
Benar saja di hotel tempat Monica menginap , terjadi kekacauan yang disebabkan oleh kemarahannya . Awalnya Monica merasa puas karena berhasil , menjatuhkan nama Zoya di muka publik melalui berita dan foto-foto yang tersebar . Tapi itu tidak berlangsung lama . Karena setelah Ezra melakukan klarifikasi ,berita yang Monica sebarkan langsung tertutupi oleh berita pernikahan Ezra dan Zoya yang berlangsung hampir dua bulan terakhir. Dan itu semua membuat Monica merasa geram dan sangat marah .
"Brengsek , kau benar-benar brengsek Evan . Kau sudah menghianati ku dan menipuku awas saja kau , aku akan membuat perhitungan denganmu . " gumam Monica yang mengumpati Evan karena sudah menghianatinya .
Monica segera berganti pakaian , dan bersiap menuju apartemen Evan . Sesampainya di apartemen , Monica melihat mobil Evan yang masih terparkir di basement apartemen . Monica tersenyum sinis melihat mobil itu ,
"Ternyata kau masih berani ada di sini setelah menipuku. Awas aja kau Evan. "
Monica segera keluar dari mobilnya , dan menuju apartemen Evan . Dengan langkah lebar dan cepat dia sudah sampai di depan apartemen Evan . Monica mengetuk pintu apartemen Evan dengan keras dan berteriak tidak jelas . Kelakuannya sangat mengganggu bagi Tetangga di sekitar apartemen, ada yang sudah mencegahnya untuk berteriak seperti itu , tapi Monica tidak peduli . Akhirnya salah satu tetangga Evan menghubungi security untuk mengusir Monica dari sana .
"Maaf nona Sebaiknya anda pergi dari sini , karena anda sudah mengganggu kenyamanan orang-orang di sini ." Kata salah satu security sambil menarik tangan Monica.
"Lepaskan aku , Aku sedang mencari Evan yang tinggal di sini ." teriak Monica kepada security.
Security itu pun mengerti karena ternyata orang ini sedang mencari dokter Evan .
"Maaf Nona jika anda mencari dokter Evan, Dia sudah pergi dengan beberapa orang semalam. Dan kami melihatnya dengat mata kepala kami sendiri. "
"Apa, dia sudah pergi . Apa kalian tahu ke mana Evan pergi ."
" Kami tidak tahu nona dan kami tidak berani menanyakan hal itu , karena yang membawa dokter Evan adalah orang-orang yang bertubuh besar dan berotot ." Kata salah satu security lain menjelaskan .
"Apakah dia diculik ?" Gumam Monica yang masih didengar oleh kedua security di depannya ini.
"Maaf Nona , kalau untuk masalah itu kami juga tidak tahu . Yang kami tahu dokter Evan dibawa dua orang bertubuh besar dan dimasukkan ke dalam mobil ." kata salah satu security memberikan alibinya .
"Kenapa bisa jadi seperti ini sih , semua Rencanaku gagal total . Dan sekarang aku tidak tahu kemana Evan dibawa pergi . Aku harus segera menghubungi mama."
Monicaa menjauh dari sana , dan segera menuju mobilnya sambil menghubungi mamanya. Namun berkali-kali di hubungi Tapi Shofi tidak segera menjawab panggilannya.
__ADS_1
"Mama ke mana sih , Kenapa tidak menjawab teleponku . Apa dia masih tidur , atau menjemur Pak Tua itu di bawah matahari . " Monica segera pergi dari apartemen Evan dan menuju hotel tempat ia menginap, dengan wajah yang penuh dengan kekesalan dan amarah.
Jerman.
Erhan dan Kemal sudah berada di depan rumah Shofie. Di sekitar rumah Shofie sudah di kepung oleh beberapa orang-orang Erhan dan di bantu pihak kepolisian setempat.
Erhan menyuruh Evan untuk segera kembali ke Jerman adalah untuk ini. Dia ingin, Evan melaporkan semua tindak kejahatan Shofie dan Monica. Mulai dari merebut kekayaan Ayahnya secara sembunyi-sembunyi, membuat ayahnya lumpuh, mengancamnya untuk melakukan balas dendamnya kepada Keluarga Erhan di Turki dengan menjadikan anak dan istrinya sebagai sandera.
Bahkan Direktur rumah sakit mau bersaksi dan memberi pernyataan akan hal itu, karena dia juga mendapat ancaman dari Monica.
Dengan bukti dan saksi akhirnya pihak kepolisian mau bergerak untuk menangkap Shofi di kediamannya..
Erhan memencet bell pintu rumah itu berkali-kali dan mengetuknya, dengan memanggil nama Shofie beruang kali. Tapi tidak ada pergerakan dari dalam rumah. Hingga Erhan harus melakukan hal terakhir yang sangat menjijikka baginya.
"Shofie... Sayang... Ini aku Erhan. Mommy memintaku datang kemari untuk menjemputmu. Apa kau tidak mau menemuiku? apa kau tidak merindukanku? "
Ingin muntah rasanya Erhan mengatakan hal itu, dan ekspresi Erhan itu terlihat jelas di mata Kemal yang tengah menaham tawanya. Namun rayuan Erhan baru saja tidak sia-sia, itu terlihat dari gagang pintu yang bergerak. Dan perlahan pintu rumah itupun terbuka sedikit demi sedikit, hingga akhirnya terlihat seorang wanita paruh baya seusia dengan Erhan keluar dsri rumah itu.
"Hai, Shofie... sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu. "
"Erhan....kau benar-benar Erhan. "
Shofi langsung memegang tangan Erhan dan semua nyata. Erhannya ada di depan matanya, dia tidak bermimpi. Sosok tinggi besar di depannya adalah Erhan pria yang masih dia cintai sampai saat ini.
"Kau datang Erhan... Darimana kau tau aku ada di sini? " Kesadaran Shofie mulai kembali dan dia memasang mode waspada.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana Shofie, aku sudah mengutus banyak orang untuk mencari keberadaanmu. "
"Kenapa kau mencariku? " Shofie seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Erhan.
__ADS_1
"Mama, mama memintaku mencarimu, dan dia ingin kau kembali bersama kami, Kita berkumpul dan hidup rukun seperti dulu, Shofie. Apa kau mau? " Erhan mengulurkan tangannya agar mendapatkan sambutan dari Shofi.
Shofi melihat tangan Erhan dengan banyak pikiran yang berkecamuk di otak dan hatinya. Otak nya ingin menolak, tapi hatinya ingin mengikuti nalurinya. Dia ingin mengikuti pria yang sangat dia cintai tapi juga sangat dia benci.
"Apakah tante Aylin benar-benar memintaku untuk kembali, Erhan. Kau tidak bohongkan? "
"Iya... aku tidak bohong Shofie. Kalau aku bohong, untuk apa aku pergi jauh-jauh kemari hanya untuk menjemputmu. " Erhan meyakinkan.
"Kalau kau tak percaya, tanya saja Kemal. Dia juga tau semuanya. Karena itu dia aku ajak kemari untuk menemaniku mencarimu dan mengajakmu kembali pulang. " Erhan lebih meyakinkan lagi dengan membawa kemal dalam hal ini.
Benar saja Shofie langsung menatap pria disamping Erhan. Pria yang selama ini setia kepada Erhan.
"Benarkah itu, Kemal? Erhan tidak berbohong kan?"
"Benar Shofie kami jauh-jauh datang kemari untuk menjemputmu, Ayo kita pulang. Kamu terlalu jauh bermain Shofie. " Kemal mengatakannya dengan senyuman yang mengembang di bibirnya, sehingga membuat Shofie percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kemal, dan Erhan.
"Tunggu, aku akan bersiap. " Shofie akan masuk ke dalam rumahnya lagi namun tangannya segera dicekal Erhan.
"Tidak perlu bersiap, kita langsung pergi saja. Kita nanti akan membelikan semua keperluanmu dengan yang baru. "
Erhan lalu mengeluarkan kartu hitamnya dan diberikan kepada Shofie.
"Ini ambillah. Kau bisa menggunakan nya sesuka hatimu. " kata Erhan pada akhirnya.
Melihat sebuah black card yang diberikan Erhan ditangannya, membuat mata shofie membulat tak percaya. Ini semakin meyakinkan dia untuk ikut bersama dengannya.
"Erhan.. ka... kau serius memberikan ini untukku? "
'Iya, sekarang ayo kita pergi. "
__ADS_1
Erhan sudah tidak tahan lagi dan langsung menarik tangan Shofi keluar dari rumah itu, dan membawanya masuk ke dalam mobil. Dia duduk di kursi penumpang bersama Erhan. Shofi sangat bahagia saat bisa satu mobil bersama Erhan. Tapi sayang, Kebahagiaan nya tidak berlangsung lama. Karena dari kursi paling belakang muncul seseorang yang langsung mencekik leher Shofie hingga dia tidak bisa bergerak, Lalu orang yang duduk di kursi Sopir segera memborgol kedua tangan Shofie. Erhan dan Kemal segera keluar dari mobil itu, dan melihat kemarahan di mata Shofie.
"Erhan kau menipuku... "