
Triplet kini memasuki usia tiga bulan. Dan benar kata mommy, tubuh mereka akan terlihat lebih berisi diusia tiga bulan ini. Ketiga baby Faza ini juga sudah banyak tingkah. Kini mereka sudah bisa tengkurap sendiri, tapi tidak bisa kembali, Jadi jika mereka kelelahan tengkurap maka yang bisa mereka lakukan adalah menangis, dan itu membuat semua orang tertawa melihat tingkah mereka yang menggemaskan.
Zahra juga sudah diperbolehkan membawa baby Ryder Atau baby Al untuk tidur di kamarnya bersama Rayyan. Dengan berbekal susu botol yang disimpan dilemari pendingin khusus menyimpan ASI yang sudah Rayyan persiapkan untuk baby Al.
Kenapa dipanggil baby Al bukan Baby Ray seperti yang diumumkan Murad waktu itu? Karena ada nama Al-Fatih di dalam nama Ryder. Jadi sepulang dari acara pemberian nama itu, Mereka memutuskan untuk memanggil Ryder dengan sebutan Baby Al. Seperti kakaknya Baby El.
Zahra begitu menikmati perannya sebagai ibu angkat baby Al. Setiap pulang kerja, dia selalu bermain bersama anak Faza terutama baby Al dan membawa ke kamarnya. Sedangkan Baby El selalu berada dipangkuan sang kakek diwaktu luang. Karena Erhan akan mendidik sendiri Elvano sebagai penerus keluarganya.
Faza tidak keberatan akan hal itu, karena didalam hatinya dia selalu bersyukur anak-anaknya sangat di sayangi semua orang. Baby Zia juga begitu, dia selalu bersama dengan neneknya, yaitu mommy Nisa. Semua memegang perannya masing-masing, bahkan Faza hanya diberikan anaknya saat mereka menangis dan ingin menyusu kepada ibunya.
Tapi semua itu, tidak masalah baginya. Kembali ke rasa syukur, karena banyak yang menyayangi triplet.
Seperti saat ini, baby El yang berada dipangkuan Erhan sedang menangis. Erhan lalu memanggil Faza yang sedang bermain bersama baby Zia dan baby Al pun kalang kabut. Karena saat ini dia menjaga mereka sendiri. Sedangkan mommy Nisa entah dimana.
"Faza... Baby El manangis. Mungkin dia haus. " teriak Erhan memanggil menantunya itu.
"Sebentar, dad. "
Faza kebingungan karena tidak ada yang menjaga kedua anaknya. Dia takut anaknya terjatuh jika ditinggal. Karena mereka berdua sangat gesit.
Erhan yang tidak segera mendapati Faza menghampirinya akhirnya bangkit dan berjalan menuju kamar anaknya itu sambil menggendong baby El.
"Faza... ini El, sedang menangis. Kamu sedang apa? " tanya Erhan saat mendapati menantunya itu sedang manata bantal di sekeliling ranjang tempat tidurnya.
"Maaf, dad. Aku takut meninggalkan mereka berdua, karena tidak ada yang menjaga. Takut mereka jatuh. " ujar Faza yang masih kerepotan dengan aktifitasnya.
Erhan yang tidak tega pun segera mendekati Faza dan memberikan baby El kepada mommynya.
"Ini, beri minum dulu baby El nya agar dia diam, biar Al daddy yang gendong. "
Faza menerima baby El dari gendongan Erhan. Lalu Erhan mengambil Al dari tempat tidur dan menggendong nya.
"Al bersama kakek dulu ya? " ucap Erhan sambil menggendong baby Al.
Sedangkan El kini sudah tenang setelah mendapatkan sumber kehidupannya.
"Mommy mu kemana? " tanya Erhan kemudian.
__ADS_1
"Tidak tahu dad, sejak tadi mommy tidak terlihat. " kata Faza yang memberikan Asi kepada Baby El dan menepuk-nepuk pantat baby Zia yang akan tertidur.
"Ya sudah kalau begitu. Daddy bawa Al keluar dulu ya. Kamu tidurkan mereka berdua."
Erhan sebenarnya kasihan melihat Faza yang kerepotan mengurus ketiga anaknya. Namun tiap kali ditawarkan seorang pengasuh Faza menolaknya, karena dia ingin merawat ketiga anaknya sendiri.
"Lagi pula repotnya hanya pagi hari saja, kalau sore hari ada kak Zahra yang membawa Al. " selalu itu yang diucapkan Faza saat mereka memintanya untuk memperkerjakan seorang pengasuh.
"Sepertinya aku harus bicara lagi dengan Murad. Agar mau membujuk Faza untuk memperkerjakan seorang pengasuh. Agar dia tidak kerepotan seperti ini. "
************
Malam harinya, seperti biasa keadaan akan semakin ramai kalau sudah berkumpul seperti ini. Semua orang berebut untuk menggendong triplet. Sedangkan yang di oper kesana kemari hanya diam saja karena mereka masih tidak mengerti.
Saat ini, Erhan sedang berbicara dengan Murad di ruang kerja. Erhan mengatakan maksudnya kepada Murad tentang seorang pengasuh kepada Faza. Karena yang dipatuhi Faza dirumah ini hanya suaminya saja, walaupun kepada Nisa dan Erhan, Faza juga bersikap hormat.
"Baiklah dad. Aku akan membujuk Faza agar dia mau memperkerjakan pengasuh untuk triplet. "
"Kau harus bisa membujuknya. Ingatlah, wanita di keluarga kita tidak boleh terlalu repot. Karena kita masih bisa membayar orang untuk membantu mereka. "
"Baik dad. Aku mengerti. "
"Dimana Baby Al." Tanya Murad saat tidak melihat salah satu anaknya.
Dimana lagi kalau tidak dibawa Rayyan dan Zahra. Mereka sangat menyayangi baby Al walau mereka juga menyayangi El dan Zia. Tapi kasih sayang mereka lebih condong kepada baby Al.
Murad yang mendengar itupun hanya mendesah kasar. Karena selama satu bulan terakhir ini dia jarang sekali menggendong baby Al, karena selalu di culik Rayyan atau Zahra lebih dulu.
"Sayang, sudah malam. Sebaiknya kita istirahat, aku tau kau lelah mengasuh ke tiga anak kita seharian ini. "
Faza yang sudah melihat kedua anaknya tidur pun menganggukkan kepalanya dan membawa mereka berdua ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Faza lalu membaringkan Zia yang berada di gendongannya ke dalam box bayi, begitu juga Murad.
Setelah kedua anaknya tidur dengan nyaman, Murad lalu membawa Faza ke atas tempat tidur. Dia akan membicarakan pesan daddynya malam ini juga.
"Faza, ada yang ingin aku sampaikan padamu. "
__ADS_1
"Apa kak? " tanya Faza penasaran.
"Ini tentang anak-anak, apa tidak sebaiknya kita memperkerjakan seorang atau dua orang babysitter untuk menjaga mereka?" Murad langsung mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan.
"Tapi kak, bukankah kita sudah membicarakan ini?" ucap Faza sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak akan berani membantah jika suaminya berkehendak.
Murad lalu mengangkat dagu Faza agar menghadap kearahnya.
"Dengarkan aku baik-baik, dan jangan di sela kalau aku belum selesai bicara. Oke. "
Faza mengangguk patuh.
"Sayang, pembicaraan kita dulu itu, saat Triplet masih bayi dan belum bisa apa-apa. Tapi sekarang, mereka sudah bisa tengkurap, Setelah itu berguling kesana kemari, merangkak, berdiri, berjalan dan berlari. Jika kau merawat ketiga anak kita seorang diri apa kau sanggup? "
Faza terdiam masih mendengarkan.
"Aku tidak mau Faza, kau nanti hanya fokus kepada ketiga anak kita. Bukannya aku melarangmu merawat mereka. Tapi ingat poin pertama saat kau masuk ke keluarga ini. Kau harus bisa melayani suamimu dengan baik, Kami memiliki bayak uang untuk menggaji seorang baby sitter, bahkan kau tau berapa jumlah pekerja disini. Itu semua kami lakukan karena kami tidak ingin istri-istri kami kerepotan, kelelahan dan akhirnya mengabaikan kami,suaminya. "
Deg....
Faza baru mengingat hal itu. Selama ini dia melupakan kewajiban di keluarga ini karena terlalu bahagia dan fokus kepada ketiga anaknya.
"Dan satu lagi, Anak-anak sudah berusia tiga bulan. Kini saatnya kau mulai menjaga dirimu dan merawat tubuhmu Faza. Bukannya aku menyuruhmu Diet atau apa karena kau masih menyusui ketiga anak kita. Aku ingin kau mulaii berolah raga seperti kataku saat kau baru melahirkan dulu. Ingat? "
Faza mengangguk, sambil menundukkan. Dia tidak berani menatap suaminya saat ini.
"Aku tidak ingin, istriku diejek orang diluar sana karena penampilannya tidak menarik. Ingat hal ini, kau adalah istri seorang yang paling penting di keluarga ini. Yang memegang kekuasaan tertinggi di perusahaan. Jadi, kau harus bisa bersikap selayaknya seorang nyonya besar di keluarga ini dan dimanapun kamu berada. Walau usiamu lebih muda dari mereka. "
Sebuah ucapan panjang dari suaminya yang seolah menampar Faza dan mengingatkan siapa dirinya. Istri orang nomor satu di perusahaan.
Tanpa terasa Faza meneteskan air matanya, dan sebuah kalimat lirih keluar dari mulutnya.
"Maafkan aku, kak. Aku salah. Aku melupakan semuanya, melupakan kewajibanku dan melupakan tugasku. " Kata Faza kemudian
Murad yang melihat istrinya menangis pun sebenarnya tidak tega. Tapi dia memiliki kewajiban untuk mengingatkan istrinya.
"Aku akan patuh. Kakak benar sudah waktunya aku berbenah diri sekarang. Dan aku juga setuju anak-anak akan dirawat pengasuh. Tapi disiang hari saja ya? "
__ADS_1
"Tidak, tentu saja mereka harus menjaga triplet 24 jam. Karena aku juga ingin bermain dengan istriku dimalam hari. "
Setelah mengatakan hal itu, Murad menghapus air mata Faza dengan ibu jarinya. Lalu menciumnya. Dan kalian tau apa yang terjadi, karena Murad ingin bermain-main dengan istrinya.