
"Memangnya kriteria wanita seperti apa yang kakak sukai untuk menjadi pendamping kakak? " Tanya Faza, dengan segala rasa penasarannya.
"Seperti Mommy. "
Dua kali jawaban yang Murad katakan kepada Faza selama kurang dari satu menit.
"Seperti mommy. "
Faza menghembuskan nafasnya sedikit kesal karena merasa Murad seolah mempermainkan nya.
"Bisa lebih spesifik nggak kak? Kalau wajah dan kecantikan mommy itu, sudah pasti mirip kak Zoya banget. " kata Faza dengan wajah cemberut.
Murad terkekeh melihat tingkah Faza yang menggemaskan itu.
"Faza... Faza... Kenapa kamu menanyakan hal itu kepada kakak? Apakah kamu ingin menjadi istri kakak? hmmm? " tanya Murad sambil menoel dagu Faza.
Faza yang mendapat pertanyaan itu langsung salah tingkah dan wajahnya langsung memerah.
"Kakak.... " rengeknya manja.
Murad lalu menggenggam erat tangan Faza.
"Faza, setelah kakak memutuskan hubungan dengan Diandra. Kakak tidak akan memilih kriteria wanita cantik sebagai kriteria utama. Kakak ingin mencari seorang wanita yang seperti mommy, bukan karena mommy cantik. Tapi... " Murad menjeda ucapannya dan tersenyum ke arah Faza.
"Tapi apa kak.... jangan bikin aku penasaran dong."
"Tapi kakak akan mencari seorang wanita, yang mau mencintai dan menerima kakak apa adanya. tanpa memandang harta dan jabatan. Seperti daddy yang mencari jodohnya di situs online. Dia mencari seorang wanita yang tidak mengetahui asal usul daddy dan siapa daddy sebenarnya. Yang dia tau, wanita itu tulus mencintai daddy. Dialah mommy. "
"Jika kita mendengar cerita mommy dan daddy pasti akan banyak pelajaran yang kita dapat. Bukan hanya orang cantik dan pintar tapi atitud yang utama. Percuma punya wajah cantik dan otak yang pintar tapi dia tidak punya atitud yang baik. Maka orang akan menganggapnya bodoh. " jelas Murad memberitahukan kriteria wanita idamannya.
"Kalau begitu nanti aku akan minta kepada mama, untuk menceritakan kisah cinta mommy dan daddy."
Murad tersenyum sambil mengangguk.
"Jadi yang dimaksud kak Murad seperti mommy itu bukan wajahnya, tapi hatinya. Aku akan mencari tau kepada mama nanti. " gumamnya dalam hati.
"Tapi untuk saat ini, aku masih belum ingin menikah dulu Faza. Aku ingin menyembuhkan kakiku dulu. Dan kembali bisa berjalan seperti semula. Karena aku yakin, mana ada wanita yang akan mau merawat pria cacat sepertiku saat ini. "
Faza langsung membungkam mulut Murad dengan satu jari telunjuknya.
__ADS_1
"Ssstt... kakak nggak boleh bilang seperti itu. Kakak nggak boleh menyerah dan harus tetap semangat agar cepat sembuh. Lagi pula ada kok wanita yang mencintai kakak dengan tulus tanpa memandang harta dan kedudukan kakak. " ungkap Faza pada akhirnya.
"Siapa" tanya Murad dengan semangat dan pura-pura tidak tahu.
"Pokoknya ada deh kak. " kata Faza dengan gaya centilnya.
Murad hanya menggeleng kan kepala melihat tingkah Faza yang sangat menggemaskan.
"Faza kemarilah. " Murad merentangkan tangannya, meminta Faza untuk masuk ke dalam pelukannya.
Faza yang merasa kikuk pun merasa malu, dan muncul semburat merah di pipinya.
"Kemarilah.. " panggil Murad sekali lagi,masih menunggu Faza masuk ke dalam pelukannya.
Faza akhirnya mendekat dengan ragu, lalu Murad langsung menarik tangan Faza agar masuk kedalam pelukannya.
Kepala Faza bersandar di dada bidang Murad dan mencium aroma tubuh Murad yang menenangkan. Sedangkan Murad mencium aroma rambut Faza yang sangat harum itu dan tangannya membelai lembut rambut hitam Faza.
"Apa kau mendengar detak jantungku, Faza. "
Faza mengangguk. " Kencang sekali, seperti detak jantungku saat ini. " Lirih Faza sambil memegang dada Murad yang satunya..
Nyaman sekali, Itulah yang dirasakan Faza dan Murad saat ini.
Selama beberapa waktu, Mereka berdua terhanyut dalam rasa yang sedang mereka selami. Enggan melepaskan pelukan itu. Karena Terasa hangat dan nyaman. Hingga Murad mengecup pucuk kepala Faza. Yang membuat Faza semakin menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Murad, dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Faza, "
"Hmmm... "
"Kalau aku tidak bisa sembuh, apa kau akan tetap bermanja seperti ini kepadaku? "
"Tentu saja. Aku akan selalu bermanja seperti ini denganmu. Karena aku merasa nyaman sekali saat ini. Jika bisa aku akan meminta waktu untuk berhenti sejenak. Agar aku bisa seperti ini terus denganmu. "
Murada merenggangkan pelukannya, membuat Faza merasa kecewa. Tangan Murad menelurusi wajah Faza mulai dari keningnya, dan menyingkirkan anak rambut nakal yang mengganggu. Lalu turun ke bawah ke mata, pipi dan berhenti di bibirnya. Ingin sekali Murad mencium bibir merah cherry itu. Tapi Murad harus menahannya sampai ia yakin tentang perasaannya pada Faza. Dia tidak ingin salah langkah dan membuat Faza kecewa.
"Kau memang adik kecilku yang manis. " ucap Murad pada akhirnya.
Faza yang mendengar ucapan Murad baru saja langsung berubah kecewa. Ternyata perasaan Murad padanya masih sama, hanya menganggapnya tetap seperti seorang adik. Tapi Faza tak lantas pantang menyerah karena dia sudah berjanji akan berjuang untuk merebut hati dan cinta Murad. Dia menunjukkan senyum manisnya untuk menutupi kekecewaannya, dan raut wajah kecewa itu bisa di tangkap oleh Murad.
__ADS_1
"Maaf Faza, aku harus meyakinkan diriku dulu untuk bersanding denganmu. Beri aku sedikit waktu. " batin Murad.
Tanpa mereka sadari, Empat pasang mata sedang mengintip mereka dari balik kaca jendela kamar inap Murad.
"Erhan... sepertinya Murad mengecawakan Faza. " Kata Kemal sedikit kecewa.
"Belum Kemal. Murad baru saja putus dengan Diandra. Mungkin dia sedang meyakinkan hatinya untuk Faza. Aku yakin itu. " ujar Nisa.
"Tidak mungkin Murad akan langsung jatuh cinta pada Faza sedangkan selama ini, dia selalu menganggap Faza adalah adiknya sendiri. Karena itu, Murad butuh waktu. " lanjut Nisa menjelaskan perasaan Murad.
"Kau benar, hanya anakku saja yang terlalu agresif. " Kemal merasa kesal dan gemas sendiri melihat sikap Faza kepada Murad.
"Tidak apa-apa, Itu wajar. Apalagi Faza sedang berjuang untuk mendapatkan cinta Murad. Kita hanya harus mendukungnya, Kemal. " Erhan menenangkan sahabatnya itu agar tidak terlalu berfikir berlebihan. Lagipula, mereka tidak keberatan dengan sikap dan tingkah laku Faza kepada Murad.
"Benar yang dikatakan suamiku, Kemal. Tidak perlu kamu pikirkan sikap Faza itu. Karena kami sangat menyukai Faza dan berharap kelak Faza bisa benar-benar menjadi anak kami. " kata Nisa meyakinkan semuanya, bahwa ia sangat menyetujui jika Faza mencoba merebut hati Murad dengan caranya.
"Terserah kau saja. Ayo sekarang kita masuk. Aku takut anakku itu bersikap berlebihan kepada Murad. " gerutu Kemal dengan wajah kesalnya. Membuat, Nisa, Erhan dan Alima menggelengkan kepalanya.
Pintu ruangan terbuka, dan masuklah para orang tua mereka. Terlihat wajah Kemal yang sedikit kesal, dan senyum lainnya yang terlihat menggemaskan.
"Papa dan mama sudah datang? " sapa Faza kepada kedua orangtuanya.
"Kamu sudah makan Faza? " tanya Alima sambil menunjukkan sebuah paper bag.
Faza menggeleng, lalu menghampiri mamanya itu.
"Makanlah, tadi mama bawakan bekal untukmu, karena kamu pasti belum makan seperti kakakmu." kata Alima membuka bekal makan untuknya.
Mata Faza berbinar melihat bekal makannya.
"Apa kakak mau? " tawar Faza kepada Murad.
Murad menggelengkan kepalanya.
Maaf Faza, Murad masih belum boleh makan makanan dari luar. Dia hanya boleh memakan makanan dari rumah sakit saja. " Nisa memberikan pengertian kepada Faza.
Faza hanya mengangguk mengerti.
Murad memandang Faza yang sedang makan dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
Bersambung.