
Satu minggu telah berlalu keadaan Murad masih tetap sama. Tapi dia sudah merasa sangat bosan berada di rumah sakit. Murad meminta kepada mommy dan daddynya untuk rawat jalan saja, dan kontrol ke rumah sakit satu minggu sekali atau berapa hari sekali. Asalkan ia segera keluar dari rumah sakit.
Semalam Erhan Nisa dan anak-anak nya sudah sepakat akan berbicara kepada dokter yang merawat Murad. Kalau Murad akan melakukan rawat jalan saja. Dan mereka akan berbagi tugas untuk mengantarkan Murad saat menjalani terapi atau pemeriksaan. Mereka pun setuju dan sepakat saling bahu membahu untuk membantu kesembuhan Murad.
Sejak kecelakaan Yang terjadi pada Murad, grandma mereka tidak diberi tahu. Karena takut akan terjadi sesuatu kepada grandma. Saat ini grandma Aylin sedang menjalani ibadah umroh bersama dengan sanak saudaranya. Maka dari itu, mereka tidak memberitahukan kepada grandma Aylin tentang kecelakan yang terjadi pada cucu kesayangannya itu.
Hari ini saat kunjungan dokter, Erhan meminta kepada dokter Ahmed untuk datang memeriksa keadaan Murad dan memastikan apakah Murad sudah bisa melakukan rawat jalan atau tidak.
Tepat pukul sepuluh, dokter Ahmed dan dokter Evan masuk keruangan Murad. Mereka di sambut Erhan dan istrinya pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja. Dokter Ahmed pun melakukan tugasnya dengan seksama agar tidak ada yang terlewat, karena ini menyangkut pewaris besar di negara itu.
"Keadaan tuan muda sudah mulai membaik tuan. Dan sepertinya sudah bisa untuk dilakukan rawat jalan. Hanya tinggal kaki nya ini masih terasa sedikit nyeri. Benarkan tuan muda? " tanya dokter Ahmed kepada Murad.
Murad mengangguk membenarkan. "Iya dokter, aku sering merasakannya. Sakit sekali. " ungkap Murad kepada dokter Ahmed.
"Memang membutuhkan waktu untuk kesembuhan kaki tuan muda. Jadi anda harus bersabar. " Jelas dokter Ahmed.
"Nah, anda sudah pasti mengenal dokter Evan kan? Beliau adalah dokter ortopedi yang kami datangkan langsung dari Jerman untuk bekerja di rumah sakit kita. Karena kita sangat membutuhkan ahli ortopedi seperti beliau disini. Saat tuan Murad kecelakaan kemarin itu adalah hari pertama dokter Evan masuk kerja. Dan langsung menangani tuan muda. " Dokter Ahmed menjelaskan siapa dokter Evan kepada pemilik rumah sakit.
"Wah, kalau begitu rumah sakit kita akan sangat beruntung memiliki dokter handal seperti anda. " puji Erhan.
"Tidak begitu juga tuan. " kata dokter Evan sungkan.
"Jadi, apakah anakku bisa pulang hari ini dokter? " tanya Nisa yang tidak suka basa-basi.
"Iya tentu saja nyonya. Tuan Murad kami perbolehkan pulang hari ini. Tapi jangan lupa obatnya diminum secara rutin . " kata Dokter Ahmed.
"tentu saja, saya yang akan mengawasinya untuk minum obat dokter. "
"Dan untuk pemeriksaan rutin dan terapi, anda bisa konsultasikan kepada dokter Evan. "
Mereka pun mendengarkan penjelasan dari dokter Evan.
"Untuk pemeriksaan rutin, kita akan melakukan sebulan dua kali . Namun jika anda merasa tidak nyaman sewaktu-waktu, anda bisa langsung memanggil saya untuk datang ke rumah anda." kata Dokter Evan memberikan kartu namanya kepada Erhan.
"Dan jika sudah siap terapi, kita akan melakukan seminggu sekali dan jika sudah banyak perkembangan nanti kita bisa menambah jadwal terapi. Untuk saat ini yang diperlukam hanya pemulihan sampai kaki tuan Murad tidak terasa nyeri lagi. "
"Baiklah dokter. Kami mengerti. Dan terimakasih atas semua yang telah kalian lakukan untuk anak kami. Kami sangat menghargainya. "
"Kami juga berterima kasih, karena anda sudah percaya kepada kami, tuan. "
Erhan berjabat tangan dengan dokter Evan dan dokter Ahmed. Karena hari ini juga mereka akan kembali ke rumah.
__ADS_1
Setelah kepergian kedua dokter itu, Erhan lalu memberitahukan kepada Rayyan dan Zoya bahwa kakak mereka akan pulang hari ini. Erhan juga meminta kepada Rayyan untuk membelikan kursi roda elektrik untuk Murad tanpa sepengetahuan semua orang.
"Kita hanya tinggal menunggu Rayyan menjemput kita. " kata Erhan kepada istri dan anak nya.
"Kenapa tidak menyuruh sopir saja, sayang. "
"Sopir akan kemari bersama beberapa dua orang pelayan untuk membersihkan semua yang ada di sini, dan membawa pulang. "
"Ah, kau benar. Kenapa aku bisa lupa. Aku akan membersihkan barang bawaan kita. " Nisa hendak membersihkan barang bawaan mereka namun segera dilarang Erhan.
"Tidak usah, sayang. Sebentar lagi pelayan akan datang. Kamu diam saja temani Murad nanti kamu kelelahan. " mode posesif sang suami sudah muncul.
Murad yang melihat tingkah orang tuanya hanya tersenyum geli. Dari dulu, daddynya itu memang tidak membiarkan mommynya itu kelelahan. Bahkan Daddy Erhan selalu menceritakan kepadanya tugas dan kewajiban seorang istri kepada suami dan kewajiban suami kepada istrinya. Selama kita punya uang untuk membayar seseorang bekerja kepada kita. Maka jangan pernah membebankan pekerjaan rumah kepada istri. Tugas seorang istri hanya untuk melayani suaminya saja, itu sudah cukup. Berdandan dan bersolek hanya untuk suami saja agar bila dipandang suami tidak merasa bosan.
Itulah yang Murad tangkap dari rumah tangga daddynya selama ini yang selalu tampak harmonis dan bahagia. karena daddy bisa memanjakan mommy dan mommy bisa melayani daddy dengan baik. Karena itu, Murad ingin menjalani rumah tangga seperti orang tuanya. Saling mengasihi dan menyayangi, dan saling mengerti satu sama lain.
Persiapan kepulangan Murad sudah selesai. Semua barang juga sudah di bawa para pelayan pulang. Mereka hanya menunggu kedatangan Rayyan yang tidak kunjung datang. Dan akhirnya yang ditunggu pun datang juga dengan sebuah kursi roda elektrik yang sangat keren.
"Hallo kak, aku datang. Maaf terlambat karena aku harus mengambil pesananku dulu. " kata Rayyan dengan menujukkan kursi roda yang ia bawa.
Murad menatap nanar kearah kursi roda itu. Tak di sangka dia akan duduk disana hingga waktu yang tidak dia tau. Nisa yang mengerti akan hal itu langsung mendekati anaknya, mendekapnya dalam pelukan.
"Tidak apa-apa sayang, semua akan baik-baik saja. Kami akan selalu bersamamu. "
"Apa aku bisa mom? "
"Tentu saja kamu bisa sayang. Kita akan berjuang bersama. "
Erhan dan Rayyan yang melihat adegan itupun tak kuasa menahan air mata mereka. Lalu mendekati Nisa dan Murad, dan ikut larut dalam suasana haru itu.
Setelah puas melepaskan kesedihannya Murad lalu meminta Rayyan untuk membantunya duduk di kursi roda. Awal yang sangat sulit, tapi dia harus terbiasa dengan hal ini.
Rayyan lalu mendorong Murad keluar rumah sakit diikuti Erhan dan Nisa dibelakang mereka dengan bergandengan tangan. Mereka berdua memandang kedua anak mereka dengan tatapan haru. Tidak menyangka seorang Murad yang tegas dan berwibawa seperti daddynya harus mengalami hal ini.
Di mobil, suasana hening menyapa mereka. Tak ada satupun dari mereka berempat yang angkat bicara, semua bungkam dengan pikiran mereka masing-masing.
Sesampainya di rumah, Kemal dan keluarganya sudah menunggu kedatangan Murad di tambah Faza yang tadi tidak ikut menjemput kakaknya karena sudah membuat janji temu dengan klien.
Rayyan lagi-lagi membantu Murad untuk duduk di kursi rodanya kali ini ada Ezra yang juga membantu. Setelah masuk kedalam rumah semua orang menyambut kedatangan Murad. Namun respon yang diberikan Murad sangat di luar Ekspektasi. Wajah datar dan dingin menghiasi sosok Murad saat itu. Dia tidak memperdulikan semua orang yang sudah menyambut kedatangannya. Dia langsung menekan tombol kursi rodanya menuju lift, dan segera naik ke kamarnya.
Semua orang yang melihat itu merasa tercengang, termasuk Faza. Padahal saat di rumah sakit,baik Faza ataupun semua orang merasa sikap Murad baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang...
__ADS_1
Faza lalu berlari menyusul Murad dengan menaiki tangga. Nisa juga ingin menyusul tapi segera dicekal Erhan.
"Biarkan Faza menghibur Murad. Sepertinya mereka sedang butuh privasi. " kata Erhan.
Semua orang membiarkan Faza yang mengejar Murad dan menanyakan apa yang terjadi pada anak itu.
Sesampainya di lantai atas, Murad langsung menuju kamarnya dan akan menutup pintu kamar. Namun segera di cegah Faza.
"Tunggu." Faza berusaha mengahalangi pintu yang akan tertutup itu.
"Untuk apa kamu kemari, pergilah." kata Murad dengan suara dinginnya.
Namun tak dihiraukan Faza. Faza menerobos masuk ke dalam kamar Murad dan mendapat tatapan dingin dari Murad.
"Mau apa kamu, Faza. Keluarlah."
Faza bersimpuh di hadapan Murad lalu menggenggam tangannya.
"Kakak kenapa? "
Murad hanya memalingkan pandangannya, tanpa menjawab pertanyaan Faza.
Faza lalu menggenggam tangan Murad dengan erat.
"Kakak lihat aku. "
"Pergilah." Murad ingin menepis tangan Faza, tapi Faza enggan melepasnya.
"Kakak, kakak kenapa sih? "
Murad menengadahkan kepala ke atas, untuk manahan air matanya agar tidak jatuh.
"Aku merasa tidak berguna Faza, saat aku melihat dan menduduki kursi roda ini. " ungkap Murad pada akhir nya.
Mendengar itu, Faza langsung memeluk Murad dengan sangat erat.
"Jangan bicara seperti itu, kak. Kakak sangat berarti bagiku. Walau pun semua orang memandang kakak dengan sebelah mata, tapi bagiku kakak adalah segalanya. Jangan pernah mengatakan hal bodoh seperti itu. " Faza menangis dalam pelukan Murad.
Murad membalas pelukan Faza, dan menangis bersama.
"Aku merasa sangat tidak berguna Faza. Aku merasa lemah. Aku tidak bisa berdiri dengan kedua kakiku. "
__ADS_1
"Kakak, jangan pernah bicara seperti itu lagi. Bagaimanapun keadaanmu. Seperti apapun dirimu, Aku akan tetap mencintaimu. "
Bersambung.