
Ceklek...
Pintu terbuka, Alan masuk ke dalam ruangan perawatan Vriska. Terlihat di sana ada Vriska yang masih terbaring lemah, lalu di sisinya ada mamanya yang tengah menunggunya.
"Ma pulanglah, biar Alan saja yang menjaga Vriska"ucapnya pada mamanya.
"Tapi nak_..."
"Jangan cemas, aku akan hubungi mama jika terjadi apa-apa, sekarang pulanglah.."seru Alan
"baiklah..."jawab Mama Merlyn sebelum meninggalkan keduanya.
Setelah pintu tertutup, Alan mulai melangkah mendekati ranjang Vriska. Ia mengamati lekat-lekat keadaan sang istri, wajahnya terlihat pucat, di sudut matanya masih tersisa air mata bisa Alan tebak jika Vriska habis menangis, tangannya masih tertancap jarum infus yang menghubungkan pada selangnya. Keadaanya Vriska tengah tertidur lelap entah pengaruh obat atau karena dia suda merasa lelah.
Alan mengusap wajahnya dengan kasar ia merasa miris dengan keadaan istrinya, Alan mengutuk dirinya sendirinya yang dengan mudahnya ia berkata seolah menyalahkan istrinya atas apa yang terjadi. Tangannya terulur untuk membelai wajah sang istri, ia menyapu rambut yang menghalangi wajah Vriska, matanya tampak berkaca-kaca, "Maaf" satu kata yang lolos dari bibirnya dengan gemetar, ia kecup mesra kening istrinya, tanpa sadar air matanya jatuh menetes di pipi Vriska.
Vriska membuka kelopak matanya, yang pertama ia lihat adanya sang suami yang berada di sisi ranjangnya, ia merasa tangannya tengah di genggam erat oleh sang suami. Alan menyadari jika istrinya terbangun.
"Kau membutuhkan sesuatu sayang?"tanya Alan pada Vriska.
Vriska menggelengkan kepalanya, "maaf kan aku hubby . Aku_"
Alan bangkit dari kursinya dan mengecup tangan Vriska, "Tidak, kau tidak bersalah. Tapi aku yang salah tidak mampu menjagamu dengan baik, sehingga membuat kau terluka. Lalu dengan egoisnya aku justru melimpahkan kesalahanku padamu, maaf sayang untuk kata-kataku tadi sore, kau pasti sangat terluka"tutur Alan
Vriska berusaha untuk membuat dirinya duduk Alan yang melihatnya pun dengan sigap membantunya, "tapi apa yang kau katakan tadi itu benar, andai aku menuruti ucapanmu pasti semua tidak akan terjadi"seru Vriska
Alan langsung memeluk sang istri, "Tidak, jangan membenarkan apa yang ku katakan tadi. Lekaslah pulih sayang"
Vriska mendongak menatap wajah sang suami yang tampak kacau, "apa kau menangis?"
Alan menggelengkan kepalanya, "tidak..."
__ADS_1
"Ayo tidurlah lagi, aku juga sangat ngantuk"sambungnya sambil membantu Vriska untuk kembali tidur.
Vriska menurut ia mencoba memejamkan matanya, namun bukannya terpejam ia justru kembali menangis, sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara, karena ia bisa lihat jika suaminya sudah mulai terlelap.
Namun meski sekuat tenaga ia menahannya tetap saja Alan mendengar jika Vriska tengah menangis, Alan pun menghela nafasnya, "Sudah ku katakan jangan menangis lagi, ayo lekaslah tidur, jangan di fikirkan ikhlaskan semua yang terjadi sayang"seru Alan.
πππ
Sudah dua hari Vriska di rawat di rumah sakit dan hari ini ia sudah di perbolehkan pulang. Selama itu pula Alan dengan setia menunggu sang istri, ia mengerjakan pekerjaan kantornya dalam rumah sakit.
Rasa sedih yang begitu dalam di rasa Vriska. Sejak itu Vriska kerap melamun sendiri, Alan kerap sekali mendapati istrinya kembali menangis, lalu kembali menyalahkan dirinya sendiri.
Kini keduanya tengah dalam perjalanan pulang dari rumah sakit menuju rumah, sepanjang jalan Vriska juga hanya terdiam tanpa sepatah katapun.
"Sayang apa ada yang kau inginkan sebelum sampai rumah"tanya Alan berusaha memecah keheningan yang terjadi di dalam mobil.
Namun Vriska tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya. Alan menghela nafasnya, usahanya sama sekali tidak berhasil untuk membuat istrinya bicara.
Lagi dan lagi Vriska menggelengkan kepalanya, "Tidak" hanya satu kata yang keluar dari mulut sang istri.
Alan menggigit bibir bawahnya, lagi dan lagi usahanya tidak berhasil, yang Alan takutkan ini akan berakibat buruk pada keadaan sang istri. Untuk itu Alan meminta sementara waktu Mama Merlyn menginap di rumahnya.
Mobil Alan tiba di depan rumahnya, Alan keluar dan mengeluarkan barang-barang Vriska, lalu di bantu dengan Bi Ningsih yang dengan sigap membawa barang-barang Vriska itu.
Alan membukakan pintu sang istri, dan membantunya turun ia mencoba untuk merangkul sang istri, namun Vriska menolaknya "Aku bisa jalan sendiri"seru Vriska, Alan pun terlihat pasrah ia mengikuti langkah kaki sang istri. Ketika Vriska ingin naik tangga Alan buru-buru mencegahnya.
"Sayang, kamar kita pindah ke bawah sementara ya, aku sudah menyuruh Bibi untuk membereskannya"seru Alan
Vriska hanya mengangguk menurut, dalam hal ini Alan mengerti jika ia harus banyak bersabar.
Vriska segera membaringkan dirinya di tempat tidur. Lalu pintu kamar terbuka Mama Merlyn datang membawa makanan untuk sang menantu.
__ADS_1
"Sayang makan dulu, mama sudah buatkan makanan untukmu"ucap Mama Merlyn
Vriska menggeleng, "Aku belum lapar ma.."
"Baiklah mama taro sini dulu ya, tapi nanti kau harus makan"
Vriska hanya menganggukan kepalanya.
"Alan mama tinggal dulu ya, kalian istirahatlah"ucap Mama Merlyn
"Iya ma.."sahut Alan.
Alan melirik ke arah istrinya yang masih tetap diam tanpa kata, lalu Alan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lima belas menit kemudian Alan sudah keluar dengan segar, ia melihat kembali ke arah Vriska. Masih sama, makanan yang Mama Merlyn bawa tadi sama sekali belum tersentuh. Vriska justru memejamkan matanya. Alan berjalan ke arah lemari untuk mengganti baju gantinya.
Alan menghela nafasnya, mungkin dia lelah baiklah biarkan istrinya itu istirahat.
Setelah selesai Alan pun merangkak naik ke tempat tidur, ia membaringkan dirinya di sebelah istrinya. Ia memandangi lekat-lekat wajah sang istri, raut kesedihan masih terlihat jelas di wajah Vriska.
Alan menatap langit-langit kamarnya, lambat laun ia pun mulai menyusul istrinya tidur. Selama berada di rumah sakit ia memang jarang tidur.
Saat di rasa suaminya sudah tidur lelap, Vrisk membuka matanya kembali, ia memandangi wajah sang suami, ia mengingat bagaimana perlakuan Alan yang begitu padanya.
Vriska tersenyum miris ia kembali menitikkan air matanya, "Kenapa aku tidak mampu membuatmu bahagia, kenapa kau harus mengorbankan hidupmu demi wanita yang tidak berguna seperti diriku"ucapnya di sela-sela isak tangisnya.
πππ
πππsedih gak sih?ππ
πππJangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote pake hadiahππ
__ADS_1
bersambung...