
"Aku merasa sangat tidak berguna Faza, Aku merasa lemah. Aku tidak bisa berdiri dengan kedua kakiku. "
"Kakak, jangan bicara seperti itu lagi. Bagaimanapun keadaanmu. Seperti apapun dirimu, aku akan tetap mencintaimu. " Faza masih menangis di dalam pelukan Murad.
Faza lalu melepaskan pelukannya, masih menghadap ke arah Murad. Lalu kedua tangan Faza menggenggam tangan Murad dan mengecupnya.
"Aku tau, kakak hanya menganggapku adik, dan kakak masih belum memiliki perasaan apapun padaku sebagai seorang wanita."
"Aku tau menunggu adalah sesuatu yang sangat berat dan membosankan. Tapi aku adalah wanita yang sangat keras kepala. Aku akan tetap menunggu kakak, sampai kakak menganggapku sebagai seorang wanita. Aku akan menunggu kakak membalas cintaku. "
"Aku akan selalu bersama kakak, berjuang sampai kakak bisa berjalan lagi. Aku akan mendampingi kakak, menjalani setiap proses penyembuhan kakak. "
Murad hanya terdiam mencerna setiap kata yang diucapkan Faza dan memandang Faza dengan lekat. Dia tidak menyangka adik kecilnya itu memiliki keberanian sebesar itu mengungkapkan perasaan kepadanya. Dia tidak menyangka kalau Faza benar-benar sangat mencintainya.
"Ingatlah ini, kak. Jika kamu masih mampu bertahan itu artinya kamu masih belum mencapai batas akhir. Kamu masih bisa berjalan, kalau kamu percaya. "
Faza masih bersimpuh di depan Murad menghadap Murad yang terdiam dengan segala pemikirannya.
"Aku tak peduli jika kakak sakit, Tak apa jika kakak tak setampan dan seseksi dulu. Asalkan kakak selalu ada di sampingku, itu sudah cukup bagiku. "
"Maafkan aku, jika aku mengatakan ini. Aku mencintaimu kak, betapa aku sangat mencintaimu. Sejak dulu, sejak aku mengenal seorang pria tampan di hidupku. Bagiku kamulah pria paling tampan di dunia. "
Faza menatap Murad dengan lekat, begitu juga Murad yang menatap Faza tak kalah lekat nya. Dia benar-benar tak habis pikir gadis sepolos Faza menyatakan cinta kepadanya. Kepada pria yang tidak bisa berjalan saat ini. Tapi apa yang dia dengar benar-benar keluar dari mulut mungil Faza, gadis cantik di depannya.
Faza lalu berdiri, "Maafkan aku kak karena sudah berani mengatakan semua itu." dia lalu berbalik hendak meninggalkan Murad. Namun tangan Murad langsung mencekal tangan Faza.
"Faza.... apa kau mau menikah dengan ku? "
Sebuah kalimat sakral itu keluar dari mulut Murad.
Faza terdiam membeku mendengar ucapan Murad barusan. Seolah tak percaya dengan apa yang baru keluar dari mulut Murad.
"Faza... " panggil Murad yang melihat Faza tertegun.
Faza jadi gelagapan ketika Murad menyadarkannya.
Murad lalu meminta Faza mendekat ke arahnya. "Katakan padaku, apa benar kau mencintaiku? "
Faza mengangguk.
"Apa kau akan menerima bagaimanapun keadaaanku. Baik sehat ataupun sakit seperti ini? '
Lagi Faza mengangguk.
" Lalu, apa kau mau menikah denganku? '
__ADS_1
Faza mengangguk lagi dengan yakin.
"Aku mencintai kakak, aku akan menerima bagaimanapun keadaan kakak. Dan aku mau menikah dengan kakak. Kita akan melewati semua ini bersama kak. " Faza lalu berhambur memeluk Murad dengan erat.
"Aku mencintaimu... aku mencintaimu, sangat mencintaimu kak Murad. " Lagi, Faza menangis dipelukan Murad Kali ini dia menangis dan tertawa secara bersamaan karena bahagia.
Murad membalas pelukan Faza, pelukan yang penuh dengan ketulusan dan keikhlasan. Lama mereka saling berpelukan untuk meluapkan segala rasa yang mereka rasakan. Hingga pelukan itu terlepas.
"Jika kamu mau menikah denganku, aku punya sebuah syarat untukmu Faza. "
"Apa? katakanlah. Kalau aku bisa aku akan melakukan syarat dari kakak. "
Murad lalu memandang wajah Faza dengan lekat. Lalu memegang kepala dan membelai rambut Faza.
"Ini." Murad menunjukkan rambut Faza yang terurai indah.
"Maksud kakak? " tanya Faza tak mengerti.
"Tutuplah rambutmu Faza, seperti mommy, tante Alima dan Zoya. Karena kewajiban seorang wanita muslim adalah menutup auratnya dengan sempurna, tidak hanya sebagai hiasan. " Murad menunjukkan hijab milik faza yang berbentuk pasmina.
Faza menunduk mendengarkan permintaan Murad, dia merasa sangat malu saat itu. Saat di ingatkan tentang kewajiban seorang wanita muslim.
"Dan hijabmu ini, akan menjadi tanggung jawab tiga pria di sekitarmu, papamu, kakakmu dan suamimu. " Murad lalu memegang tangan Faza.
Dada Faza terasa nyeri mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Murad. Semua yang Murad katakan adalah sebuah kebenaran. Di keluarganya, hanya Faza yang membangkang mengenai penampilannya. Padahal sang mama sudah mengingatkan nya berkali-kali. Tapi Faza tidak pernah mengindahkan omelan mamanya itu. Kini, dia sadar setelah Murad yang mengatakannya.
Memang benar, cinta bisa membuat semua orang berubah dengan mudah.
Murad membiarkan Faza terdiam beberapa saat, ia memberi waktu kepada Faza untuk berfikir.
Faza lalu melepaskan genggaman lengan Murad. , Lalu bersimpuh lagi di hadapan Murad.
"Apa kakak janji. " ucapnya kemudian.
Murad mengangguk dan tersenyum memandang ke arah Faza.
"Baiklah. Aku akan pegang janji kakak. "
Murad membelai rambut Faza dengan lembut.
"Seorang pria sejati tidak akan mengingkari ucapannya, Faza. "
"Baiklah." Faza lalu bangkit dari posisinya. Dan keluar dari kamar Murad, meninggalkan Murad sendiri di kamarnya.
Tingkah Faza tadi membuat Murad menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tidak menyangka kalau Faza akan mengungkapkan perasaannya kepada Murad seperti tadi. Membuat Murad langsung luluh dan meleleh dibuatnya. Sungguh baru kali ini, hati Murad terasa di obrak abrik dengan ucapan Faza.
__ADS_1
Di bawah, Faza langsung mencari Zoya. Semua orang yang melihat Faza turun dengan wajah bahagianya menjadi heran. Karena dia tadi naik dengan wajah panik tapi sekarang dia turun dengan wajah bersinar.
"Kak Zoya mana? " tanyanya kepada semua orang.
"Apa yang terjadi, Faza? dimana Murad, apa dia sudah tenang? "
Faza mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban.
"Dimana kak Zoya. " tanyanya lagi, karena tidak mendapat jawaban dari semua orang.
"Ada apa mencariku? "
Faza lalu menariknya ke kamar Zoya. Setelah sampai di kamar Zoya, Faza meminta tolong kepada Zoya.
"Kak, pinjamkan aku baju terbaik kakak dan hijabnya juga. Aku akan mandi sebentar. "
"Untuk apa? "
"Pokoknya pinjamkan aku baju terbaik kakak. " ucap Faza sambil berlalu ke kamar mandi.
Zoya hanya mendengus melihat ulah Faza. Tanpa penjelasan Faza minta sesuatu yang tidak masuk akal. Tapi pada akhirnya Zoya melakukan juga permintaan Faza. Fia mengambilkan baju gamis berwarna merah muda dengan hijab merah muda juga yang sangat cantik. Baju itu jarang di pakai Zoya karena dia tidak begitu menyukai warna merah muda.
Faza keluar dari kamar mandi dan terlihat lebih segar. Dia melihat baju yang disiapkan Zoya di atas tempat tidur. Matanya berbinar melihat baju itu, bagus sekali.
"Wah kakak, ini bagus sekali. "
"Pakailah, aku berikan padamu Faza. Baju itu tidak pernah aku pakai, hanya aku pakai sekali waktu pertemuan dengan dresscode warna merah muda. sedangkan aku tidak suka warna itu. Jadi, pakailah. Kuberikan padamu. "
Faza langsung memeluk Zoya. "Terima kasih kakak. "
Dia langsung memakai bajunya, terlihat sangat cantik dan pas ditubuh Faza. Lalu dengan mengucapkan bismillah Faza langsung menggunakan Jilbabnya juga. Wajah Faza terlihat sangat cantik dan bersinar setelah memakai jilbabnya.
"Masha'Allah Faza, kamu terlihat sangat cantik sekali. " Pekik Zoya yang terkagum-kagum melihat kecantikan Faza.
"Benarkah? " tanya Faza gak percaya.
Zoya mengangguk. "Kamu cantik sekali. "
"Terimakasih, kak. " Faza lalu memeluk Zoya lagi.
Dia langsung, keluar dari kamar Zoya, dan menuju kamar Murad. Setelah mengetuk kamar Murad, Faza lalu masuk, setelah dipersilahkan oleh Murad.
"Kak Murad, aku siap. "
Bersambung
__ADS_1