkan pandangannya ke arah Faza.

__ADS_1


"Apa....? " lagi-lagi pernyataan Murad membuat semua orang merasa tercengang. Begitu juga dengan Faza yang merasa apa yang dikatakan Murad itu mustahil dan sulit dipercaya.


"Jangan bicara omong kosong, Murad. " Erhan merasa geram mendengar kata-kata terakhir Murad.


"Aku tidak bohong. Jika Faza mencintaiku sejak pertama dia mengenal pria tampan. Maka, aku sudah mencintai nya jauh sebelum dia dewasa. Aku mencintai nya sejak ia pertama kali lahir ke dunia. "


"Kakak, jangan bercanda. " Zoya ikut masuk ke dalam obrolan. Karena apa yang dikatakan kakaknya itu tidak masuk akal.


"Kenapa kalian tidak ada yang percaya padaku. "


"Karena semua itu mustahil Murad? " Kini Nisa yang bicara, karena dia juga tidak percaya dengan apa yang Murad katakan.


"Ezra... " Murad memanggil Ezra dengan lantang.


"Ada apa.. " Ezra menghampiri Murad dengan wajah datarnya. Karena dia tau apa yang akan Murad katakan padanya.


"Katakan kepada mereka, dan ingatkan kembali kepada mereka, Apa yang aku katakan saat pertama kali kita menjenguk baby Faza di rumah sakit. " perintah Murad kepada Ezra dengan wajah kesalnya, karena tidak ada satupun yang percaya padanya.


Benar dugaan Ezra. Murad pasti ingin dia mengatakannya dan mengingatkan semua orang tentang pernyataan Murad waktu itu.


"Murad kecil bilang padaku, ' Ezra berbagilah adikmu denganku. Aku juga pengen punya adik Bayi. " kata Ezra dengan wajah datarnya.


Mendengar ucapan Ezra semua memory mereka ditarik mundur pada kejadian sembilan belas tahun yang lalu saat Faza baru dilahirkan.


Flash back


"Ezra berbagilah adikmu denganku, Aku juga pengen punya adik bayi. "


Ucapan Murad waktu itu membuat semua orang tercengang.


Setelah nya, dia menghadap kepada Alima dan Kemal. Lalu mengatakan,


"Om, tante jika baby Faza sudah dewasa. Bolehkah aku menikahi nya? "


"Tentu saja, sayang. Apa kau menyukai Baby Faza?" tanya Alima waktu itu, yang dianggap sebuah lelucon anak kecil.


Murad mengangguk dengan pasti, "Aku sangat menyukai baby Faza. Aku juga ingin memilikinya. "


Ucapan Murad saat itu hanya dianggap sebagai ucapan seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Karena usia Murad saat itu masih enam tahun. Dan mereka menganggap ucapan nya hanyaa sebagai lelucon.

__ADS_1


Flash back off


Setelah mengingat semua itu, Nisa dan Alima menutup mulutnya tak percaya. Sedangkan Erhan dan Kemal menggelengkan kepalanya juga tak percaya dengan apa yang ada diingatan mereka. Zoya dan Rayyan yang berusaha mengingat waktu itupun hanya bisa menepuk kepalanya.


"Murad apa kata-katamu dulu itu serius? " tanya Erhan pada akhirnya.


"Tentu saja, apa kalian pikir ucapan anak berusia enam tahun tidak dapat dipercaya? " kata Erhan dengan memalingkan wajahnya karena kesal.


Semua orang menghembuskan nafasnya kasar.


"Sekarang aku ingin menagih janji om dan tante yang akan menikahkan aku dengam Faza jika dia sudah dewasa. "


"Tapi nak... " Alima ingin mengatakan sesuatu namun tidak dapat ia lanjutkan setelah dipotong oleh Murad.


"Jika kalian tidak mau menikahkan aku dengan Faza tidak apa-apa. Aku tau, keadaanku saat ini tidak layak untuk Faza. Aku permisi. " Murad langsung menjalankan kursi rodanya menuju Lift untuk kembali ke kamarnya.


Baginya, sudah cukup hari ini dia menyatakan perasaannya pada Faza selama ini. Jika mereka tidak merestuinya, Murad juga tidak apa-apa, karena dia sadar diri akan kekurangannya saat ini. Yang penting semua orang sudah tau perasaan nya.


Semua orang menatap nanar ke arah Murad, Karena mereka tau Murad pasti merasa kecewa. Tapi bukan maksud Kemal dan Alima mengecewakan Murad, Mereka hanya ingin mendengar pernyataan Faza dulu, dan membiarkan Faza yang memutuskan. Karena ini menyangkut masa depan Faza. Tapi Murad terlalu mengambil hati perkataannya yang belum selesai


"Kakak. Tunggu. " Faza berteriak mengejar Murad yang hendak memasuki lift, dia langsung bersimpuh lagi didepan Murad seperti sebelum nya.


"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi. Kita akan melewati ini bersama. Aku akan menerima kakak bagaimanapun keadaan kakak. Aku akan tetap mencintai kakak. Tidak akan ada yang bisa menggoyahkan cintaku pada kakak meski papa dan mama sekalipun. Jika mama dan papa tidak merestui kita, kita bisa kawin lari. kita pergi jauh dari sini, Aku tidak peduli. " Faza menangis di pangkuan Murad yang duduk di kursi rodanya


Mendengar kata kawin lari Kemal dan Alima merasa tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Sedangkan Erhan dan Nisa saling berpelukan melihat cinta mereka berdua.


Zoya juga menangis di pelukan saudara kembarnya. Ingin sekali Ezra menggantikan posisi Rayyam saat itu. Tapi siapalah Ezra bagi Zoya. Ia hanya bisa memandang nanar setiap pasangan yang sedang melihat drama cinta antara adiknya dan tuan mudanya.


"Jadi apa benar, kakak sudah mencintaiku sejak aku bayi? " Faza mendongakkan kepalanya melihat kearah Murad.


Murad memberikan senyum hangat kepada Faza dan mengangguk. "Iya, aku mencintaimu. Jauh sebelum kamu mencintaiku. "


"Kalau kakak mencintaiku, kenapa dulu kakak sering bergonta ganti pacar? " Tanya Faza dengan bibir mengerucut kesal.


"Wajar Faza, aku terlalu lama menunggumu peka dengan perasaan ku, tapi kamu nggak peka-peka karena masih bocah. " ujar Murad dengan terkekeh.


"Kakak." Faza menidurkan kembali kepalanya di paha Murad.


Murad mengusap lembut kepala Faza yang saat ini sudah tertutup hijab sempurna.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Faza, sangat mencintaimu. "


Bersambung.


__ADS_2