
Disty berjalan sepanjang jalan mencari taksi untuk pulang ke rumahnya, namun entah mengapa sedari tidak ada taksi lewat, ingin pesan online tapi handphonenya lobet.
Karena merasa lelah Disty pun berhenti berjalan, bersamaan dengan sebuah mobil mewah berhenti tepat di sampingnya, Disty mengerutkan keningnya pikirannya siapa yang memberhentikan mobilnya di depannya menganggu ia menunggu taksi saja.
Disty mendumel tidak jelas, bersamaan dengan kaca mobil depan di buka Disty terlihat acuh dan tak ingin tau.
Kemudian sang pemilik mobil memencet klaksonnya membuat Disty berjingkat melihat seorang pria yang berada dalam mobil itu ternyata Dokter Dika.
"Disty kau menunggu siapa..?"tanya Dokter Dika sembari membuka kaca mata hitam yang ia pakai.
"Taksi.."seru Disty dengan datar pun ia merasa malu sudah mengumpat Dokter itu dengan kata-kata tidak jelas.
"Ayo masuk, biar ku antar kau pulang"ajak Dokter Dika
Disty menggeleng "Tidak usah dokter itu akan sangat merepotkan"
"Ayolah, tidak baik menolak ajakan teman"seru Dokter Dika sedikit memaksa.
Akhirnya Disty mengalah untuk masuk ke dalam mobilnya, ia pun memang sudah merasa lelah.
"Dokter baru pulang kerja.."tanya Disty memecah keheningan di dalam mobil.
Dokter Dika mengangguk "Iya Disty banyak pasien hari ini."
Disty pun mengerti, ia mengedarkan pandangannya terlihat di situ ada mainan mobil-mobilan, membuat Disty berfikir jika itu merupakan mainan anak dari Dokter Dika. Tiba-tiba ia merasa tidak enak hati, bagaimana jika nanti akan menimbulkan salah paham. Ini untuk yang pertama dan terakhir ia bersama Dokter Dika ia tidak mau di tuduh macam-macam sama istrinya tadi.
"Ada apa Disty..?"tanya Dokter Dika.
Disty tersenyum menggeleng "Tidak Dokter.. saya minta maaf telah merepotkan anda.."
"Kenapa harus begitu formal panggilnya, panggil aku Dika saja"serunya sembari memberi senyum terbaiknya.
"Tidak dokter, kita tidak seakrab itu.Saya merasa tidak enak hati"ucapnya membuat Dokter itu tercengang.
"Baiklah kalau begitu ayo kita buat semakin akrab saja.."serunya
"Tidak.. nanti ada yang marah. Saya tidak mau di tuduh pelakor.."ucap Disty
Dokter Dika mengerutkan keningnya "Pelakor... maksudnya.."
"Dokter kau sudah menikah, jagalah perasaam istri anda . Jangan terlalu dekat dengan wanita lain itu tidak baik untuk hubungan anda dan sitri anda."serunya "berhenti di depan ya Dokter, rumah saya sudah dekat"sambungnya.
Dokter pun memberhentikan mobilnya, tanpa menunggu jawaban dari Dokter Dika Disty keluar dari mobil, setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih.
Dokter Dika masih tersenyum melihat tubuh Disty berjalan menjauh darinya "Apa tampangku terlihat tua, ia bilang aku sudah menikah.."ucapnya sambil menggelengkan kepalanya. Ia menengok ke arah belakang mobilnya, ternyata di situ ada mainan mobil-mobilan.
"Pantas saja dia bilang aku sudah menikah, ternyata karena adanya mainan si Cio. Dasar si Gea kalau membawa ponakannya selalu teledor, kalau begini kapan aku dapat jodoh coba. Aku juga bosen setiap hari harus berpacaran dengan obat dan jaru suntik terus"gerutunya.
__ADS_1
ππππ
Vriska mengamati pantulan dirinya di cermin setelah ia berdandan rapi, ia bisa melihat jika kini tubuhnya terlihat lebih kurus mukanya terlihat tirus, wajahnya akan terlihat pucat jika tidak ia poles dengan bedak.
Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, apapun itu ia akan berusaha untuk sembuh setidaknya demi Mama dan Papanya. Vriska menarik nafasnya kemudiam menyambar tasnya lalu keluar dari kamarnya.
Terlihat di meja makan sedang ada Mama dan Papanya yang sedang menikmati sarapannya.
"Ma pa aku keluar sebentar ya.."pamit Vriska
"Sarapan dulu sayang.."pinta Lita
"Tidak ma, aku akan bertemu temanku di cafe, jadi aku akan sekalian makna di sana saja.."sahutnya
Lita tampak mengerti. "Kau sudah mengurangi jadwal kerjamu kan Vriska"kali ini Papa Dabu yang angkat bicara.
"Iya pa.."sahutnya
"baiklah, kau harus banyak istirahat. Dan muali besok jalankan terapimu agar kau cepat sembuh"serunya
Vriska mengangguk mengerti sebelum kemudian ia pamit untuk pergi.
ππππ
Vriska tiba di cafe terlebih dahulu, hari ini ia sudah berjanji untuk bertemu Alan di sini. Berhubung ini hari minggu Alan tidak bekerja.
"Vriska, kau sudah menunggu lama.."tanya Alan
"Belum.. baru sekitar lima belas menit"serunya
Alan menarik kursi lalu mendudukan dirinya di depan Vriska.
"Aku sudah memesankan makanan, jika kau tidak menyukainya kau bisa memesannya lagi"ucap Vriska .
"Tidak, ini sudah cukup"ucapnya.
Alan pun memakannya, terdengar suara dentingan sendok dan garpu. Sesekali Vriska akan menengok ke arah pintu, berharap seseorang yang tunggu pun datang.
Namun sampai di ujung waktu makan mereka ia juga tidak datang. Vriska dan Alan meletakkan sendok dan garpu di atas piring yang kosong tanda makan telah selesai, kemudian keduanya menyambar tisu dan mengelap bibirnya.
"Vriska.."
"Alan.."
Ucap keduanya secara bebarengan membuat keduanya terkekeh.
"Kau ingin mengatakan apa Alan..."tanya Vriksa membuat jantung Alan berdegup kencang.
__ADS_1
"Sepertinya kau juga ingin mengatakan sesuatu, ku rasa lebih kau dulu"sahut Alan
"Kenapa..?"tanya Vriska
"Ladies first, ayo katakanlah.."seru Alan dengan senyum manisnya.
Sebelumnya Vriska memberikan senyum terbaiknya "A...Alan.. aku.."ucap Vriska dengan gugup dan takut.
Sementara Alan terlihat penasaran ia masih terlihat biasa "Ya Vriska ada apa..?"tanyanya.
"Alan aku fikir ini sudah waktunya aku..."rasa gugup semakin ia rasa apalagi kini Alan suday menatapnya dengan intens.
"Alan.. aku sudah menyadari semuanya jika aku selama ini terlalu egois dengan memaksamu mencintaiku. Saat ini aku sudah menyadarinya, Alan aku akan melepasmu untuk Disty, kau benar Disty memang baik dan pantas untukmu. aku juga yakin jika kalian berdua bersama, pasti kalian akan bahagia.."seru Vriska sambil menahan air matanya, jika ia berkedip satu kali saja air mata itu akan jatuh menetes.
Deg.. jantung Alan berpacu sangat cepat, ada rasa sakit saat Vriska mengucapkan kata-kata itu. Ini seperti rasa sakit saat di mana dulu ia melihat berita Rava dan Dinda di hotel kala itu. Nafasnya Alan memburu mendadak ia merasa emosi, Alan bangkit dari kursinya ia berdiri dengan kaget.
"Kenapa..? apa kau sudah tidak mencintaiku. Apa kau sudah menyerah, kau seperti bukan Vriska yang ku kenal"tanya Alan, ia kecewa ia fikir jika Vriska akan mengatakan perasaan cintanya kembali nyatanya bukan.
Saat Alan tengah menatap tajam Vriska menunggu jawaban Vriska, terlihat Disty masuk ke dalam.
"Vriska maaf aku terlambat"serunya,
Vriska tampak tersenyum "Tidak masalah, kebetulan kau sudah datang,"
Disty melihat jika Vriska tengah memaksakan senyumnya, dan ia melihat tangan Alan yang terlihat mengepal rahangnya yang mengeras "Ada apa Vriska, apa yang terjadi..?"tanyanya dengan keras. Untungnya Vriska memboking seluruh cafe itu hingga mereka tidak menjadi tontonan.
Vriska menghela nafasnya ia berdiri mengambil tangan Disty "Maafkan aku Disty Alan sudah memisahkan kalian, tapi saat ini aku sudah menyadari keegoisanku. Aku sudah ikhlas, aku akan merestui kalian,"Vriska meraih tangan Alan kemudian menyatukan tangan keduanya, Disty masih terlihat bingung.
"Vriska jawab dulu pertanyaanku tadi"teriak Alan dengan keras.
"Iya aku sudah tidak mencintaimu lagi, aku sudah menyerah. Aku sudah menyadari jika selama ini aku tidak mencintaimu aku hanya terobsesi padamu"jawab Vriska tanpa melihat ke Alan dan Disty "Aku harus pergi, semoga kalian bahagia"sambungnya sambil berlalu pergi.
Deg..
hati Alan mendadak sakit sangat sakit, ia melepas tangannya dari tangan Disty. Alan terduduk lesu, bukankah ini dulu yang ku inginkan, namun saat semua terjadi kenapa hatiku tidak bisa menerimanya.
Disty terdiam kemudian tersenyum,Tidak salah lagi, jika sebenarnya kaupun mencintai Vriska.
πππ
ππSampai detik ini belom nemu visual Vriska, Disty, Dan Dokter Dika, apa kalian ada gambaran.. atau kalian bayangin sendiri-sedniri aja deh ya..ππ
ππSakit hati aku nulis part iniππ
ππhappy reading.. jangan lupa like, komen, dan vote nyaπππππ
bersambung..
__ADS_1