
Flashback
Rayyan yang berada dalam perjalanan pulang, jadi teringat sesuatu tentang saudara kembarnya. Dia lupa kalau semalam mereka datang bersamaan. Jika mobilnya dia bawa sekarang, sudah pasti Zoya akan marah-marah. Akhirnya, Rayyan menghubungi Ezra.
"Hallo, Ezra. "
"Ada apa. " jawabnya dingin dari seberang telpon.
"Kamu hari ini tidak perlu menjemput ku, karena aku sudah pulang. Tapi aku minta tolong padamu, jemput Zoya, dia pasti marah-marah karena mobilnya aku bawa."
"Baiklah."
"Ah, ya. satu lagi. Kak Murad sudah sadar. Sampaikan itu pada papamu dan Faza. Kalau mamamu tidak perlu, karena dia pasti sudah tau kalau kakak sudah sadar. Aku tutup telponnya. "
Panggilan teputus. Satu masalah dengan saudara kembarnya sudah teratasi. Dia tidak akan merasa bersalah lagi.
Ezra yang mendapat kabar itupun hanya tertegun, hingga sang papa menepuk pundaknya untuk menyadarkannya
"Ada apa? " tanya Kemal sambil membenarkan dasinya.
"Rayyan baru saja menguhubungiku, dia menyuruhku menjemput Zoya. "
"Ya sudah sana pergi. Kamu tau sendirikan si cerewet itu. Kalau kamu terlambat dia pasti akan mengomelimu. " Kata Kemal dengan terkekeh.
Ezra tersenyum tipis mendengar hal itu. karena memang benar, Zoya sangat cerewet dan berisik.
"Tapi bukan hanya itu yang di sampaikan Rayyan, pa. "
Kemal menarik alisnya ke atas. "Apa lagi? "
"Katanya, Murad sudah sadar. Aku disuruh memberi tahu papa dan Faza tapi tidak dengan mama, karena mama katanya sudah tau. "
Mendengar penuturan anaknya, Alima langsung menyemburkan air yang sedang ia minum barusan. Beda dengan Faza, dia sangat senang sekali mendengar kabar bahwa Murad telah sadar.
"Kalau begitu ayo, kita ke rumah sakit. Aku ingin melihat kak Murad " Faza langsung bangkit dari kursi makannya, dan menuju ke kamar untuk mengambil sesuatu yang akan dia bawa.
Faza keluar dari kamarnya dan langsung menggandeng lengan kakaknya, dan mengajaknya keluar.
"Kamu pergi dulu dengan Faza, sambil menjemput Zoya. Papa dan mama akan menyusul sebentar lagi. " kata Kemal.
Faza dan Ezrapun segera berangkat. Di dalam mobil, Ezra ingin menanyakan perasaan adiknya itu pada Murad.
"Za, apa kamu benar-benar mencintai kak Murad? tuan muda kita itu. " tanya Ezra hati-hati.
Faza mengangguk yakin. "Aku sangat mencintai kak Murad, kak. Dia adalah cinta pertamaku. Aku sudah mencintainya sejak aku mengenal seorang pria selain dirimu dan papa. " kata Faza dengan senyuman lebar di bibinya.
"Apakah selama itu kamu mencintainya? "
Lagi-lagi Faza mengangguk. "Ia, dan sekarang aku akan berjuang mendapatkan cintanya. Karena aku tidak mau kak Murad menikah dengan wanita lain. Sakit rasanya kalau sampai itu terjadi. "
Ezra mencengkram kemudinya dengan Kuat, tapi tetap fokus pada jalanan.
"Bagaimana, kalau Murad hanya menganggapmu sebagai seorang adik saja, tidak lebih."
"Aku akan terus berjuang, sampai kak Murad menganggapku sebagai seorang wanita, bukan adik."
__ADS_1
"Sebesar itukah cintamu pada Murad? "
"Iya, besar.... sangat besar... Aku sangat mencintainya, sangat... sangat mencintainya. " Faza berkata dengan semangat di dalam hatinya.
Ezra hanya menyunggingkan senyumnya. Tak terasa mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Faza segera turun, tapi Ezra tidak mau turun karena Dia melihat Zoya yang sedang menunggu taksi di pinggir jalan. Saat Ezra akan menjalankan mobilnya, tapi sebuah mobil terlebih dulu berhenti di depan Zoya. Tak lama Zoya pun naik ke dalam mobil itu. Ezra mengikuti kemana mobil itu pergi, untuk memastikan kamanan Zoya.
Zoya berhenti didepan butik nya dan melambai ke arah orang yang berada di dalam mobil itu dengan senyum lebarnya. Ezra yang melihat itu semua hanya bisa mengeratkan pegangannya pada setir mobil, lalu membenturkan kepalanya pada kemudi.
"Haruskah aku merelakan cintaku, dan mengalah untuk adikku. Zo, apakah kamu akan bahagia bila ada pria lain yang menawarkan cinta kepadamu? "
Flashback off
Di rumah sakit,
Faza langsung berlari menuju ruangan Murad. Beberapa kali dia menabrak orang ataupun perawat yang berpapasan dengannya. Tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin cepat sampai, dan segera bertemu dengan orang yang sangat ia cintai.
Sesampainya di depan ruangan Murad, Faza mengatur nafasnya yang terengah Lalu ia langsung membuka pintu ruangan dengan perlahan tanpa mengetuk nya terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam. " balasan salam dari semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Faza, kamu sudah datang? "
"Ia mom, dad. " Faza langsung masuk dan menyalami tangan Nisa dan Erhan yang sedang duduk bersama.
"Kamu datang sama siapa? "
"Sama kak Ezra, tapi kak Ezra langsung pergi. Karena harus mengantar kak Zoya tadi. Mungkin nanti malam dia akan kemari." jawab Faza dengan malu-malu.
"Murad sudah sadar, tapi dia tidur setelah meminum obat. Dia mengeluh Katanya kakinya sakit, jadi diberi obat tadi sama dokter. Efek nya, sekarang dia tertidur. "
Faza mengangguk kan kepalanya mengerti.
"Faza, Daddy titip Murad dulu ya. Karena kami mau cari sarapan. Soalnya Kami belum makan dari tadi, karena tadi Zoya dan Rayyan pergi buru-buru sekali. " pinta Erhan kepada Faza.
"Baiklah, dad. Aku akan menjaga dan menemani kak Murad. Mommy dan daddy pergilah cari sarapan. "
Erhan lalu merangkul pundak Nisa dan membawanya keluar dari ruangan Murad.
Faza yang lagi-lagi di tinggal sendiri berdua dengan Murad pun merasa bahagia. Dia lalu mendekati Murad dan duduk di kursi yang ada di samping ranjangnya.
"Hai, kak Murad. Aku datang lagi. "
Faza lalu memijit kaki Murad dengan pelan dan hati-hati.
"Apa ini sakit? " gumamnya.
Murad yang merasa terganggu dengan sesuatu yang menyentuh kakinya pun membuka matanya perlahan.
"Faza? "
Faza yang merasa di panggil pun menoleh ke asal suara, dan dilihatnya Murad yang sudah membuka matanya.
"Kak Murad. " pekik Faza senang karena Murad akhirnya bangun, lalu dia langsung memeluknya. "Aku senang, akhirnya kakak sadar dan membuka mata. Aku bahagia sekali. " ujar Faza dengan lelehan air matanya dan masih memeluk Murad.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis? " Murad melepaskan pelukan Faza, lalu menghapus air mata di pipinya. "Kenapa adik kecil kakak ini menangis? "
Deg... Adik....
Faza tertegun mendengar ucapan Murad barusan. Tapi secepatnya dia segera mengontrol keterkejutan nya.
"Tentu saja adik, selama ini kakak kan menganggapku adik, lucu rasanya kalau tiba-tiba saat bangun kak Murad menganggapku seorang wanita dewasa. Aku harus berjuang mendapatkan hatinya. " gumam Faza dalam hati.
"Hei... kenapa diam. " Murad mencoba menyadarkan Faza dari lamunannya. Dalam hatinya Murad merasa lucu karena melihat Faza yang kebingungan.
"Ah, tidak apa-apa kak. " Kilah Faza. Lalu dia duduk lagi di kursi yang berada di samping ranjang.
"Kakak mau apa? biar aku ambilkan. " ucap Faza sambil memegang tangan Murad.
Deg... deg.. deg..
Jantung Murad berdetak tak beraturan saat tangannya di genggam Faza dengan lembut.
"Bisa ambilkan aku air? haus sekali rasanya. "
Faza berdirii dan segera mengambilkan segelas air untuk Murad.
"Terimaksih. segar sekali, lega rasanya akhirnya bisa membasahi tenggorokan ku. " Kata Murad menatap Faza dan memberikan senyuman nya kepada Faza.
Faza merasa salah tingkah bertatapan dengan Murad seperti itu. Lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Faza, bisa bantu aku duduk? "
Faza menoleh lagi ke arah Murad dan mengangguk kan kepalanya. Dia segera bangkit dan membantu Murad keposisi sedikit duduk dan mengganjal kepala dan punggung Murad dengan bantal.
Dalam posisi dekat seperti itu, baik Faza atau Murad merasa sama-sama gugup dan jantung mereka berdegup tak beraturan. Setelah membetulkan tempat duduknya, Faza dan Murad saling diam dan suasana canggung tercipta.
"Kak Murad. " Faza mencoba mencairkan suasana.
"Hmmm.. "
"Apa kak Murad jadi menikah dengan Diandra. "
"Jangan bahas dia lagi di hadapanku. "
"Maaf." kata Faza sambil menundukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa kamu tanya? "
Faza hanya menggeleng. Melihat itu, Murad jadi gemas sendiri.
"Aku memang sudah putus dengan Diandra, tapi mungkin suatu hari nanti aku akan membuka hati untuk wanita lain. Jika tidak ada yang cocok disini aku akan mengikuti jejak daddy mencari wanita atau jodoh dari situs online. Mungkin saja aku bisa mendapatkan wanita yang seperti mommy. " kata Murad tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Faza menatap Murad dengan pandangan yang entah... Lalu dia memberanikan bertanya lagi kepada Murad.
"Memangnya kriteria wanita seperti apa yang kakak sukai untuk menjadi pendamping kakak. "
"Seperti mommy. "
Bersambung
__ADS_1