Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Pesta pernikahan Alvano Dan Alisa


__ADS_3

Hari ini merupakan hari yang penting bagi Alisa dan Alvano, karena mereka telah melangsungkan pernikahan yang di gelar mewah di sebuah ballroom hotel bintang lima.


Terlihat tamu-tamu penting memberi ucapan selamat pada mereka. Tidak terkecuali Alan yang datang bersama Vriska.


"Selamat ya atas pernikahan kalian.."ucap Alan dengan memaksakan senyumnya.


"Selamat ya semoga langgeng.."ucap Vriksa


"terimakasih, kami pun menunggu undangan dari kalian semoga kalian segera menyusul.."ucap Vano yang di angguki oleh Alisa.


Setelah memberi ucapan pada kedua mempelai Alan dan Vriska pun turun.


"aku rasa apa yang di bilang Vano itu memang benar, bagaimana kalau pernikahan kita di percepat saja.."ucap Vriska


"jangan....."kata Alan spontan.


Vriska mengerutkan keningnya "Kenapa? bukankah kita sudah terlalu lama tunangan, bukankah akan lebih baik jika kita segera menikah. Ada apa lagi Alan.."


Alan menatap wajah Vriska dengan sendu "Vriska aku.."


"Kenapa Alan, aku tidak mau tau pokoknya aku akan bilang pada papa untuk mempercepat proses pernikahan kita. Kau sudah sering kali mengundur pernikahan kita kali ini aku tidak mau"pungkasnya


Inilah yang tidak pernah aku sukai darinya ia selalu memaksakan apa yang memang ia sukai. lirih Alan


Alan mengusap wajahnya dengan kasar, jika mengingat sedang tidak dalam berada di pesta orang bisa saja mereka berdebat. Entah bagaimana keduanya sering kali terlibat adu mulut entah karena hal penting ataupun sepele. Terkadang sering kali Alan mengeluh dan bertanya apa memang begini jika kita memilih pasangan karena di jodohkan. Pun Alan sering kali merasa tidak nyaman berada bersama Vriska wanita itu selalu berlebihan padanya, sikapnya yang manja, posesif, pemarah, cemburuan, segala hal ada padanya. Tidak ada perasaan nyaman apapun yang Alan rasakan saat bersamanya. Sudah lama hubungan mereka terjalin Alan selalu berusaha untuk menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya saat bersama Vriska, namun sepertinya tuhan berkehendak lain, hingga kini tidak ada perasaan cinta ataupun sayang pada gadis itu. Hingga kadang ia berfikir rumah tangga seperti apa yang akan mereka jalin saat mereka sudah menikah nanti, apalagi melihat sikap Vriska yang selalu mengatur Alan seenaknya. Berkali-kali Alan mengundur tanggal pernikahannya dengan berbagai alasan.


Mengingat soal cinta dan perasaan entah mengapa ia justru teringat akan sosok gadis yang lemah lembut, seorang cinta pertama yang kini kembali di pertemukan dengannya. Mengingat namanya saja sudah mampu membuat ia tersenyum apalagi jika ia bisa bersanding dengannya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Di sudut yang lain, setelah mengucapkan selamat pada kakaknya Dinda dan Rava serta Davis untuk duduk, namun Davis terlihat tidak nyaman akhirnya Dinda berdiri lagi ia akan membawanya jalan-jalam barangkali Davis bosen dengan suasana keramaian.


"Biar Davis bersamaku saja, aku akan membawanya jalan-jalan sebentar, kau di sinilah saja, tunggu aku kembali oke.."ucap Rava mengambil Davis dari tangan Dinda dan membawanya pergi.


Dinda pun menurut kembali duduk, kakinya memang terasa pegal saat ini. Ia pun mengulurkan tangannya untuk memijat tumitnya yang terasa pegal.


"Bolehkah saya duduk di sini,"ucap seorang wanita yang mampu membuat Dinda menghentikan aktivitasnya, lalu ia pun duduk dan menengoknya.


deg... wanita ini batinnya..


"Kenalkan aku Sintia, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini,"ucapnya setelah berhasil duduk di sebelah Dinda.


Dinda menghela nafasnya, entah mengapa ia merasa sebal dengan wanita ini, Dinda bahkan tidak memasang wajah ramah padanya. "Kau pasti bertanya bukan mengapa aku bisa berada di sini, aku di ajak oleh suamiku, suamiku itu rekan bisnis dari Pak Vano, aku tidak menyangka saja ternyata Pak Vano itu adalah kakak kandungmu"


"Memangnya aku peduli padamu,"cetus Dinda.


Sintia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya "Kau istrinya Rava bukan.."


"Lalu apa maumu, menganggu saja.."Dinda terlihat kesal.


Sintia menghela nafasnya "Aku minta maaf, kau pasti kesal padaku karena aku pernah membuat rumah tangga kalian bermasalah."


Dinda masih terdiam dan tidak merespon "Saat itu aku masih tidak rela jika ternyata suami sahabatku sudah menikah lagi, untuk itu aku mendatangi kantornya, lalu dengan berbagai cara aku memancing emosinya hingga pada akhirnya kau datang. Tapi kini aku menyadari jika Rava sangat mencintaimu, sahabatku itu adalah bagian masa lalunya. Sejujurnya awalnya saat itu Rava sudah mengatakannya jika ia mencintaimu menanggapmu sangat berarti baginya, tapi aku merasa belum menerima, jadi aku terus mendesaknya, ia mengatakan hal yang membuat kau salah paham itu agar aku cepat pergi dari sana, tapi kenyataannya malah ia membuat kau pergi. Dinda maafkan aku, aku menyesal harusnya aku tidak berbuat seperti itu dulu. Ku mohon maafkan aku ya.."ucap Sintia


Dinda masih mencerna semua ucapan Sintia lalu ia mengingat sekelebat ingatan lalunya, belum sempat ia menjawab Rava datang membawa Davis yang tertidur di gendongannya. "Sayang, Davis sudah tidur.."ucap Rava

__ADS_1


Namun Rava di kagetkan dengan adanya Sintia, Rava terlihat kesal ia mengepalkan tangannya.


"Kau.."


"Rava.."


Rava memberikan Davis pada Dinda,


"Lancang sekali kau menemui istriku, untuk apa, kau ingin mempengaruhinya apalagi."ucap Rava dengan tajam.


"Kak Rava.."ucap Dinda tertahan


"Diamlah sayang, aku ingin memberinya pelajaran,.."Rava terlihat sangat marah ia mencengkram tangan Sintia dengan kuat, sampai Sintia meringis kesakitan.


"Rava, aku hanya ingin minta maaf padanya. Ku mohon maafkan aku.."ucap Sintia sambil menahan sakitnya.


"Kak sudahlah aku sudah memaafkannya, lepaskanlah ia, ingat ini di pesta pernikah Kak Vano dan Alisa jangan membuat keributan kak"tutur Dinda


Rava melepaskan cengkramannya, "pergilah dan jangan ganggu keluargaku lagi,"


Rava menghela nafasnya berusaha meredamkan sisa-sisa emosinya "Maafkan ya, kau pasti merasa tidak nyaman berada di dekatnya"ucap Rava menatap Dinda dwngan sendu.


"tidak apa-apa, semua baik-baik saja" Dinda tersenyum "Pestanya seru bukan, ramai sekali Kak Vano dan Alisa terlihat bahagia sekali"Dinda berusaha mengalihkan pembicaraannya.


"Iya mereka terlihat bahagia, apa kau ingin mengadakan resepsi ulang pernikahan kita"tanya Rava sambil mengelus pipi Dinda.


"Untuk apa..? aku tidak memerlukannya.."sahut Dinda


"Barangkali kau ingin menunjukan wajah bahagiamu di pernikahan, karena pernikahan kita dulu kan.."


"Tidak, bagiku sudah cukup aku menikah untuk sekali tidak penting bagaimana prosesnya dulu"tutur Dinda


"Iya Kak Rava sayang..."ucap Dinda membuat Rava tersenyum senang .


"Kau manggil aku apa, ayo katakan lagi.."pintanya.


"Tidak mau.."ucap Dinda dengan malu.


"Pelit sekali.."seru Rava "Kau pasti pegal, ayo kita ke atas.."sambungnya.


"Ngapain..."tanya Dinda.


"Ke kamar Davis perlu di tidurkan, tenang saja aku sudah memesan kamar yang ada tempat tidur bayinya juga."Kata Rava


Dinda pun menurut mengikuti Rava lewat lift menuju lantai lima. Setelah pintu lift terbuka mereka segera keluar dan menuju kamar mereka. Kemudian Rava membuka pintunya dengan acces card yang ia bawa. Saat pintu terbuka Dinda di kejutkan dengan dengan apa yang ia lihat.


Kamar itu di hias dengan bunga-bunga mawar, serta di kasurnya terdapat tulisan I LOVE U yang di susun memakai bunga mawar, lalu di sampingnya terdapat ranjang bayi. Dinda menatap takjub semuanya.


"Kapan kau mempersiapkan semuanya..?"tanya Dinda, setelah ia menidurkan Davis di ranjangnya.


"Tadi saat membawa Davis darimu, maaf ya kurang bagus soalnya dadakan.."tutur Rava.


"Tidak apa, seperti apapun itu aku suka.."sahut Dinda mendudukan dirinya di kasur samping ranjangnya.


"Kau lelah..?"tanya Rava

__ADS_1


Dinda tersenyum "tidak hanya saja kakiku terasa sedikit sakit, mungkin karena terlalu lama memakai sepatu hak tinggi"desahnya.


Rava berjongkok dan melepas sepatu Dinda "biar ku lihat.."


"Untuk apa.. jangan.."cegah Dinda


"aku akan memijatnya agar pegalnya berkurang, kau diam saja.."seru Rava yang berhasil melepas sepatu Dinda dan memijatnya sesekali Dinda akan meringis sakit.


"Kalau aku terlalu keras memijatnya kau bioang ya.."kata Rava, Dinda pun mengangguk mengerti. Lambat laun Dinda merasa keenakan dengan pijatan Rava.


"Kak sepertinya kau pemijat yang handal, kau bisa beralih profesi jika begini"ucap Dinda setengah meledek suaminya.


Rava melihat mendongak melihat wajah Dinda yang tersenyum meledeknya "Iya aku akan beralih profesi dari seorang Ceo menjadi tukang pijat, tapi khusus istriku saja bagaimana.."


"So sweet sekali suamiku ini.."puji Dinda


"Bagiamana apa sudah enakan.."tanya Rava


"Sudah, terimakasih.."ucap Dinda


Rava tersenyum dan berdiri "tapi ini tidak gratis ada upahnya.."


"Apa...? selalu begitu minta imbal balik.."sebal Dinda


"Tentu saja, jika seorang pemijat di bayar pake uang, maka aku bukan melainkan em..."Rava tampak tersenyum smirknya.


Melihat senyuman Rava, Dinda pun mengerti Rava yang inginkan "Hei ini masih siang, untuk apa melakukannya.."pungkasnya


Rava mendekatkan diri pada Dinda "memangnya ada larangan untuk tidak menyentuh istri saat siang hari"


Dinda merasa tersudutkan, "tapi ini....."


ucapan Dinda terpotong saat Rava sudah membungkam bibirnya dengan ciuman lembut dari bibirnya. "Diamlah jangan banyak bicara, jangan sampai Davis terbangun. Anggap saja kita bulan madu saat ini."


Dinda mengerucut sebal pada suaminya itu, sementara Rava kembali menjalankan aksinya ia kembali memberikan ciuman lembut pada Dinda, sementara tangannya tidak tinggal diam untuk bergelya kemana-mana.


Meski awalnya menolak, namun tubuh Dinda terlihat menikmati apa yang terjadi kini. Rava melakukannya dengan penuh cinta dan kelembutan bagaimana mungkin ia tidak tersentuh. Entah bagaimana akhirnya kini keduanya sudah tidak mamakai sehala benangpun. Pakaian mereka sudah berserakan ke mana-mana. Bunga mawar yang tadi tersusun rapi bertuliskan I Love u itu telah berantakan, akibat pergulatan panjang mereka.


Berkali-kali mereka menggapai puncak nirwana yang memabukkan, di sisinya terlihat bayi mungil itu terlihat tidur lelap, seakan mengerti jika kedua orang tuanya tengah membutuhkan waktu berdua.


Sampai pada akhirnya keduanya tumbang, dengan peluh yang membanjiri keduanya, mereka terlihat kelelahan. Rava menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. "I love you"ucap Rava sambil mengecup kening Dinda.


"I love u too.."sahut Dinda, sederhana memang namun kata-kata itu mampu membuat keduanya bertambah barseri bahagia.


" Terimakasih. Tidurlah kau pasti lelah"ucap Rava sambil mencium pucuk kepala Dinda, ia membaringkan dirinya di sebelah istrinya, lalu memeluknya. Dinda hanya terdiam, dan tidak lama memejamkan matanya.


Setelah memastikan Dinda tertidur, Rava mengambil handphonenya lalu ia mencari kontak Aldo dan menelponnya.


"Tolong belikan aku dan istriku baju, lalu antarkan ke kamar lantai lima nomor 7a VIP.."perintah Rava lalu mematikan telponnya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Sudah hot belum..wkwkkwkk hihi.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Sorry kemarin tidak up, aku kehabisan kuota, tapi ini aku up panjang lhoπŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


πŸŽ‹πŸŽ‹Aku gak nyangka udah 100 bab aja, padahal tadinya ku fikir tidak akan sampai 100, semua berkat dukungan kalian readers, makasih lho komen kalian membuat aku semangat, aku di sini juga akan sekalian menceritakan kisah cinta Alan, kasian Mas Alan nya masih bimbang belom bahagia..hihiπŸŽ‹πŸŽ‹


bersambung..


__ADS_2