
"Mom... " Rayyan memanggil mommy nya dengan hati-hati.
Nisa yang dipanggil pun menoleh ke asal suara.
"Ada apa, Ray? "
"Mommy nggak terkejut gitu saat Kakak sadar? " sebuah pertanyaan dari Rayyan yang di angguki oleh Erhan dan Zoya.
Nisa kembali menoleh ke arah Murad lalu tersenyum dan menggenggam tangan Murad.
"Mommy adalah orang pertama yang paling bahagia melihat Murad sadar. Orang pertama yang menangis bahagia saat dia membuka mata." Kata Nisa sambil menaruh tangan Murad di pipinya.
"Benar kan sayang? " tanya nya kemudian.
Murad mengangguk dan tersenyum.
Mereka bertiga semakin tidak mengerti dengan maksud perkataan mommy Nisa ini.
"Maksud mommy ini apaam sih? bisa jelasin nggak, Jangan bikin kami penasaran. " Kini giliran Zoya yang bertanya dengan kesal.
Nisa lalu beranjak dari duduknya, dan mengambil ponselnya tanpa menjawwb pertanyaan Zoya. Ia lalu mengotak atik ponselnya, dan terdengar bunyi notifikasi pesan di ponsel mereka masing-masing.
"Jawabannya ada di situ. " kata Nisa sambil membuka pakaian Murad. "Mommy akan membasuh tubuhmu ya. Biar kaku terlihat segar. " katanya kemudian kepada Murad.
Murad hanya mengangguk, mengiyakan apapun yang ingin mommynya lakukan.
Sedangkan Erhan, Rayyan dan Zoya sibuk membuka ponselnya. Mereka melihat vidio yang dikirimkan Nisa di grup keluarga. Sungguh sesuatu yang tidak pernah mereka duga sama sekali. Terlihat mimik wajah Zoya dan Rayyan sering berubah-ubah setiap kali melihat adegan yang diperankan Faza. Erhan sendiri dengan tenang melihat video itu. Hingga sebuah adegan membuat mereka bertiga menahan nafasnya sesaat. Lalu bersama-sama menggelengkan kepalanya.
Di bagian Akhir, terlihat Faza yang tertidur di samping ranjang Murad. Lalu terlihat sebuah tangan yang memakai infus membelai rambut Faza.
"Murad... "
"Kak Murad... "
Pekik mereka bersamaan.
"Jadi kakak sudah sadar sejak kemarin? " tanya Zoya.
"Iya..." jawab Nisa santai sambil membersihkan tubuh anaknya.
"Lalu apa maksud vidio ini, sayang. Dan tadi apa yang di lakukan Faza? " Erhan tak mengerti dengan semua yang terjadi.
"Awalnya aku dan Alima hanya iseng membuat Video itu, untuk memberikan bukti kepada kalian bahwa Faza mencintai Murad. Tapi kami malah mendapat hal tak terduga itu. Saat kami kembali, aku dan Alima melihat Murad sudah sadar. Tapi Murad melarang kami buka mulut, sampai ia membuktikan sesuatu. " Nisa menjelaskan apa yang terjadi kemarin.
"Apa? apa yang perlu dibuktikan. " giliran Rayyan yang bertanya.
"Sesuatu yang kalian dengar semalam. " jawab Nisa membereskan peralatan untuk menyeka tubuh Murad.
"Jadi... "
"Iya, semalam aku menyuruh mommy bersandiwara. Bukankah akting mommy sangat bagus. " Murad yang menjawab.
Erhan, Rayyan dan Nisa mengangguk setuju.
"Sangat bagus, sampai kami terbawa suasana. " ledek Zoya dengan kesal.
__ADS_1
Nisa tersenyum mendengar ledekan Zoya dan kekesalan suami dan anak-anaknya. Iya masih sibuk mendandani Murad, agar tampil sempurna hari ini.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang, kak. Setelah mendengar dan melihat hati Faza. " Rayyan duduk di samping kakaknya yang sudah terlihat bersih dan sangat tampan.
"Aku akan bersikap seperti biasa. Seolah tidak tau perasaannya padaku. Aku akan menganggap nya adikku seperti biasa. " jawab Murad santai.
"Kenapa? "
"Apa kau ingin Faza curiga? "
"Ah iya aku lupa. "
"Sudah-sudah, kalian berdua segera mandi bersihkan tubuh kalian. Dan segera pergi ke kantor. " Nisa akhirnya yang ambil kendali, dan mengusir kedua anaknya itu.
"Mommy.... " seru Rayyan dan Zoya bersamaan, tapi tak ayal mereka melakukan perintah sang mommy. Zoya masuk kamar mandi lebih dulu, Rayyan yang melihat itupun menjadi kesal.
Akhirnya Rayyan memutuskan untuk kembali ke rumah terlebih dahulu tanpa memberitahu Zoya. Dia ingin mandi di rumah dan mengambil beberapa berkas di ruang kerja.
Erhan menunggu kedatangan Kemal sambil memeriksa email yang masuk. Sedangkan Nisa menyuapi Murad sarapan.
"Rayyan mana mom. " Tanya Zoya setelah selesai mandi.
"Rayyan pulang. dia mau mandi di rumah katanya."
"Apa? kok aku ditinggal. Semalam kan aku datang kemari sama Rayyan mom. " Kesal Zoya sambil menghentakkan kakinya di lantai.
"Ya sudah kamu naik taksi saja sayang. Atau berangkat sama Daddy?" tawar Erhan.
Zoya melihat jam di pergelangan tangannya. Kalau tidak ada janji pagi ini, dia pasti mau berangkat sama daddynya.
"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya? " pesan Erhan kepada Zoya saat anaknya itu bersalaman kepadanya.
Pesan yang sama diberikan Nisa kepada anak gadisnya itu.
Zoya keluar ruangan Murad dengan kesal. Gara-gara Rayyan, dia harus naik taksi pagi ini. Di luar rumah sakit, Zoya yang sedang menunggu taksi di hampiri sebuah mobil sedan mewah yang berhenti tepat di depannya. Pintu kaca mobil diturunkan, sehingga Zoya bisa melihat siapa yang sudah menghampirinya.
"Dokter Evan? " pekik Zoya dengan senyuman di bibirnya.
"Apa anda mau pulang nona? "
"Iya, Aku sedang menunggu taksi. "
Kening dokter Evan mengernyit. "Dimana mobilmu? "
Zoya menghembuskan napas nya kasar. "Mobilku dibawa kabur saudaraku. " kata Zoya kesal.
Dokter Evan tertawa renyah, manis sekali di mata Zoya.
"Ya sudah, ayo naik. Aku antar. " Dokter Evan menawarkan tumpangan.
"Apa tidak merepotkan? "
"Tidak, naiklah. "
Dengan senang hati Zoya masuk ke dalam mobil dokter Evan. Mereka memang lumayan akrab setelah bertukar nomor ponsel beberapa waktu lalu, Dokter Evan lah yang sering menghubungi Zoya dan menawarkan pertemanan kepadanya, walau hanya lewat ponsel. Hanya saja kalau di depan orang tuanya, mereka bersikap profesional. Lagipula mereka kan cuma berteman saja tidak lebih.
__ADS_1
"Kita kemana? " tanya dokter Evan
" Ke butik saja dokter. "
"Evan, panggil saja Evan jika kita sedang berdua seperti ini. "
"Aah, baiklah. "
Keduanya terlihat canggung maklum mereka berdua selama ini hanya berkomunikasi lewat chat dan dunia maya. Kalau di dunia nyata, baru kali ini mereka berinteraksi lama.
Keheningan tercipta beberapa saat untuk keduanya, karena tidak ada yang angkat bicara.
"Evan, Kira-kira berapa lama kakakku akan pulih seperti semula? " Akhirnya Zoya yang angkat bicara, itupun menanyakan keadaan sang kakak.
"Jika kakakmu kooperatif untuk sembuh mungkin beberapa bulan sudah bisa berjalan seperti semula. Tapi jika kakakmu tidak ada keinginan untuk sembuh maka akan membutuhkan waktu lebih lama. "
Zoya mengangguk mengerti.
"Apa kau sangat menyayangi kakakmu itu? "
"Tentu saja, kami semua sangat menyayangi kak Murad. Dia selalu memanjakan aku dan Rayyan. " Kata Zoya dengan senyuman yang tersungging dibibirnya.
"Rayyan? kamu tidak memanggilnya kakak juga, apa dia adikmu? "
Zoya menggeleng. "Rayyan adalah saudara kembarku. Kami lahir sepuluh bulan setelah kak Murad dilahirkan.
" Sepuluh bulan? " tanya Evan dengan ekspresi tercengang.
Zoya mengangguk. "Kami dilahirkan dalam keadaan Prematur waktu itu. Mommy hamil kami saat usia kak Murad tiga bulan. " Zoya terkekeh.
"Bukankah orangtuaku luar biasa? ' kata Zoya lagi yang membanggakan kedua orang tuanya.
Evan tekekeh, dan mengangguk. " Iya sangat luar biasa. "
Mereka berdua tertawa bersama.
"Sudah sampai. " kata Evan menghentikan tawanya saat mobilnya berhenti di depan butik tujuan Zoya.
Zoya juga menghentikan tawanya, saat melihat kalau ia sudah sampai di butik nya.
"Terimakasih Evan. Aku tidak tau bagaimana cara membalasmu. "
Evan sedikit berpikir mendengar ucapan Zoya, lalu mengulum senyumnya.
"Bagaimana kalau dengan makan malam atau makan siang? jika waktu kita sama-sama senggang. " tanya dokter Evan.
Zoya tersenyum mengerti. "Baiklah, tentu saja. Hubungi aku jika kamu ada waktu senggang. " kata Zoya lalu keluar dari mobil Evan.
Kemudian iya melambaikan tangannya dan berseru dengan senangnya, "Dah... Evan... "
Evan pun melambaikan tangannya kepada Zoya dengan tersenyum kepadanya. Lalu ia melajukan mobilnya meninggalkan Zoya yang sudah masuk ke dalam butik.
Di sebuah mobil lain, tampak seorang pria sedang mengeratkan pegangan setirnya. Rahangnya mengeras. Lalu kepalanya di benturkan di setir kemudi nya.
"Haruskah aku merelakan cintaku, dan mengalah untuk adikku? "
__ADS_1
Bersambung