
Hari berganti dan waktu berlalu begitu cepat , tak terasa kehamilah Zahra dan Zoya sudah memasuki bukan ke tujuh. Banyak drama yang dilakukan oleh kedua ibu hamil itu selama masa kehamilannya ini. Zoya yang semakin manja kepada suaminya dan selalu minta yang aneh-aneh kepada suaminya itu. Namun Ezra dengan senang hati memberikan apa yang diinginkan istrinya itu, karena pantang bagi Ezra untuk tidak memenuhi keinginan istrinya yang sedang hamil. Zoya adalah prioritas utama bagi dirinya, yang keinginnnya harus bisa ia penuhi.
Lain Zoya maka lain pula Zahra.
Zahra yang selama kehamilannya memang disarankan istirahat total oleh dokter, mendapatkan perhatian lebih dari semua orang di mansion itu. Karena semua orang ingin memberikan yang terbaik untuk Zahra. Meskipun harus bedrest, tapi dia tidak pernah merasa kesepian karena triplet dan Rafa selalu menghiburnya.
Di jam-jam senggang, Faza selalu membawa anak-anaknya itu untuk menemui mom Zahranya. Dia berusaha menghibur Zahra agar tidak bosan berada di dalam kamar. Dan disaaat Zahra akan istirahat, Faza akan mengajak ke tiga anaknya untuk kembali ke kamarnya.
Zahra sangat bersyukur, karena semua orang di rumah ini sangat menyayanginya. Dan memberikan yang terbaik untuknya dan calon bayinya.
Hari ini, Semua orang sedang berkumpul di ruang tengah, termasuk Zoya dan Zahra. Karena mereka akan memilih pakaian baru untuk bayi-bayi mereka. Sengaja Rayyan dan Ezra datangkan satu toko perlengkapan bayi di mansion, karena mereka berdua tidak ingin istri mereka Berkeliling memilih dan memilah pakaian bayi atau perlengkapan bayi mereka.
Mereka menjadikan Murad sebagai kiblat trend mereka, jika bisa mendatangkan satu toko kerumah, untuk apa kita datang dan berkeliling dari satu toko ke toko lainnya.
Hampir setengah hari mereka berdua memilih pakaian bayi untuk calon anak-anak mereka. Faza tak mau ketinggalan, dengan cekatan dia juga ikut memilih pakaian yang agak besar untuk ketiga anaknya.
"Wah, pakaiannya bagus-bagus. Apalagi pakaian anak perempuannya untuk Zia, sangat cantik. Benar kan kak Zoya." mata Faza berbinar saat melihat pakaian anak wanitanya.
Zoya mengangguk
Dia juga sangat antusias memilih pakaian bayi perempuan, karena dia dan Ezra sudah memastikan beberapa hari lalu kedua anak mereka adalah twins princess. Sedangkan Rayyan dan Zahra yang ikut memeriksakan keadaan bayinya mengetahui kalau bayi mereka kembar sepasang Laki-laki dan perempuan.
Kebahagiaan itu sangat Zahra dan Rayyan rasakan karena langsung memiliki kembar sepasang. Ah, tak perlu hamil dua kali, jika hamil satu kali saja sudah langsung mendapatkan sepasang.
"Aduh... " Rintihan kecil itu, tiba-tiba keluar dari mulut Zahra.
"Kenapa, kak? " tanya Faza yang berada disamping Zahra.
"Perutku tiba-tiba sakit, Faza. Bisa minta tolong panggilkan Rayyan? " pinta Zahra..
"I... iya..."
Faza menyerahkan bayinya kepada pengasuhnya. Dia lalu berlari memanggil Rayyan yang berada di teras depan bersama Suaminya dan kakaknya. Karen mereka fikir, sudah selesai memilih pakaian untuk anak-anak mereka, mereka bertiga bisa bersantai. Tapi baru saja bersantai, terdengar teriakan Faza yang memanggil Rayyan.
"Kak Rayyan, cepatlah. Kak Zahra kesakitan. "
Mendengar itu Rayyan langsung bangkit dan berlari masuk ke dalam mencari istrinya. Dilihatnya istrinya sudah dikerubungi mommy Nisa, Alima dan Zoya. Sedangkan anak-anak mereka diberikan kepada babby sitternya.
"Zahra kenapa? " Tanya Rayyan dengan panik.
__ADS_1
Semua orang membuka jalan untuk Rayyan agar mendekati istrinya.
"Kamu kenapa?" tanya Rayyan dengan lembut kepada istrinya.
Zahra menggeleng karena menahan rasa sakit. Namun setelah rasa sakitnya hilang, dia baru bisa bersuara.
"Perut dan punggungku sakit sekali, Ray. " kata Zahra dengan air mata yang sudah berlinang
"Ray, sepertinya Zahra akan melahirkan. Segera bawa dia ke rumah sakit. Mommy akan menyusul nanti bersama daddy. Mommy akan menyiapkan keperluan Zahra dan bayi kalian dulu. "
"I... iya, mom. "
"Bawa sopir saja, jangan mengemudi sendiri dalam keadaan panik. " teriak Nisa saat melihat Wajah Rayyan yang sangat panik.
"Iya mom. "
Rayyan langsung menggendong Zahra keluar dari mansion. Untung saja Murad cekatan dan sudah menyiapkan mobil dan sopir untuk membawa Zahra ke rumah sakit.
Nisa juga bersiap, Dia meminta Murad untuk membangunkan daddynya yang sedang tidur siang. Sedangkan Ezra menyiapkan mobil yang akan dibawa mommy dan daddynya. Keadaan yang semula, penuh kebahagiaan berubah panik saat Zahra mengalami kontraksi dadakan.
Nisa dan Erhan segera menyusul Rayyan dan Zahra. Tak Lupa dia menghubungi Simon agar datang ke rumah sakit. Karena Zahra mengalami kontraksi.
Rayyan dan Zahra sudah berada di rumah sakit. Zahra segera mendapatkan penanganan, karena memang tubuhnya lemah saat hamil ini. Jadi, dia harus segera mendapatkan penanganan. Selang infus sudah di pasang. Dokter sudah mengecek pembukaan pada jalan lahir, tapi ternyata Masih belum ada pembukaan.
Kemudian Dokter segera melakukan USG kepada Zahra. Kepala dokter menggeleng.
"Kenapa dokter? " tanya Rayyan panik saat melihat ekspreai dokter.
"Bayi-bayi anda sehat semua,tuan. Namun Posisi bayi tidak tepat pada tempatnya. Mungkin karena itu, nona Zahra merasakan kesakitan. "
"Lalu bagaimana dokter? "
"Jika anda mau mengeluarkan bayi anda sekarang, kita bisa melakukannya dengan jalan operasi. Karena keadaan nona Zahra memang tidak stabil. Di keluarkan sekarang atau satu bulan lagi, menurut saya sama saja. Jika dikeluarkan sekarang itu bisa mengurangi beban nona Zahra. Dan resikonya yang kita ambil tidak terlalu banyak."
"Lakukan saja dokter. Lakukan yang terbaik untuk anak dan istriku. " ujar Rayyan pada akhirnya.
Disaat seperti ini Rayyan harus mengambil langkah cepat agar keadaan anak dan istrinya bisa terselamatkan.
"Baik tuan, Kalau begitu anda harus menandatangani berkas persetujuan untuk tindakan operasi istri anda."
__ADS_1
Dengan cepat Rayyan menandatangani berkas itu setelah membaca isinya.
"Dokter, apa aku boleh ikut masuk ke dalam ruangan menemani istriku? "
"Tentu saja tuan. Sepertinya nona Zahra membutuhkan kehadiran anda selama proses operasi berlangsung. "
"Terima kasih dokter. "
Dokter meninggalkan Rayyan sendirian disana karena dia harus melakukan persiapan operasi Zahra. Tak lama berselang, Nisa dan Erhan datang dengan langkah lebar menemui anaknya itu.
"Bagaimana Zahra? "
Rayyan langsung memeluk mommynya itu, meminta kekuatan dari pelukan itu.
"Tenanglah sayang, Zahra dan anak kalian akan baik-baik saja. Sekarang ceritakan pada mommy, apa yang terjadi. "
Rayyan melepaskan pelukannya dan menceritakan apa yang terjadi pada kandungan Zahra. Nisa menutup mulutnya karena baru pada kandungan Zahra anak-anak mereka tidak pada posisinya.
"Jadi, dokter akan melakukan operasi, prosesnya sekarang atau nanti sama saja kata dokter. Jika kita melakukan tindakan sekarang, resikonya lebih kecil mengingat keadaan Zahra yang kurang baik selama kehamilan. " jelas Rayyan.
"Ya... tidak apa-apa, keputusanmu sudah benar, sayang. Sekarang atau nanti sama saja. Lagi pula bayi kembar di usia tujuh bulan sudah siap untuk dilahirkan. " ujar Nisa menenangkan anaknya itu.
Rayyan dipanggil perawat untuk ikut masuk ke dalam ruangan operasi sesuai keinginannya untuk menemani Zahra, karena Zahra pasti membutuhkan dukungannya. Dia segera dipakaikan pelindung diri agar terbebas dari virus, kuman dan bakteri saat masuk ke dalam ruangan operasi yang steril. Dan dokter segera melakukan tugasnya.
Diluar ruangan Nisa dan Erhan menunggu dengan tak tenang. Tak lama terlihat seorang pria tua datang dengan lari tergopoh-gopoh mendekati mereka berdua.
"Bagaimana keadaan Zahra,Tuan? " tanya Simon kepada besannya itu.
"Zahra masih di operasi tuan. Doakan saja yang terbaik untuk Zahra dan anak-anak nya. " jawab Erhan.
Simon terduduk lemah di kursi tunggu. Kali ini dia datang ditemani asisten Mark, yang sedang libur bekerja. Tak kuasa dia meneteskan air mata berharap yang terbaik untuk anak dan cucunya. Dan kejadian masa lalunya tidak terjadi kepada anaknya. Rupanya trauma masa lalu Simon masih menghantuinya sampai saat ini.
Di mansion.
Tepatnya di kamar Zoya dan Ezra. Pasangan suami istri itu sedang berada di atas tempat tidur bersama anak pertamanya Rafa, sambil membicarakan Keadaan Zahra yang saat ini sedang mengalami penanganan.
Namun tiba-tiba Zoya merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.
"Ezra... apakah kontraksi itu menular? ' tanya Zoya kepada suaminya.
__ADS_1
"Maksudmu? "