
Setelah mendengarkan keputusan dari Erhan semua orang kembali ke tempat mereka masing-masing. Tinggal menunggu pergerakan Monica saja, mereka juga akan bergerak. Sesuai arahan dari Murad atau Erhan.
Di ruangannya terlihat Faza yang sedang menekuk bibirnya ,dan dengan wajah yang sangat kesal . Murad tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya itu , dia Lalu mendekat dan memeluk Faza dari belakang .
"Kamu kenapa ? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu ?" tanya Murad kepada istrinya yang sepertinya sangat kesal.
"Sejak tadi aku diam , dan mendengarkan apa yang kalian bicarakan .Aku tidak menyangka kalau yang menjadi incaran wanita itu adalah suamiku . Aku tidak rela kakak , kalau wanita itu mendekatimu ." Faza berbalik dan berhadapan dengan suaminya, dia lalu memeluk Murad dengan erat.
"Tenang saja , sayang . Semua akan baik-baik saja . Kita akan segera mengatasi wanita ular itu . Dan kembali hidup dengan tenang seperti dulu. "
Mereka saling berpelukan untuk mengungkapkan perasaan yang tak biasa . Terutama Faza , yang sangat merasa tidak tenang setelah mendengar nama Monica disebut , dan sedang mengincar suaminya . Faza benar-benar merasa tidak nyaman , dengan hal ini .
"Kamu sebaiknya istirahat saja ,aku akan melanjutkan pekerjaanku . Setelah pekerjaanku selesai , kita akan belanja dan membeli susu hamil untukmu, dan membeli apapun yang kau suka ." ujar Murad saat melepaskan pelukan istrinya .
Mendengar kata belanja , Faza merasa senang . Karena selama ini dia belum pernah sama sekali , belanja dengan suaminya itu karena keadaan Murad yang belum bisa berjalan waktu itu . Dan pada akhirnya sekarang , dia bisa jalan-jalan dan belanja dengan suaminya .
Faza langsung mematuhi ucapan suaminya itu , dia langsung menuju kamar pribadi suaminya yang berada di dalam kantor , dan memutar televisi di sana agar dia tidak merasa jenuh . Sedangkan Murad , dia menuju meja kerjanya dan mulai membuka berkas-berkas yang harus dia periksa .
Erhan, Kemal dan Evan segera kembali ke mansion untuk menceritakan rencana mereka kepada istri mereka. Evan hanya diam tak bergeming, dia sedang memikirkan apa yang sedang di lakukan anak dan istrinya di Jerman sana. Rasa rindu sudah menyeruak di hati Evan, Dia ingin semua ini segera berlalu dan dia bisa segera berkumpul bersama anak istrinya.
Ponsel Evan bergetar, dia segera melihat siapa yang sudah mengiriminya pesan.
"Kakakku, sayang. Aku ingin bertemu denganmu malam ini. Sudah lama kita tidak bertemu, Tidakkah kau merindukanku? "
Evan menghela nafasnya kasar, dan perbuatannya itu, langsung menyita perhatian Kemal yang berada di sampingnya.
"Kau kenapa? "
__ADS_1
"Monica menghubungiku, tuan. Dia mengajakku bertemu ." Ucap dokter Evan dengan kesal.
"Temui saja dia , dan lihat apa maunya . Sama bawa saja sebuah alat perekam nanti, agar kami bisa mendengarkan percakapan kalian . Aku juga akan memerintahkan beberapa orang , untuk mengawasi ." kata Erhan dengan santai .
Evan mengangguk mengerti , dan dia langsung membalas pesan dari Monica.
"Katakan kita bertemu Kapan dan di mana ?"
"Di restoran xx di jam makan malam. Tepatnya pukul tujuh malam . Aku ingin makan malam dengan kakakku tersayang. "
Setelah mendapatkan balasan dari Monica , Evan kembali menatap jalanan dengan pikirannya sendiri . Dia sedang memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini , dan apa yang akan dilakukan wanita ular itu .
"Tuan, Mungkin setelah aku bertemu dengan Monica , Aku tidak akan kembali ke mension kalian . Karena aku takut , Monica akan mengikutiku . Dan jika dia tahu aku berada di mension kalian , dia akan curiga kepadaku . Dan rencana kita akan berantakan ." kata Evan yang mengungkapkan kekhawatirannya .
Erhan dan Kemal mengerti , dan benar apa yang dikatakan Evan barusan . Jika Monica tahu Evan tinggal bersama mereka , mungkin saja Monica akan curiga kepada Evan . Dan semua rencananya akan berantakan .
Tak terasa mobil yang mereka kendarai telah sampai di halaman mansion Erhan, Kemal dan Evan , segera masuk ke dalam mansion. Di dalam mention , terlihat Nisa dan Alima sedang bercengkrama di depan televisi.
Nisa yang melihat kedatangan suaminya langsung berdiri dan menyambut suaminya itu.
"Kau sudah pulang sayang. " ucap Nisa dipelukan suaminya .
Erham mengangguk , "seperti yang kau lihat sayang ."
"Katakan apa saja yang terjadi di kantor ." Tanya Nisa tak sabaran kepada suaminya yang akan duduk .
"Aku dan Kemal akan pergi ke Jerman . Di sana Aku akan menangani Shofi , agar dia tidak berulah lagi ." kata Erhan kemudian.
__ADS_1
"Apa aku boleh ikut ?" Tanya Nisa kepada suaminya .
"Jangan , karena ini sangat berbahaya . Lebih baik kau di mension saja , dan temani Faza karena dia sedang hamil cucu kita saat ini . Dan kau Alima , sebaiknya kau tinggal bersama kami selama aku dan Kemal pergi ke Jerman . Agar kita bisa saling menjaga satu sama lain . Dan kau bisa mengawasi Faza ."
"Iya Erhan benar , selama kepergian kami sebaiknya kamu tetap tinggal di sini, sayang . Kamu tahu kan bagaimana sifat Putri kecilmu itu . Dia sangat keras kepala , Bahkan dia memaksa ikut pembicaraan tadi walaupun kepalanya sakit ." Kemal menjelaskan bagaimana ulah anaknya itu tadi.
"Lalu apa yang terjadi pada Faza ?" tanya Alima khawatir.
"Murad langsung memberinya makanan , agar perut Faza terisi . Mungkin karena tidak makan dia jadi sakit kepala , karena kekurangan nutrisi dalam tubuhnya ." Kemal menjelaskan keadaan Faza tadi kepada istrinya .
"Terkadang aku sangat bersyukur Putri kita yang manja , bisa mendapatkan seorang suami yang sangat perhatian dan sangat menyayanginya . Dan aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua , karena sudah menganggap anakku sebagai Putri kalian sendiri ." ujar Kemal dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hei kenapa kau berkata seperti itu , Faza memang putri kami sejak bayi . Karena aku juga sangat menyayanginya jadi Sudah sepantasnya , aku menganggap Faza sebagai anakku sendiri ." kata Erhan , yang mengerti perasaan sahabatnya itu .
"Mulai saat ini kau tidak perlu mengkhawatirkan Faza , karena dia akan aman dan tenang berada di dalam keluarga kami. Apalagi Murad sangat mencintainya. Dan kami tidak membedakan antara menantu satu dengan yang lainnya ." Nisa mulai ikut angkat bicara.
"Lihatlah Zahra , walaupun penampilannya belum tertutup tapi kami tidak mengasingkannya , dan tetap menganggapnya anak kami sendiri . Aku sudah menasehatinya . Dan Rayan mengatakan padaku , biarkan semuanya berjalan sesuai proses . Dia Ingin menutup dirinya nanti bukan karena perintah manusia , tapi karena dia benar-benar menjalankannya karena Tuhan . Dan aku menghargai itu . "
"Jadi di mension ini , Kami menganggap semuanya adalah anak kami , termasuk Ezra yang menjadi satu-satunya menantu pria di sini."
"Terima kasih Erhan Nisa. "
"Sudahlah... "
"Jadi kapan kau akan berangkat ke Jerman sayang? " tanya Nisa kembali ke topik utama.
"Lebih cepat lebih baik. Mungkin besok, karena aku harus menghubungi Max terlebih dulu. "
__ADS_1