
Evan sudah mendarat di Bandara Munchen Jerman, bukan orang-orang spesial yang menjemputnya, melainkan beberapa orang-orang Max yang mulai mengintainya. Dia tidak sadar kalau selama ini dia berada dalam pengawasan Max di bawah perintah keluarga Khan. Karena semua keluarga Erhan bersikap baik kepadanya, tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Evan tidak tau saja kalau mereka sedang mengikuti permainannya.
Evan segera menghentikan taxi dan segera pergi ke rumah sakit. Semua gerak-gerik Evan sudah berada dalam pantauan anak buah Max. Sesampainya di rumah sakit, Evan segera berlari keruangan VIP tempat seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya itu di rawat. Dia langsung membuka pintu ruangan dan mendapati seorang anak yang sedang disuapin oleh ibunya dengan jarum infus di tangannya.
"Vati (ayah) " panggil anak laki-laki itu kepada Evan
"Mein Sohn (anakku) " Evan langsung berlari memeluk anak itu dan langsung memeluknya.
Satu tangan Evan juga memeluk wanita yang sedang membawa makanan untuk anaknya.
"Aku sangat merindukanmu, ayah. " kata anak itu dalam pelukan Evan.
"Ayah juga merindukanmu, Abe. " Evan mengecupi kepala anak itu.
"Bagaimana kabarmu Alice? " Evan juga mengecupi wanita yang ia peluk, dia adalah Alice istri dari Evan dan Abe (Abelard) adalah putra mereka.
Sebelum Alice menjawab, seorang perawat masuk dengan membawa sebuah rangkaian bunga yang sangat cantik dan sebuah boneka beruang yang sangat bagus.
"Maaf mengganggu kalian, kami membawakan hadiah untuk adik Abe. Semoga lekas membaik ya?" ujar perawat itu. "dan ini kami patungan membeli ini untuk menemani Abe saat tidur agar Abe tidak kesepian. " kata perawat itu tadi dengan senyuman yang merekah.
"Apakah ini ayah Abe? " tanya perawat itu basa basi.
"iya sus, ayah Abe baru sampai. " Alice yang menjawab dengan dengan senyuman di pipinya.
"Wah, Abe pasti senang ya. Ayahnya sudah datang. Semoga lekas sembuh ya, Abe? kalau begitu saya permisi dulu. " Perawat itu langsung undur diri setelah melakukan tugasnya.
Di luar ruangan perawat itu bisa bernafas lega karena sudah melakukan tugasnya dengan baik.
"Bagaimana? " tanya orang yang memata-matai Evan.
"Sudah saya lakukan tuan. "
"Baguslah, aku sudah mentransfermu. Setiap hari kau harus memperhatikan posisi bunga itu. "
"Baik tuan. Saya permisi. "
Perawat itu segera pergi dan setelah kepergiannya, orang suruhan Max langsung menghubungi Max.
"Tuan, sudah selesai. Anda bisa memeriksanya. "
"Bagus. Terus awasi orang itu. Jangan lupa ambil gambar yang mencurigakan. Jangan sampai lengah. "
__ADS_1
"Baik tuan. "
Max, mulai melakukan pekerjaannya dan mengawasi Evan melalui CCTV dan perekam suara yang sudah mereka persiapkan di dalam bunga dan boneka yang diberikan perawat tadi.
Tim Max bukanlah tim main-main, mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya atas segala kemungkinan yang akan terjadi kepada target yang mereka tuju.
*
Kembali ke rumah sakit.
Evan kembali menanyakan kepada Alice tentang keadaannya. Setelah Abe tenang dan sudah terlelap.
"Bagaimana keadaanmu sayang? " tanya Evan kepada Alice istrinya dengan menyingkirkan anak rambut yang mengganggu nya.
Alice memeluk tubuh Evan dengan sangat erat dan bersandar di dada suaminya itu.
"Aku tidak baik-baik saja Evan, bisakah kau hentikan semua ini? Bisakah kita hidup tenang seperti dulu? Atau kita pergi jauh saja dari sini. Aku sangat kesepian Evan, apalagi keadaan Abe seperti ini. Aku takut, saat dia kambuh seperti tadi. " Ujar Alice menangis di dalam pelukan Evan.
"Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya. Jika tidak nyawa kalian dalam bahaya dan aku akan merasa sangat bersalah jika sampai itu terjadi. Maafkan aku Alice. " Ujar Evan dengan penuh penyesalan.
"Sampai kapan ini akan berakhir, sampai kapan kita akan menjadi bonekanya untuk balas dendam?" tanya Alice.
"Apa dia wanita baik?" tanya Alice lagi.
"Dia sangat baik, keluarganya baik. Bahkan aku sampai tidak tega untuk menyakitinya. Tapi jika tidak aku lakukan maka kalianlah yang akan terluka. Aku rela melakukan apapun, asalkan kalian baik-baik saja. Maafkan aku Alice. "
"Kenapa keadaan kita jadi seperti ini, Evan. Menghancurkan kehidupan orang lain, demi keselamatan hidup kita. " Alice kembali menangis di dalam pelukan suaminya.
Semua percakapan Alice dan Evan sudah masuk dalam rekaman Max. Dia kini mengerti apa yang terjadi. Sepetinya Evan dan keluarganya berada dalam tekanana seseorang.
Max langsung mengirimkan pesan suara itu kepada Rayyan begitu juga bukti Foto yang ia dapatkan dari anak buahnya malam itu.
"Sedikit lagi, semua akan jelas. Mungkin besok orang misterius itu akan datang menemui Evan dan istrinya. " guma Max
**********
Turki
Waktu Sudah menunjukkan pukul dua belas malam saat Rayyan mendapat pesan dari Max. Dengan wajah bantalnya dan mata sedikit terpejam dia membuka pesan dari Max yang berisi foto dan pesan suara.
Rayyan langsung membuka pesan suara karena matanya masih menyesuaikan dengan cahaya ponsel. Setelah mendengar pesan suara itu, mata Rayyan langsung membulat sempurna, dia langsung bisa melihat apapun gambar yang dikirim Max.
__ADS_1
Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras setelah mendengarkan percakapan Evan dengan istrinya. Dia langsung menghubungi Max untuk menanyakan kebenarannya.
"Hallo paman, apa semua ini benar. "
"Iya tuan, Kami telah memasang cctv tersembunyi dan perekam suara di kamar tempat anaknya di rawat. "
"Lalu... "
"Seperti nya dokter Evan juga korban dari seseorang yang menekannya untuk melakukan ini tuan, Karena istrinya juga tidak ingin dia melakukannya. Tapi demi keselamatan anak dan istrinya, Evan harus melakukannya."
"Sial...Siapa orang itu, yang berani bermain-main dengan keluargaku. "
"Kami belum mengetahuinya tuan, tapi mungkin sebentar lagi. Dia akan muncul, setelah kedatangan dokter Evan.
" Baiklah, terus awasi dia. Aku akan membicarakan ini dengan kakak dan daddy. "
"Baik tuan. "
Panggilan terputus. Rayyan tidak bisa memejamkan matanya malam ini. Dia harus segera melakukan sesuatu. Jangan sampai saudaranya tersakiti oleh Evan. Ternyata semua firasatnya benar selama ini. Evan bukan orang baik terlepas dia tepaksa atau tidak. Karena yang dia tau saat ini, Evan adalah ancaman bagi keluarganya.
Rayyan kemudian mengirim pesan kepada kakaknya, Mereka harus bicara berdua dengan serius karena ini menyangkut saudara perempuan mereka.
Setelah memikirkan banyak hal, Rayyan akhirnya dapat memejamkan matanya.
Pagi harinya, di kamar Murad. Murad yang baru saja membuka matanya setelah tidak merasakan keberadaan istrinya, dia langsung terduduk dan bersandar di kepala ranjang. Ia langsung mengambil ponselnya dan melihat ada sebuah pesan dari Rayyan yang memintanya bicara berdua. Murad langsung membalas pesan dari Rayyan dan mengiyakan permintaannya.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan Faza keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Entah apa yang dilakukan Faza dan Murad semalam sehingga membuat Faza harus berbasah-basah dipagi hari.
"Sayang, bantu aku mandi. Karena ada yang harus aku bicarakan dengan Rayyan sebentar lagi. "
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku harus sholat dulu."
"Baiklah. "
Dengan sabar Murad menunggu istrinya melakukan kewajibannya sampai selesai.Lalu Faza dengan cekatan segera mambantu suami nya itu untuk membersihkan diri dengan gurauan-gurauan kecil di dalam kamar mandi, dan akhirnya membuat Faza yang sudah mandi harus mandi lagi karena keisengan Murad yang mencipratkan air ke tubuhnya
Setelah selesai mandi dan sudah rapi, Murad segera pergi ke kamar Rayyan Sedangkan Faza kembali kekamarnya untuk membersihkan sisa percintaan mereka semalam. Murad sungguh tidak habis pikir, ternyata gadis kecilnya ini mudah sekali menerima pelajaran yang berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan, antara membeli dan menerima antara pasangan suami istri.
Di kamar Rayyan, Murad segera menanyakan apa yang terjadi. Dan Rayyan memberikan semua pesan yang dikirmkan Max kepadanya semalam. Melihat dan mendengar semua itu membuat Murad mengepalkan tangannya dengan geram.
"Siapa yang ingin bermain-main dengan keluargaku dan mengutus orang yang tidak bersalah untuk mengeksekusinya. Benar-benar biadap" gumam Murad dengan rahang yang mengeras.
__ADS_1