Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Makan Malam (Ezra & Zoya)


__ADS_3

Keheningan menghiasi perjalanan merek menuju restoran favorit Zoya. Ezra tidak tau kalau masakan Jepang adalah salah satu makanan favoritnya. Yang dia tau, Zoya menyukai masakan Indonesia seperti dirinya. Karena ibu mereka berasal dari negara yang sama dan mereka adalah seorang sahabat.


"Sejak kapan kau menyukai makanan Jepang? " tanya Ezra pada akhirnya untuk memecah keheningan diantara mereka.


"Sejak kapan ya? Mungkin sejak aku kuliah, dan Aku tanpa sengaja bertemu seorang adik tingkatku waktu itu, dia sangat menyukai masakan Jepang. Dan sekarang dia menjadi seorang Chef, tapi anehnya dia bukan menjadi chef untuk masakan Jepang yang ia sukai melainkan chef masakan western. Aneh kan? "


"Siapa? aku tidak pernah melihatmu dekat dengan siapapun kecuali dokter Evan. " Ezra mencoba memancing Zoya dengan membawa nama dokter Evan. Apakah Zoya sudah melupakannya atau masih berharap padanya.


"Apakah aku harus lapor padamu dengan siapa aku dekat? " ujar Zoya dengan sedikit kesal.


"Hei, kenapa kamu kesal seperti itu? " Ezra menoleh sebentar ke arah Zoya yang sedang mengerucutkan bibirnya. Dia lalu mengangkat tangannya yang bebas untuk mengusap pipi Zoya.


"Maaf, aku kan hanya tanya. Kenapa kamu mudah sekali ngambek sih? " tanya Ezra masih mengelus pipi Zoya.


"Jangan bicarakan Evan lagi. Aku tidak suka. " ucap Zoya pada akhirnya masih dengan wajah di tekuk.


"Aku sudah menghubunginya berkali-kali, tapi tidak juga di angkat. Bukankah itu menyebalkan. " katanya lagi.


"Ohhh, jadi karena itu. " Ezra langsung melepaskan tangannya dari pipi mulus Zahra.


"Kenapa? "


"Nggak apa-apa kok. "


Ezra kembali fokus ke jalan, dan suasana di dalam mobil kembali sepi. Mereka berdua sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


"Ezra... "


"Apa."


"Kalau aku membalas cintamu, bagaimana dengan mommy dan daddy. Apakah mereka akan merestui kita? Sedangkan aku lebih tua darimu dan adikmu Faza sudah menikah dengan kakakku. Lalu.... " Zoya menjeda kalimatnya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Lalu, apakah kita juga bisa bersatu dan bersama seperti Faza dan kak Murad? " ujar Zoya lagi melanjutkan kalimatnya tapi dengan penuh kekhawatiran.


Ezra terdiam, dia masih fokus menatap jalanan yang ramai lalu lalang pengendara mobil. Hingga di depan sebuah taman dia menghentikan mobilnya.


"Kenapa berhenti? sebentar lagi kita sampai. "


Ezra menatap Zoya dengan dalam. "Jika kau membalas cintaku, maka aku akan berjuang untuk mendapat restu dari mom dan daddy. Aku akan meyakinkan mereka kalau aku bisa membahagiakan putri mereka. " kata Ezra dengan penuh keyakinan.


"Apa kau serius? "


"Sangat serius Zoya. Aku tidak pernah melanggar kata-kataku. Apa kau butuh pembuktian lagi kalau aku mencintaimu? " tanya Ezra dengan menaik turunkan alisnya menggoda Zoya.


"Ih, kamu mesum Ezra. " pekik Zoya yang melihat sikap Ezra yang tiba-tiba aneh.

__ADS_1


"Enggak... aku nggak akan berbuat lebih padamu Zoya. Aku hanya akan melakukannya saat kelak kau menjadi istriku. "


"Siapa bilang aku mau menjadi istrimu? " tanya Zoya dengan suara ketus dan memalingkan wajahnya ke arah jalanan.


Melihat sikap Zoya yang seperti itu membuat Ezra sedikit terluka. Karena dia berfikir kalau Zoya akan menerimanya dan membalas cintanya. Lalu ia mulai menjalankan mobilnya lagi.


Zoya yang melihat perubahan sikap Ezra ingin tertawa lepas, namun dia tahan.


"Kau kenapa? kenapa berubah dingin seperti itu? " tanya Zoya tanpa merasa bersalah sedikitpun, karena dia melihat Ezra yang kembali memasang wajah dinginnya.


"Tidak apa-apa, sebaik kita segera makan malam." jawab Ezra dingin.


Zoya sangat tidak menyukai perubahan sikap Ezra yang seperti ini. Dia lebih suka Ezra yang bersikap hangat dan lembut kepadanya.


"Ezra... "


"Hmmm... "


"Bisa beri aku waktu sedikit lagi, untuk memikirkannya? "


"Memikirkan apa lagi? "


"Memikirkan untuk membalas cintamu padaku. "


Ezra langsung menghentikan mobilnya saat sudah memasuki area parkir restoran.


Zoya mengangguk sambil menunduk.


Ezra lalu menggamit dagu Zoya agar menghadap kearahnya.


"Apa kau serius? " ucap Ezra masih dengan tangan yang berada didagu Zoya.


Dan Zoya membalasnya masih dengan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku akan memberikan waktu padamu, tapi jangan terlalu lama. Karena aku pasti tidak akan sabar menunggu kepastian dari mumu, Zoya."


"Iya tunggu aku sebentar lagi. "


Ezra lalu melepaskan tangannya dan memberikan senyuman terindahnya kepada Zoya.


"Ayo kita masuk. "


Ezra keluar terlebih dulu dari Zoya, lalu membukakan pintu untuk Zoya. Mereka memasuki restoran itu dengan senyuman penuh dibibir mereka, dan duduk di sebuah meja yang hanya ada kursi untuk berdua.


Zoya lalu memilih beberapa makanan yang dia suka, sedangkan Ezra hanya memperhatikan saja, dia memasrahkan semuanya kepada Zoya karena dia tidak begitu menyukai masakan dari negeri matahari terbit itu.

__ADS_1


"Aku memesankan ramen untukmu. " kata Zoya setelah memesan makanannya.


"Terserah kau saja, karena aku ingin tau bagaimana caramu membuatku menyukai makanan itu. " ujar Ezra dengan senyuman lembutnya.


"Ezra, jangan memasang wajah dinginmu itu ya kalau kita sedang bersama. Karena aku tidak suka. "


"Jangan membuatku kesal, maka ku tidak akan memasang wajah itu. "


"Hah... kau ini. "


Mereka berdua terus mengobrol sampai pesanan mereka datang. Zoya memakan makanan mereka dengan lahap, sedangkan Ezra hanya memperhatikan. Memperhatikan Zoya makan saja sudah membuat perutnya kenyang.


"Kenapa tidak kau makan, Ezra? "


"Melihatmu makan aku sudah kenyang, Zoya. "


Zoya lalu mengambil sebuah sushi dan menyuapkannya ke mulut Ezra.


" Ayo, makan... Aaaa... "


Ezra mulai membuka mulutnya dan menerima suapan dari Zoya.


"Bagaimana? Enakkan? "


Ezra mengangguk, walau dia tidak begitu suka. Tapi mendapat suapan dari Zoya membuatnya menyukai makanan itu.


"Kamu selalu begitu, kemarin waktu makan salad kau juga bilang tidak suka, tapi buktinya kita bisa menghabiskan makanan itu semangkok berdua. " kata Zoya dengan nada mengejek.


"Hehehe... Apapun yang masuk ke dalam mulutku asalkan dari tanganmu, aku pasti menyukainya. Walau makanan itu tidak aku sukai. " kata Ezra dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Zoya kembali menyuapkan makanan kepada Ezra. Begitulah seterusnya sampai makanan mereka habis.


"Apa kau sudah kenyang. " tanya Zoya setelah menyelesaikan makanannya.


Ezra menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum.


"Jadi ini yang kau bilang, kau akan membuat ku menyukai makanan itu. "


"Iya... " Zoya membalas senyuman Ezra dengan senyuman manisnya.


"Baiklah, aku akui sekarang kau memang pintar membuatku terpesona. Kau semakin membuatku jatuh cinta berkali-kali. " ujar Ezra dengan menggenggam tangan Zoya.


"Tetaplah seperti ini, karena aku menyukainya. Dan jangan pernah menangis untuk sesuatu yang tidak penting. Karena air matamu itu sangat berharga. " kata Ezra lagi.


Saat mereka sedang mengobrol hangat, tiba-tiba ada suara yang menyapa Zoya.

__ADS_1


"Kak Zoya... "


__ADS_2