
"Aku ingin memastikan perasaan Faza kepadaku mom. "
Ucapan Murad sontak membuat Nisa terkejut dan tidak percaya.
"Apa maksudmu, nak? "
"Aku mendengar semua ucapan Faza saat aku tidak sadarkan diri, mom. Bahkan aku tadi sebenarnya sudah sadar, saat mommy dan tante Alima keluar dan membiarkan Faza berdua denganku. Aku mendengar semua ucapannya, dan tingkah lakunya kepadaku. " Murad menerbitkan senyumnya saat menjelaskan apa yang terjadi tadi.
"Jadi, kamu tau kalau Faza... "
Murad mengangguk. "Aku tau saat Faza juga menciumku. Aku merasakannya walau hanya sekilas. '
" Lalu apa yang kau rasakan. Apa kau juga mencintai Faza? " tanya Nisa yang tidak sabaran mendengar pernyataan Murad.
"Aku menyayangi Faza sejak kecil, mom. Aku tidak berani mencintainya karena dia sudah aku anggap sebagai adikku sama seperti Zoya." terang Murad.
"Tapi jika Faza memiliki perasaan lebih kepadaku, maka aku akan mencoba membuka diriku untuknya. Tapi aku harus memastikan sesuatu dulu. " terang Murad.
"Apa itu? "
"Apakah Faza akan tetap mencintaiku, walaupun keadaanku seperti ini? Aku yang tidak bisa berjalan dan pasti akan menjadi beban untuk orang lain. " kata Murad dengan menundukkan kepalanya.
"Jangan bicara seperti itu, sayang. Kamu tidak akan menjadi beban bagi kami. Kamu adalah anak kami kebanggaan kami. Kami semua akan mendukungmu, nak. Jangan berkecil hati. Lagipula kata dokter ini hanya bersifat sementara. Jadi kamu masih bisa sembuh, sayang. Dan bisa berjalan normal lagi. " Nisa memberikan dukungan kepada anaknya itu, agar dia tidak putus asa.
"Aku tau mom, tapi aku tidak yakin ada wanita yang mau menerimaku saat keadaanku tak berdaya seperti ini. Mereka hanya akan mengejarku saat aku sehat dan tidak cacat. " keluh Murad kepada mommynya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? "
"Aku akan mencari wanita yang tulus mencintaiku apa adanya, dalam keadaanku yang kekurangan. Dia tidak memandangku sebagai seorang Murad Khan sang pewaris. Tapi memandangku sebagai seorang pria yang ia cintai dengan tulus. " kata Murad langsung kepada intinya.
"Jika itu Faza, apa kau akan menerima nya? " tanya Nisa dengan penuh keraguan.
Murad mengangguk. "Aku akan menerimanya jika dia tulus dan aku sudah mendapatkan restu dari Om Kemal dan tante Alima. "
Nisa menghela nafasnya. "Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang. "
"Kumpulkan semua orang, termasuk keluarga om Kemal nanti malam. Dan katakan kepada mereka semua tentang keadaanku, mom. Apa kata dokter tadi, semua katakan dan beri sedikit bumbu dari mommy. " Murad menjelaskan rencananya kepada sang mommy.
"Maksudmu.? " tanya Nisa tak mengerti.
"Mommy harus bersandiwara dan mendramatisir keadaanku. Dan kita lihat bagaimana respon semua orang terutama Faza. " Murad kembali menjelaskan rencananya.
"Jika nanti malam, aku sudah mendapatkan jawabannya. Maka besok aku akan membuka mataku. Aku janji. "
__ADS_1
Nisa menghela nafasnya lagi. Dia tidak menyangka kalau anaknya punya rencana seperti ini ketika sadar. Dan apa dia bilang tadi, dia disuruh bersandiwara? Nisa langsung menepuk kepalanya. Hal yang paling sulit dilakukan Nisa adalah berbohong dan bersandiwara. Tapi untuk kali ini, Nisa akan berusaha demi anaknya itu.
"Baiklah sayang. Nanti mommy akan coba. Tapi kalau mommy tidk berhasil, maafkan mommy ya. Karena mommy tidak bisa berakting dengan baik."
Murad mengangguk ia lalu memejamkan matanya.
"Aku lelah mom, aku akan tidur. "
"Tidurlah sayang. "
Nisa lalu membenarkan posisi tidur Murad dan membenahi selimut Murad agar tampak koma seperti tadi. Ia lalu duduk di sofa sambil memijit keningnya yang terasa pecah. Dia tidak pernah berfikir seperti ini sebelumnya, masalah percintaan anaknya.
Kejadian ini pernah di alami suaminya dulu sebelum menikah dengannya. Erhan yang di selingkuhi kekasihnya, lalu memutuskan untuk ikut perjodohan online hanya demi mencari sosok wanita yang mau menerima dia apa adanya, tanpa melihat harta dan kedudukan yang ia miliki.
Kini seperti dejavu, kejadian itu menghampiri hidup anak pertamanya. Tapi saat ini keadaannya lebih memprihatinkan, anaknya harus mengalami kecelakaan dan mengalami kelumpuhan setelah melihat perselingkuhan tunangannya. Dan dia memutuskan untuk menjadikan kelumpuhannya sebagai alat untuk mencari seseorang yang tulus mencintainya dengan segala kekurangannya.
Nisa dan Erhan sebenarnya sudah tau sejak awal, kalau Murad tidak benar-benar mencintai Diandra. Tapi entah apa alasan Murad tetap mempertahankan Diandra hingga mereka sampai bertunangan. Nisa dan Erhan sungguh tidak mengerti jalan pikiran anak pertamanya itu.
Nisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada suami dan anak-anaknya. Juga mengirimkan pesan kepada Kemal dan anak istrinya.
✉️ "Bisakah nanti malam kalian datang ke rumah sakit. Ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua, tentang keadaan Murad. "
✉️ "Jangan menghubungiku, karena aku sangat lelah hari ini. Cukup kita bertemu nanti malam saja. '
"Murad yang malang. "
*
Malam telah tiba. Baik Erhan dan kedua anaknya sudah merasa tidak tenang setelah mendapatkan pesan dari istri sekaligus mommy dari anak-anaknya itu. Mereka segera pergi ke rumah sakit untuk segera mengetahui keadaan Murad. Mereka penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada Murad.
Begitu juga dengan Kemal dan keluarganya, mereka juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Murad. Alima jadi sangat kesal kepada Nisa. Kenapa Nisa tidak langsung memberitahukan apa yang terjadi pada Murad kepadanya. Bahkan ditelponpun tidak bisa. . Kenapa harus seperti ini. Semua orang harus datang ke rumah sakit.
Erhan masuk keruang rawat anaknya itu, disusul Rayyan dan Zoya. Nisa langsung berhambur memeluk suaminya itu dan menangis di pelukannya. Erhan membiarkan Nisa meluapkan segala rasanya dulu, sebelum menanyakan sesuatu kepadanya. Rayyan dan Zoya saling berpandangan melihat tingkah sang mommy. Sebenarnya apa yang terjadi.
Tak lama Kemal dan keluarganya juga datang, mereka juga bingung saat melihat Nisa menangis dalam pelukan suaminya.
"Apa yang terjadi Nisa? " tanya Alima pada akhirnya, karena dia tidak sabaran mendengarkan apa yang ingin Nisa sampaikan.
"Murad... Murad... " kata Nisa sambil terisak.
"Tenangkan dirimu sayang. setelah itu katakan sesuatu kepada kami. "
Nisa mencoba menenangkan dirinya ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
"Tadi siang, tangan Murad bergerak. " kata Nisa pada akhirnya dia akan memulai aktingnya. Tapi tidak semuanya akting, dia juga berkata sesuai hati dan perasaannya.
"Benarkah? " kata semua orang bersamaan. termasuk Alima yang pura-pura terkejut.
"Lalu aku memanggil dokter untuk memeriksanya.'
" Lalu, apa kata dokter, sayang. ' tanya Erhan tak sabaran. Karena dia juga merasa bahagia karena akhirnya Murad ada perkembangan.
"Kata dokter keadaan Murad semua normal, mungkin sebentar lagi dia akan sadar. Tapi... " Nisa tidak melanjutkan kalimatnya, karena ini juga kenyataan yang menyakitkan baginya.
"Tapi, apa mom. katakan pada kami. " giliran Rayyan yang tidak sabaran.
Sedangkan di sudut lain Faza dengan antusias mendengarkan semua penjelasan dari Nisa.
"Sebuah fakta yang menyakitkan juga di katakan dokter.. " kata Nisa lagi, kali ini dengan tangisan sesungguhnya.
Semua orang mengernyit tak mengerti dengan maksud Nisa.
"katakan, sayang. " kata Erhan dengan penuh kelembutan
"Kita harus bersiap, saat Murad sadar. Kita harus memberikan semangat kepadanya. " kata Nisa dengan bertele-tele.
"Kami pasti akan mendukung Murad mom. " kini Ezra yang bicara. Dan diangguki semua orang
Nisa tersenyum mendengar kalimat dari Ezra. "Murad kemungkinan tidak bisa berjalan normal seperti dulu." kata Nisa dengan lelehan air mata yang membanjiri pipinya.
"Apa? " pekik semua orang bersamaan.
"Bagaimana mungkin. " seru Zoya menggelengkan kepalanya yang tidak percaya atas penjelasan mommy Nisa.
"Murad, mengalami cidera di kaki dan kepala. Dokter sudah melakukan tindakan operasi saat itu. Tapi kemungkinan Murad tidak bisa berjalan normal seperti dulu dalam waktu dekat, karena dia harus menjalani pengobatan dan terapi. Sampai kakinya bisa berjalan normal kembali." Semua orang terdiam, mencerna apa yang mereka dengar barusan.
Faza mendekat ke ranjang Murad dan memperhatikan Murad yang tertidur itu dengan seksama. Dan itu tidak luput dari pandangan Nisa.
"Mas, Kalau seperti ini apa yang harus kita lakukan? Nggak akan ada wanita yang mau menikah dengan Murad, kasihan dia. Nggak akan ada wanita yang mau merawat Murad dengan tulus nantinya.Dia pasti kesepian di saat seperti ini. Semua orang pasti menjauhinya. " kata Nisa dengan tangisannya yang langsung mendapatkan pelukan dari suaminya.
"Tenanglah mom, masih ada kita yang akan menemani kak Murad. Aku dan Zoya akan selalu bersama kakak. " ujar Rayyan yang ikut menghibur mommynya, ia juga sedih setelah mendengarkan keadaan kakanya itu.
"Aku tau, kita akan selalu bersama Murad. Tapi masih adakah wanita yang mau menikah dengannya, dalam keadaan serba kekurangan seperti ini? " Kata Nisa lagi, dia menoleh ke arah Alima sekilas lalu mengedarkan pandangannya ke arah Faza yang masih terus memperhatikan Murad. Entah apa yang ada di pikirkan gadis itu sekarang.
Alima yang akhirnya mengerti sinyal dari Nisa pun, hanya terdiam. Dia juga tidak tau apakah anaknya masih akan tetap menerima Murad yang tidak bisa berjalan atau tidak.
"Aku mau... Aku mau menikah dengan kak Murad, walau bagaimana pun keadaannya. "
__ADS_1
Bersambung...