Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Koma


__ADS_3

HARAPAN


Terkadang tidak semua hal sesuai dengan keinginan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah mencoba lagi dan berdo'a.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Hingga malam hari tiba Dinda masih menunggu kedatangan Rava berkali-kali ia menengok ke arah pintu berharap Rava akan tiba. Namun harapan hanyalah harapan nyatanya sampai pukul sepuluh malam Rava tidak juga datang. Dari siang hingga kini ia masih terus mencoba menghubungi nomor telepon Rava, tetap saja hasilnya sama seperti sebelumnya nomornya tidak aktif. Awalnya ia berfikir kemungkinan Rava sibuk dengan pekerjaannya. Namun lambat laun jalan pikirannya menuju kemana-mana, mungkinkah Rava marah padanya hingga benar-benar menampakkan dirinya di depannya.


Pintu di ketuk dari luar, Dinda yang mendengar menyuruhnya masuk. Mendadak ia merasa kecewa nyatanya yang datang justru kakaknya Vano.


Dengan senyum tipis ia datang menghampiri Dinda sambil membawa paperbag entah apa isinya.


"Aku ingin memberikan ini untuk Davis.."ucap Vano sambil memberikan paperbagnya Dinda menerimanya.


"Apa.."tanya Dinda


"Hanya sebuah oleh-oleh untuk Davis, itu dari Alisa sebenarnya"sahut Vano sambil terkekeh.


"kenapa wajahmu cemas.."tanya Vano


"Tidak apa-apa kak.."tutur Dinda dengan sendu.


"Aku ini kakakmu jelas tau jika kau sedang ada masalah, ceritalah paling tidak bisa sedikit meredakan bebanmu"kata Vano seraya duduk di depan Dinda.


"Kak apa aku sangat keterlaluan pada Kak Rava selama ini"akhirnya Dinda pun angkat bicara.


Vano tersenyum "Sebenarnya masalah kalian bermula dari hal kecil, kurangnya komunikasi dan kejujuran di hubungan kalian. Kakak tidak akan membela kau ataupun Rava. Yang saat ini kakak ingin katakan tanyalah pada hati kecilmu, maka kau akan tau segala jawabannya."


Dinda terdiam mendengar ucapan Vano." Kakak balik ke kamar dulu, kakak harus menghubungi calon kakak iparmu dulu, jika kakak lupa dia pasti akan mengomel hingga pagi"sambung Vano.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Pukul delapan Dinda baru selesai sarapan,.


"Mah, bisakah hari ini aku minta tolong jaga Davis untukku"tanya Dinda saat mamanya sedang membaca sebuah majalah di ruang tengah.


Dinda membawa Davis yang berada di stroler nya bayi mungil tampan itu tengah terlelap "Aku ada perlu sebentar keluar ma"sahutnya


Mama Dewi menutup majalahnya, kemudian beralih ke arah Dinda , "ke mana sayang, kau sudah lama tidak keluar rumah"


"Ada lah ma, sebentar ya ma bolehkan."pinta Dinda


"Pergilah, keperluan Davis sudah di siapkan semua bukan,"tanya Mama Dewi sambil berjalan memghampiri cucunya.


"Sudah ma, Dinda sudah menyiapkan ASInya juga"kata Dinda

__ADS_1


"Baiklah, kau hati-hati ya.."seru Mama Dewi


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Dinda memacu mobilnya menuju rumahnya dulu saat ia masih tinggal bersama Rava, ia memutuskan untuk menemui Rava, ia sudah membuang segala keegoisannya semalam. Setelah pembicaraannya dengan kakaknya, Dinda terus bertanya pada diri sendiri hingga akhirnya ia menemukan sebuah jawaban dari semua yang ia rasakan.


Mobilnya telah sampai di depan rumahnya setelah ia di bukakan pintu gerbang oleh penjaga, ia melirik ke arah garasi tidak ada mobil Rava, tapi ia tetap melanjutkan melangkah masuk ke dalam.


Ada perasaan rindu sebenarnya dengan rumah ini, ia melangkah membuka pintu, begitu masuk sampai di ruang tamu ia di suguhkan dengan sebuah foto berbingkai besar yaitu foto pernikahannya dengan Rava, seingatnya dulu tidak ada foto ini, di sana hanya polos tidak ada foto apapun, berarti Rava telah mengubahnya. Mendengar suara sepatu berjalan seorang wanita paruh baya menghampiri Dinda.


"Nona Dinda..."ucap sang bibi asisten rumah tangganya dulu dengan kaget.


"iya ini saya bi, apa kabar..?"tanya Dinda sambil menoleh.


"Baik nona"


Dinda mengedarkan pandangannya mencadi seseorang.


"Nona Dinda mencari siapa?"tanya Bibi


"Bi apa Kak Rava nya ada.."tanya Dinda pada akhirnya.


Bibi tampak bingung dengan pertanyaan Dinda "Nona bukankah sudah sangat lama Tuan Rava tidak pernah pulang kesini, dia hanya menyuruh saya dan yang lainnya untuk menjaga dan merawat rumah ini, "sahutnya


"Saya kurang mengerti Nona, Tuan tidak pernah bilang apapun pada saya."sahutnya


"Baiklah bi, terimakasih.."ucap Dinda dengan rasa kecewa, Setelah kepergianya asisten rumah tangganya, Dina pun melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kamarnya dulu.


Rava hanya mengubah beberapa hiasan dinding dengan menempelkan beberapa foto. Ada foto pernikahan beserta foto saat berbulan madu.


Tangannya meraih membuka laci, ia menemukan sebuah kalung yang dulu sempat Rava berikan saat di bali. Ia lupa dulu saat mau pergi ia mengembalikan kalung ini di atas meja , nyatanya Rava menyimpannya kembali. Tunggu, tapi ia tidak menemukan satupun adanya foto Luna di sini. Ada rasa haru ternyata diam-diam Rava memerhatikannya, ia bahkan tidak tau potret dirinya saat di bali, ternyata Rava diam-dia mengabadikannya,. Dinda saat ini pasti dia telah membuang foto-foto Luna. Mengapa baru ia lakukan setelah ia pergi pikrinya, tidak mau terus berdebat dengan pikirannya ia memutuskan untuk berfikir bagaiman bertemu Rava.


"Jika Kak Rava tidak di sini kemana ya?"otaknya berfikir "ahh apartemen aku tau"


Dinda kembali ke luar masuk ke mobil memacu mobilnya menuju apartemen Rava, tidak lupa dalam perjalanan ia kembali menghubungi nomor Rava, namun tetap sama tidak aktif.


Sampailah ia di apartemen Rava ia memasukan kode apartemen, namun hasilnya sama tidak ada Rava di sana. Ia mendesah kecewa lalu kembali ke mobil.


Sambil memegang stir Dinda tengah berdikir harus kemana lagi, tidak mungkin bukan hari Minggu Rava ke kantor pikirnya, akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Aldo.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Di sebuah rumah sakit, Aldo beserta kedua orang tua Rava tengah berada dalam ruangan Rava. Dengan wajah sendu mereka menatap ke dalam tubuh Rava yang terbaring tak sadarkan.


Kemarin Dokter mengatakan operasinya berjalan lancar, namun pasien mengalami koma.

__ADS_1


"Kenapa jadi begini pa, kenapa Rava tidak mau bangun"ucap Mama Imel tak dapat menahan tangisnya.


"Sabar ma, papa yakin Rava akan kembali dia anaknya yang kuat ma"sahut Papa Adi menenangkan istrinya.


Aldo yang melihat pun menjadi sedih, ia menatap ke Rava.


Tuan, saya harap anda jangan terlalu lama untuk tidur, saya tau anda orang yang pantang menyerah,


Hingga suara dering ponsel membuyarkan lamunan Aldo pada Rava.


"Tuan, nyonya saya pamit mau angkat telpon dulu" ucap Aldo di angguki oleh keduanya.


Aldo berjalan keluar dari ruangan Rava, ia melihat nomor si penelepon. Nona Dinda batinnya.


"Hallo, ya Nona.."


"Al, apa kau dan Kak Rava ada di kantor atau keperluan kantor di luar mungkin"


"Tidak Nona.."


"Kalau begitu apa kau tau di mana Kak Rava, aku sudah mencari ke rumah, ke apartemen, aku juga sudah menelpon rumah Mama Imel tapi dia tidak di sana, sebenarnya dimana Kak Rava Al..."


"Nona saya sedang berada di rumah sakit saat ini, kemarin saat dalam perjalanan pulang dari rumah orang tua anda, Tuan mengalami kecelakaan yang cukup parah hingga akhirnya ia harus menjalani operasi, namun saat ini kondisi Tuan Rava sedang koma"tutur Aldo ada hembusan nafas yang cukup berat ia tidak menjalankan perintah Rava, tapi baginya ini penting bagaimanapu Dinda masih statu istrinya.


"Apa.. kirimkan alamat rumah sakitnya Al"ucap Dinda dengan nada gemetar, Aldo tau setelah mendengar berita ini istri atasannya itu pasti dalam keadaan tak baik-baik saja.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Setelah Aldo mengirimkan alamat rumah sakitnya, Dinda ingin memacu mobilnya namun sebuah telepon membuat ia terpaksa mengulurkan niatnya.


"Ya kak.."ternyata Vano yang telepon


"Kaka baru dapat kabar, ternyata Rava mengalami kecelakaan.."


"Aku sudah tau kak, aku akan kesana"


"Baiklah kakak tutup dulu teleponnya, kau berhati-hatilah"


Setelah telepon tertutup Dinda terdiam sejenqk, tanpa sadar ia mengeluarkan air matanya, kegelisan yang sejak kemarin ia rasa kini suda terjawab, ada perasaan bersalah pada dirinya.


Tapi ia harus kuat, kemudian ia menghapus air matanya lalu melajukan mobilnya ke rumah sakit di mana Rava berada..


πŸŽ‹πŸŽ‹ Part ini mungkin gaje ya gak seru, maaf ya kalau ceritanya bikin bosen, tapi aku sudah menyiapkan alur sedemikian rupa. πŸŽ‹πŸŽ‹


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2