
Simon sudah berada di mansion besannya. Ia disambut dengan senang hati oleh Erhan dan Nisa. Saat ini Kemal dan Alima juga masih berada di mansion itu, jadi suasana tampak semakin ramai dengan adanya tiga keluarga.
"Bagaimana keadaan anda Tuan Simon. Sepertinya semakin lebih baik saja. " tanya Erhan kepada besannya itu.
"Alhamdulillah, Tuan. Ini semua berkat anda, dan keluarga ini. Saya bisa tenang saat melihat anak saya bahagia di sini. "
"Iya... benar, apalagi pagi ini Zahra memberikan kabar bahagia untuk kita semua. " ucap Erhan dengan tertawa lebar.
"Benar, tuan Simon. Bahkan pagi ini kami tidak hanya mendapatkan kabar baik dari Zahra. Tapi dari anak kami juga, Zoya. Yang juga hamil anak ke dua dan ketiganya. " Nisa ikut menimpali
"Wah... benarkah. Selamat untuk kalian Tuan Erhan dan Tuan Kemal, karena akan menambah cucu. "
"Terima kasih, Tuan Simon. Selamat untuk kita semua. "
Mereka tertawa bersama tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Benar-benar seperti keluarga bahagia. Murad keluar dari kamar bersama dengan istri dan anak-anak nya yang sudah terlihat segar dan ikut berkumpul dengan mereka.
"Sini El, sama kakek." Erhan langsung mengambil alih baby El dari tangan Murad.
"Wah, apakah ini baby El yang akan menjadi penerus anda, tuan? " tanya Simon sambil memandangi balita yang ada dipangkuan Erhan.
"Iya, dia adalah cucu pertama yang keluar dari menantu keluarga ini. Jadi sudah dipastikan dialah penerus utama. Tapi bukan berarti saya mengabaikan cucu-cucu lainnya. Semua sudah memiliki tempat sendiri nanti, karena aku sudah mempersiapkannya untuk semua cucu-cucuku. " kata Erhan menjelaskan kepada Simon, dia tidak ingin besannya itu memiliki pemikiran kalau Erhan pilih kasih antara cucu satu dengan lainnya.
Saat mereka asik mengobrol, Ezra dan Zoya juga turun bersama baby Rafa yang berada di gendongan Ezra. Disusul Rayyan yang juga turun tanpa istrinya. Karena Zahra masih tidur.
"Daddy... daddy sudah datang."
Rayyan langsung mencium tangan mertuanya, lalu mereka semua berkumpul diruangan itu. Terasa sekali kehangatan yang Simon rasakan saat melihat keluarga ini berkumpul. Pantas saja Zahra sangat berubah sejak menikah. Jika di rumahnya hanya ada suasana dingin dan hampa yang dirasakan, tapi berbeda dengan di keluarga ini. Terasa sangat hangat dan tidak ada perbedaan antara anak dan menantu di sini.
"Dimana Zahra? " Tanya Simon yang tidak melihat anaknya turun.
__ADS_1
"Zahra masih tidur, dad. Biarlah dia istirahat dulu. Karena kata dokter juga Azahra harus banyak istirahat. Nanti kita akan ke atas untuk melihatnya."
"Baiklah, nak Rayyan. Terima kasih karena sudah perhatian dengan anakku."
"Sudah tugasku, dad. "
Keadaan tampak hening, tampak mereka sibuk dengan cucu di pangkuan masing-masing. Ah, Simon juga ingin merasakan.
"Mohon maaf sebelumnya, jika saya lancang. " ucap Simon saat melihat semua keluarga Khan berkumpul.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan kalian semua. Sebenarnya saya hanya ingin bicara dengan Tuan Erhan, Nyonya Nisa dan Nak Rayyan saja, tapi jika semua orang berkumpul seperti ini. Saya ingin bicara dengan kalian semua, dan meminta bantuan dan pertolongan kalian semua. Untuk anak saya Zahra. " kata Simon kemudian.
"Apa yang ingin anda sampaikan kepada kami, Tuan Simon? " tanya Erhan penasaran, karena ini menyangkut Zahra menantunya.
Semua orang terdiam mereka ingin mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Simon. Terutama Rayyan karena ini tentang istrinya.
"Itu sudah tugas kami Tuan Simon, mengajarkan sesuatu yang baik untuk semua anggota keluarga kami. " ucap Nisa yang mengerti perasaan pria tua di hadapannya ini.
"Dan sekarang saya ingin minta bantuan kepada kalian lagi, maaf jika pria tua ini terlalu banyak meminta. " Simon menundukkan kepalanya saat berucap itu.
"Apa yang bisa kami bantu tuan Simon, maka kami akan bantu. Selama kami bisa bantu. " Kini Erhan yang berkata.
"Ini tentang kehamilan Zahra. "
Semua orang saling berpandangan, bukankah kehamilan Zahra adalah sebuah anugerah untuk mereka. Terutama Zahra sendiri karena selama ini dia yang menginginkan kehamilan itu. Tapi melihat raut wajah Simon, sepertinya ada sesuatu yang dia takutkan.
"Memangnya kenapa dengan kehamilan Zahra, dad? " tanya Rayyan penasaran.
Simon menegakkan tubuhnya, menatap semua orang yang ada di sana, dengan tatapan mata penuh permohonan. Dia menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
__ADS_1
"Kalian tahu kan, Zahra besar tanpa kasih sayang seorang ibu. Ibunya meninggal saat melahirkan Zahra, tanpa bisa melihat wajah Zahra sekalipun. Padahal Zahra adalah anak yang kami nanti-nantikan selama lima tahun pernikahan kami. " Simon menjeda kalimatnya.Tak kuasa dia menceritakan tentang sosok istri yang sangat dia cintai itu.
Mendengar ucapan Simon, semua orang tertegun. Mungkinkah, Zahra terlambat memiliki anak karena faktor keturunan dari ibunya? itulah yang ada dalam pikiran mereka saat ini
"Tuan... aku tidak ingin kejadian yang dialami istriku, juga dialami anakku Zahra. Aku takut, jika sampai itu terjadi. Sulitnya Zahra memiliki anak sama dengan istriku. Aku takut.... " Simon tidak kuasa meneruskan ucapannya.
Semua orang seperti menahan nafasnya sejenak setelah mendengarkan pernyataan dari Simon.
"Istriku adalah wanita yang kuat, dan ceria. Tapi entah kenapa sejak hamil, tubuhnya menjadi lemah. Dan saat aku mendengar dari nak Rayyan kalau Zahra harus badrest, itu jadi mengingatkan ku pada ibunya Zahra. "
Deg....
Jantung Rayyan seakan dipompa begitu keras setelah mendengarkan ucapan dari ayah mertuanya itu. Namun dia harus selalu berpikiran posistif, agar apa yang ditakutkan tidak akan terjadi.
"Memangnya sakit apa yang diderita ibunya Zahra saat melahirkan Zahra?" tanya Nisa penasaran.
Simon menggeleng, "dia tidak sakit apapun. Hanya terlihat lemah saja. "
"Lalu apa tindakan medis yang dilakukan saat melahirkan Zahra?" tanua Erhan lagi.
"Istriku ingin melahirkan normal, dia sangat keras kepala seperti Zahra. Padahal dokter sudah menyarankannya untuk operasi. "
"Baiklah kami mengerti, tuan Simon. Kami berjanji akan menjaga dan merawat Zahra dengan baik. Dan kita harus berfikir positif untuk kebaikan Zahra. Semoga apa yang anda takutkan tidak pernah terjadi. "
Ucapan Erhan langsung diamini oleh semua orang.
Kini semua orang tahu kenapa Zahra sulit memiliki anak padahal keduanya dinyatakan subur. Ternyata bisa karena faktor keturunan dari orang tua Zahra. Dan fakta yang kedua sangat mengerikan memang, tapi semuanya akan berusaha menjaga Zahra dan bayi yang ada di dalam perutnya hingga mereka lahir. Sehat ibu dan anaknya.
Semoga saja apa yang ditakutkan daddy Zahra tidak pernah terjadi. Jadi, ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi mereka semua.
__ADS_1