
Setelah membicarakan rencana resepsi mereka kini, para pria membawa pasangan mereka masing-masing masuk ke dalam kamar. Rayyan dan Zahra yang memutuskan tidak naik duluan pun berbalik arah menuju dapur. Karena Rayyan ingin memakan bakso yang disiapkan mommy untuknya dan Zahra.
"Kita makan dulu ya, aku ingin sekali makan bakso, karena sudah lama dirumah ini tidak masak bakso. "
"Aku temani saja ya, nanti kalau aku makan terlalu malam aku bisa gendut, Ray. " protes Zahra karena Rayyan terus saja memaksanya makan.
"Sedikit saja. Kalau kau sudah tau rasanya kau pasti akan suka. " Rayyan menyuapkan satu suapan pentol bakso ke mulut Zahra.
Dan Zahra langsung terbelalak merasakan enaknya olahan daging yang berbentuk bulat itu.
"Bagaimana enakkan? Masakan dari negara mommy ku memang enak-enak. Kau harus belajar masak masakan Indonesia. Dan kau bisa jual di restomu nanti. "
"Baiklah, demi suamiku yang menyukai masakaan indo, aku akan belajar. "
Mereka berdua menikmati makanan itu, tanpa memperdulikan lagi berapa kalori dan lemak yang masuk ke dalam tubuh mereka. Mereka hanya merasakan enak saja.
Mommy Nisa dan Erhan yang hendak masuk kedalam kamarnya, terhenti saat mendengar keributan di meja makan. Mereka berdua melihat kesana, ternyata ada pasangan Rayyan dan Zahra di sana. Nisa langsung menyuruh suaminya untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu, karena dia ingin berbicara kepada Rayyan dan Zahra.
Nisa mendekati mereka dan duduk dihadapan mereka berdua. Rayyan dan Zahra langsung menghentikan makannya dan menatap mommy Nisa.
"Ada apa, mom. " tanya Rayyan.
"Mommy ingin bicara kepada kalian berdua terutama Zahra. "
Zahra yang namanya di sebut pun langsung mendongak dan menatap ibu mertuanya itu.
"Ada apa, mom?" giliran Zahra yang bertanya.
Sebelum berbicara Nisa mengulas senyumnya terlebih dahulu. Agar tidak terjadi kecanggungan antara mereka berdua.
"Zahra, mommy ingin meminta tolong sama kamu. "
Zahra dan Rayyan saling bertatapan tidak mengerti maksud mommy nya. Mau meminta tolong? meminta tolong apa?
"Meminta tolong apa, mom? " Rayyan yang bertanya karena penasaran.
"Mommy mau minta tolong, mempersiapkan pesta pernikahan kalian. Mommy ingin Zahra ikut membantu mommy dalam persiapan acara itu. "
Rayyan dan Zahra saling bertatapan lagi.
"Mommy ingin, Zahra ikut membantu mommy selain dengan Alima. Karena mungkin dengan mendengarkan pendapat orang yang lebih muda akan lebih baik. " Kata Nisa menjelaskan.
__ADS_1
"Maaf, bukannya mommy tidak meminta Faza atau Zoya yang membantu tapi kalian tahu sendirikan, kalau Faza dan Zoya sedang hamil. Karena itu, mommy meminta tolong kepada Zahra yang belum hamil. "
Mendengar kata belum hamil, Zahra langsung menunduk.
Nisa jadi merasa bersalah. Bukan maksud hatinya mengungkit masalah itu, tapi karena ini sangat terpaksa. Dia harus memberikan alasan kepada Zahra tentang dia yang meminta tolong kepada Zahra.
Nisa langsung menghampiri Zahra dan memeluknya.
"Maafkan mommy, sayang. Bukan maksud momny mengatakan hal ini. Bukan maksud momny membedakan kalian, tidak sama sekali. Kau tahu kan kalau Zoya harus istirahat sampai kandungannya di rasa kuat. Dan Faza, sedang hamil tiga. Jadi, dia sering merasa lelah. Karena itu mommy meminta bantuanmu."
Zahra mengangguk mengerti di dalam pelukan mommy mertuanya itu.
"Kamu jangan berkecil hati, kalau belum bisa hamil saat ini. Mungkin suatu hari nanti, entah beberapa bulan lagi, atau satu dua tahun kemudian. Tidak apa-apa, mommy dan daddy juga semua orang yang ada di sini tidak akan pernah memaksamu atau bahkan mengucilkanmu. Karena kita semua keluarga. "
"Mommy sengaja meminta bantuanmu karena mommy ingin lebih dekat dengan menantu mommy yang satu ini, karena kita jarang sekali berkomunikasi. Kau selalu sibuk kerja, kita hanya bertemu saat sarapan dan makan malam. Sedangkan dengan Faza,dia itu sudah seperti anak kami sendiri, karena dia memang sering datang dan bermain di mansion ini. " Nisa menyampaikan alasannya kenapa meminta bantuan Zahra.
"Kita akan bersenang-senang Zahra... memilih cincin pernikahan, untuk kalian berdua. Bukankah Rayyan belum memberikan cincin pernikahan untukmu? "
Zahra mengangguk dan tersenyum di dalam pelukan ibu mertuanya. Sedangkan mommy Nisa melotot ke arah Rayyan saat ingat hal itu. Dan Rayyan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena dia juga lupa akan hal itu.
"Baiklah, Mulai besok kita akan bersenang-senang, Zahra. Kita berdua dibantu dengan Alima akan mempersiapkan pesta pernikahan yang spektakuler untuk ketiga pewaris keluarga Khan. Mulai memilih cincin, gaun pengantin dekorasi dan konsep pernikahan yang kalian inginkan. memilih undangan dan souvenir. Kita akan melakukannya bersama, tapi juga harus meminta persetujuan Zoya dan Faza. "
Zahra melepaskan pelukannya dan menatap sang mommy mertua.
"Jika mommy membutuhkan aku, maka katakanlah. Aku akan libur bekerja untuk membantu mommy. "
Nisa mengusap lembut kepala Zahra dengan rambut indahnya. "Baguslah kalau begitu, sayang. Mommy bahagia mendengarnya. "
"Kalau begitu, segera selesaikan makan kalian. Dan beristirahatlah. "
"Iya moom. "
Zahra dan Rayyan menyahut bersamaan, kemudian mommy Nisa segera pergi dari sana dan menyusul suaminya ke dalam kamar.
Rayyan dan Zahra tersenyum dan berpelukan setelah mendengarkan semua ucapan sang mommy.
"Kini kau bisa tenang kan? Bahkan momny dan daddy tidak mempermasalahkan masalah keturunan. Mereka akan menunggu datangnya anak-anakku, berkembang di sini, tanpa harus menuntut nya. " tunjuk Rayyan dengan mengusap perut istrinya.
Setelah mereka selesai , dengan acara makan baksonya . Mereka berdua lalu bergegas naik ke kamarnya .
Di dalam kamar , Zahra mulai bertanya kepada Rayyan . Menanyakan kepada suaminya itu tentang Bagaimana sikap dan sifat seorang mommy Nisa.
__ADS_1
"Mommy itu orang yang sangat baik, lembut, Dia adalah orang yang bijak sama seperti Daddy. Kau tidak perlu penasaran Seperti apa mommyku sebenarnya. Bagi kami Mommy adalah seorang malaikat tak bersayap yang selalu menjaga kami semua dalam naungannya. Kau sedikit banyak pasti sudah merasakan kepedulian mommy kepadamu. "
Zahra menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang sudah Rayyan katakan.
"Jadi, saat aku hanya pergi berdua dengan mommy, semuanya pasti aman terkendali kan?!"
"Aman, Mommy tau apa yang harus dia lakukan dan katakan kepada istri anaknya ini. " Rayyan mencubit gemas hidung Zahra. Tempat favoritnya saat gemas dengan istrinya.
"Beristirahatlah.. Mungkin besok akan menjadi hari yang sibuk untukmu. Jika benar mommy akan mengajakmu berkeliling besok. "
Zahra langsung memeluk suaminya dan menelusupkan kepalanya di dada bidang suaminya yang dihiasi bulu-bulu halus. Menghirup aroma menenangkan yang sangat disukai Zahra.
"Ray... "
"Hmmm.... "
"Aku mencintaimu. "
"Aku tahu. " jawab Rayyan dengan cueknya, dan itu membuat Zahra tidak suka.
"Ray... "
"Hmmm.... " Rayyan mencoba menggoda Zahra dengan tidak memperdulikannya.
"Ray... "
"Apa? "
Zahra tidak suka dengan Rayyan yang mengabaikannya seperti ini. Dia langsung langsung beranjak dan manaiki tubuh Rayyan.
"Jangan abaikan aku, Rayyan... "
Zahra mulai menggoda suaminya dengan menggerakkan tubuhnya saat berada di atas paha Rayyan.
"Kau nakal sekali, Zahra... "
Rayyan kemudian bangkit dan duduk, dia lalu menahan tengkuk leher Zahra dan memberikan ciuman panas kepadanya. Godaan yang mereka lakukan berdua berubah menjadi kegiatan panas malam itu. Dengan Zahra yang mendominasi permainan.
"Lain kali jangan mengabaikanku lagi, Rayyan. " ucap Zahra dengan nafas terengah.
"Baiklah... aku tidak akan mengabaikanmu lagi. Sekarang ayo kita tidur. Perutku terlalu kenyang malam ini, sayang. Jadi aku tidak bisa membalasmu."
__ADS_1
Zahra tersenyum penuh kemenangan karena dia berhasil mengalahkan suaminya malam ini. Tidak seperti malam sebelumnya yang selalu kalah dengan permainan suaminya itu.